My First Love

My First Love
Miko dan Cia



"Joy, kapan kita pergi ke sydney?" tanya Cia, yang langsung membuka kamar Joy.


Joy yang diam di kamarnya, sibuk dengan duduk santai, bersandar di tembok,  menikmati buku Alana yang masih ada di kamarnya, merasa terganggu dengan apa yang di lakukan oleh Cia. Ia menutup bukunya, menatap ke arah Cia, sengan tatapan tidak suka.


"Kamu tanya padaku?"


"Iya, di sini memangnya ada orang lain selain kamu?" tanya Cia.


"Aku kirain pada tembok," ucap Joy jutek.


"Joy, aku serius. Aku tanya kapan kita ke Sydney?"


"Kamu tanya pada Mama, aku gak tahu kapan kita berangkat," ucap Joy jutek, kembali membuka bukunya lagi, tanpa menghiraukan Cia.


Cia melangkahkan kakinya mendekat, menarik tangan Joy untuk segera berdiri. "Kamu yang tanya pada Mama,"


Joy duduk kembali, di ranjangnya tanpa perduli apa yang di katakan oleh Cia.


"Gimana kalau soal Alana?" tanya Cia, dengan ke dua alisnya tertaut ke atas.


"Kenapa aku?" Joy, menutup bukunya kembali, melemparkan di ranjang.


"Karena kamu juga pasti mau tanya tentang Alana kan. Aku yakin kamu ingin tahu, di mana keberadaan adik kamu tersayang itu." sindir Cia


Joy bergegas berdiri, menarik jaketnya dan beranjak pergi, meninggalkan Cia, ia melangkahkan kakinya melewati Cia. 


"Kamu mau kemana?" tanya Cia.


"Mau keluar!!"


"Kemana?"


"Bukan urusan kamu, lagian hari libur juga. Kenapa kamu gak menemi Miko saja?" tanya Joy.


"Miko gak ada di rumahnya!!"


Cia menunduk, ia merasa sangat menyesal beberapa hari ini tidak bersama dengan Miko, rasa kesal itu membuatnya benar-benar tersiksa saat ini.


Apalagi saat ia tahu jika Miko tidak ada di rumahnya. Ia henar-benar hancur, belum ada kata perpisahan buat dia, kenapa dia malah pergi.


"hubungi dia, tanya dia di mana. Jika kamu suka dengannya, kejar, jangan kasih kendor. Cinta harus di perjuangin." ucap Joy sok bijak. tanpa menatap ke arah Cia yang masih berdiri di belakangnya.


"Aku wanita Joy, kamu menyuruh aku perjuangin dia, sedangkan dia tidak suka dengan aku?"


"Memangnya kenapa kalau kamu wanita. Cinta itu patut di perjuangkan. Asam, manis, pahit, dalam bercinta itu hal biasa. Jangan takut terluka, jika mencintai seseorang. kuatkan hatimu, mungkin akan mendapatkan sebuah kebahagiaan sendiri." Pesan Joy, sok bijak.


Cia menatap Joy, ia bahkan terus bergumam dalam hatinya.


kenapa Dia sok bijak banget, padahal kalu di bilang dia itu juga sama, gak bisa jaga cintanya. Dan malah membiarkan orang yang ia sukai pergi dengan laki-aki lain.


"Kamu kenapa? Dia suka denganmu, lihat cara dia perlakukan kamu. Itu sudah memeberikan sinyal sedikit, jika sia itu suka denganmu. Sekarang kejaelah dia." ucap Joy.


"Kalau cinta patut di perjuangkan. Kenapa kamu tidak perjuangkan cinta kamu. Dan memilih menikah dengan Amera nantinya.


"Karena itu berbeda , hubunganku dan Alana gak mungkin bisa bersatu." ucap Joy, melangkahkan kakinya pergi menuruni anak tangga, tanpa persulikan Cia lagi.


"Kenapa dia? lagian siapa juga suruh suka dengan adik sendiri," gumam Cia dalam hatinya.


Gadis itu bergegas pergj dari depan kamar Joy, ia melangkahkan kakinya dengan tatapan nenunduk ke bawah, memikirkan apa yang katakan Joy tadi. Ia berjalan menuju kemarnya, berdiam diri di kamarnya, sembari melirik sekilas ke arah Amera yang sepertinya sudah tertidur lelap


Cia duduk bersandar di ranjang, merenung semua yang terjadi


"Apa aku harus pergi ke London. Tapi apa dia ada di sana? Kalau aku ke sana, takutnya dia gak ada, sama saja aku ke sana ngapain. Masa kuliah juga masih lama, dan semua pendaftaran juga sudah di siapkan papa. Aku tinggal melempatinya saja. Tapi... Miko kuliah di mana ya, lebih baik ku tanya Joy lagi " gerutu Cia dalam hatinya, ia bergegas menuju kamarnya, mencari ponselnya yang tergeletak di ranjang.


Amera yang nendengar samar celoteh Amera, ia beranjak duduk di samping Alana.


"Cia, kamu dari mana?" tanya Amera yang dari tadi duduk sendiri di kamarnya.


"Kamu sudah bangun, apa terganggu dengan celotehku?" tanya Cia


"Dari kamar Joy, aku tanya padanya. Tapi dia tidak memberi solusi baik." jawab Cia, menundukkan kepalanya kesal.


"Memangnya tentang apa yang kamu tanyakan?" Amera mencoba berdiri, memegang pundak Cia, menenangkan hatinya sejenak.


