My First Love

My First Love
Joy & Alana



"Itu sepertinya kak Adrian" gumam Alana, namun tak di gubris oleh Joy. Ia tidak suka adiknya itu terus menyukai orang yang gak bisa jentelmen sama sekali. Kalau dia laki, harusnya bilang jika memang dia suka. Jika tidak suka jangan hanya beri harapan palsu pada Alana. Maka aku juga tidak akan tinggal diam!! Jika dia berani menyakiti hati Alana.


Adrian tersenyum, melihat Alana sudah ada di depannya. 


"Kalian sudah nunggu lama ya?" Kata Adrian, berjalan menghampiri Alana dan Joy yang masih stay duduk di bawah pohon. 


Alana sontak berdiri, mengeluarkan senyum tipisnya.


"Enggak kok kak!!" Ucap Alana


Joy yang berada di sampingnya terlihat tidak suka. Gimana bisa dari tadi ia di sampingnya. Jawabnya datar tidak se-semringah saat dengan Adrian. Joy menarik bibirnya sinis menatap Adrian yang sok akrab dengan Alana. 


"Ya, udah kita langsung berangkat saja ya" ucap Adrian. 


"Iya kak, lagian kemalaman sampai sana gak enak juga, sama penduduk di sana" gumam Alana beranjak berdiri. 


Kepalanya bergerak, menatap ke arah Joy yang masih duduk di tempatnya. "Kak!! Ayo berangkat, kakak mau ngapain masih duduk" gumam Alana kesal. 


"Iya, Alana!" Joy beranjak berdiri dan mengikuti langkah Alana dan Adrian, seperti biasa Alana selalu berbincang sangat akrab dengan Adrian, dan Joy yang bediri di belakang mereka, menirukan setiap mimik ucapan mereka dengan gaya kesal. Gimana bisa Alana akrab dengan orang luar dari pada keluarganya sendiri. Joy gak habis pikir dengan Alana. Apa sebenarnya yang terjadi, Sampai Alana dengan keluarganya sendiri cuek. Tapi dengan orang lain dia sangat akrab.


"Non Alana!" Panggilan dari seorang yang ia kenal, membuat Alana menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke belakang. Menatap Sopirnya berlari membawakan koper yang berisi perlengkapan miliknya. Yang semula sudah dia siapkan di kamar, dan sopir tinggal mengambilnya saja.


"Iya pak" ucap Alana. 


"Ini non, barang-barang non" ucap Sopir itu, sambil mengatur napasnya yang masih ngos-ngosan. 


"Iya pak, bawa kopernya ke dalam mobil Adrian, di depan. Mobil berwarna putih itu." Ucap Alana. 


"Iya non" sopir Alana segera pergi, mengangkat kopernya, lalu memasukan ke bagasi mobil Adrian 


Joy dan Alana segera masuk ke dalam mobil Adrian. Joy duduk di belakang dan Alana


Mereka segera berangkat bersama, menuju sebuah desa untuk melakaukan bakti sosial. Yang memang di adakan setiap satu bulan sekali dengan teman-tamannya yang beranggota enam orang. Semua sudah berada di dalam mobil Adrian, karena memang Adrian tidak mau mereka berangkat sendiri-sendiri.


"Kalian lapar gak?" Tanya Adrian, yang masih fokus dengan jalan di depannya. 


"Lapar kak!!"


"Lapar banget, aku dari tadi belum makan" saut Joy, yang dia tidak satu-satunya laki-laki di sana. Dari enam anggota yang laki-laki ada empat Joy dan Adrian dan sisanya wanita. Sebenarnya anggotanya ada banyak, tapi mereka sudah berangkat lebih dulu, dan sekarang menyisakan enam orang saja.


"Joy napa kamu diam saja?" Tanya Marsha, yang duduk di sampingnya. 


Joy yang merasa tidak suka dekat dengan wanita. Ia hanya diam tanpa suara sedikitpun.


"Baiklah kalau kamu gak mau jawab, mungkin kamu grogi ya dekat dengan wanita seperti ini" Joy masih tetap diam, mulutnya tertutup rapat, seakan tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun. Yang ia lihat sekarang hanyalah Alana yang ngobrol sendiri dengan Adrian. Ia yang duduk di samping adrian tidak pernah berhenti berbicara, hingga tidak perdulikan Joy, kakanya sendiri, yang duduk di belakangnya. 


"Kita akan sampai untuk beristirahat sebentar. Perjalanan masih lama. Mungkin sekitar satu jam lagi. Jadi kita makan dulu, Keburu kalian semua kelaparan." Ucap Adrian yang masih fokus dengan jalan di depannya. 


"Iya kak" saut Alana. 


Joy hanya diam, ia merasa tidak betah lagi duduk di samping Marsha, selesia makan ia bermiat untuk menarik Alana duduk di sampingnya!!


Mobil Adrian berhenti di sebuah rumah makan kecil tepat di pinggir jalan. Joy menyipitkan matanya saat melihat rumah makan itu, ia tidak pernah makan di tempat seperti itu. Nampak kecil, sempit. Dan juga sangat sederhana, berbeda dengan masakan rumah yang menurutnya jauh lebih enak. "Kita makan di sini? Kamu yakin?" Tanya Joy memastikan.


