
David segera memakai bajunya, dan berjalan keluar, dari kamarnya. Menuju ke ruang makan yang sudah tersedia beberapa makanan berbagai menu masih lengkap di atas meja makan.
"Apa semua tidak makan? Kenapa makanan masih banyak di sini?" gumam David, beranjak duduk sembari menunggu Alana, gang masih belum keluar juga menunggu. Sudah hampir 15 menit lamanya David menunggu, Alana belum juga keluar.
"Kamu cepat sini!!" ucap David memanggil pelayan yang berada tepat tak jauh dari tempat ia duduk.
"Iya, tuan!!"
"Panggulkan Alana, suruh cepat turun. Aku gak mau menunggu terlalu lama," gumam David.
"Di mana Alana?" suara seorang kaki-laki dengan nada serak beratnya khas miliknya, membuat David tertegun seketika, ia menutkan ke dua aliasnya.
Siapa yang mencari Alana? Apa Joy? Tapi dia sudah pergi.
David segera menoleh cepat menatap Joy sudah berdiri tepat di bekakabgnya, dengan wajah yang berbeda dari biasanya "Kenapa kamu kembali?" tanya David, yang masih melebarkan matanya, ia menunjukan wajah terkejutnya, melihat sosok laki-laki yang hanya bisa menyakiti Alana.
"Bukan urusan kamu. Aku ingin ajak Alana pergi sendiri."
"Enggak, kalian gak boleh bersama. Aku tahu kamu akan berbuat buruk padanya. Aku akan ikut kemana kalian pergi!!"
"Terserah Alana nanti gimana. Tunggu dia keluar dari kamar kamu. Baru tanya padanya, mau pergi dengan aku atau kamu!!" ucap Joy.
"Memangnya kamu ada kendaraan ajak dia pergi?" tanya David, beranjak berdiri melangkahkan kakinya mendekati Joy, dengan tatapan tajamnya.
"Tante Sheila memberikan kunci mobilnya untuk aku ajak Alana jalan-jalan!!"
"Bukanya kamu benci dengannya? Sebenarnya apa yang kamu rencanakan? Apa yang kamu inginkan, darinya?" David semakin terbawa emosi, ia mendorong bahu Joy menjauh darinya, dan dia melangkah pelan semakin ke depan dan terus mendorong tubuh Joy, membuatnya terpojok bersandar di tembok. Dan mengeluarkan senyum tipis sinisnya pada David.
"Kamu siapa dia? Bukan urusan kamu aku mau apain dia. Dan kamu gak berhak dekat dengannya, karena kamu bukan sama sekali laki-laki yang dia sukai."
David semakin menggeram kesal, ia mencengkeram kerah Joy, menariknya ke atas. "Aku tidak akan biarkan kamu sakiti dia. Aku memang bukan siapa-siapa dia. Tapi lihatlah dia, kasihan dia tidak punya siapa-siapa lagi. Dia hanya punya teman yang perduli dengannya, yaitu aku. Bahkan semua saudaranya memusuhinya," umpat kesal David.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Alana berjalan mendekati David dan Joy.
"David lepaskan, kak Joy!!" ucap Alana meraih tangan David menariknya dari kerah Joy. Joy yang merasa Alana membelanya, ia menarik kerahnya, lalu mengibaskan perlahan pundak kanan dan kirinya.
"Alana!! Ikut aku sekarang!!"
"Kemana, kak?" tanya Alana.
"Alana, bukanya kamu akan pergi dengan aku?" ucap David memegang lengan Alana, membuat wanita itu menoleh ke arah David.
Ia ingat jika harus pergi dengannya untuk mencari ibunya. "Eh.. Iya. Kak Joy, aku mau pergi dengan David!!" ucap Alana lirih.
"Kenapa, ia kamu gak mau pergi dengan aku. Kamu masih suka dengan aku, kab?" tanya Joy memegang ke dua bahu Alana, dan seketika langsung di dorong oleh David.
"Jangan sentuh dia!!"
"Ini bukan urusan kamu. Jadi kanu jangan ikut campur masalah ku dengannya. Biarkan aku sendiri yang urus masalah cinta aku dengannya." guman Joy, ganti mendorong dada David menjauh dari Alana. Lalu memegang ke dua bahu Alana.
