
"Udah yuk kak, belajar lagi" ucap Alana, yang mulai menarik bukunya, mulai belajar lagi.
Joy masih terdiam menatap ke arah Alana. Ia tidak bisa berpikir jika Alana akan pergi darinya nanti. ia berharap kalau Alana buka adiknya. Tapi, kenyataan dia adalah adik aku. Pikir Joy, mengusap ujung kepala Alana lembut, dan pandangan mata tak berhenti menatap Alana.
"Alana!!"
"Iya kak!!" jawab Alana tanpa menoleh ke arah Joy.
Sifat Alana yang semula pendiam dan sangat cuek. Kini ia berubah seratus persen. Bukan seperti Alana biasanya. Dia ramah, baik dan lebih baik dari pada sebelumnya. Ia juga bisa terbuka dengan, kakaknya.
"Na, tapi jika suatu saat kamu bukan adik aku. Apa kamu mau jadi pacar aku?" tanya Joy. Seketika membuat Alana menoleh ke arahnya.
"Kak, tapi pada kenyataanya kita itu adik kakak. Gak akan pernah ada kata cinta di antara kita. Kita saudara, selamanya juga saudara." jawab Alana tegas.
Joy, melepaskan tangannya di ujung kepala Alana. Ia menunduk lesu, raut wajah seakan sudah frutasi, tidak ada harapan lagi untu bersama. Dan benar kata Alana, sampai kapanpun. Kita semua adalah saudara. Pikir Joy, tersenyum tipis.
"Kak, tapj jika aku adik tiri kakak. Apa kak Joy akan marah denganku" ucap Alana ragu, ia mengernyitkan matanya, menahan hatinya dalam-dalam untuk menerima kenyataan yang akan di ucapkan Joy padanya.
"Aku tadi berharap jika kamu bukan adikku Alana. Jika soal adik tiri, aku gak tahu. Aku akan marah dengan papa, jika punya wanita lain selain mama. Maka aku tidak akan pernah memaafkan papa aku." ucap Joy.
"Kenapa?" tanya Alana "Tapi papa sangat baik. Dan dia juga sangat mencintai mama."
"Iya, cinta tapi kalau ada penghianatan. Itu namanya bukan cinta" ucap Joy.
"Oo.. Jadi wanita susah ya kak. Kita gak tahu mana yang benar-benar tulus atau hanya pura-pura." ucap Alana, menundukkan kepalanya kesal.
"Iya, tapi kamu juga harus hati-hati. Kalau kamu punya pacar, nanti kamu bilang sama kaka. Biar aku yang pilihkan mana yang terbaik" ucap Joy, mengeluarkan senyum semanis mungkin. Meski, dalam hatinya ia tidak rela jika dia di miliki oleh laki-laki lain.
Selesai berbincang mereka segera melanjukan lagi belajar, hingga jarum jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Alana yang kelelahan ia tertidur di bahu Joy. Dengan sangat nyamannya.
"Na, Kamu ngerti gak yang ini" tanya Joy, meneouk tangan Alana.
Joy menoleh, menatap Alana yang ternyata sudah tertidur di bahunya. "Dasar Alana. Kamu igu benar-benar ya!!" Joy, memegang pipi Alana, dengan kepala saling menyandar.
"Alana... Kakak janji akan selalu menjaga kamu. Kakak akan selalu ada di samping kamu.. Untuk kamu, kakak gak mau jika kamu pergi jauh dariku" ucap Joy, mengangkat kepala Alana. Ia mencoba menghindar dari kepalanya. Kemudian, dengan segera mengangkat tubuh Alana ke atas ranjangnya.
"Alana!! Selamat tidur, semoga mimpi indah." sebuah kecupan tipis mendarat di bibir Alana beberapa detik. Dan Joy segera pergi dari kamarnya.
------
Keesokan harinya, suasana nampak sangat cerah. burung-burunng berkicau ria, menyambut mentari pagi yang sudah mulai menampakkan sinar terangnya.
"Alana, kamu sudah siap belum?" tanya Joy, yang dari tadi menunggu Alana di depan pintu kamarnya.
"Kenapa gak ada jawaban sama sekali," gumam Joy, memutar gagang pintu, membukanya lebar, lalu masuk ke dalam.
