My First Love

My First Love
Sebal dengan Joy



Ia beranjak berdiri, mengulurkan tanganya ke arah Alana yang masih duduk jongkok di bawahnya. “Ayo berdiri,” ucap Joy, dengan senyum merekah di bibirnya.


Alana mendongak, menarik sudut bibirnya dan menerima uluran tangan Joy. Lalu beranjak berdiri.


"Makasih!!" gumam Alana, membalas senyuman Joy.


"Alana boleh tanya?" ucap Joy, menatap ragu pada Alana, yang masih berdiri, mengusap tubuhnya sehabis jatuh tadi.


"Emm... kalau mau tanya, tanya saja kak." gumam Alana.


“Sebentar lagi kita akan kuliah, dan kamu dengan aku dapat beasiswa di tempat yang berbeda pula.” Ucap Joy memegang ke dua tangan Alana.


"Memangnya kenapa kak? Bukanya itu sudah pilihan kak Joy?" tanya Alana heran.


"Iya, tapi entah kenapa. Aku merasa ragu jauh darimu. Siapa yang menjagamu nanti di sana. Kamu dengan Miko juga beda Universitas." gumam Joy, msrasa khawatir dengan adik kecilnya itu. Dan usianya sangat muda, membuat ia bingung, siapa yang akan merawatnya nanti.


"Tenang saja, ku sudah bisa jaga sendiri. Dan aku mohon jangan bilang pada orang tua kita. Mereka belum tahu, dulu mereka ingin aku sekolah di London." ucap Alana sedikit menunduk.


"Baiklah, nanti kamu di sana sering hubungi aku ya, jangan lupa dengan aku," Joy, mengusapnujung kepala Alana, lembut. Membuat gadis itu tersipu malu.


“Oya, terus nanti bagaimana, dengan hubungan kamu sama Amerta.” Tanya Alana penasaran, ia melepaskan tangan Joy dan duduk di kasur lantai milik Joy. Dengan kepala sedikit mendongak, kenatap Joy


“Entahlah, aku masih belum siap jika menikah muda. Dan aku juga gak bisa meninggalkan kamu, adik yang paling aku sayngi sekarang.” joy menoleh cepat ke arah Alana, mncubit manja pipi gadis itu.


“sudah deh, kak. Jangan bahas tentang itu lagi,” ucap Alana, ia segera meraih buku yang ada di depannya.


Ia mengerutkan keningnya saat melihat majalah dewasa di depannya, “Ini majalah punya siapa kak?” tanya Alana heran. Sejak kapan kakanya jadi mesum begitu, dan dia punya majalah seperti itu di dalam kamarnya. Membuatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya.


“Ini punya teman aku,” ucap Joy, meraih majalah di tangan Alana.


“Benaran?” tanya Alana curiga.


"kamu gak percaya, kamu buka majalahnya, dan lihat halaman pertama ada nama tertera di depannya.” Joy beranjak duduk mendekat Alana, membuka majalah dan memperlihatkan pada Alana, bab pertama. Membuat Alana sekilas melihatnya, sebuah majalah dewasa. Dengan model wanita yang vulgar.


“Aku gak mau lihat majalah seperti itu,” ucap Alana memejamkan matanya.


“sekarang kamu percayakan padaku?” tanya Joy.


“tapi kenapa majalah itu da di sini, apa kak Joy pinjam?” tanya Alana.


"Heheh.. Iya, aku hanya penasaran dikit.” Ucap Joy menggoda, ia membaringkan tubuhnya di samping Alana duduk.


“Alana membuka matanya mengerutkan bibirnya kesal. “kenapa kak Joy jadi mesum begitu, jadi apa yang kak Joy lakukan padaku juga karena terinspirasi dari majalah ini." Umpat kesal Alana.


Joy .enarik tangan Alana, hingga berbaring di sampingnya. “Alana apa yang aku lakukan dulu padamu itu, murni karena aku gak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Untuk menyelamatkanmu. Melihat tubuh kamu sudah membiru aku benar-benar takut dan hanya itu yang bisa aku lakukan,” ucap Joy memegang ke dua pipi Alana.


