My First Love

My First Love
56 ALVIN



Baru kali ini dian melihat tante nya sangat rapuh dan bersujud dibawah kaki nya, dulu memang dian sangat membenci nya namun dian tidak ingin menyimpan dendam pada siapapun tanpa terkecuali, dian sangat menghormati wanita paruh baya yang berada di depan nya, melihat tante nya bersimpuh di bawah kaki nya sat ini membuat hati nya tergugah.


"tante gak boleh kayak gini, ayo bangun tan", kata dian sambil membopong wanita separuh baya itu dan merangkul nya


"terimakasih nak, betapa b***h nya aku ini dulu membiarkan mu di jalanan tanpa ingin membantu mu, begitu mulia hati mu seperti ibu mu, tante tak akan melupakan kebaikan mu nak, tante janji", sambil menitihkan air mata haru nya sambil memeluk dian dengan erat.


hari pun berganti sangat cepat, sang surya menyapa penghuni dunia dengan memancarkan sinar melalui cela tirai kamar kelurga kecil itu. dian menerjapkan matanya berkali-kali berusa untuk bangun dari tidur nya. ia menoleh kearah disampingnya berharap sang suami ada disamping saat ini, namun yg di harapkan tak menjadi kenyataan.. dian mengambil ponsel yang berada di nakas dekat nya, memeriksa beberapa notifikasi.


"apa dia ingin bercerai dari ku? kenapa tak pernah menghubungi ku lagi? apa salah ku hingga tiba² mendiami ku..!", gumam dian sambil menatap layar pondsel nya.


jam di dinding masih saja terus berputar, detik demi detik telah dian lewatkan hingga tak terasa usia pernikahan memasuki empat bulan lama nya.


dian lalu beranjak dari tidur nya, merapihkan kembali temoat tidur dan membuka tirai jendela kamar nya, lalu mata nya tertuju pada map yang berada di atas nakas, map yang ia terima dari tante liki berisikan tentang hak dan kepemilikan perusahan peninggalan sang ayah, juga beberapa hotel dan restoran yang berkembang di beberpa kota atas nama nya.


ia membuka kembali lembaran demi lembaran yang berada di tangan nya saat ini.


"aku harus ke kantor sekarang, yah sekarang perusahan keluarga ku berada di tangan ku dan aku harus memikirkan nasip perusahan itu berserta karyawan yang ada di dalam nya, aku harus berjuang", guman dian laku bangkit dan menuju kamar mandi menyiapkan diri nya untuk berangkat ke kantor.


setelah melakukan ritual mandi pagi, dian berjalan menuju kamar ganti lalu stelah selesai menggangikan pakaian, ia memoles wajah nya dengan bedak tipis dan tak lupa memakai lipstick yang senada dengan warna baju yang ia kenakan. tak lupa memilih salah satu tas bermerek mahal lalu meraih kunci mobil dari laci meja rias.


"bi maaf, aku gak sarapan, nanti aku sarapan di kantor aja dan yah, aku pulang nya mungkin kemalaman bi, ada yang harus aku bereskan hari ini", kata dian sambil berjalan menuruni tangga lalu pergi meninggalkan rumah nya.


sesampai nya di mobil, dian enggan menyalakan mesin mobil nya, ia meraih ponsdsel di tas dan mengetik pesan WA untuk suami nya.


..."sekalamat pagi, apa kabar? maaf mengganggu waktu sibuk nya, mulai hari ini saya bekerja dan mungkin pulang telat nanti, terimakasih"...


setelah mengetik pesan singkat itu, dian lalu mengirim nya pada sang suami dan kembali meletakan benda pipih itu di dalam tas.


ia mengendarai mobil menuju kantor milik keluarga nya tanpa ia sadari, ada beberapa pesan whats upp yang masuk di handphone nya.


tak butuh waktu lama akhir nya dian sampai pada parkiran mobil, ia berjalan dengan langkah mantap menuju kantor nya dan memberikan salam hormat pada satpam yang ada di depan kantor.


