
Dian masih betah duduk di depan cermin besar yang berada di depan nya sambil melirik alvin dari balik kaca.
alvin yang menyadari hal itu hanya pura - pura tidak melihat dian.
"kenapa kamu melirik ku terus dari sana? apa ada yang salah dengan ku?", alvin bertanya pada dian.
"ah, eh bukan begitu, maksud saya, apa anda tidak mandi dulu?", jawab dian gelagapan
"kenapa? apa yang kamu pikirkan? apa kamu sedang berpikir hal yang m***m? hahahhh saya gaka akan mau berbagi tempat tidur dengan mu!, kamu tidur saja di lantai atau dimanapun", jawab alvin
dian berbalik lalu menatap wajah alvin, "maaf tuan, saya merasa sangat bersyukur akan hal itu, saya pun tidak bermaksud untuk berfikir hal yang seperti anda katakan", jawab dian lantang.
lalu dian memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri nya.
"dasar wanita aneh, kamu menikah denganku karena satu tujuan kan? harta!!, itu yang kamu inginkan, dasar m*****n", gumam alvin sambil mengerskan rahang nya.
"kenapa dia begitu membenci ku? apa salah kubpada nya? dasar pria aneh, ya tuhan, betahkah aku? semoga ada kebahagiaan setelah semua yang terjadi", batin dian.
didalam kamar mandi, dian mulai melakukan ritual mandi nya, 30 menit akhir nya berlalu.
sebelum ke kamar mandi, dian telah menyiapkan terlebih dahulu pakaian ganti nya sehingga tak perlu keluar kamar mandi untuk sekedar mengganti pakaian saja.
dian kembali ke meja rias untuk mengeringkan rambut nya menggunakan hairdrayer.
"apa siih kamu,, brisik amat. bisa gak kamu dikamar mandi aja nyalain barang itu? kamu mengganggu tidur ku saja!!", alfin membentak dian yang lagi mengeringkan rambut nya.
"maag tapi....", belum selesai menjawab nya, alvin merampas benda itu hingga melempar nya kedinding kamar hotel yang sedang mereka tempati hingga mengagetkan dian.
Tubuh dian bergemetar melihat tingkah alvin yang secara tiba-tiba melakukan hal itu.
"Aku sangat membenci mu gadia s**l, jangan pernah berfikir untuk hidup semau lo", sambil mencekik dian hingga dian terbatuk-batuk, lalu melepaskan cekikan nya.
dian hanya bisa menangis mendapat perlakuan seperti itu dari alvin.
"jangan pernah mencertikan apapun tentang apapun yang terjadi sama lo ke papa dan mama aku, jika kamu melanggarnya, maka rumah peninggalan orang tua tercinta mu akan aku bakar! ingatt itu!", alvin mengakan dengan penuh penekanan pada setiap kalimat yang ia keluarkan. membuat dian sangat ketakutan dan hanya menganggukan nya.
"bagus!!! satu lagi, di depan orang lain, kamu memanggilku dengan sebutan sayang! hanya didepan orang lain kecuali saat kita sendiri kamu memanggilku dengan sebutan tuan", alvin mengingatkan nya lagi. dian hanya mengangguki nya.
alvin lalu kembali ke tempat tidur untuk melanjutkan tidur panjang nya. dian menjatuhkan butiran bening dari pelupuk mata nya tanpa bersuara karna takut membangukan sang tuan muda
"tuhan, mampukah aku menghadapi nya? bantu aku untuk menopang hidup ku, aku hanya bisa mengandalkan kuasa mu atas apapun yang terjadi dalam hidup ku ini, aku tau engkau tak akan menguji ku melebih batas yang bisa aku hadapi", dian berbicara pada tuhan dalam hati nya.
jam menunjukan pukuk 01:00 ,dian belum juga tertidur, dian masih saja terjaga dengan berbagai pikiran yang ada di dalam hati nya.
