My First Love

My First Love
Pertengkaran



"Aku menghargai kamu sebagai adik, tapi apa yang kamu lajukan sudah menyakiti sahabat aku Alana. Apa kamu gak sadar dengan apa yang kamu lakukan?" ucap Cia, dengan anda sudah mulai merendah.


"Aku dan David tidak ada hubungan apa-apa syang. Aku syang sama Miko. Dan gak mungkin jika berduaan dengan laki-aki lain."


"Terus tadi itu apa?" tanya Cia, semakin meninggikan suaranya.


"Tadi aku hanya kebetulan bertemu dengan David." ucap lantang Alana.


"Bushiit!!" umpat kesal Cia, mendorong tubuh Alana, hingga tersungkur ke lantai.


Joy dan Miko spontan berlari bersamaan menolong Alana.


"Apa yang kamu lakukan Cia, apa kamu sudah gila. Dia adik kamu sendiri. Tapi kamu malah menyakitinya. Apa kamu benar-benar sudah gak punya hati sekarang," umpat kesal Miko.


"Mik, kenapa kamu malah membela dia. Aku lihat dnegan mata kepalaku jika dia pergi dengan David, bercanda berdua, bukanya selama ini dia selaku cuek denganmu, apalagi saat dia pendekatan denganmu. Kamu mengejar dia matai-matian. Tapi di sisi lain, David bisa membuat dia tertawa, padahal dia hanya satu kali bertemu. Tapi entah kalau udah sering bertemu diam-diam." sindir Cia, menatap tajam ke arah Alana.


Joy dan Miko memegang bahu kanan dan kiri Alana. Mendengarkan ucapan Cia, Miko melirik ke arah Alana. dan langsung di balas tatapan mata Alana. membuat ke dua mata mereka saling tertuju.


"Cia cukup! Diamlah!!" bentak Joy. Menatap tajam pada Cia. Joy yang juga baru baikan dengan Cia, kini mulai pertengkaran lagi dengannya. Seakan tidak pernah ada kata baikan dari mulut mereka.


"Cia!! Apa yang kamu lakukan, dia adik kamu. Seberapa salahnya, dia tetap adik kamu, jadi jangan sampai kamu bertengkar dengannya." ucap Keyla, yang berjalan masuk berdiri di samping Cia, anaknya yang pal


"Tapi ma,.."


"Cia, masuk ke kamar sekarang. Mama ingin bicara denganmu?" ucap Keyla, dengan nada marahnya. Ia tidak mau jika anaknya itu saling bertengkar satu sama lain. Baginya Alana sudah seperti anak kandungnya sendiri.


Cia menatap tajam ke arah Alana menghentakkan kakinya, melangkah keluar dengan raut wajah sangat kesal.


"Alana, kamu istirahat saja, ya, syang!!" ucap manja mamanya. Membalikkan badanya dan segera menemui anaknya, Cia yang sepertinya kondisi hatinya lagi kurang bagus.


"Iya, ma!!" jawab Alana lirih, ia beranjak berdiri. "Kak Joy, kamu keluarlah. Aku mau bicara dengan, kak Miko," pinta Alana.


"Gak mau, aku akan tetap di sini. Kalian gak beleh berduaan di sini" ucap Joy, yang mulai duduk di kursi belajar Alana. Menatap ke dua pasangan di depannya itu.


"Terserah kak Joy!!" ucap kesal Alana. Ia memegang tangan Miko untuk duduk di atas balkon kamarnya.


"Alana!! Aku boleh tanya?" ucap Miko ragu, ia takut Alana sangat marah dengannya nanti.


"Boleh, memangnya kamu mau tanya apa?" ucap Alana, raut wajahnya masih sangat datar, sepertinya memang dia lagi memikirkan apa kesalahan yang dia buat.


"Apa benar yang di katakan Cia tadi?" tanya Miko, memegang ke dua tangan Alana.


Joy yang melihatnya dari jauh, ia mengepalkan tangannya, memukul-mukulkan pelan ke meja Alana.


"Aku gak memaksa kak Miko untuk percaya denganku atau tidak. Aku ingin kamu bisa menilainya sendiri," gumam Alana.


"Iya, maaf."


"Tapi aku ingin tamya, tolong jawab jujur." ucap Alana.


"Tanya soal apa?"


"Kak Miko suka dengan, kak Cia?"


"Tidak!!" ucapnya cepat. Dan penuh ketegasan.


"Tapi entah kenapa aku merasa kak Miko, punya perasaan meski hanya secuil pada Cia. Dalam hati kak Miko diam-diam, juga kagum dengan Cia kan" tanya Alana membuat Joy yang mendengar pembicaraan mereka itu. Selalu berharap jika Miko dan Alana akan segera putus.


