
Jarum jam sudah menunjukan pukul tiga lebih lima belas menit. Hari sudah menjelang sore. Alana, yang sudah peluang lebih dulu, ia duduk di depan pos satpam sekolahan, menunggu Miko, yang masih belum keluar.
Gadis iyu melirik sekilas jam yangannyang melingjar di tangannya. Dengan wajah kesal, ia sudah menunggu hampir lima belas menit.
Tak lama suara montor khas Miko, terdengar jelas di telinganya.Membuat wajah Alana yang semula muram, telah menunggu lama. Kembali menarik ke dua sudut bibirnya membentuk senyuman. Melihat montor Miko berhenfi tepat di depannya.
"Kak, Mik." ucap Alana, beranjak berdiri. Memasang wajah kesalnya.
"Lama nunggu ya?" tanya Miko, mengulurkan helm pada gadis cantik di depannya itu.
"Iya, lama banget. Lagian dari tadi aku udah nunggu hampir lima belas menit. Dan kak Miko tahu, ku paling gak suka jika di suruh untuk menunggu terlalu lama." decak kesal Alana.
Miko mengerutkan keningnya, dengan mata menyipit. Mengamati gadis di depannya itu, secara terperinci. Setiap detai, sudut ekspresi wajahnya.
"Kenapa, kak, Miko menatapku seperti itu?" tanya Alana, bingung menatap pandangan Miko. Ia menunduk menatap dirinya sendiri dari ujung kaki.
Apa ada yang salah dariku, kenapa tatapan kak Miko sangat mencurigakan itu. Apa penampilanku sangat aneh.
"Aku aneh ya?" tanya Alana, yang menatap sekujur tubuhnya.
"Enggak!! Hanya saja, kamu beda dari biasanya." Miko, menatap kagum wajah Alana. "Apa ini benar Alana, atau kamu orang lian. Kamu benar-benar beda. Seperti bukan Alana," lanjutnya menjelaskan.
Alana menautkan ke dua aslinya. "Beda?"
"Iya, beda. Kamu benar Alana kan?" tanya Miko, memastikan.
"Iya, Alana. Memangnya aku siapa. Bukanya dari tadi pagi aku begini. Dan kenapa kamu jadi curiga dengan aku sekarang,"
"Entahlah, tapi aku merasa kamu sekarang lebih banyak bicara. Bukan seperti Alana yang selalu irit bicara." Miko, menyentuh dahi Alana. "Bahkan dulu aku kenal kamu, hanya satu dua saja bicara. Dan sekarang seakan ribuan kata keluar dari bibir kamu." lanjutnya, dengan tangan memegang je dua tangan Alana.
Alana tersenyum simpul,"Karena aku ingin berubah sekarang. Aku gak mau di kenal jadi wanita yang dingin. Dan tidak banyak bicara. Aku ingin jadi wanita yang bisa nyaman denganmu," ucap Alana, membuat Miko terdiam, menyentuh pipi Alana.
Aku tahu Alana, hati kamu tidak ada di sini. Aku tahu di mana sebenarnya hati kamu berlabuh. Tapi setidaknya. Kamu mau berubah demi aku, aku sangat senang. bisa dekat seperti denganmu, semoga kita bisa seperti ini selamanya. Dan aku bisa membuat kamu melabuhkan hatimu, padaku.
Alana menundukkan kepalanya, ke sekian detik, lalu mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan Miko di depannya.
"Makasih, ya, kak. Berkat kak Miko, aku semalaman memikirkan cara gimana aku bisa merubah sifat dan Aku ingin merubah diri aku semuanya,"
Miko sontak langsung menyadarkan dirinya cepat, dari lamunannya. Ke dua sudut bibirnya mengembang, membentuk sebuah senyuman. "Kamu sangat cantik, pintar. dan beda dari wanita lain. Meski kamu tetap jadi wanita super cuek, aku gak perduli, asalkan kamu tetap di sini bersamaku, melangkah berdua bersama, menjalani kisah kita berdua. Sebagai kenangan yang indah bersama." Miko, mengusap lembut ujung kepala Alana.
"Tapi.. Kak. " wajah Alana muram, dengan kepala sedikit menunduk ia berpikir jika pengorbanan untuk berubah tidak di hargai sama sekali. Dan Miko lebih memilih dirinya yang dulu.
Laki-laki di depannya itu, memegang dagu Alana, menatap sekilas wajah cantik gadis di depannya itu. "Kenapa kamu diam Apa kamu kecewa dengan ucapanku. Tapi jika kamu mau sekarang ikut aku" ucap Miko.
Alana mendongak, "Kemana?"
"zudah naik, aku amu bawa kamu ke tempat di mana kamubbisa merasakan ketenangan sejenak." jelas Miko.
Alana, menarik ujung bibirnya. Mengerutkan keningnya, mencoba menimang-nimang, ajakan Miko.
"Kamu gak mau ya?" tanya Miko, mengerutkan hidungnya.
Alana hanya diam, mendongakkan kepalanya, menatap Miko, dengan senyum menyungging di bibirnya. Ia beranjak naik ke belakang bincengan Miko.
Tit.. Tit..
Suara clakson mobil mengejutkan Alana dan Miko.
