
Tiga saudara itu sudah sampai rumah. Di perjalanan pulang di dalam mobil nampak. Sangat hening, tanpa canda daei Cia dan Joy. Yang memang biasanya selalu jahil dan saling berncanda. Sekarang mereka lebih memilih bungkam, tanpa suara keluar dari mulut mereka masing-masing. Seakan mulut mereka terkunci rapat-rapat.
Dan Cia hanya diam dan tiak perdulikan Joy lagi. Dan ia juga tidka menyalahkan Alana. Karena memang Alaana gak mungkin suka dengan Joy. Hanya saja Joy yang terlalu memaksa Alana untuk suka dengannya. Dan Cia sekarang lebih mendukung Alana dengan Miko, dari pada ia harus melihat Joy selalu mendekati Alana, adiknya sendiri.
"Alana!!" panggil Cia, menghentikkan langkah Alana yang mau beranjak menaiki anak tangga.
Alana menoleh ke belakang, melihat Cia.
"Ada apa kak?" tanya Alana.
"Kita bicara berdua di kamar kamu" ucap Cia, bergegas berjalan mendahului Alana. Ia berjalan masuk ke dalam kamar Alana. Yang sudah lebih dulu di bukakan pintunya Oleh adiknya itu.
"Emangnya ada masalah apa kak?" tanya Alana.
Wajah Cia terlihat serius kali ini, ia tidak menunjukan ekspresi wajah yang ceria seperti biasanya.
Cia diam, duduk di ranjang Alana.
"Aku mau bilang denganmu. Jauhi Joy, aoa kamu tahu. Hubungan kalian tidak mungkin, dan gak akan mungkin terjadi Alana. Kamu harus sadar juga Joy itu adalah kakak kamu. Jangan sampai perasaan itu tumbuh terlalu dalam. Aku tahu kamu suka dengan Joy juga. Tapi kamu juga harus sadar siapa kamu dan siapa Joy. Dan jangan sampai orang tua kita tahu. Jika mereka tahu pasti kamu akan marah dengannya. Dengan Joy, pasti dia yang akan di salahkan" ucap Via menjelaskan.
"Aku tahu Alana, kamu itu masih terlalu polos. Tapi aku itu tidak mau kamu jatuh terlalu dalam. Kamu tidak boleh sampai sakit hati nantinya" ucap Cia.
Alana hanya diam, ia menundukkan kepalanya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Gimana bisa ia tahu jika Dirinya suka dengan Joy. tapi Cia wanita sama dengannya pasti lebih peka perasaan sesama wanita terhadap laki-laki. Lagain dia juga pernah jatuh cinta. Ia tidak mungkin tidak tahu semuanya.
"Alana, kenapa kamu diam? Apa benar kamu suka dengan Joy. Jujurlah padaku. Akunjuga janji gak akan bicarakan pada siapapun. Dan aku akan bantu kamu melupakannya. Aku gak mau kalau kamu terjebak cinta ini Alana. Aku syang sama adik aku ini. Aku gak mau adik aku sakit hati, dan menderita karena cinta pertamanya, yang menyakitkan. Carilah cinta pertaka yang membuat kenangan indah." ucap Cia, memegang ke dua tangan Alana, dengan tangan mengusap lembut punggung Alana. Ia menciba untuk menenangkan hati Alana yang terluka.
Alana hanya menundukkan kepalanya. Ia menarik napasnya dalam-dalam. mencoba mengucapkan semua isi hati yang selama ini ia pendam sendiri. Tentang cintanya pada Joy.
"Kak, mungkin aku salah. Mencintai orang yang salah. Aku salah suka dengan laki-laki yang ternyata kakak aku sendiri. Aku tahu, semua tapi aku sudha coba kak.. Aku sudah berusaha menyangkal perasaan itu.. Tapi gak bisa.. Aku gak bisa menolak perasaan itu kak.. Perasaan itu semakin dalam.." ucap Alana, meneteskan air matanya.