"Alana, kak Miko sangat syang dengan Alana. jangan berprasangka buruk dulu. Karena aku sangat kesal jika mendengar hal itu. Sekrang lebih baik kamu pikirkan apa yang harus di lakukan selanjutnya. Jangan hanya diam sendiri menyalahkan aku," Miko seketika terihat aneh, wajahnya sangat muram, dengan kata-kata yang sudah tidak jelas.


"Bilang saja kalau kamu mulai suka dengan Cia" saut Joy berjalan mendekati Alana.


"Apa yang kamu bilang. Aku tidak pernah suka dengan Alana. Jadi jangan banyak tanya lagi. Aku gak suka jika kamu ikut campur urusan aku." saut Miko kesal.


"Sudah kak Joy, lebih baik kamu pergi sekrang. Aku mau bicara dengan Miko. Jadi jangan ikut campur lagi." ucap Alana kesal, menatap tajam ke arah Joy.


"Aku gak akan pergi, dan aku akan tetap di sini Alana. Aku tidak mau pergi kemana-mana lagi,"


"Kak Joy!! Pergilah!!" bentak Alana.


"Aku gak kana pergi Alana,"


Miko seketika beranjak berdiri, menarik kerah Joy. "Apa kamu tuli, Alana sudah bilang padamu, untuk segera pergi dari sini."


Joy menepis tangan Alana. "Ini rumah aku, yang harusnya pergi itu kamu. Jadi lebih baik, sekarang kamu pergi dari sini. Jangan pernah lagi datang ke sini."


"Kak Joy, Kak Miko. Jangan berantem di sini aku gak suka. Jika kalian gak masih berantem biar aku saja yang pergi dari sini." ancam Alana.


Joy yang merasa sangat kesal, ia beranjak pergi dari kamar Alana. menuju kaamenya, dengan rasa kesal dan amarah yang meluao-luap. Tapi ia tidak berhenti sampai situ, ia ingin mendengarkan apa yang di katakan Alana lewat kamarnya.


"Kak Miko, aki sudah memutuskan sekarang!!" ucap Alana.


Alan menarik napas panjangnya, mencoba untuk memberanikan diri bicara serius dengan Miko.


"Kak,lebih baik, hubungan kita sampai di sini. Aku tidak mau meneruskan lagi, lebih jauh. takut ada yang terluka" ucap Alana, membuat Miko seketika melebarkan matanya tak percaya.


"Tidak!! lebih baik sekarang kak Miko pergi. aku mau istirahat, besok aku akan berangkat pagi. Masih banyak yang perlu aku siapkan," ucap Alana tanpa menatap ke arah Miko, yang sudah mulai sangat kesal.


Di sisi lain Joy yang mendengar merasa sangat senang. Akhirnya mereka putus juga. Ia tidak mau jika Alana suatu hari akan tersakiri olehnya. Lebih baik dia putus sebelum pergi ke Inggris.


"Alana, aku gak mau putus dengan kamu," ucap Miko.


"Pegi kak!!" ucap Alana, menarik tangan Miko untuk segera pergi dari kamarnya.


"Alana aku mohon," ucap Miko memohon.


"Kak!!"


Miko duduk jongkok, memohon pada Alana. Membuat hati Alana seketika tersentuh. Ternyata ada laki-laki, yang mau seperti itu hanya untuk sebuah maaf. tapi keputusannya sudah bulat, ia tidak mau meneruskan hubungan itu.


"Kak Joy, tolong bantu aku bawa dia pergi," ucap Alana pada Joy yang tiba-tiba sudah masuk ke dalam kamarnya lagi.


"Baiklah!! Aku akan pergi sekarang. Jangan sentuh aku." umpat kesal Miko, beranjak pergi dengan perasaan kesal menggebu.


"Kak Joy juga pergi, aku mau sendiri di kamar," ucap Alana.


Brakkk..


Seketika ia menutup pintunya sangat keras, membuat Joy terjingkat.


Alana beranjak duduk di ranjangnya.


Mendengar montor Miko sudah pergi menjauh. Tiba-tiba, Alana yang teringat tentang kotak dari Joy. Ia bangkit tegak dari duduknya, mencoba untuk mulai mencari di mana kotak itu berada.


"Tadi aku meletakkan kotak itu di mana?" gumam Alana, mengacak-acak kamar melempar semua bantalnya ke lantai. Hanya untuk mencari kotak kecil yang entah isinya apa. Belum sempat menbukanya, Cia sudah marah-marah gak jelas dengannya, hanya karena dia sangat menyayangi David. Dan jadinya sekrang salah paham dengannya.


