
"apa kamu hanya bisa memutar-mutar bola mata mu? begini ya cara kamu melayani tamu agung seperti ku? heran banget aku, kog mau-mau nya sih mertua mu itu menyetujui kamu nikah dengan anak nya? apa mungkin mereka tidak mempelajari sikap mu? bersyukur aja sudah di cere sama sama suami kamu yang tajir itu. j***a kan kamu sekarang? hahahha" kata tante lili yang merupakan tamu dian hari itu.
tamu yang tidak pernah di harapkan dian untuk hadir, bahkan tamu yang sudah dian coret nama nya dari daftar keluarga.
"tante mau ngapain kemari? to the point aja! jangan bertele-tele", kata dian
namun sayang, tante liki malah menerobos masuk ke rumah dian dan menyenggol bahu nya.
"aooow", pekik dian.
"kemari kamu" pintah tante lili pada dian.
dian yang masih berdiri di pintu akhir nya pun terpaksa menuruti nya.
"ada apa?", kata dian acuh
"heh songong benar kamu, udah mi***n, belagu pula", kata tante liki.
tanpa kedua nya sadari, ternyata sejak awal alvin sudah berdiri de tepi pintu menuju ruangan tamu mendengar percakapan kedua nya. alvin masih saja mengelus dada nya pelan enggan untuk membantu sang istri sebelum ia mengetahui tujuan tante lili.
"cepet tanda-tangan surat pengalihan hak milim rumah ini", kata tante lili tanpa ragu.
"hahaha tante pikir aku bodoh?, sudah cukup tante menguasai segala harta keluarga ku!! aku rela tan, jika seluruh harta kekayan keluarga ku tante ambik dengan tidak tau malu nya!! taoi ingat!! jangan sekali-kali tante mengambil rumah ini. aku tak akan sudi! tante punya hati gak saat aku di lepasin tante? saat semua anak sekolah dan kuliah menempuh perguruan tinggi dengan bergelimang harta orang tua, sedangkan aku? aku hampir loh tan di perkosa segerombolan para hidung belang di luar sana yang mengira aku kupu-kupu malam.
dimana hati tante? saat aku bekerja membanting tulang demi mempertahankan rumah peninggalan orang tua ku ini, membiayai pendidikan ku sendiri demi masa depan ku!!
dan hidup ku luntang-lantung gak jelas hingga aku di nikahi dengan suami ku?. lalu tante mau ngambilin rumah ini?? hahahha lucu banget tan.. aku gak akan biarkan rumah satu-satunya peninggalan orang tua ku di ambil tante lagi. gakkkkk!!!!", kata dian menjelaskan panjang lebar sambil berteriak histeris.
alvin tak tega melihat sang istri berteriak histeris
berjalan menuju ruangan tamu lalu mengambil map yang berisi perjanjian yang akan di bubuki tanda tangan sang istri. alvin tersenyum kecut membaca isi perjanjian yang ada dalam map tersebut.
dian yang melihat samg suami akhir nya sedikit tenang, perlahan air mata nya mulai redah.
"anda siapa? bertamu di rumah orang tanpa permisi dan ribut-ribut dengan istri saya? apa anda cari mati? anda ingin menginap di balik jeruji besi?", kata alvin dengan suara bariton nya dan muka datar nya.
tante lili meneguk savila nya dengan susah payah melihat siapa yang datang. alvin lalu berjalan dan duduk di samping sang istri sambil merangkuk pinggul dian dan mencium pucuk kepala nya.
tante lili terlihat sangat gelisah di tempat nya, bagaimana tidak? kekayaan alvin tak bisa si tandingi tante dian, alvin terkenal CEO yang sangat dingin dan siapapun yang mencari masalah dengan nya, maka semua nya akan berada dalam masalah besar.
tante lili terlihat pucat dan tak ingin berbicara lagi.