" apakah aku masih bisa bekerja setelah ini? tetapi dimana? apa kah dia akan keberatan jika aku meminta nya? tapi kenapa rasa takut berbicara pada nya lebih besar", batin dian.
hingga pada pukul 01:30 dian memilih untuk tidur di sofa yang terdapat pada ruangan itu.
alvin yang tersadar saat jam dinding berderak dengan sangat mantap menunjukan pukul 04:30 pagi menerjapkan mata nya sambil mengumpulkan kembali kesadaran,mata nya tertuju pada sofa yang disana terdapat sosok wanita yang belum bergenap sehari menjadi istri nya.
"rupa nya dia tidur disana, aku harus segera membelikan rumah agar tidak sekamar lagi dengan nya setelah ini, rasa nya seperti tinggal dengan sa***h saja", gumam alvin lalu sambil berjakan menuju kamar mandi untuk melakukan ritual mandi pagi nya.
dian baru saja bangun setelah alvin selesai berganti pakaian santai.
"baik tuan", jawab dian.
dian menuju kamar mandi untuk melakukan ritual mandi pagi nya dan keluar setelah berganti pakaian juga.
"apakah aku menikah dengan nya hanya untuk dijadikan pembantu nya saja? apa aku akan tetao menjadi perawan tua? tetapi baguslah, setidak nya dia tidak menyentuh ku, tapi sampaikapan? apa kah dia berencana menceraikan ku nanti??", begitulah yang dipikirkan dian saat sedang berkemas.
drettt drettt drettt... handphone milik alvin bergetar dan yang menghubungi nya adalah sang mama
"mama💙", gumam alvin sebelum mendekatkan bendah pipih persegi panjang itu pada telinga nya.
"selamat pagi ma", sapa alvin
"pagi nak, ayo kita sarapan dulu, mama sama papa dan yang lain nya lagi nungguin kalian di resto", kata bu shinta di balik telephone.
"oke ma, kita siap² dulu yah, 5 menit lagi kita samapai disana", jawab alvin
sambungan akhir nya terputus
"ayo skarang kita sarapan bersama keluarga, nanti ada yang ngambilin barang-barang itu kesini", kata alvin pada dian.
di dalam lift alvin dan dian hanya diam membisu, tanpa ada kata hingga akhir nya "ting", bunyi pintu lift terbuka di lantai satu tempat itu menujh rsto yang di maksud.
alvin menggandeng tangan dian saat memasuki area resto, dari kejauhan bu shinta sudah tersenyum senyum sendiri melihat anak lelaki dan menantu nya yang baru saja tiba.
"ingat yang sudah aku katakan semalam padamu, dan jangan pernah menampilakan raut wajah busuk mu yang sedih, beraktinglah sebaik mungkin", sekali lagi alvin mengingatkan dian.
"baik tuan", jawab dian setengah berbisik
"hayyy good morning menantu kesayangan mama dan papa", sapa bu shinta sambil memeluk dian seolah baru melihat nya.
"morning ma", sambil membalas pelukan sang mertua dan menyapa yang lain nya termasuk ivan.
"waah kamu kelihatan fresh banget vin setelah maried, berapa ronde yang kalian habiskan semalam?", ivan bertanya sambil mengedipkan mata nya pada alvin.
alvin yang mendengar jahilan sahabat nya tak merespond dan hanya memainkan handphone di tangan nya.
sedangkan dian, dian sudah mulai menampilkan wajah memerah nya bagai kepiting rebus mendengar apa yang ivan katakan.
"ayolah sarapan dulu, kalian gak pernah akur kalau lagi bertemu", kata bu shinta pada ivan dan alvin.
keluarga pak albert pun akhir nya menikmati sarapan sambil sedikit-sedikit bercanda, sedangkan alvin hanya membisu mendengar apa yang di bicarakan keluarga nya saat ini.
.
.
.
hay guys, terimakasih sudah mendukung novel ku ini. semoga kalian menyukai nya. jangam lupa untuk vote dan like yah.. terimakasih 🙏💙