
Hari sudah menjelang malam, Semua anak sudah beristirahat di dalam kamarnya masing-masing. Tidak dengan Alana yang masih tidak bisa tidur dari tadi, dan ia memutuskan untuk pergi melihat ke pengungsian sendiri. Lagian siapa temannya? Semua sudah tidur, gak ada yang masih mrnbuka matanya. Dan Joy entah dia sudah tidur apa belum.
Alana keluar dari kamarnya, ia melihat di luar sudah sangat sepi. Dengan segera Alana pergi dari rumah diam-diam. ia tidak mau mengganggu yang lainnya beristirahat.
Langkah Alana terhenti saat melihat gelapnya jalan di depannya tanpa penerangan sama sekali. UmIa hanya bawa senter kecil untuk menerangi. Namun, bukan itu yang ia takutnya. Ia takut jika ada hewan buat atau apalah.
“Alana kamu mau kemana?” tanya Joy, berjalan mendekati Alana yang malam-malam mau keluar sendiri.
Alana menghentikan langkahnya, ia menoleh, menyipitkan matanya, melihat Joy yang tadinya tidak kelihatan sama sekali di rumah. Sekarang berada di belakangnya. ia tidak tahu kalau tadi Joy sebenarnya belum tidur.
“Kak Joy?” Alana mengerutkan keningnya, dengan mata agak menyipit melihat siapa yang di belakangnya. Joy atau bukan, penerangan lampu yang tidak terlalu terang mengahalngi pemandangannya, wajah laki-laki di belakangnya terlihat samar. Tapi dari suaranya yang sangat familiar di telingan Alana dia kenal jika itu adalah, Joy. Dia yakin itu kakanya.
Joy berjalan perlahan, menghampiri Alana. Melihat wajah jelas wajah Joy tepat di bawah lampu, membuatnya menarik napas lega, mengusap dadanya “Ternyata benar kak Joy! Aku kira siapa” ucap Alana.
“Kamu mau kemana malam-malam begini? Perempuan gak baik malam-malam keluar bahaya!” ucap Joy, berdiri di samping Alana, ia mencoba menasehati Alana.
“Aku mau lihat suasana di pengungsian sebentar kak, sekalian mau lihat gimana keadaan mereka” ucap Alana, yang seketika membuat Joy terdiam. Ia tersenyum, memegang ke dua pipi Alana.
“Apa ini nyata?” tanya Joy.
“Maksud kaka apa? Nyata apa?” tanya Alana bingung, dengan perkataan kakanya itu.
“Aku gak nyangka jika, Kamu mau menjawab pertanyaanku!! Padahal kamu biasanya cuek” ucap Joy, menarik tangannya kembali dari pipi Alana. Gadis itu hanya diam, dan tersenyum samar.
Joy melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, jarum jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Dan yang lainya sudah tertidur pulas. Hanya ada dirinya dan Alana yang masih belum tidur. Joy yang dari tadi berdiam di samping rumah memandang langit, ia yang bosan ingin masuk ke dalam rumah, namun melihat Alana yang keluar. Ia mencoba mengikutinya, kemana Alana akan pergi.
“Alana ini udah malam, apa kamu gak besok pagi saja kita ke sana?” tanya Joy.
“Gak kak!! Aku gak bisa tidur jadi lebih baik bantun orang di sana, siapa tahu ada yang buruh bantuan aku.” Gumam Alana.
Joy berpikir sejenak, apa baiknya dia menemani Alana atau ia membujuknya lagi.
“Hmm. Baiklah..”
“Oya, gimana kalau aku temani kamu ke pengungsian. Aku gak mau kamu pergi sendirian, bahaya malam begini”
Alana terdiam, berpikir sejenak. Jika ada baiknya ia pergi dengan Joy lebih aman dari pada sendiri berjalan malam-malam di tempat yang sepi seperti ini.
“ya, sudah . Ayo berangkat kak. Keburu malam nanti warga di sana pada tidur” ucap Alana, yang mulai melangkahkan kakinya.
Joy hanya diam, berjalan di samping Alana. Dengan mata tak berhenti memandang wajah Alana di sampingnya. Wajah yang begitu berbeda dari biasanya. Baru kali ini dia melihat wajah Alana penyh dengan kebahagiaan, ia bisa tersenyum lepas dengannya. Bahkan, kini dia terlihat sangat akrab dengannya.
