My First Love

My First Love
Episode 244



Alana beranjak menuju ke kamar mandi, melupakan apa yang di


katakan David.


“Alana, kamu di kamar mandi” tanya david yang tiba-tiba


mengedor pintu kamar mandi.


‘Iya, aku mandi, memangnya kenpaa?”


“Aku hanya ingin tanya padamu, kamu taruh ponsel aku di


mana/” tanya David.


“Ponsel akmu di di tas aku, dan tas kau ketinggaln di mobil


teman kamu.”


“Shhiiiitttt.. kenapa kamu ceroboh banget, sekaarng bagaimana


kau bisa menghubungi pacar kau,”  decak


kesla David, berjalan keluar dengan rasa kesal semakin menggebu.


“Pakai hati,” goda Alana.


“Aku serius Alana, awas saja jika ponsel aku sampai hp aku


hilang maka ponsel kamu yang akannaku sita.” Ancam David, melangkahkan kakinya


berjalan pergi meninggalkan Alana yng masih mandi di dalam.


```````


Keyla Pov


“Ian!!” panggil Keyla, membaringkan tubuhnya ke akan, dengan


tangan kanan meraba sampingnya, tidak ada siapa-siapa di sana. Seketika ia


membuka matanya lebar. Keyla yang baru bangun, ia tidak melihat Ian ada di


sampingnya, ia hanya berbaring sendiri dengan balutan selimut miliknya.


“Mungkin dia sudah pergi, lebih baik aku segera mandi,


tubuhku benar-benar sangat lengket. Ian sangat gila, dia membuat badan aku


lengket gini.” Gumam Keyla, yang lansgung beranjak dari ranjangnya dan beranjak


menuju kamar mandi, dengan langkah yang masih sangat susah untuk melangkah ke


depan.


“Ian kamu masih ada di sini?” tanya Keyla, mentap Ian yang


masih mandi di dalam.


‘Iya, aku mau sekalian mandi di sini, kamu mau sekalaian


mandi?” tanya Ian , berjalan menuju ke arah Keyla mnearik tangan Keyla, masuk


ke dalam kamar mandi.


“Oya, tapi jangan menyentuh aku,” ucap Keyla.


“Tenang saja, aku tidak akan melakukannya lagi, aku ingin


membasuh kamu saja.”


Keyla tesenyum, dan saling menggoda menjahili Ian yang


berada di depannya itu.


``````


Joy Pov


Joy meninggalkan Miko sendiri di taman, ia berjalan menuju ke


dapur mencari minuman, namun langkahnya terhanti saat melihat Amera sudah


berdiri di dapur dengan pembantunya.


“Amera, kamu masak apa?” tanya Joy, berdiri di samping


Amera, dengan tangan kiri perlahan memegang tangan Amera, yang masih mengaduk


adonan roti, dan pandangan mata menatap ke wajah Amera di depannya.


“Joy!! Kamu?” ucap Amera malu-malu, wajahnya mulai memerah


di buatnya.


“Kamu nagapin?” tanya Amera, dengan wajah yang masih


memerah.


Joy mencubit pipi Amera, “Aku hanya masakmkue, dan itu


makanan semau sudah aku siapkam. Aku mau buat makanan penutup yang tak kalah


dari restauran mewah.” Gumam Amera, menatap wajah tampan Joy yang sangat dekat


dengannya.


“Wahh... kamunemmang calon isri idaan,” guamm Jiy, memeluk


manja Amera.


“Oya tadi kamu sudha di mabilkan baju untukmu kan?” tia tadi


bawakan baju ini, yang aku pakai. Oya, kamu gak pergi sekarang, antar teman


kamu ke bandara.”


“Siapa?”


“Itu yang tadi nemui Cia, tadi Cia katamya mau siap-siap


mengatarkan Miko ke bandara. Dan sekarang mereka masih di ruang tamu.”


“OO,, ya sudah biarakan mereka berdua saja.”


“oya, bukanya Miko pacara Alana kan? Tapi kenap dekat dengan


Cia sekarang Terus Alana bagaimana?”  tanyaAmera, bingung dnegah hubungan rumit mereka.


“Sekarang dia pergi dengan adik kamu?”


‘Apa? Pergi dengan adik aku/” tanya Amera memastikan.


“Iya, makanya kamu coba kamu tanya dia. Akunkhawatir


denganya sudah dua hari ini belum ada kabar sama sekali dari Alana, dia gak


pernah sama sekali seperti ini, bahkan Miki saja dia tidak menghubuninya.”


