
Malam kian larut, perut riki kini terus meminta untuk makan.
"bro, gua lapar", rengek riki pada ivan seperti seorang anak lelaki yang sedang meminta makan pada ayah nya.
"lalu?", jawab ivan santai sambil memainkan handphone milik nya tanpa melirik riki
"tolongin gue dong, beli makan kek", jawab nya dengan antusias lalu berdiri dari tempat nya dan kini berada tepat di samping ivan lalu kepala nya menyandar di bahu kiri ivan sambil memeluk lengan sahabat nya itu.
ivan yang mendapat perlakuan dari riki yang bergelut manja seperti seorang kekasih itu sontak terkejut
"aaaaaa br*ngs*k lo, ngapainnnn????? idihhh jiji gue", ivan berteriak sambil menghempas tangan sahabat nya dan menjauh.
"gue lapar....!!!", cembrut riki sambil memayun kan bibir persis seperti seorang wanita yg merajuk
"ehhh lo kalo lapar, makan aja gak usah rayu gue, gue masih waras", omel ivan sambil bergidik ngeri
"eeh blo*n ngapain juga jeruk makan jeruk, gakk enak banget..", jawab riki tak mau kalah
"ya udah...! gak usah pake deket² kaliii", jawab ivan lalu duduk kembali di tempat nya
"kog duduk lagi sih??", rengek riki melihat ivan kembali terduduk
"lah gua harus apa? jangan bilang lo nyuru gue buat masak yah.. ogak gue..!! gue aja gak pernah tu ke dapur buat masakin mie instan aja gak pernah gue", jawab ivan sambil menaikan suara nya.
"kalau dapur nya ada, gua pasti gak merengek minta ke elu br*ng*ek lo, gak setia kawan banget. gua udah dari tadi di sini gak di kasih makan sama si suami istri itu", jawab riki sambil menunjuk alvin dan dian yang masih terbaring di tempat tidur.
"astagaaaa s**l banget gue bawaan nya kalo lagi sama lo", ivan histeris mendengar jawaban sahabat nya sambil menekan tombol yang berada dibawah tempat tidur alvin dan dian.
"apa lagi ini?", riki bertanya kebingungan saat sebuah ruangan terbuka di kejauhan, ternyata ada dapur berukuran lumayan besar.
"itu dapur, lo pergi aja sana, mungkin ada yg bisa lo masak dari kulkas, kayak nya masi ada bahan makanan disana, kemarin kan baru selesai acara ulang tahun dian dan mungkin aja alvin udah beli bahan makanan disana, dan ingat...! setelah lo makan, pergi tidur di ruangan yang ada disana dan jangan ganggu gue, gue mau tidur juga", ivan menjelaskan panjang kali lebar pada riki dan memberi peringatan agar tidak mengganggu waktu tidur nya. sambil melangkah menuju kamar lain yang terletak di depan kamar yg di tunjukan alvin pada riki
"wuaahhhh keren banget sih kantor ini, emang yah kalo sultan mah ngapain juga bisa aja, asal ada duit semu beres, pantesan aja lantai 28 ini kalo di lihat dari luar kog kayak banyak ruangan, tapi saat masuk ruangan milik dian, eh tau nya gak seperti yang di pikirkan, padahal ada rahasia di balik tembok putih", gumam riki sambil berjalan menuju kulkas yang di maksut ivan, dan benar saja di dalam lengkap bahan makanan nya.
riki memasak di dapur dengan segala keahlian nya, wajar saja jika riki bisa memasak apapun yang ia suka sebab kedua orang tuanya adalah koki terkenal di negara A. disamping pekerjaan nya sebagai seorang dokter ahli kandungan, riki mempunyai kemampuan untuk memasak apapun yang ia ingin kan.
riki bahkan jarang memesan makanan dari luar ataupun sekedar makan di restoran kecuali bersama sahabat nya si alvin dan ivan. ia merasa bahwa masakan sendiri lebih nikmat, itu sih menurut nya. ia sesekali memesan makanan di luar jika sudah tidak punya waktu banyak untuk memasak.
setelah beradu dengan sendok dan wajan di dapur, riki segera menuju meja makan dengan makanan yang sudah ia tata rapih di piring nya.
ia mulai menyuapi diri nya sendiri sambil sesekali tersenyum membayangkan gadis yang baru saja ia temui tadi.
riki kembali memcuci peralatan bekas makan nya dan merapihkan kembali ke tempat nya semula, ia berjalan menuju kamar yang akan dia tempati untuk beberapa jam kedepan.
dilirik nya jam di pergelangan tangan. "astaga ternyata sudah pukul 04:30 pagi", gumam nya sambil berjalan menuju kamar.
ketika ia membuka kamar yang telah di tunjukan ivan untuk nya, ia lagi-lagi terkejut olah isi kamar yang akan ia tempati, disana lengkap dengan kamar mandi dalam dan ac, ada juga sepasang sofa dan sebuah lemari pakayan, di dekati nya lemari pakaian yang ada di depan nya itu dan membuka dengan sangat hati-hati.
"ohh ternyata isin nya kimono", gumam nya sambil tersenyum lalu diambil nya sepasang kimono untuk di pakai.
"apa ada sikat gigi yang baru juga? biasa nya disimpan dimana yah, gak mungkin gua nanya sama si bujang lapuk itu, yang ada ntar gua kena salto bebas dari nya", riki berbicara sendiri seperti orang b**o. ia menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
ia memutuskan untuk ke kamar mandi, setidak nya untuk membasuh wajah nya saja meski sikat gigi tidak ia temukan.
"oh ternyata kamu disini yah sikat gigi baruuuuu", riki melihat ada stok shampo, sabun, pasta gigi dan juga ada sikat gigi baru di sana, masih tersimpan dalam kemasan.
"ini seperti berada di negri dongeng aja, semua nya sangat menakjubkan dan sangat rapih. apalagi, apapun yang kita butuhkan semua nya ada, apa jangan-jangan.....", riki berfikir sejenak lalu mencubit pipi nya sendiri.
"aoowww sakittt", pekik nya sambil menatap ke cermin yang ada di depan nya.
"ternyata enggak", gumam nya lagi sambil mengelus kembali pipi yang tadi nya ia cubit sendiri sambil tersenyum seakan berbicara dengan orang lain di depan nya.
"jika saja orang lain mendengarkannku, pasti mereka berpikir aku dokter yang b**o, bisa-bisa nya aku berbicara sendiri, ahhh masabodoh, hidupkan, hidup gue, ngapain repot", batin riki sambil membasuh wajahnnya
jam terus saja bergulir hingga sekarang pukul 07:30 pagi. sedangkan ivan masih terdengar mendengkur dengan irama yang halus.
di kamar riki, ia masih tertidur pula.
dian menggerakan jemari nya dan perlahan membuka kedua bola mata nya, pertama kali yang ia lihat adalah tiang infusd yang berada di dekat nya, ia mengangkat tangan kanan nya dan ternyata cairan infusd itu milik nya.
sejenak ia berpikir, "kenapa bisa aku di infusd nya? apa semalam aku sakit?", batin dian sambil mengingat kembali kenapa akhir nya ia di infusd.
"ahh benar aku pusing setelah melihat suami ku di peluk oleh wanita lain", batin dian mengingat kembali kejadian nyang menimpa nya. mata nya kini berkaca-kaca, saat ia ingin bangun dan duduk, ada sesuatu yang menindih pinggul nya.
.
.
.
hay guys, terimakasih karena masih setia mendukung ku dalam karya pertama ini, semoga Tuhan selalu melindungi kita semua 🧡😇