"Tentang Cinta, Amera! Aku merasa gusrah, dari kemarin gak bisa tidur sama sekali. Semenjak kepergian David, okelah aku terima... Tapi hang tidak aku terima kenapa Miko juga pergi secepat itu, dan kata pembantunya juga di tidak pergi dengan Alana. Dia baru saja pergi ke London."


"Iya!! Aku sudah lama suka dengannya. Kalau miko dengan Alana, baru dekat, dan Miko yang ngejar-ngejar Alana." ucap Cia, dengan raut wajah kesal dan menyesal dalam hatinya.


"Aku duku gang tidak bertindak langsung, sehingga membuat celah pada bubungan pertemanan kita. Ia malah melirik Alana, dan terus ngejar-ngejar dia."


"Terus Joy tadi bilang apa?"


"Aku suruh mengejar dia, karena cinta patut di perjuangkan."


Kenapa Joy bilang seperti situ, apa dia akan perjuangkan cintanya juga untuk orang lain. Dia masih suka dengan Alana. Mungkinkah yang di katakan ada Cia juga sama dnegan isi hatinya selama ini  Ia ingin perjuangkan cintanya dengan Alana.  Kalau seandainya itu terjadi, aku gak akan membiarkannya terjadi. Aku harus menghalangi mereka, agar tidak bisa bersatu lagi.


"Amera, kenapa kamu diam" ucap Cia yang merasa sangat kesal tak di hiraukan.


"Gak apa-apa, ayo kita tidur lagi sekarang. Aku mau membaringkan tubuh aku. Lagian ini sudah malam Cia." ucap Amera. 


Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul 11 malam.


"Aku masih belum ingin tidur Amera.  kamu tidur saja dulu, aku masih menyimpan kesal yang mendalam,"


"Terserah kamu deh, aku tidur dulu ya.." ucap Amera membaringkan tubuhnya dna bergegas tidur. Memejamkan matanya sejenak.


Cia berjalan menuju ke liar balkon kamarnya. Ia menayap ke depan gerbang rumahnya..


"Kapan aku bisa di jemput kamu Miko..."  Cia terus berharap dalam hatinya  membayangkan sosok laki-laki itu datang kerumahnya.


"Cia! Cia!!"


panggilan tak terduga, dari sosok laki-laki di depannya  Melambaikan tangannya ke arahnya.


Cia mengernyitkan matanya, melihat jelas siapa yang di depannya 


"Miko!!" gumam Cia . Mencoba menatap lebih detail lagi, ia mengusap ke dua matanya, mantapnya lagi, lalu mengusapnya lagi berkali-kali.


"Kenapa aku jadi nginggu gini. Bukanya Miko sudah pergi ke London tadi pagi. Kenapa dia ada di depan..Ah.. Mungkin aku hanya salah lihat.. Lupakan saja."


Cia! Cia!


Miko terus memanggilnya tanpa rasa ragu lagi berteriak di depan rumahnya. 


"Tapi kalau bukan Miko, kenapa dia tahu namaku. Atau jangan-jangan itu benar Miko." Cia seketika berlari keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga, dengan langkah semakin feoat, bergegas menemui siapa orang yang di depan, ia ingin memastikan sendiri itu Miko atau bukan di depan rumah.


Dengan napas ngos-ngosan, Cia menundukkan badannya, tangan kanan memegang pagar rumahnya, sembari terus  mengatur napasnya dulu sebelum bicara dengan Miko.


"Cia!! Temani aku.." ucap Miko.. Memegang tangan Cia, membuat wanita itu terkejut, mendongakkan kepalanya, seketika ia berdiri tegap, dengan napas yang langsung teratur di buatnya.


Mata Cia tak behenti memandang laki-laki di depannya. Ia memegang ke dua pipi Miko. Mencubit ke duanya,


"Cia sakit! Apa yang kamu lakukan?"


"Kamu benar Miko?" tanya Cia memastikan.


"Iyalah? Memangnya siapa lagi?"


"Aku kira hantu tadi. Lagian bukanya kamu ada di London ya?" tanya Cia, yang masih tidak menyangka ada Miko di deoannya.


Puk! Puk! Puk!


Cia menepuk ke dua pipinya bergantian, membuktikan jika dia tidak mimpi.


"Masih sakit, berarti ini bukan mimpi," gerutu Cia, yang langsung dengan terburu-buru membuka gerbang rumahnya.


Miko melihat Cia yang begitu aneh, hanya diam memandang wajah lucunya.


Cia membuka gerbangnya seketika langauang memekuk tubuh Miko, sontak membuat Miko terkejut, mundur ke belakang. "Miko aku kira kamu sudah pergi, aku tadi datang ke rumahmu," gumam Cia, semakin memeluknya erat. Ke dua tangan Miko terangkat setengah, seakan dia ingin sekali membalas pelukan Cia tapi ia ragu, ia takut jika tidak bisa membuktikan pada Alana nantinya.


"Kamu kenapa?" tanya Miko.


"Aku tadi mencarimu!!" jawab Cia, melepaskan pelukannya.


"Kenapa kamu mencariku?"


Cua nenautkan ke dua alisnya.


kenapa dia gak peka banget sih, udah tahu aku suka. Tapi ekpresi wajahnya menunjukan jika dia tidak suka denganku. Sebenarnya kenapa dia, apa kemarin yang di lakuakn hanya prank..