“Aku gak nyangka, kenapa Alana begitu mudah dapatkan


laki-laki tampan, dan kenapa dia begitu murahan banget denagn siapa saja dia


mau, dan kamu kenapa kamu mau denagn wanita seperti dia.”


“Aku hanya mau dengan kamu!!” ucap Joy ,mecoba untuk


tersenyum di depan Amera.


“Apa kamu yakin,” ucap Amera, beranjak memasukan adonan


rotinya ke dalam open.


“Memangnya aku bohongi kamu?”


“Ya, aku gak tahu, tapi jika kamu masih punya perasan dengan


alana aku juga mana tahu, yang tahu adalah hati kamu sendiri.” Ucap Amera,


beranjak pergi meninggalkan Joy yang masih berdiam diri di dapur dengan tatapan


bingungnya.


“Kamu panggil yang lainya keluar, kita makan bersama.” Pinta


Amera.


“Baiklah!!” Joy berjalan menjauh, dari dapur dengan pandangan


mata kosong, memikirkan apa yang sebenarnya ia lakukan, sama saja menyakiti


hatiku sendiri. Entah apa aku bisa pergi dari perasaan ini atau tidak.


“Joy, kamu lihat Cia gak?”


“Mana aku tahu. Aku saja baru dari dapur.” Ucap Joy.


“Mungkin dia masih di kamar.” Lanjutnya.


“Baiklah, aku akan cari dia,” ucap Miko beranjak mencari


Cia, yang sudah stay di kamarnya.


“Cia, aku mau bicara dnegan kamu.” Ucap Miko, berjalan


mendekati Cia, yang duduk melamun di ranjangnya.


“Memangnya kamu mau bicara apa?” tanya Cia mendongakkan kepalanya


menatap Miko yang berjalan mendekatinya. Ia duduk di sampingnya, dengan


pandangaAir mata sekana sudah tak bisa terbendung lagi, iangin sekali keluar, mata


mereka saling tertuju.


“Apa yang ingin kamu katakna?” tanya Cia, mengulangi


pertanyaanya lagi.


“Aku ingin kamu lupakan aku!!” ucap Miko.


Terasa tersambar pertir di pagi hari Cia terdiam mematung


dengan pandangan tak percaya menatap ke arah Miko. Seakan air matamya tak


terbendung lagi, bagaimana bisa ia berbicara itu padanya.


“Maksud kamu apa?” tanya Cia memastikan.


“Aku mau kamu jauhi aku, kamu tahu, aku pacar adik kamu, dan


kamu gak akan mungkin bisa bersama dengan aku.”


Memangnya aku suka dengan kamu, jangan kepedean deh,” jawab


Cia, menahan air mata yang sudah ingin keluar, ia mencaoba untuk bisa santai


dena Miko.


“Jik kamu tidak suka dnegan aku, kenapa kamu menyimpan foto


aku dengan galery ‘my love’ kamu cinta sama aku kan.”


Cia hanya dian, menelan ludahnya, mencaoba memlaingkan


pandangannya berlawanan arah dengan Miko, ia tyidka mau Miko melihatnya sedih.


“Cia, aku hanya emnagnggap kamu sebagai teman, teman baik,


bahkan aku lebih sayang dengan taman aku sendiri dan perduli dengan taman aku


di banding pacar. Aku dari dulu memang seperti itu, selalu menguyakaman teman. Tapi


kenapa kamu mengira jika aku suka dnegan kamu, dan soal jam tangan itu, karena


aku snagat ingin memebelikannya. Bukanya kamu menmginginkan jam itu kan.” Ucap Miko,


menunjuk jam tangan yang kini sudah di pakai oleh Cia di pergelangan tanganya.


Cia menatap jam tangan miliknya. Dan seketika ia lengaung


melepaskan jam itu,


“Oke.. aku memang suka dengan kamu, aku cinta dengan kamu,


tapi apa kamu gak bisa melihat hati aku sedikit saja, aku mohon, bukalah hati


kamu meski hanya sedikit saja. Cvinta aku lebih tulus dar pada alana. Dan apa


kamu tahu siapa Alana, jika kamu tahu tentang dia, kamu pasti akan marah besar


dan benci dengannya.” Ucap Cia menggebu, meluapkan isi hatinya.


 “Aku gak perduli


siapa Alana, aku akan tetap menykai dirinya. Dan aku tidak pernah sama sekali


mencintai kamu.” Ucap Miko.


Plaakkkkk..


