
Alana menghentikan langkahnya, ia merasa ada yang mengikutinya, seketika Alan menoleh cepat ke belakang.
"David!!" gumam Alana lirih.
David, bergaya seolah dia berjalan biasa dnegan pandangan ke atas, seakan acuh pada Alana di depannya.
"Kenapa kamu mengikutiku?" tanya Alana, menatap tajam ke arah David.
"Gak usah pura-pura lagi, kamu pasti mengikutiku, kan?" tanya Alana kesal.
"Baiklah!! Aku hanya ingin lihat, seberapa bertahan kamu dengan lukamu itu," ucap David, datar. Dengan raut wajah yang mulai muram, menahan rasa kesalnya pada Alana.
"Aku betah, hanya luka lecet saja kenapa harus repot." ucap Alana, jutek. Ia melanjutkan langkahnya, berjalan dengan ke dua tangan menuntun sepedanya.
"Sudah pergi sana, aku gak butuh bantuan kamu." umpat Alana kesal, ia meneruskan langkahnya lagi. Tanpa menoleh ke belakang lagi.
David terus mengikuti Alana, bukan karena dia tertarik, tapi karena dia memang tersentuh, melihat Alana yang terus menahan sakitnya, seakan memaksa dirinya untuk ke pantai dan tidak mau pulang lebih dulu.
"Siapa juga yang mau membantu kamu, jangan terlalu percaya diri. Aku hanya ingin lihat kamu, sekarang aku juga aku pergi," gumam David, menatap punggung Alana yang sudah pergi menjauh, tanpa perdulikan ucapannya.
Gadis itu sangat aneh, dia benar-benar cuek. Beda dengan Cia, yang memang lebih terus terang. Tapi memang pertama kali aku tertarik dengan Cia, gadis yang simple, dan friendly, tapi entah kenapa saat di jodohkan dengannya. Aku merasa tidak bisa, dan tidak siap. Bukan perjodohan yang aku inginkan. Hanya ingin merasa cinta sesungguhnya baru menikah.
Merasa capek, Alana mengibaskan tanganya, bergantian. Menghentikan langkahnya, memukul ke dua lututnya, bergantian. "Capek juga ternyata!!" keluh Alana.
Melihat itu, David merasa tersentuh hatinya, melangkahkan kakinya cepat. Berjalan mendekati Alana.
"Minggir!!" bentak David, menarik tangan Alana, dan segera meraih sepedanya.
"Kamu mau ngapain sepedahku," ucap Alana, mencoba meraih sepedanya lagi.
"Udah, diamlah!!" bentak David, membuat Alana tertegun, takut!! Ia melangkahkan kakinya ke belakang. Hanya bisa diam, menatap David, menaiki sepedanya.
"Kenapa kamu masih diam di situ, mau jadi patung pinggir jalan?" pekik David, mebuat Alana menatap David seketika.
"Maksud kamu apa?" decak kesal Alana.
"Cepat naik!!" pinta Devid, dengan nada juteknya, wajahnya masih sama terlihat sangat dingin.
Apa manusia es ini bicara padaku?
"Maksud, kamu aku?" tanya Alana, menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, siapa lagi? Dari tadi aku bicara dengan kamu, emang ada orang lain selain kita berdua." Decak kesal David. Dia terkenal pintar tapi kenapa jadi bodoh di depannya.
"gak usah, Aku bisa menaikinya sendiri. Lagian kamu gak perlu repot-repot menolongku. Aku gak butuh bantuan kamu." ucap Alana, kencoba meraih lagi sepedanya, dengan cepat David menepis tangan Alana.
"Udah, jangan maksa. Kamu naik gak, kalau enggak, aku buang sepedah kamu," ancam David, membuat Alana terbungkam, tidak bisa mengelak.
"Jangan!! Baik, aku naik" Alana segera naik ke boncengan belakang.
"Pegang pinggangku!!" pinta David.
"Gak perlu!!"
"Jangan pikir aku ambil kesempatan dari kamu, lagian aku ogah banget dekat dengan kamu. Jika aku tidak terpaksa, hanya ingin menolong kamu, tidak lebih!! Jadi jangan ke pedean," celoteh kesal David.
"Cepetan, kalau kamu jatuh, aku juga yang susah. Aku harus mengangkat kamu nanti, lebih baik kamu jaga diri kamu jangan nyusahin orang lain. Udah cepat skerang pengang jaket aku, kalau kamu gak mau pegang tangan aku," ucap David, dengan nada jutek, dan wajah yang dingin.
Dia seperti es, dingin banget. Nyeselin, udah jutek, kasar, tapi sebenarnya dia juga baik. Tapi baiknya ngeselin, bikin tambah naik darah saja nih, pria. Pikir Alana dalam hati.
Ia memegang pinggang David, dengan segera David mengayun sepedanya, secepat mungkin menuju ke pantai. Alana hanya diam, memegang jaket David.
"Apa kamu juga mau ke pantai?" tanya Alana, memecahkan keheningan antara mereka.
"Enggak!!"
"Oo,"
Benar-benar nyebelin dia, di jutekin malah bales jutek. Laki-laki aneh, Alana tak berhenti ngedumel dalam hatinya.
Malas banget aku harus hadapi laki-aki seperti dia,
David sudah sampai mengayun sepeda, melewati pasir pantai, membuat ia kehilangan keseimbangan karena terlalu berat, melewati pasir, yang seakan menanam setengah ban sepedahnya, dan. Bruukkkk..
