
Alana berdengus kesal, dengan terpaksa ia harus menerima tawaran Miko, semua anak yang melewatinya memandangnya aneh. Seranya mereka sangat kesal pada Alana, karena ia begitu cuek pada Miko yang rela berlutut di depanya. Alana memutar matanya menatap sekelilingnya, semua mata tertuju padanya.
" Baiklah " Ucap Alana,
Miko terlihat sangat senang, senyum manisnya terpancar di ruat wajahnya. Ia beranjak berdiri, memegang ke dua tangan Alana. " Jadi maksud kamu.. kamu mau menerima tawaranku.. kita pulang bareng kan?" Miko tak berhentinya tersenyum memegang ke dua tangan Alana.
" jangan pernah menyentuhku" Alana menarik tangannya dari sentuhan Miko.
Miko tak permasalahkan soal itu, Alana sudah mau pulang dengannya saja sudah membuat hatinya tak berhenti berbunga-bunga. Benar-benar tak bisa berkata apa-apa lagi bisa berduaan dengan Alana.
" Baiklah, aku tidak akan menyentuhmu. Sekarang kamu masuk ke kelas. Nanti aku tunggu kamu di gerbang sekolah ya..byee." Miko beranjak pergi dengan kedipan mata menggoda pada Alana.
Ia melambaikan tangannya dan beranjak pergi. Hari ini, benar-benar hari yang menyenangkan baginya. Benar-benar membuat ia seakan melayang di atas awan. Sebuah kejutan kata dari Alana membuat ia selalu menbayangkan saat berduaan dengannya nanti.
Ia terdiam memikirkan, apa yang akan ia katakan nanti saat Alana di sampingnya. Kalau basi-basi denganya pasti dia tidak suka. Miko berjalan ringan menuju ke kelasnya, ia terus melamun hingga tak menyadari siswa lain yang menyapanya. Bahkan tatapan wanita di sekitarnya juga tak ia hiraukan.
Hari benar-benar membuat Miko terasa bingung, dan juga gugup, khawatir, cemas jadi satu. Bukan karena hal apa-apa, tetapi ia memikirkan bagaimana nanti, ia harus menyusun sebuah kata-kata untuk memulai pembicaraan lebih dulu pada Alana.
" Dorr.... " Cia menggertak Miko dari belakang, sontak membuatnya terjingkat dari tempat ia berdiri.
" Cia!, " Miko terlihat kesal dengan Cia. Meskipun dengan Joy, Miko selalu bertengkar namun dengan Cia mereka sangat akrab, bisa di bilang sih teman baik. Malahan kedekatan dan keakraban mereka membuat banyak anak di kelasnya bilang kalau mereka pacaran, mungkin mereka terlalu akrab kali ya, bahkan melebihi orang pacaran.
" Lagian siapa suruh kamu berdiri di depan pintu kelas, menghalangi jalanku mau masuk" Gumam Cia menguncupkan bibirnya berjalan masuk ke dalam kelas.
" Heh... tapi setidaknya kamu minta maaf dong, kamu udah membuat jantung serasa mau copot" Ucap Miko berjalan menghampiri Cia yang sudah duduk di bangkunya.
" Gak mau, lagian kamu yang salah" Ucap Salsa mengerutkan bibirnya, ia memalingkan pandangannya dari Miko.
Miko menegaskan.
" Eh.. gak bisa pkoknya kamu sekarang harus minta maaf padaku"
Cia masih bersikeras tak mau minta maaf. " Gak mau" Cia memalingkan pandangannya lagi.
" Ya udah , aku gak mau kerja kelompok denganmu" Ucap Miko mengancam.
Cia menoleh seketika, jika dia tak kerja kelompok dengannya. Gimana jadinya dengan tugasnya nanti. Apalagi ia tidak terlalu suka dengan pelajaran Biologi.
Cia mencoba tersenyum tipis, merayu Miko untuk tetap kerja kelompok dengannya.
" Baiklah, aku minta maaf deh" Gumam Cia, ia menarik tangan Miko agar duduk di sampingnya.
" Nah gitu dong" Ucap Miko.
" sekalian aku mau terima kasih padamu juga, aku bisa dekat dengan Alana. Ni moment yang sangat membuatku benar-benar langka yang akan aku abadikan dalam otakku. Kamu tahu gak dia mau berbicara padaku meski hanya beberapa kata" Miko spontan memeluk Cia.
Cia terdiam seketika menerima pelukan Miko.
Deg...jantung Cia seolah merasakan perasaan yang aneh.
Cia hanya diam, hatinya merasa terluka mendengar itu. entah kenapa mendengar itu terasa sangat sakit. Ia juga tak tahu apa yang ia rasakan. Baru kali ini ia merasakan perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Miko melepasakn pelukannya, ia memegang ke dua bahu Cia menggoyang-goyangkan badannya. Cia hanya terdiam dengan wajah nampak sangat lesu. Tak ada ekspresi sedikitpun di wajahnya.
" kamu senang gak temanmu ini dekat dengan adik kamu" Ucap Miko.