"Iya, aku tahu. Tapi kamu sebaiknya lupakan semuanya" ucap Cia, memeluk tubuh Alana. Ia tahu perasaan cinta yang sudah terlanjur dalam, akan terasa sangat menyakitkan. Benar-benar menyakitkan.
"Kak, Aku gak bisa seperti ini terus... Aku kuga tersiksa dengan perasaan aku seperti ini. Aku benar-benar gak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang. Aku ingin melupakan semuanya." ucap Alana, melanjutkan ucapanya.
"Aku pergi dulu" ucap Cia, beranjak oergi dari kamar Alana. Dan menutup kembali pintu kamar Alana.
"Ngapain kamu di kamar Alana?" tanya Joy, yang kebetulan mau masuk ke kamarnya.
"Aku ke sini, bicara dengan Alana. Dan apa urusannya dengan kamu. Lebih baik sekarang kamu jauhi Alana. Dan lihatlah Amera dia itu suka dengan kamu, Joy.. Dia itu ada perasaan dengan kamu" ucap Cia dengan nada semakin meninggi.
"Jangan pernah memaksakan hati aku. Aku tahu kamu pernah jatuh cinta Dan jika kamu di paksa menikah dengan orang lain. Atau kamu di paksa jatuh cinta dengan orang lain. Apa kamu mau melanjutkan hubungan kamu. Aku yakin kamu akan menurut apa kata hati kamu. Bukan kata hati orang lain. Yang pemikirannya beda dnegan kita. Hati kamu dan aku beda, jadi jangan urusi perasaan aku. terserah aku jatuh cinta pada siapapun." ucap Joy, meninggikan suaranya, membuat semua orang yang semula sibuk dengan kegiatannya masing-masing mereka menatap ke arah Joy. mendengar keributan Joy dengan Cia.
Joy mendekatkan wajahnya ke Arah Cia dan berbisik. "Termasuk aku jatuh cinta dengan adik aku sendiri. itu bukan urusan kamu." bisik Joy.
Cia hanya diam, ia menguntupkan bibirnya kesal. Dengan mata semakin menajam ke arah Joy.
"Apa yang kalian lakukan. Mama gak pernah tahu sebelumnya kalian bertengkar seperti ini. Dan kenapa kamu bertengkar dengan JOy, Cia!! Apa kamu ada masalah dengannya. Apa kamu tidak suka dengan kata-katanya atau kamu memang ada masalah pribadi dengan Joy.
"Gak tahu, tanya sendiri tuh pada Joy. Dia mau jawab gak" ucap Cia kesal, menghentakkan kakinya berjalan menuju kemarnya yang tidak jauh dari kamar Joy dan Alana.
Keyla berjalan mendekati Joy. Ia mencoba berbicara dari hati-ke hati dengan anaknya itu. "Joy!! Mama tanya baik-baik dengan kamu. Apa masalah kalian?" tanya Keyla memelankan suaranya.
"Aku gak ada masalah apa-apa, Cia saja yang selalu urusi kehidupanku. Dan masalah pribadi aku" ucap Joy, beranjak berdiri dari hadapan mamanya.
----
Alan yang berada di dalam kamarnya, ia hanya bisa diam. Ia merasa bersalah gara-gara dirinya Joy dan Cia jadi berantem.
Maaf kak, aku salah. Aku akan pergi meninggalkan kalian semua saat aku kuliah nanti. Aku akan tinggal sendiri. Jauh dari kehidupan ini. Yang membuat aku merasa selalu bersalah. Kehadiranku membuat keluarga ini berantakan. Aku akan pergi cari ibu kandungku saat aku sudah selesai sekolahku. Dan aku tidak akan kembali lagi pada keluarga ini. Bukanya aku tidak syang. Tapi karena aku merasa sangat bersalah dengan semuanya.
----
"Ma, sudah ayo kita masuk ke kamar. Ada yang ingin aku bicarakan padamu" ucap Alvin, memanggil istrinya.
"Iya" Keyla masih memandang Joy yang sudah pergi masuk ke dalam kamarnya. Tanpa menjelaskan apa-apa pada orang tuanya.