"Aku ingin bicara dengan kamu. Ada hal yang ingin aku katakan padamu," ucap Joy, mengusap lembut punggung tangan Alana.
"Tapi..." Alana menghentikan ucapannya, ia menatap ke arah David yang hanya diam berdiri di sampingnya.
"Udah, lagian aku gak akan sakiti kamu lagi," ucap Joy.
"Tapi aku sudah janji pada, David. Aku akan pergi dengannya.."
"Syang!!" suara perempuan yang tiba-tiba masuk memotong pembicaraannya.
"Itu, pacarnya sudah datang!!" ucap Joy.
"David!! Maaf nanti saja, kamu bantu aku. Sekarang pacar kamu sudah menunggu, lebih baik kamu pergi dulu dengannya. Nanti kita bisa pergi setelah aku pulang," ucap Alana, tersenyum tipis, dan Joy langsung memegang tangan Alana keluar dari rumah David, dan melepaskanntanganya tepat di d3pan rumahnya.
"Kamu jalan sendiri!!" ucap Joy yang kembali jutek.
"Kamu kenapa?" tanya Alana, menatap aneh pada Joy.
"Kamu tanya aku kenapa? Harusnya aku yang tanya kamu? Kamu kenapa tiba-tiba pergi? Apa kamu dari awal tahu jika ibu kamu selingkuh dengan papa aku, dan sekarang dia mengambil papa aku dari mamaku," bentak Joy, membuat Alan bergidik takut, dia menarik ke dua pundaknya, dengan mata mengernyit, menunduk ke bawah. Joy terlihat menakutkan saat dia marah.
"Apa yang kamu lakukan dengannya?" tanya David, berjalan memegang tangan pacaranya, menghampiri Alana dan Joy.
"Bukan apa-apa, aku mau pergi dulu!!" ucap Joy, menarik tangan Alana tanpa perdulikan kaki Alana yang masih terlihat bengkak akibat ulah Joy sendiri. Mereka masuk ke dalam mobil, tanpa perdulikan tatapan David yang tidak suka melihatnya.
"Dia siapa syang!!" tanya pacar David, merengkuh erat tangan kanannya.
"Dia sepupu aku!!" ucap David datar.
-----
Di dalam mobil Joy tak menatap sama sekali Alana. Dia terlihat sangat cuek padanya. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Alana.
"Maksud kamu?"
"Apa kamu belum puas membuat aku sakit" Alana memegang kakinya yang terasa sangat nyeri, ia mengerutkan wajahnya, menahan rasa sakit yang semakin menjalar di kakinya.
"Kaki kamu kanapa?" tanya Joy, melirik kaki Alana yang tambah bengkak.
"Gak tahu, harusnya kamu lebih peka dari awal."
"Kenapa aku harus peka, aku bukan pacar kamu. Dan ingat kita masih sama saudara. Dan kanu sendiri yang bilang. Jadi aku tidak akan pernah sama sekali mengganggu kamu." jelas Joy, membuat Alana tertunduk lesu, ia memejamkan matanya sejenak, menarik napasnya dalam-dalam.
"Apa yang kamu katakan? Apa kamu sudah tidak suka denganku?"
"Harusnya aku yang tanya padamu. Kamu yang selama ini menyakiti aku dengan harapan palsu kamu. dan sekarang kamu tanya cinta padaku," Joy tersenyum sinis, memukul setir mobilnya dnegan telapak tangan kirinya.
"Iya, aku salah. Aku salah telah membuat kamu tersakiti. Tapi apa kamu gak ingat yang buat hidup aku hancur siapa? Kamu? Kakak yang merenggut kesucianku"
"Lagian apa aku tahu jika kamu juga melakukan dengan laki-laki lain setelah dengan kau," ucap Joy, dan langsung dihadiahi sebuah tamparan keras oleh Alana.
Plaakkkk...
"Jaga mulut kamu, memangnya aku perempuan apaan. Kamu sernaknya bilang itu."
"Ingat, aku tidak akan biarkan kamu hidup bahagia Alana." Joy menghentikan mobionya, menatap semakin tajam wajah Alana, mencengkeram dagunya, sedikit menekan membuat Alana tak bisa teriak ia hanya diam menahan rasa sakit cengkeraman Joy
"Joy jangan bertindak bodoh!!"