Alana memang tidak sadar waktu itu, yang ia rasakan hanya dingin dan dingin, yang perlahan menjadi sebuah kehangatan dalam tubuhnya. Namun rasa sakit itu seakan masih terasa sampai sekarang.


“Sekarang jangan pikir macam-macam lagi tentang aku.” Ucap Joy, mengusap rambut Alana dan bernajak duduk mengambil sebuah buku yang ia dapat kemarin tergeletak di deoan teras rumahnya.


“Kemarin aku menemukan ini,” ucap Joy, mengangkat buku itu ke atas.


Alana menatap detail buku itu. mencoba memastikan apa utu benar miliknya atau tidak, dan ia masih ingat betul jika ada huruf M tertulis di belakang sampul novel itu.


Bukanya buku itu dari Miko, dan kenapa dia bisa mendapatkannya? Apa kak Joy mencurinya dariku? Ah.. agk mungkin, pasti aku yang lupa menaruh-nya.


Joy yang mulia membaca buku itu, dengan duduk bersandar di tembok. Dengan cepat, Alana meraih buku di tangan Joy, "Kak, ini buku siapa?" tanya Alana, mencoba menatap setiap detail, dan tak lupa membuka setiap lembar buku itu, yang ia tandai dengan sebuah coretan bolpoin, sewaktu bagian kata-kata tentang cinta.


"Ada apa?" tanya Joy, heran. lagi asyik baca Alana tiba-tiba menganggunya.


"Kak, kamu dapat ini dari mana?" tanya Alana, mengangkat buku itu.


"Aku menemukannya di depan rumah, memangnya kenapa?" tanya Joy, semakin bingung. "Sini, aku mau lanjutin baca, seru ceritanya." ucap Joy, meraih kembali buku itu di tangan Alana.


Ah.. Mungkin itu hanya buku yang sama. Bukanya buku aku ada di kamar, pasti serkarang amsih di kamar. Pikir Alana.


Alana beranjak berdiri, "Kamu mau kemana?" tanya Joy, mencoba menatap ke arah Alan.


Alana menghentikan langkahnya, menoleh nenatap Joy. "Kamu mau kemana?" tanya Joy.


"Mau pergi!! Memangnya kenapa?" tanya Alana.


"Di sini temani aku, dulu."


"Bukanya kak Joy, sudah sibuk dengan buku. Jadi lebih baik aku sekarang pergi dulu." Alana melangkahkan kakinya kembali, baru memegang gagang pintu, Joy mengangkat tubuh Alana, ala bridal style. Berjalan mendekat ke kasur lantainya, meletakkan tubuh Alana di atasnya.


"Kamu diam di sini, aku mau menghabiskan waktu aku selama satu mingu di sini. Ya, mungkin tidak akan bisa terulang algi nantinya. Jadi aku mau di sini, bersama denganmu." ucap Joy, mengusap wajah Alana, dengan jemarinya. Membaut gadis itu merasa was-was. Ia ikut jika Joy melecehkannya lagi.


"Jangan tegang gitu!!" ucap Joy, membaringkan tubuhnya, di samping Alana duduk.


"Kita gak bisa bersama, mungkin kita akan selalu seperti ini." ucap Joy, memiringkan tubuhnya, dengan tangan menyangga kepalanya.


"Mungkin, memang jalan kita. Perasaan kita tidak akan pernah bersatu kak. Aku saja bingung, kenapa aku bisa merasakan ini semua, kenapa aku bisa merasakan cinta. Padahal aku pernah suka dengan laki-laki dulu, dan itu bukan kak Joy." ucap Alana. Pengakuan Alana membuat Joy melebarkan matanya. Ia menarik tangan Alana, agar berbaring di sampingnya.


"Jadi, kamu suka dengan laki-laki lain, siapa dia? Apa dia Miko? Atau laki-laki yang pernah kamu temui dulu?" tanya Joy, penasaran, ia semakin mendekatkan tubuhnya.