"Iya, memangnya kenapa? Kamu gak suka? Di sini hanya ada warung makan kecil seperti ini. Di sini desa buka kota besar, yang banyak restauran mewah seperti yang kamu inginkan." Ucap Adrian, dengan nada tidak suka. Ia tidak suka ada orang yang pilih-pilih, untuk makan, tempat tinggal atau apapun. Karena kegiatan sosial yang meraka adakan tidak mneharapkan yang newah untuk makan dan tempat tinggal.


"Kalau gak suka ya sudah? Gak usah makan!!" Ucap Alana, seketika membuat hati Joy tertusuk bambu yang sangat runcing, ucapan Alana semakin hari semakin menatajam. 


Mereka segera memesan makan, hanya ada penyetan ayam goreng yang membuat Joy semakin bingung. Ia harus makan apa, kalau makan ayam dia alergi. Udah pesan nasi saja!! 


Semua mulai makan dengan lahapnya, namun beda dengan Joy. Yang sepertinya tidak selera untuk makan. 


Joy hanya makan nasi tanpa lauk sama sekali. Di warung kecil itu. Hanya tersisa makanan nasi ayah goreng. Gak ada pilihan lagi. 


"Kamu kenapa makan nasi saja? Ini aku kasih lauk buat kamu, us suapin ya" ucap Marsha, yang duduk di samping Joy. Joy seketika tubuhnya tersentak ke belakang, terkejut dengan apa yang di lakukan Marsha. Gimana bisa ia mau menyuapinya di depan banyak teman-temannya, malu-maluin. 


"Apa yang kamu lakukan!!" Ucap Joy, menepis tangan Marsha, membuat gadis itu terdiam menunduk, ia mengerutkan wajahnya memendam kekesalan. 


"Kak, udah nurut saja kenapa" ucap Alana. 


Marsha yang semula sedih, terdiam, dan tiba-tiba tersenyum manis. Dan mulai mencoba menyuapi Joy kembali.


Joy menghela napas berat, dengan terpaksa ia menerima suapan dari tangan Marsha. Namun, pandangan matanya tertuju pada Alana yang tak berhenti berbincang dengan Adrian, membuat ia semakin geram di buatnya.


Selesai makan, mereka segera pergi ke tempat di mana akan menyalurkan bantuanya. Karena tenaga medis di sana kurang. Jadi mereka juga nerniat untuk membantu, dengan bantuan Alana yang pintar dalam menangani orang sakit.


Satu jam kemudian, mereka sampai di sebuah rumah di mana mereka akan tinggal. Di sana sudah berbaris, orang yang sudah menunggu bantuan. Dengan sigap Adrian dan yang lainnya membagikan sumbangan yang sebelumnya sudah datang lebih awal. Mereka saling membantu hingga larut malam.


"Na!" panggil Adrian, berjalan menghampiri Alana yang sibuk membereskan sisa makanan yang berceceran di mana-mana.


Alana menghentikan kegiatanya, menatap ke arah Adrian. "Iya, Kak!! Ada apa?" tanya Alana.


"Kamu gak istirahat? Semua anak sudah pada masuk ke dalam membersihkan diri, dan istirahat" gumam Adrian.


Alana melirik pergelangan tangannya, sudah menunjukan pukul delapan malam. Semua sudah masuk ke dalam kecuali Adrian dan Alana yang masih di halaman. Dan Joy duduk di teras rumah, menatap sinis ke arah mereka berdua.


"Alana kenapa dekat dengannya? Aku punya feelling kalau Alana bakalan sakit hati gara-gara itu cowok" gerutu Joy.


Dorrr..


Marsha menggertak Joy, seketika menbuat Joy lompat dari duduknya. "Kenapa kamu mengejutkanku?" tanya Joy kesal, mengusap dadanya yang masih dag dig dug di buatnya.


"lagian kamu melamun sendiri di teras, nanti ke sambet lo" gumam Marsha, duduk di samping Joy.


"Mereka berdua akrab sudah lama?" tanya Joy.


"Iya, sudah hampir satu tahun. Aku juga kurang tahu, tapi udah lama. Kenapa memangnya?" Marsah menatap ke arah Joy.


"Adrian itu benar baim atau tidak?" tanya Joy, yang semakin penasaran di buatnya.


"Dia sangat baik, Kak Adrian itu sangat-sangat baik kalau bagiku. Entah bagi yabg lainnya, karena aku satu sekolah dengannya. Jadi tahu kebiasaan dia di sekolah gimana" ucap Marsha.


"Ooo.. Ya sudah" gunam Joy, yang beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam, ia berniat untuk membersihkan badanya lebuh dulu dan istirahat. Mendengar jika Adrian benar-benar baik, ia juga tidak eprlu begitu ketat mengawasi Alana.


Joy yakin jika Adrian pasti menjaganya dengan baik.


"Kamu mau kemana?" Teriak Marsha.


"Mandi!!" ucap Joy tegas.


Marsha mendengar itu hanya diam, dan melirik sekilas ke arah Adrian dan Alana.