My First Love

My First Love
Kedatangan Teman



Miko berlari menuju rumah sakit, sebelumnya dia sudah kembali ke rumah Alana untuk mencari tahu di mana rumah sakit tempat Alana di rawat.


Di sana ia bertemu dengan neneknya, tapi pertama nenenya gak tahu Alana bakal di rawat di rumah sakit itu atau gak nantinya. Karena orang tuannya juga belum kabari orang rumah, namun setelah kondisinya yang semakin buruk, Alana harus di rawat di rumah sakit. Dan kabar dari neneknya tadi jika Alana tadi tak sadarkan diri, dan tubuhnya bahkan terus mengigil.


Miko drngan perasaan cemas dan khawatirnya, ia berjalan terburu-bur masuk ke rumah sakit. Pikirannya benar-benar gak bisa tenang. Jika orang yang ia idamkan tiba-tiba jatuh sakit.


Bahkan Miko terus merasa bersalah, kemarin ia pulang malam dengan Alana. Ia mengira jika gara-gara ajakan dia untuk membangu orang, sampai larut malam, membuat dia capek dan jatuh sakit. Hafi ini belum sempat membawa apa-apa miko langsung datang ke rumah sakit.


"Alana tunggu aku, aku ingin melihatmu, semoga kamu baik-baik saja"gumam Miko berjalan dengan langkah semakin cepat.


Ia berhenti di bagian receptionist rumah sakit itu. Dengan napas yabg masih ngos-ngosan ia mencoba bertanya pada bagian receptionist.


"Maaf sus pasien bernama Alana yang baru saja datang, mungkin sekitar 1 jam yang lalu. Sekarang di rawat di mana ya?" Tanya Miko dengan nada paniknya.


"Oh.. itu, bentar saya lihat dulu ya"ucap pegawai itu.


Miko yang tak sabar menunggu, ia menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.


"Maaf lama, pasien bernama Alana di kamar Nomor 205" ucap Pegawai itu.


"Baik makasih"Miko langsung tancap gas berlari menuju ke kamar yang di maksud pegawai rumah sakit itu.


"Nomor 205" ia terus bergumam dalam hati, dengan menatap nomor setiap kamar.


Dengan napas ngos-ngosan ia berhenti tepat di depan pintu kamar Alana.


"Akhirnya.. aku menemukannya juga"ungkap Miko, membungkukkan badanya, mencoba mengatur napas yang masih belum stabil.


Joy yang baru saja dari ruangan dokter melihat Miko di depan pintu kamar di mana Alana di rawat, ia langsung mendekatinya dengan wajah sudah mulai memerah.


"Ngapain kamu di sini?" Joy mendorong tubuh Miko hingga terpental hampir saja jatuh tersungkur ke lantai.


Miko berdiri tegap, ia merapikan bajunya, kali ini dia tak mau ribut dengan Joy. Miko hanya ingin bertemu dengan Alana, bukan ribut dengan Joy. Tanpa perdulikan tatapan amarah Joy, ia beranjak masuk ke dalam ruangan Alana tanpa perdulikan joy yang terus emosi dengannya.


"Alana!!" Panggil Miko yang melihat Alana nampak lemas, meski ia kini sudah sadar tapi tubuhnya masih terasa lemas. Ia berlari mengahmpiri Alana. Tanpa rasa malu ada orang tua Alana di belakangnya.


Joy berjalan masuk dengan tubuh penuh dengan api kemarahan, tatapanya semakin menajam tertuju pada Miko. Ia berjalan perlahan dan menarik kerah Miko, "Aku sudah ingatkan kamu jangan pernah deketi Alana lagi, karena kamu juga dia seperti ini" bentak Joy. Mendorong tubuh Miko menjauh dari Alana.


Keyla dan Alvin saling memandang sebelumnya, ia bingung kenapa anaknya jadi brutal seperti itu. Tidak seperti Joy yang dulunya.


Alvin mencoba memisahkan mereka berdua.


"BERHENTI" bentak Alavin keras.


Membuat mereka terdiam tak bisa berkutik lagi, meski Joy masih memandang Miko dengan tatapan tajamnya.