Cia menampar keras pipi Miko, melemarkan jam tangan ke tubuhnya,


dan beranjak duduk di ranjang. “Lihatlah ponsel aku, lihat semua folder di


sana, aku menyimpan sebuah rahasia besra yang tidak ada yang tahu, termasuk Joy


dan Alana, serta keluarga aku, dan itu penyeban aku sangat benci dnegan Alana


dan Joy bila mereka dekat.


Miko yang terdiam mematung, ia mentap ke arah Cia yang


Dan mulai membuka ponsel Cia, mencari setiap folder di sana,


ia tak sengaja membuka satu vidio yang ternyata durasinya sangat panjang.


“Apa ini?” tanya Miko memastikna.


“iya, bukalah, itu yng kau temukan di cctc mobil, dan aku


segera mencabut cctv di mobil Joy. Aku memang senaja merekam semuanya, dan


mengedit smeua djadi pendek aku simpan ke ponsel itu.” Ucap Cia.


Miko terdiam mengamati  vidio di ponsel Cia, seketika ia tercengang saat melihat sat Joy


melakukan itu dengan adiknay sendiri di dalam mobil, Miko yang tidak kuasa


melihat terlalu jauh, ia mencari bukti lainya, sebuah kecupan mesra di atas


balkon bahkan tak hanya satu kali, berkali-kali, membuat Miko semakin geram di


buatnya.


Ia mencengkram erat ponsel Cia, “Miko ini ponsel aku jangan


baung pinsel aku,” ucap Cia, mengambil ponselnya.


“Kenapa semuanya seperti ini, ternyata Alana bukan seperti


wanita polos uynag kau pikir.” Dcak kesal Miko.


Cia memeluk Miko dari belakang, mencoba menenangkan hati


Miko yang sedang galau. “Makanya sekarang kamu harus pilih anatara aku dan dia?”


ucap Cia, mentap ke arah Miko.


Miko memegang tangan Cia membalikkan badanya, mengecup bibir


Cia membaut ke dua mata mereka saling tertuju, Cia yang terkejut hanya bisa


diam, mengedipkan matnaya, lalu menemima kecipan Miko, memeluk erat tubuh Miko.


“Kalian di aini” ucap Joy, membuat kecupan mereka berakhir.


“Iya, ada apa?” tanya Cia, mengusap bibirnya.


“mamaf menganggu kalian, tapi aku ingin memukul laki-laki


ini,” ucap Joy, dan.


Bukk.. Bukk..


“Jpy apa yang kamu lakukan,” Cia mencoba memisah merkwa


namun Joy semakin mendorong Miko, dan terus memukulinya.


‘kenapa kamu meuynakiti Alana? Kenpaa? Apa kamu belum puas


membuat dia suka dnegan kamu?


Miko, mengusap ujung bibirnya, mentap ke arah jOy dengan


senyum sinisnya.


“Apa yang kmau katakan,” Miko mendorong tubuh Jy hingga


tersungkur ke lantai,”


“Miko, Joy hentikan!!”


“Bukk.. Bukk..”


“kamu yang mneyuakia Alana, kamu yang yang ada di hatinya,


bahkan kalian sudah melakukan hubungan terlarang. Siapa yang lebih jahat, di


sakiti diam-diam seperti itu, bahkan kejasian itu saat aku pacaran dengannya” Joy


beranjak berdiri, mentap tajam ke arah Miko.


“Kamu tah semuanya? Dan wanita ini yang memebri tahu kamu,


kalian memang cocok, sama-sama nikung teman dari belakang.” Umpat kesal


Joy,  dengan tangan menujuk ke depan


wajah mereka bergantian.


“Joy pergi dari ini, aku gak mau kamu memukuli Miko lagi,”


umpat kesla Cia, mendorong tubuh Joy pergi dari kamarnya.


“Gak di suruh aku juga pergi sendiri,” ucap Joy melangkahkan


kakinya pergi meninggalkan Miko dan Cia sendiri.


“kamu gak apa-apa kan?” tanya Cia, menyentuh ujung  bibir Miko yang berdarah.


‘Aku gak apa-apa, hanya luka dikit. Sekarang aku harus


pergi. Kamu jaga diri kamu, bye..” ucap Miko mengusap lembut rambut Cia.


“Miko!!” panggil ia memeuluk tubuh Miko, aku antar kamu


smapia ke bandara.


“Baiklah,” gumam Miko, melanjutkan langkahnya lagi keluar


dari rumah Cia.