"Sudah jangan bahas itu kak, aku gak mau bajas tentang cinta. Bagi aku sekarang cinta yang paling tulus adalah Miko, dia banyak membantuku." ucap Alana, merentangkan ke dua tangannya, dengan pandangan menatap ke atas langit kamar Joy.


Joy berbaring di samping Alana. Merentangkan ke dua tangannya juga. "Kenapa, kamu bisa menyukaiku, apa yang kamu katakan tadi sungguhan?" tanya Joy, menatap ke atap langit kamarnya.


"Entahlah!! Perasaan itu muncul tiba-tiba, dan aku gak tahu kapan perasaan itu semakin dalam, aku baru sadar jika itu cinta. Setelah aku membaca novel sama seperti yang kak Joy, baca tadi." jelas Alana.


"Kamu terlalu polos Alana," ucap joy, menggerakkan kepalanya, menoleh ke kiri, dan Alana menoleh ke kanan, membuat ke dua mata mereka saling tertuju.


Joy memegang pipi kanan Alana, menatapnya semakin dalam. "Syang sekali Alana, kita hanya sebatas adik dan kakak. Mungkin kita juga akan beroisah, dan menikah dengan pilihan kita masing-masing kelak nanti.


"Kak, ponsel kamu bunyi!!" ucap Alana, melirik ke ponsel Joy, yang tepat di samping kirinya. Ia melihat layar ponsel Joy, yang masih menyala. Matanya seketika menyipit, saat melihat nama tertera di sana 'Amerta'.


Joy segera meriah ponselnya, dan menemrima panggilan dari Amerta. "Joy, kamu di mana?" ucap Amerta, yang seperti ketakutan sendiri.


"Ada apa, Ta?" tanya Joy.


"Kamu bisa sini gak, temani aku." ucap Amerta, di ujung kamar sana. Padahal jarak kamar mereka tidak jauh, hanya berjalan sepuluh langkah. tapi Amerta lebih memulih memanggilnya lewat telepon.


"Aku gak bisa!!"


"Sebantar saja,"


"Aku sibuk." Joy melirik ke arah Alana.


"Sebentar, aku di kamar Cia sendiri. Pokonya aku tunggu kamu sekarang. jangan terlalu lama yaa!" Amerta menutup panggilanya begitu saja.


"Shiitt.. Kenapa harus bersamaan seperti ini." gerutu Joy, meletakkan ponselnya di meja sampingnya.


"Dari Amerta, ya. Kamu temu saja dia, kalau kamu mau menemuinya. Aku akan tunggu kamu di sini dulu." ucap Alana, beranjak duduk.


"Baiklah, tapi aku mau mandi sulu. Kamu di sini duku saja ya, jangan keluar lewat depan. Takutnya nanti banyak orang yang tahu kalau kita di dalam berdua." pinta Joy.


"Baiklah!! Cepat mandi sana!" pinta Alana, beranjak berdiri, mendorong punggung Joy masuk ke dalam kamar mandi.


"Apa yang kamu lakukan syang?" tanya Joy, menoleh cepat ke belajang, menarik tangan Alana masuk ke dalam kamar mandi.


"Kak Joy, jangan gila!!" pekik Alana.


Joy mendekatkan tubuhnya. mempet tubuh Alana, ke tembok, dan berbisik.


"Kamu mau ikut aku mandi?" bisik Joy, Alana mendorong dada Joy menjauh darinya.


"Kaka, jangan macam-macam lagi denganku." ucap Alana semakin tegas.


Joy tersenyum, ia mencubit manja dagu Alana.


"Kenapa kamu takut sekali, aku tidak akan macam-macam,"


"Ya, sudah, aku mau pergi sekarang!!" ucap Alana beranjak, untuk membuka pintu kamar mandi.


"Kamu sudah mandi belum?" tanya Joy, dengan tangan membuka bajunya, hingga ia sudah telanjang dada, bersiap untuk mandi.