Joy mencoba memukul Miko, namun tangan Alvin menghalangi langkahnya.


"Tapi biarkan aku menrndangnya keluar dari sini pa!" Joy masih tak terima Miko berada di dalam ruangan itu.


"Kak Joy sudah!" Ucap Alana yang erasa sangat terganggu dengan suara pertengkaran mereka. Ia mencoba duduk di ranjangnya dengan segera Miko membantunya tanpa perdulikan Joy lagi.


"Kamu jangan duduk dulu Na, istirahat saja" Ucap miko, mencoba membantu Alana, untuk berbaring lagi di ranjang pasien.


"Tolong kalian jangan bernatem lagi"Ucap Alana memegang tangan Miko.


"Arggg..."Joy terlihat sangat kesal, melohat semuanya.


Keyla melirik ke arah joy yang terlihat berbeda, raut wajahnya benar-benar menunjukan jika dia sangat marah.


Keyla berjalan mendekati Joy, "Mama mau ngomong padamu di luar" ucap keyla.


"Syang kamu di sini sama teman kamu dan papa ya, mama mau keluar sebentar"keyla mengusap lembur rambut anaknya.


Alana hanya tersenyum tipis, meski tubuhnya tak mengigil lagi. Tetapi suhu tubuhnya masih sangat panas.


Joy semakin geram melihat Miko sangat dekat dengan Alana, ia tidak suka dengan Miko yang dekat-dekat dengan adiknya bahkan berani menyentuhnya. Kalau bukan karena papanya yang melerai mereka berantem. Udah aku tendang keluar dari samping Alana.


Keyla menepuk pundak Joy, agar ia segera keluar dadi dalam ruangan itu.


"Joy mama ingatkan padamu ya, jangan terlalu berlebihan dengan Alana, kamu tahu kan apa kata orang nanti. Di kira kamu suka dengan Alana adik kamu sendiri. Dan ingat Alana itu adik kamu jadi kamu sayangi dia sebagai adik kamu bukan lebih" ucap Keyla, menatap dengan sorotan mata seriusnya.


"Apa yang mama katakan, aku syang Alana sebagai adik ma, ya wajarlah jika aku gak suka dengan lelaki sembarangan yang dekat dengannya. Aku tahu dia itu seperti apa ma, dia bukan lelaki baik-baik. Aku gak mau Alana di sakiti nantinya" Ucap Joy meninggikan suaranya. Joy terlihat kesal dengan keyla karena menuduhnya yang gak-gak.


"Baiklah, tapi kasih kesempatan lelaki itu dengan Alana, mama yakin Alana bisa memilih lelaki yang tepat nantinya" gumam keyla menasehati anaknya.


Semoga ia bisa memisahkan perasaan syaang teman, saudara, atau pacar nantinya, batin Keyla.


"Iya-iya udah la ma aku mau pergi sekarang, pikiranku lagi sumpek ingin keluar, jaga deh tuh Alana" Ucap Joy dengan perasaan kesalnya.


Ia benar-benar kesal dengan semuanya tak percaya dengannya. Bahkan syangnya pada Alana selalu di curigai. Padahal kakak lainnya juga seperti itu gak pernah orang tuanya curiga, karena itu wajar kan jika menyayangi adiknya tulus, decak kesal Joy. Ia berjalan keluar dari rumah sakit, entah mau kemana dia, tapi setidaknya ia bisa keluar untuk menghilangakan rasa jenuhnya.


"Kenapa semua orang tak percaya denganku"gumam Joy. Ia tak henti berdecak kesal,


Ia duduk di teras rumah sakit, berdiam diri merenung dengan apa yang ia lakukan, entah itu salah atau tidak. Tapi bagi orang tuanya semua salah. Hal yang tak mungkin suka dengan adiknya, karena itu hal yang tak masuk akal. Dia adikku, dari kecip selalu denganku, dan rasa sayang itu hanya sebatas adik. Karena dengan dialah dulu Jiy terlalu dekat, dulu ia masih bisa bicara dengannya satu dua.


Tapi entah kenapa sejam SD Alana lebih banyak diam, dan menghemat kata-kata. Bahkan dengan orang rumah semuanya. Termasuk dengannya.