Ia mengerutkan alisnya saat melihat di depan tidak ada siapa-siapa. "Dimana Alana?" gumam Joy, memutar mata melihat sekelilingnya.
"Alana!!" panggil Joy, mencoba mencari setiap sudut rumahnya.
ckleeekkkk..
Suara pintu terbuka, membuat Joy terjingkat. Menoleh ke sumber suara.
"Alana!!" Joy menatap dari ujung kaki hingga kepala Alana.
AAAaaa..
"Kakak kenapa di sini?" tanya Alana, yang baru saja selesai mandi. Ia masih terbalut dengan handuk putih.
"Maaf, ku gak tahu kalau kamu mandi" ucap Joy, menutup matanya.
"Aku pergi sekarang!!" lanjut Joy, berjalan dengan menutu ke dua matanya.
Bruukkk... Joy jatuh tersungkur.ke lantai.
Joy kebentur pintu yang ada di depannya.
"Kak Joy!!"
Alana seketika menghampiri Joy. Ia memegang tangan Joy, memapahnya duduk di ranjang.
"Kak, kamu gak apa-apa. Ini kenapa ada darah. Pelipis kakak berdarah" ucap Alana semakin panik.
Joy tak sengaja melihat tubuh Alana yang rerbalut handuk, kini berada di depannya.
"Kak tunggu di sini ya, Alana mau ambiklan obat" ucap Alana panik.
"Alana tunggu!!" Joy memegang tangan Alana.
"Ada apa kak?" tanya Alana menoleh kr belakang.
"Kamu ganti baju dulu saja gak apa-apa" ucap Joy, yang masih memegang tangannya.
"Tapi luka kak joy lebih penting" ucap Alana.
Joy beranjak berdiri. Berjalan dengan tangan memegang pelipisnya yang terasa sangat pusing.
"Alana, kamu di dalam?" tanya Mamanya.
"Gawat ada mama, jangan bilang jika aku ada di kamar kamu" ucap Joy.
"Kenapa kak?"
"Takutnya dia marah nanti"
"Bentar ma, aku mau ganti baju dulu. Ya, sudah cepat ganti baju ya. Mama tunggu kamu di depan. Kita makan bersama nanti. Papa kamu juga sudah menunggu"
"Iya ma!!"
Joy, menarik napas lega. Saat mendengar mamanya sudah pergi.
Alana segera bernajak pergi mengambil kotak obat, di laci. Dan duduk si samping Joy.
"Kamu ganti baju dulu!!" ucap Joy
"Entar kak!! Ini mau ambil baju." Alan bergegas berdiri. Tapi handuknya nyangkut di tangan Joy.
"Na!!" ucap Joy menatap pemandangan di depannya.
Alana melihat ke bawah, ia bergegas mengambil handuk ya yang jatuh ke lantai.
"Haa... kakak sengaja ya" ucap Alana kesal.
"Maaf, Na. aku benar-benar gak sengaja tadi." ucap Joy, dengan alis mengerut menahan sakit kepalanya.
Alana ingin sekali marah dengan apa yang sudah Joy lihat. Ia tidak habis pikir kakanya melihat dia tanpa helaian. Tubuh yang harusnya di lihat hanya untuk suaminya. Dan ternyata pikiran itu berbuah.
"Udah aku mau pakai baju, dan kak Joy diam dulu." Alana berlari menuju kamar mandi. Ia segera memaki baju sekolah yang sudah siapkan tadi. Selesai memakai baju, Alana bergegas duduk kembali di ranjangnya.
Ia membuka kotak obat, an mulai mengoleskan obat pada Joy. "Sakit.. pelan-pelan" ucap Joy.
"Kakak laki-laki tapi gak tahan sakit" gumam Alana.
"Setelah, ini kakak pergi. Aku gak mau melihat kakak. Sebelum aku berubah oikiran dan marah dengan kakak. Karena perbuatanya tadi. " lanjutnya.
"Iya, Na" Joy, memegang pipi Alana.
"Jangan sentuh aku!!" ucap Alana tegas.
Alana, yang sudah selesai membersihkan luka Joy. Ia segera memberi plaster di ujung pelipis Joy.