"permisi selamat pagi bu!!, mohon maaf, bisa kenakan masker anda terlebih dahulu bu, setelah itu saya akan memeriksa suhu tubuh anda dengan alat termogun ini", kata pak satpam sambil menunjukan benda berbentuk pistol mainan pada dian.


"selamat pagi, oh maff pak, sebentar ya", dian terlihat mengenakan masker yang sedari tadi si gantung nya mengenakan gantungan masker pada leher nya.


"sikahkan memeriksa suhu tubuh saya pak", kata dian mempersilahkan sang sat pam untuk mengecek suhu tubuh nya.


"baiklah bu, suhu tubuh anda normal 36,8°c, ibu di perbolehkan masuk dan mohon tunggu di ruangan tunggu yah bu", kata pak satpam sopan dan ramah.


"emhh baiklah pak, terimakasih, tapi apa boleh saya masuk ke ruangan saya saja?", kata dian pada pak satpam.


pak satpam bingung tentu nya,.


"ruangan? ruangan mana toh ? si mbak ini belum pernah aku lihat bekerja disini sebelum nya", batin pak satpam.


"oh ia pak, maaf saya lupa memperkenalkan diri saya sebelum nya, saya DIAN", sambil mengangguk setengah membungkuk pada pak satpam dengan mengulum senyum dibalik masker yang tak terlihat, namun dari sudut mata yang terlihat, dian sangat ramah dan terlihat senyum di mata nya.


pak satpam pun melakukan hal yang sama dan tersenyum di balik masker .


"apa boleh perlihatkan kartu tanda pengenal anda bu?", kata pak satpam pada nya.


"baiklah", dian lalu memberikan tanda pengenal nta pda satpam ..


pak satpam terlihat melebarkab mata nya melihat nama lengkap yang tertera pada kartu tanda pengenal itu. namun dalam waktu yang bersamaan, tiba-tiba seorang wanita yang sangat di kenali nya muncul dan menerobos masuk, namun sayang nya, belum sempat ia benar-benar masuk kedalam gedung yang sangat menjulang tinggi itu, pak satpam yang sedang berbicara dengan dian tiba-tiba menghalangi jalan wanita muda yang ingin menerobos masuk.


"maaf bu, selamat pagi, tolong kenakan mask....", belum selesai pak satpam berbicara, wanita itu menampar pipih sang sat pam sebanyak dua kai


PLAKKKK PLAKKK


dian yang masih berada di depan pintu masuk itupun melangkah lebar menuju pak satpam dengan wanita yang ia kenali.


"misel", gumam dian lalu berjalan mendekati kedua nya.


"ada apa ini? kenapa anda menampar pak satpam ini seperti itu?", dian bertanya pada wanita yang berada di depan nya.


"heh siapa lo? ini urusan saya, jangan ikut campur kamu!! kamu belum tau siapa saya?", tantang misel pada dian


"maaf entah siapapun kamu, kenapa kamu menampar bapak ini? bukan kah niat bapak ini baik? kenapa kamu malah menamparnya?", dian masih saja bertanya pada nya.


"biar lo tau siapa gue, gue ini seorang yang sangat terpandang, dan perlu kalian berdua ingat, gue adalah calon istri pemilik kantor ini", kata misel pada kedua nya dengan gelagat yang terlihat sombong .


"hahaha calon istri? memang nya siapa pemilik kantor ini menurut mu?", tantang dian ingin mengetahui nya.


"A L V I N, alvin", kata misel sambil megejakan nama pemilik dan menekan nya kembali.


DEGGG


seketika jantung dian seakan berhenti untuk berdetak lagi


.


.


.


***hay guys, jangan lupa klik vote pada novel ku ini yah biar author tambah semangat dan giat buat nulis nya.


terimakasih god bless 😇🥰***