Cia hanya terdiam, mematung tanpa ekpresi sedikitpun. Miko berhenti tersenyum melihat sahabatnya terus melamun di depannya.
" Cia, kamu kenapa?" Ucap Miko, mencoba memeriksa kening dan pipi Cia, apakah dia sakit atau tidak.
" Eh iya ada apa?" tanya Cia dengan wajah tatapan bingung.
Miko mengerutkan bibirnya, "apa kamu gak mendengarkan apa yang aku katakan tadi" Ucap Miko, ia terlihat kesal dengan Cia. Tak menggubris nya dari tadi.
Cia senyum terpaksa,
" Emm dengar kok, soal Alana kan" Gumam Cia, raut wajahnya berubah seketika.
" Siang anak-anak" Ucap seorang guru sejarah yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu. Anak-anak di kelas yang semula riuh, hingga ada yang berteriak, bergosip, main gitar, main game online di pojokan kelas. Semuanya tersentak seketika kembali ke bangkunya masing-masing. Dan juga dengan Cia dan Miko,
" Eh .. aku tidak melihat Joy dari tadi, dia di mana" Tanya Cia pada Miko.
" jangan tanya padaku deh, aku gak tahu dia di mana" Ucap Miko, yang terlihat acuh saat mendengar nama Joy. Karena memang dia tak terlalu suka dengan joy.
" Aku serius Ko" Cia menarik-narik tangan Miko.
" Apaan sih cia, udah sekarang fokus pada pelajaran di depan. Lagian Joy sudah dewasa kan kenapa kamu khawatir padanya. Dia bisa balik sendiri ke kelas nanti" Ucap Miko. Ia segera mengeluarkan sebuah buku di dalam tasnya.
Cia masih terdiam, tak seperti biasnya Joy tiba-tiba pergi dan bolos pelajaran kali ini. Bukannya dia anak yang sangat rajin bahkan absennya tak pernah kosong sedikitpun. Kenapa dia jadi berubah sekarang, gumam Cia menatap ke penjuru ruangan kelasnya.
Braakkkk....
Guru sejarah itu menggebrak meja Cia dengan sangat keras, Cia tersadar dari lamunannya. Ia menelan ludahnya karena terlalu terkejut. Seakan hampir saja kata-kata kasar keluar dari mulutnya. Untuk saja ia bisa mengendalikan diri. Kalau tidak bisa-bisa di DO gara-gara marah dengan guru killer di depannya itu.
Guru yang sudah penuh dengan rambut putih, tatapan tajam dan tak lupa kumis garangnya membuat Cia tak bisa berkutik apa-apa. " Kenapa kemu tak perhatikan pelajaranku" bentak Guru itu.
" Eh...emm ..ma-ma-maaf pak" Ucap cia terpatah-patah, tubuhnya gemetar melihat guru itu terus memegang kumis panjangnya. Semakin membuat ia jijik dan juga bergidik ketakutan.
" Cepat buka bukumu, dan jelaskan apa yang sudah aku jelaskan tadi" Ucap Guru sejarah itu dengan nada semakin meninggi.
Cia tak tahu apa yang guru itu jelaskan tadi, karena sibuk dengan lamunannya ia tidak begitu memerhatikan guru itu berbicara. Cia menoleh ke arah Miko, yang dari tadi sudah menatapnya.
" apa?" Ucap cia lirih, ia mencoba bertanya pada Miko. Tentang pejelasan guru di depannya tadi.
" Bom" Miko memberi kata petunjuk ke Cia.
" Bom pak" Ucap Cia sangat keras dan percaya diri, membaut semua anak di sana tertawa seketika. Dan Miko menepuk keningnya. Begitu bodohnya teman sebangkunya itu. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya menatap keluguan Cia.
" Apaan sih.." Tanya Cia lagi pada Miko. Hingga ia tak perhatikan guru itu semakin menatap tajam ke arahnya.
" Udah sekarang kamu berdiri di depan" Ucap guru itu. Dengan tatapan tajamnya.
" Baik" Cia berdengus kesal, ia menghentakan kakinya berjalan ke depan dan berdiri tepat di meja kerja guru itu.
****
Di balik sebuah kamar mewah, sepasang suami istri baru saja melakukan sebuah olahraga tubuh di siang hari. Mereka sedang merapikan baju dan rmabutnya masing-masing.
" Syang, kamu mau makan apa?" Tanya keyla pada Alvin yang duduk di depannya.
"Terserah, yang penting masakan dari kelihaian jamari-jemarimu" Alvin maraih tangan keyla dan mengecup lembut tangannya.
Keyla tersipu malu, ia sangat beruntung kali ini mendapatkan sosok lelaki yang sanyang dengannya meskipun sudah tua, namun ia tak berhenti merayu, menggombalinya, bahkan masih romantis dengannya. Sekalipun Alvin juga tak pernah membentak Keyla.
" Baiklah aku akan masak buwat kamu, sekarang kita turun menunggu anak-anak pulang" Ucap Keyla meraba dada bidang suaminya itu. Ia mencoba merayu Alvin sama saat seperti mereka masih muda dulu.