David terjatuh, berdua dengan Alana, berbaring berdampingan. Dengan tangan Alana yang sakit, di atas dada David. Ke dua mata mereka saling tertuju, beberapa detik.
Devid, memegang bahu Alana, dan beranjak duduk.
"Kamu gak napa-napa?" tanya David, datar. Memegang tangan Alana, yang masih luka.
"Aku baik-baik saja!!" ucap Alana, beranjak duduk dengan ke dua tangan membersihkan pasir yang menempel di tubuhnya.
"Oya, kwnapa kamu bisa bawa seedah itu, padahal rem-nya blong," tanya Alana heran.
"Aku bisa pakai kaki," ucap datar David.
"Oo.."
"Oya, makasih, buat tadi, kamu telah menemaniku, mengantar aku sampai di sini," ucap Alana lirih, sembari menundukkan kepalanya.
"Gak perlu, terima kasih. Aku juga gak ingin menolongmu,"
"Ya, sudah, sekarang kenapa kamu ?!sih di sini. Pergi sana!!" upat kesal Alana. Si cuek di balas cuek, lama-lama bikin naik darah.
"Aku di sini aku menikmati pemandangan pantai, lagian pantai ini bukan milik kamu. Jadi jangan larang aku," ucap datar David, duduk di atas pasir putih, dengan pemandangan mata menatap ke depan. Melihat matahari yang perlahan terbit.
"Alana, yang merasa kesal dengan David, ua beranjak pergi, duduk menjauh daei David. Menatap pemandangan yang sama, dengan ke dua kaki di tengkuk, ia memeluk kakinya.
"Pemandangan indah, saat ini terkahir aku di sini. Besok aku akan pergi. Dan aku belum belum berani bilang pada papa, dan mama. Aku takut mereka menilaknya, dan tidak mengijinkan aku kuliah di sana." gurutu Alana, mencoba untuk tersenyum, si depan matahari pagi yang sangat indah.
David melirik ke arah Alana, ia merasa aneh dengan gadis itu.
Sepertinya dia lagi ada masalah, lagian kenapa dia saat pesta, malah di sini. Kenapa dia gak ikut ke pesta. pikir David.
"Ia beranjak berdiri, melangkahkan kakinya menuju ke arah Alana. "Kenapa kamu diam?" tanya David, duduk di sampingnya.
"Gak usah banyak tanya!!" ucap kesal Alana tanpa menatap ke arahnya.
"Kamu ada masalah? ukirkan semua yang kamu katakan, dalam bentuk sebuah tulis pada pasir. Jika pasir itu kena ombak, perlahan tulisan kamu akan hilang. Dan sama dengan kamu, jika kamu memendam sendiri masalah kamu, maka akan menjadi sakit sendiri dalam hatimu. Lebih baik utarakan pada sebuah tulisan atau alam, biar kamu merasa tenang. Perlahan masalah kamu juga akan hilang di makan waktu." jelas David, sok bijak.
Alana terdiam, menatap pasir di bawahnya, desiran ombak laut menerpa ujung kakinya. "Apa yang di katakan David benar, aku harap dnegan menuliskan pada pasir semua masalah aku hilang, seperti laut yang terus menerpa dataran pasir ini." gumam Alana dalam hatinya.
David, meraih ranting kecil tepat tak jauh darinya, ia memegang lengan Vina, membuka telapak tangan Alana, memberikan ranting kecil itu. "Aku harus nulis apa?"
"Terserah kamu, ku juga gak akan cerita ada siapapun." ucap David.
Kenapa dia baik, lagian aku gak begitu akrab dengannya. Di bandingkan dengan kak Joy, lebih baik dia, kak Joy sekarang otaknya selalu mesum. Alana menatap David dari samping, wajahnya benar-benar tanpa ekpresi sedikitpun.
Ia menarik sudut biburnya, dan seger memandang ke bawah, melihat pasir yang di selingi air. Alana beranjak berdiri, menjauh dari David, duduk jongkok, menulis setiap masalah yang ada dalam pikirannya dalam bentuk sebuah tulisan kecil, yang hanya bisa di lihat dari dekat.
"Apa begitu banyak masalahnya, kenapa dia menulis begitu banyak dan kecil-kecil." gumam David, menatap ke arahnya. Ia bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Alana. Dan mengambil ranting di tangannya.
"Aku juga mau nulis," ucap David, berjalan sedikit menjauh, menyisakan jarak dengannya.
"Memangnya mau nulis apa?" tanya Alana.
"Gak usah mau tahu apa masalahku!!" ucap David, sinis. Menulis hanya dua kata. "Ini aku kembalikan, dan tulis semua masalah kamu," teriak David, melemparkan rantingnya apda Alana. Dan beranjak pergi, meninggalkan Alana.
"Kemana dia?" tanya Alana pada dieinya sendiri.
"Ngapain juga aku perduli dia ya, aku lanjut nulis saja," gumam Alana, ia melanjutkan menulis lagi, hingga sudah ratusan kata ia tulis. Merasa sudah lega, ia beranjak berdiri. Duduk lagi menatap ke pantai, suasana hari ini masih pagi, jadi tidak terlalu panas untuk berjemur sejenak.
Sembari menunggu ombak menerjang tulisannya, ia terdiam, membayangkan apa yang terjadi pada dirinya.