"Cie.. Yang lagi pada kasmaran, yang mesra ya." goda Cia.
Joy, hanya diam di kursi belakanh. tanpa menatap ke arah Alana dan Miko. Ia bahkan baru tahu jika Alana pacaran dengan Miko. Mendengar jata itu saja hatinya retak berkeping-keping. Bahkan melihat wajah laki-laki itu, ia ingin sekali marah dengannya.
earphone, di telinganya. Terlihat mimik bibir Joy, mulai bersenandung, mengikuti irama musik yang ia dengarkan.
Sepertinya kak Joy, tidak melihatku. Dia benar-benar tidak mau melihatku.
"Alana, aku pulang dulu ya" ucap Cia, melambaikan tangannya.
"Oya, Miko jangan bawa pulang Alana malam-malam" Cia melebarkan senyumnya, perlahan mobil itu mulai pergi dari pandangannya.
Alana mencoba menyadarkan lagi dari lamunannya.
"Kita mau kemana kak?" tanya Alana.
"Ke pantai gunung payung, aku ingin naik ke sana. Sekalian kita jalan-jalan ke pantai." ucap Miko, yang perlahan sudah mulai menarik gas montornya.
Alana mengangguk pelan, ia menegang pinggang Miko, mulai menikmati perjalanan yang lumayan memakan waktu lama. Hampir satu jam setengah dia harus naik montor untuk bisa sampai di sana. Haris sudha menjelang sore.
Mereka sampai di tempat tujuan, Miko menegang tangan Alana. berjalan menuju ke pantai naik menuju ke gunung payung yang nenjulang di pantai. Ia membantu Alana untuk naik ke atas, hingga sampai di atas. Terlihat jelas pemandangan indah pantai.
Semilir angin, membuat helaian rambut Alana, beterbangan. "Kamu gak duduk?" tanya Miko, memrgang yangan Alana menariknya duduk.
"Bentar!! Aku ingin menikmati hembusan angin, yang menerpa tubuhku" gumam Alana. Mengulurkan ke dua tanganya ke samping, dengan kepala sedikiy mendingak ke atas. Dan amfa teroejam rapat, ia nenarik naapsnya dalam-dalam. merasakan, hembusan angin yang membaut hatinya semakin tenang. Seakan hambusan angin, itu mulai masuk dalam pori-pori kulitnya dan menjalar ke seluruh tubuhnya.
Mikk, teraenyum melihat Alana. Ia beranjak berdiri. Memeluk pinggang dari belakang. Sontak, membuat ia terkejut, membuka manya lebar.
"Alana, diamlah. Aku gak akan ngap-ngapin kamu." ucap Miko, semakin mempererat pelukannya, dengan dagu menyandar di pundak Alana mesra.
Hembusan napas berat laki-laki itu terasa di pipi Alana. Tapi Alana tidak perduli itu. Ia mengulurkan ke dua tanganya legi meniknati angin masuk dalam tubuhnya.
Sebuah kecupan pipi mendarat tiba-tiba. "Alana, ijinkan aku selalu menjagamu. Aku ingin terus menjagamu. Dan kemanapun kamu pergi. Aku akan ikut denganmu," ucap Miko
Alana membuka matanya, melirik ke samping. Wajah Miko sangat dekat dengannya. Ke dua mata mereka saling tertuju. Dalam hembusan napas berat saling berpacu dalam sebuah perasaan.
Miko, mendekatkan wajahnya, dengan pandangan kosong, perlahan mengecup bibir Alana lembut.
Alana yang terkejut dengan kecupan itu, ia mendorong tubuh Miko menjauh darinya, hingga menyisakan jarak.
"Maaf, Kak Mik," Alana menunduk malu.
Gak apa-apa kok," Miko, memegang tanganya, menariknya duduk. "Kita lihat matahari tergelam dari sini." Ucap Miko, memegang erat tangan Alana, duduk saling menempelkan kepalanya.
Hanya selang bebetapa menit, matahari sudah mulai tergelam. Mereka bernajak berdiri. Dan segera turun ke pantai.
"Aaa....." teriak Alana, dengan senyum menyungging di bibirnya.
"I Love You, Alana." Teriak Miko, menggema ke seluruh penjuru pantai. Ia berdiri di samping Alana. Dengan yangan kiri mencoba meraih tangan Alana.
Seketika Alana menciut di buatnya. Perasaannya benar-benar tidak menentu.
"Alana, ikut aku." Gumam Miko, mencoba menjahili Alana. Menggelitik pinggangnya.
"Kak, Miko henyikan," ucap Alana, tertawa, lepas bersama dengan Miko, saling jahil satu sama lain. Berlari ke pinggir pantai, bermain air. saling menyiram satu sama lain,
"Sepertinya, sudah larut malam." ucap Alana, menhentikan tawanya.
Miko melirik jam tangan yang melingkar di tanganya, jarum jam sudah menunjukan pukul enal lebih tiga puluh menit.
"Ya, sudah. sekarang kita pulang. Lain kali aku ingin ajak kamu pergi lagi." ucap Miko, memegang tangan Alana.
"Melihat kamu tersenyum seperti itu. jadi kebahagiaan tersendiri bagiku,"