"ayo minum dulu", pinta alvin saat jus yang di buatkan bi sum berada di meja ruangan itu.
tante lili hanya menganggukan kepala nya pelan sambil menelan jus dengan seketika hingga tak tersisa, seolah-olah baru saja menyelesaikan lari maraton. keringat bercucuran terlihat pada tante lili.
"apa AC nya kurang dingin?", tanya alvin pada tante lili lagi sambil memeluk dian.
namun tante lili lagi-lagi tak mau menjawab nya kecuali menggelengkan kepala.
hingga akhir nya alvin berdiri dari tempat nya saat ia merasa sang istri telah tenang.
srettt srett srettt srettt alvin merobek kertas beserta map menjadi empat bagian, lalu menyimpan kembali di atas meja.
dan kembali ke tempat duduk nya.
"seperti nya cukup hari ini saya melihat wajah anda di rumah ini, silahkan pergi jika anda sudah selesai", kata alvin dengan suara bariton nya.
"ba..ba..baik tuan", jawab tante lili gelagapan
ketika tante lili sudah berdiri dan berpamitan
"besok saya terima segala berkas kepemilikan aset almarhum mertua saya dengan utuh tanpa kekurangan satu berkas pun jika anda ingin hidup baik", kata alvin menghentikan langkah tante lili.
tante lili yang mendengarnya pun sontak berlari merangkul kaki dian dan alvin sambil menangis meraung-raung memohon agar tidak mengambil aset keluarga dian.
"saya mohon, tolong jangan siksa saya dengan cara seperti ini, jika kalian mengambil nya, lalu bagaimana saya bisa makan dan hidup?", tante lili memohon sambil menangis agar dikasihani.
"hahaha apa anda berfikir seperti itu saat anda meninggalkan istri saya dulu? jika saja istri saya di perkosa saat itu dan saya mengetahui nya, maka anda tak akan saya ampuni, satu lagi, keluarga saya tak pernah salah memilih jodoh untuk saya sejak kami masih kecil hingga saat ini, jangan berpikir untuk menjual rumah ini dengan cara apapun karena ini rumah yang kami temoati sejak hari ini hingga nanti kami magi tetap disini", jawab alvin sambil memperingati tante lili dengan penuh penekanan pada setiap kata nya.
"tolong jangan... jangan lakukan itu pada saya, kasihani saya dan bantu saya agar tidak hidup susah dan menjadi gelandangan", tante lili masih saja memohon, lalu berdiri hendam memeluk dian, mamun alvin menghalanginnya.
"maaf, silakan anda pergi dan ingat pesan saya, saya tak akan mengijin kan anda memeluk istri saya dengan alasan apapun itu", sambil menunjuk arah pintu keluar dari rumah itu.
"dan tolong angkat kertas itu, lalu pergilah kemanapun anda membuang nya", pinta alvin lagi sebelum tante lili benar-benar pergi.
ketika tante lili sudah tak terlihat oleh kedua nya, alvin memeluk sang istri dan mengelus rambut nya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"terimakasih sudah bertahan untuk ku, sudah berjuang untuk ku, sekali lagi terimakasih untuk mu istri ku sayang", kata alvin
"sayang,, seharus nya aku yang bilang terimakasih sudah menolong ku menyelamatkan harta orang tua ku satu-satu nya yang aku punya , yaitu rumah ini. terimakasih pulan sudah mengambil kembali aset peninggalan keluarga ku", kata dian.
"yang itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawan ku sebagai suami", jawab alvin
"apa benar yang kamu katakan kita akan tinggal disini yang?", dian bertanya tak percaya pada suami nya.
"ia yang, ayo kita ke rumah papa untuk mengatakan nya, kita harus mandiri sejak sekarangkan", kata alvin lalu keduanya bersiap untuk ke rumah pak albert dan bu shinta.
.
.
.
hay guys, jangan lupa vote novel ku ini yah.. terimakasih 😍😇