"Aaa--" Alana menutup mata-nya, dengan ke dua telapak tangannya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Alana.


"Aku amu mandi," ucap Joy.


"Kalau mandi kenapa ajak aku," Alana, beranjak menuju ke pintu, Joy yang melihatnya hanya tersenyum tipis, dan mulai membuka helaian celana. Dan kangsung masuk ke dalam bathup, berisikan air itu penuh, hingga keluar membasahi lantai di bawahnya.


"Di mana kuncinya, kenapa gak bisa di buka." decak Alana, menoleh ke belakang, melihat Joy yang sudah masuk ke dalam bathup.


Joy memejamkan matanya, dan tersenyum sedikit? menyandarkana kepalanya di atas bathup. Entah kenapa ia terlintas ingin menjahili adiknya itu.


"Kamu mau mandi berdua gak? Sama seperti kita dulu? waktu masih kecil. Kita selalu mandi berdua, berendam dalam bathup berdua, hingga kita sekolah sd kelas 4 masih sering mandi berdua." ucap Joy menjelaskan, mencoba mengingat kenangan lalu bersama kakaknya. memang benar dulu apa yang alaminya. ya? Alana mengingat hal itu, hanya bisa menutup mata malu.


"Dulu kita masih kecil, sekarang kita sudah dewasa gak mungkin untuk melakikannya lagi." ucap Alana tegas, ia membalikkan badanya, tanpa menatap ke arah Joy yang masih berendam memejamkan matanya. Ia melirik sekilas ke arah Joy, melihat tangannya yang menggelantung, membawa kunci kamar kamar mandi.


Alana segera berjalan mengendap-endap, mencoba meraih kunci di tangan Joy. "Kamu sedang apa?" tanya Joy, memegang tangan Alana. Menariknya masuk ke dalam bathup.


"Kak... Apa yang kamu laku---"


Byurrrr....


"Kak, apa yang kamu lakukan, aku sudahmandi." umpat kesal Alana, tanpa menatap ke arah Joy.


"Hanya menemani sebentar, aku tidak akan menyentuhmu, Alana." jawab Joy.


Alana yang sudah mulai geram, ia beranjak dari dalam bathup, dengan baju yang sudah basah kuyup. Hingga baju dan rok selutut Salsa terlihat bagian tubuhnya.


Joy yang tahu hal itu, meraih handuknya, menutupi bagian tubuhnya dan beranjak berdiri. Meraih baju seperti handuk, ia memakaikan pada Alana.


"Pakailah, biarkan tidak terlalu terlihat tubuh kamu, aku akan antarkan kamu naik dari balkon kamar." ucap Joy. memegang bahu Alana, berjalan keluar dari dalam kamar mandi.


"Pakailah baju aku dulu," Joy, membuka lemarinya, mencari baju yang sedikit panjang cocok untuknya.


Alana dari tadi hanya diam, ia merasa sangat kesal, dengan apa yang akan di lakukan Joy. Kakanya benar-benar berubah jadi kakak mesum, membuat ia merasa sangat ragu ingin dekat dengannya.


"Pakailah ini,"


"Gak usah kak, aku mau pergi." ucap Alana, mencengkram erat handuk, di tubuhnya, untuk menutupi betuk tubuh yang kelihatan.


Alana beranjak pergi, membuka pintu kamar Joy, ia melihat di luar, ke kanan dan kiri, merasa sudah aman, Alana segera masuk ke dalam kamarnya.


Dan Joy, masih terdiam. Melihat Alana pergi, ia hanya tersenyuk tipis. Dan segera memakai baju, dan bertemu dengan Amerta nantinya.


Selesai semuanya, Joy melangkahkan kakinya, menuju ke kamar Cia.


Tok.. Tok.. Tok..


"Cia, kamu di dalam?" teriak Joy, di luar pintu.


"Amerta segeta membuka pintu kamarnya, ia berdiri dengan gaun yang udah terlihat sangat cantik, gaun pendek sebahunya, membuat dia tambah cantik.