Mereka berjalan beriringan menelusuri pohon rindang di setiap sudut jalan. Joy hanya menatapa Alana, ingin ia bertanya namun mulutnya seakan buka tutup untuk mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya selama ini, perasaan yang janggal tentang fAlana menggangu pikiran dan hatinya. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada adiknya itu, namun ia tidak berani tanya padanya. Takut menginggung hatinya.
“Kak, jangan menatapku seperti itu” ucap Alana tanpa menatap ke arah Joy.
“Na! Aku boleh tanya?” ucap Joy ragu-ragu.
“Tanya apa?”
“Emm.. kamu selama ini kenapa selalu cuek dengan semuanya, bahkan di sekolah kamu juga cuek. Seakan acuh tak acuh.
“Hmm, entahlah kak, mungkin nanti semua juga akan tahu, aku siapa dan kalian siapa” ucap Alana, dengan kepala bergerak menatap ke arah Joy, ia mengeluarkan senyum manisnya mentap ke arah Joy.
Joy menyipitkan matanya, dengan kening berkerut. Ia bingung apa yang di katakan adiknya itu, emangnya dia siapa? Bukannya dia adalah adik aku dan Cia? Kenapa aku merasa sangat janggal dengan semua ini, apa sebenarnya yang terjadi?
“Maksud kamu apa?” tanya Joy.
“Oya kak, kita sudah sampai” Alana hanya tersenyum tipis, ia berlari menghampiri pengungsian. Joy terdiam di belakang dengan tubuh seakan mematung, berbagai pertanyaan muncul dalam otaknya, ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi Alana sangat aneh, bahkan dia mengalihkan pembicaraannya.
Alana yang berlari, terhenti. Ia menoleh ke belakang, melihat Joy yang masih berdiri mematung di belakangnya. “Kamu mau sampai kapan di situ?” tanya Alana dengan nada tinggi, membuat Joy tersadar dari lamunannya.
“Eh, Iya” Joy beranjak mengikuti Alana. Mereka segera melihat keadaan orang di sana dan bertanya pada beberapa orang yang masih belum tidur, ada yang sakit atau tidak di pengungsian. Meski ada tenaga medis tapi, ia ingin membantu saat malam tiba-tiba ada yang sakit.
“Permisi pak! Apa di sini ada yang sakit?” tanya Alana dengan badan sedikit membungkuk.
“Oh.. semuanya sehat mbak,” ucap salah satu warga.
“OO.. ya sudah pak, makasih” Alana segera berpamitan pergi dari pengungsian itu.
Joy menarik tangan Alana segera pergi dari sana, Hari sudah semakin gelap. Alana dan Joy memutuskan kembali ke tempat di mana mereka tinggal.
“kaka kalau mau tidur, tidur saja dulu” gumam Alana, yang duduk di teras rumah.
“Emangnya kamu gak tidur” Joy duduk di samping Alana.
“Bentar lagi aku tidur, aku masih menikmati pemandangan malam dari luar” ucap Alana, mendongakkan kepalanya menatap ke atas.
“Baiklah!! Aku temani kamu” gumam Joy, yang ikut mendongakkan kepalanya ke atas.
“Bukannya tadi kakak sudah ngantuk”
“Belom”
“emm.. ibu gimana apa dia hubungi kakak”
“Tadi sempat tanya! Memangnya dia gak menghubungi kamu?”
DRRRTTTT.. DRRTTT
“sepertinya ponsel kaka yang getar” tanya Alana.
“Sepertinya memang iya” gumam Joy, segera mengambil ponselnya, melirik layar ponselnya. Sebuah panggilan dari ‘Miko’.
“Kenapa nih anak menghubungiku” gumam Joy.
“Siapa kak?” tanya Alana, melirik ke arah Joy.
“Bentar!!” Joy, mengankat tangannya ke samping, memberi kode pada adiknya untuk diam sebentar.
Joy segera menerima pangilan dari Miko.
“Kenapa kamu menghubungiku?” tanya Joy sinis. “Kamu kangen dengaku” godanya.
“Ehh.. aku normal, aku juga gak mungkin hubungi kamu. Kalau nomor Alana aktif sejarang,lagia aku tadi minta nomor kamu ke Cia susahnya minta ampun.” Ucap Miko dengan nada sok akrab, padahal mereka baru akrab satu hari sudah seperti bertahun-tahun.