Alana masih berjalan mondar-mandi, dengan tubuh sudah nampak sangat cemas, ia tak hentinya terus menatap jam dinding di kamarnya. kurang 8 jam lagi, pesawat akan take off. Ia berangkat jam 3 pagi. Bahkan sekarang di belum juga tidur.


"Mau harus temukan sekarang, setelah itu aku harus berangkat." gumam Alana, tiba-iba terdiam, dan. Thingg...


Ia teringat jika ia meletakkan kotak itu di meja balkon kamarnya. Ia langsung menoleh cepat, menatap ke arah balkon, an langsung berlari keluar.


"Hah.. Untung saja masih ada, aku benar-benar lupa," gumam Alana


"Apa, ya, isinya. Kenapa Joy memberiku ini. Kenapa Joy membuat aku jadi tak bisa melupakannya." gerutu Alana. Membuat Joy yang berdiri di balkon tanpa di sadari olehmya. Hanya bisa tersenyum, menatap Alana. Ia memang tidak ingin Alana melupakannya. Ia ingin dia selalu mengingat hati dan cintanya untuk siapa saat jauh darinya nanti.


Alana aku harap kamu selalu mengingatku, jika memang aku harus menikah dengan Amera. Aku akan menikah hanya sejenak, dak kembali mengejarmu lagi. Karena aku tidak suka denganbya, tapi aku gak bisa menolaknya, aku tidak enak dengan tante Sheila. Jadi dengan terpaksa aku juga harus nenerimanya.


Joy bergegas masuk ke dalam kamarnya lagi, ia tidak mau menganggu Alana. lagian Alana juga akan pergi dan hari ini hari terkahir ia akan bertemu, entah berapa tahun lagi dia akan bertemu lagi dengan Alana.


------


Alana duduk sejenak di kursi, ia mulai membuka isi kotak itu. Ia mengernyitkan matanya, saat melihat sebuah surat di dalamnya, yang di lipat sangat kecil di letakkan di dekan jam tangan itu.


"Ternyata jam tangan, tapi bagus juga. Makasih kak Joy," ucap Alana dalam hatinya, menatap kamar Joy dari tempat ia duduk.


Alana segera mengambir scearik surat itu, dan mulai membuka, membaca detail setiap huruf yang tertulis.


"Alana, maaf telah membuat kamu selama ini sangat terluka. Aku banyak salah padamu, tapi sekarang. Aku ibgin membebaskanmu, dan pergilah ke Inggris dengan damai, jangan ada lagi tangis yang menyelimuti hatimu. Hiduplah bahagia di sana. Dan aku ingin kamu pergi dari laki-laki itu. Pakailah gelang jam ini Alana. gelang ini sama persis dengan yang di berikan Miko pada Cia. Kamu bisa tanya padanya. Tanya pada Cia tentang Miko."


Alana meletakkan surat itu, ia menatap jam tangan di kotak itu. Meski tidak tahu jam tangan yang di pakai Cia. Tapi sepertinya ia hrau membuktikanya sendiri. Aku harus pakai ini, untuk membuktikan semuanya. Jawaban dari Miko Dan Cia, tapi Cia masih marah padaku.


Drrttt... Drtt...


Alana segera meriah ponselnya, dan menerima panggolan dari Miko.


"Ada apa?"


"Aku ingin kamu temui aku sekrang?"


"Maksud kamu apa? Aku gak mau menemuimu!"


"Aku ingin bicara dengan kamu Alana."


"Bicara apa lagi, gak ada yang perlu di bicarakan lagi."


"Aku tunggu kamu sekrang di rumah aku."


"Aku gak mau!!" ucap Alana tegas.


"Aku akan tetap tunggu kamu sampai kamu datang. Kamu keluarlah. Aku ada di halaman belakang. Aku akan tetap menunggu kamu di sini. Setelah itu kita ke rumah aku," ucap Miko, dan langsung mematikan ponselnya. tanpa menunggu jawaban dari Alana.


Shittt... Apa maksud Miko, kenapa dia bilang seperti itu. Lagian aku sudah tidak ingin bertemu dengannya.


-------


Joy juga merasa sangat keaal, ia ikut di usir juga dari kamar Alana. Ia membaringkan tubuhnya di atas kasur miliknya, sembari menatap atap langit kamarnya.


Alana, kenapa kamu tidak pernah mau jadi pacar aku. Meski kita kakak adik, harusnya bisa pacaran diam-diam.