“Ma, aku pergi, amu antar Miko ke bandara.” Ucap Cia berlari


mengikuti langkah kaki Miko. Bahkan ia tidak berhenti dulu untuk makan bersama.


````````


"David.. Kamu di mana?" terika Alana? menggelegar


seisi ruangan.


"David!!"


"Laki-laki mesum, cepat kemari. Aku minta tolong


padamu!!"


David yang mendengar teriakan mereka. ia berlari dengan


tatapan tajam, menuju ke kamar Alana.


"Ada apa lagi?" tanya David.


"Cepat carikan baju aku,"


"Memangnya kamu bawa baju?"


"Koper aku kamu tinggalin ke mobil teman kamu."


"Salah kamu sendiri," keluar sana, minta baju sama


pelayan. Mungkin mereka ada baju yang tidak ke pakai. Atau kamu mau pakai baju


pelayan, memangnya aku pelayan kamu," umpat kesal Alana.


"Kalau gak mau ya sudah, Aku pergi dulu." David


bergegas pergi meninggalkan Alana sendiri.


"David!!" Teriak Alana.


"Apa teriak-teriak?" tanya David.


"Ambilkan handuk dulu, aku akan cari baju Amera saja.


Di mana kamar sia,"


"Kamu yakin mau pakai baju Amera?" tanya David


memastikan.


"Memangnya kenapa?" tanya Alana.


"Baju Amera gak ada baju yang seperti kamu pakai, semuanya


gaun pendek," ucap Alana.


Alana terdiam, mencoba berpikir sejenak, tapi gaka da


pilihan lain selain meminjam baju Amera. "Baiklah, aku mau!!"


"Oke aku ambilkan sekerang, diam di sini. Tapi kalau


dalam, kamu mendingan kamu nanti beli saja dulu."


Seketika Alana menelan ludahnya. Gimana bisa ia tidak ganti


dalaman, benar-benar menjijikkan sudah satu hari dari kemarin. Dengan terpaksa


aku gak pakai nanti.


Savid sudah pergi mengambilkan gaun yang biasa Amera pakai.


Dan beranjak kembali ke kamar Alana. "Kamu taruh bajunya di ranjang. Kamu


keluar sendiri."


"Kamu juga keluar dari kamar aku,"


"Oke baiklah!!" gumam David, bergegas pergi.


Dan terpaksa Alana keluar memakai gaun yang di berikan


David. "Sudah belum?" tanya David, membuka pintu kamar Alana,


seketika tercengang saat melihat Alan memaki gaun itu, terlihat sangat seksi


dan cantik. Seakan aura kecantikannya semakin memancar dalam dirinya.


David hanya bisa menelan ludahnya kasar, melihat dari ujung


kaki, hingga ke atas kepalanya. "Kamu lebih cocok memakai pakaian seperti


itu." guamm David.


Alana masih diam, menarik gaunya yang terasa sangat pendek.


"Sinilah!!" panggil David.


"Gak mau, kamu harus antar aku sekarang pergi ke mall.


Belikan aku baju,"


David menautkan ke dua alisnya."Maksud kamu belikan


baju? Bukannya, kamu bisa beli sendiri, dan kenapa kamu gak ambil koper


kamu."


"Emangnya aku tahu di mana koper aku?"


"Makanya tanya?"


"Tanya pada siapa?" ucap Alana dengan tatapan


semakin menajam.


"Tanya padaku juga bisa jawab" ucap David semakin


menantang.


"Dari pada tanya padamu, lebih baik kita pergi sekarang


ambil koper aku."


"Permisi tuan.. Adayang mencari tuan" ucap Pelayan,


berlari mendekati David.


"Wahh.. Sepertinya pacar aku sudah datang, dan kamu


sekarang ikut aku. Nanti aku akan antar kamu," David menarik tangan Alana


keluar dari kamarnya, berjalan menuju ke ruang tamu.


"Reva kamu sudah menunggu lama?"


"Kita jadi pergi?" tanya Reva.


“Jadi kita akan pergi sekaranf.” David melepaskan tangan


Alana, kembali memegang tangan Reva, dan melangkahkan kakinya keluar.


“Kamu ikut aku, jangan jauh dariku.” Ucap David pada Alana


di belakangnya.


“Alana menggertak kesal, ia menarik napasnya dalma-dalam,


mencoba untuk tetap sabar demi kopernya kembali padnaya, dan berkas kuliah-nya


nanti juga masih ada di dalam. Ia berjalan dengan langkah ringat mengikuti


setiap langakh David dan pacarnya.


Alana menpuk bahu david, dan berbisik “Jangan main-main di


dalam, atau aku akan menganggun kalian,” ancam Alana.


David menoleh menatap Alana, melotot tajam ke arahnya.