“Emangnya ada apa kamu cari Alana.” Tanya Joy dingin.
“Aku kangen dengannya, dari pada kangen kamu”
“Shiitt,, gak ada kangen-kangenan dengan Alana.”
“Emangnya kenapa, dia di samping kamu gak, berikan ponselnya ke dia” ucap Miko.
“Gak mau!!” ucap Joy tegas.
“Siapa kak?” saut Alana.
“Itu suara Alana kan, berikan padanya dulu”
“gak mau!!” tegasnya.
“Kak!! Biarkan aku bicara dengannya!!” ucap Alana.
“Tuh kan, Alana saja mau bicara dengan aku, kenapa kamu melarangnya” gumam Miko semakin kesal di uatnya.
“Yee, kenapa aku kakaknya jadi aku berhak larang dia, lagian aku gak mau Alana jadi korban kamu lagi” gumam Joy, yang dengan berat hati, segera memberikan ponselnya pada Alana.
“Yee, kenapa kamu sewot”
“Apa kak?” tanya Alana yang mulai bicara dengan Miko.
“Eh,, kamu Na. Aku kira tadi masih Joy. Kamu sudah makan belum?” tanya Miko basa-basi.
“Iya, kak. Udah itu saja yang di tanyakan, atrau ada hal lainnya.” Tanya Alana.
“Emm, kamu sekarang dimana Na? Dan kapan pulang? Kalau pulang bisa ketemu gak?” tanya Miko, yang sebenarnya ia gugup mau tanya apa lagi, hanya itu yang bisa keluar dari mulutya.
“gak tau besok” ucap Alana singkat.
“oo, ya sudah. Oya, kenapa nomor ponsel kamu gak bisa di hubungi?’ ucap Miko, mencoba mencari pertanyaan lain.
“Ponsel aku rusak”
“Na, ayo cepat masuk suidah malam” gumam Joy, memoting pembicaraan mereka.
“Iya kak’ jawab Alana pada Joy.
“Kak miko, aku tutup dulu besok saja aku hubungi kak miko.” Gumam alana, yang langsung mematikan sambungan teleponnya dan segera memberikan ponselnya pada Joy.
“Kak ini ponselmu” Alana mengulurkan ponselnya pada Joy.
“Buat kamu!!”
Alana memincingkan matanya, terkejut dengan apa yang di katakan Joy. Itu ponselnya, tapi kenapa buat dia. “Gak kak, ini ponsel kaka, aku gak berhak bawa ponsel kaka.”
Joy tersenyum, memegang tangan Alana. “Kamu bawa saja ponselnya, kamu yang lebih membutuhkan dari pada aku. Kamu sekarang pakai ponselku. Dan aku bisa beli lagi nantinya” gumam Joy, yang tidak membiarkan Alana memberikan ponsel itu padanya lagi.
“Tapi kak..”
“Udah, gak usah tapi-tapian. Itu sekarang jadi milik kamu. Kamu simpan juga ya nomor ponsel aku. Udah sekarang kamu cepat tidur. Aku juga mau tidur. Jangan keluar lagi malam-malam” ucap Joy, tersenyum dan segera beranjak meninggalkan Alana sendiri.
Alana hanya diam, ia menerima begitu saja ponsel Joy, dan segera beranjak menuju kamarnya.
Sampai di kamar tidurnya, yang satu ranjang dengan Marsha. Ia hanya diam, melihat marsha yang sudah tidur.
Jarum jam sudah menunjukan pukul dua belas malam, dan Alana belum juga bisa tidur, ia masih memandang ponsel Joy. Ia bingung, harus mengembalikkan atau tidak, ia juga bisa beli sendiri, tapi uang yang selama ini ia kumpulkan. Ia akan pakai untuk biaya hidup kuliah nantinya. Karena dia sudah memutuskan untuk hidup mandiri.
Tapi itu ponsel Joy, dianjuga tidak berhak menerimanya. Mungkin kalau aku sudah punya uang untuk membelinya, aku akna mengembalikkan ponsel ini pada kak Joy, Dia sudah terlalu baik padaku. Aku gak mau terus merepotkan dirinya lagi, pikirnya dalam hati.
Alana segera membaringkan tubuhnya di ranjang, ia segera memejamkan matanya, agar besok ia tidak bangun ke siangan, untuk melakukan kegiatan pagi harinya, sebelum mereka berpamitan untuk pulang besok.