"Aku gak bodoh!!" Joy menarik kepala belakang Alana, mencium bibirnya penuh dengan hasrat, Alana terus meronta memukul dada bidang Joy, mencoba mendorongnya namun tubuhnya masih tak bergeming dari trmoatnya, kecupan Joy semakin dalam. Dengan tangan yang mulai menjalar ke tubuhnya.
"Emp.. Emp.." Alana meneteskan air matanya, memukul dada Joy semakin keras.
"Percuma kamu menangis, tidak ada yang akan menolong kamu," ucap Joy, merobek lengan panjang yang di keanan Alana, membuat bajunya tanpa lengan. Dan tangan kanan, menerobos masuk ke dalam sela celana panjang milik Alana. Gadis itu terus meneteskan air matanya.
"Emppp.. Kak Joy!!" ucap Alana, memegang tangan Joy mencoba menariknya dari dalam celananya.
"Nikmatilah, jika kamu mau menurut apa kataku. maka aku akan memaafkan kamu!!"
"Kenapa kamu jadi seperti ini padaku, kak." ucap Alana.
Joy melepaskan kecupannya, mengambil napasnya sejenak, memegang ke dua pipi Alana, menatap wajah cantik Alana dari dekat, dengan menempelkan keningnya pada kening Alana, membuat hembusan napasnya saling beradu, berpacu dalam perasaan yang sama.
"Karena aku suka dengan kamu. Dan aku ingin kamu tahu gimana rasanya sakit, dan saat aku mengambil kesucian kamu kamu tidak tahu, dan sekarang kamu bisa lihat gimana aku bermain." ucap Joy, mengecup kembali bibi Alana, dengan kecupan lembut berbeda dari biasanya yang sangat kasar dan agresif dan kini kecupannya semakin lembut, membuat Joy terbius dalam gairah Joy.
Joy yang semula berusaha menyakinkan Alana, Ia tersenyum licik, sesuai dengan semua rencana yang dia lakukan dengan Cia dan Amera, rasa cinta yang pernah terukir dalam hatinya, di penuhi dengan rasa benci yang kini sudah membalut tubuhnya.
"Apa kamu mau melakukannya lagi denganku?" tanya Joy.
"Maksud kak Joy?" tanya Alana bingung, ia merapikan bajunya, dengan tangan kiri memegang bahu kirinya yang terbuka.
"Kita melakukan hubungan lagi!!"
"Maaf!! Aku gak bisa!!"
"Kamu yakin? Dalaman kamu sudah basah apa kamu tidak mau jika aku memuaskanmu?"
"Tolong kak Joy jaga mulutmu. Aku gak mau lagi seperti ini. Aku masih punya harga diri, iya meski aku dan Miko sudah pisah. aku tidak masalah, tapi aku tidak mau terus seperti ini dengan kamu. aku ingin bebas."
"Jika kamu ingin bebas, pergilah jauh dari hadapanku. Tapi jika kamu bisa pergi dariku, aku yakin jika kamu akan selalu mengingatkanku. Kamu gak akan mungkin bisa jauh dariku. Karena hanya aku yang paling kamu cinta, bahkan kamu begitu menikmati saat aku bermain dengan tubuh kamu," jelas Joy, yang mulai menjalankan mobilnya lagi.
Alana hanya diam, ia tidak munafik, meski dirinya menolak dalam hati ia menerima setiap perlakukan kakak itu padanya, meski marah kesal, tapi ia tidak bisa meluapkan amarahnya pada kakaknya orang uang pertama membuatnya jadi tergila-gila.
"Kenapa kamu diam?" tanya Joy.
"Aku memang akan perhmgi, dan gak akan pernah menemui kamu lagi," ucap Alana.
"Iya, terus kenapa kamu masih di sini. Apa kamu masih mau tinggal di sini dan tidur dengan David." ucap Alana.
Perjalanan Joy terhenti di suatu taman yang sangat indah, ia berhenti sejenak, melepaskan sabuk pengaman di tubuh Alana.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Alana.
"Diamlah!!" ucap Joy, menatap ke arah Alana. Ke dua mata mereka saling tertuju, degup jantung Alana semakin cepat melihat wajah Joy sangat dekat dengannya.