
Alana segera naik ke atas montor Miko, memegang pimggang Miko mencengkramnya erat jeketnya. Miko segera menari gas montornya, melaju dengan kecepatan sedang, melewati jalanan yang terlihat sangat sepi, tidak ada satupun ornag yang melewatinya.
“Alana pegangan, nanti kamu jatuh gimana?" Ucap Miko, memegang Tangan Alana, yang dari tadi menarik jaket di pinggangnya.
Alana menguntupkan bibirnya, dengan tangan menyilakan rambutnyaa, yang tersapu angin malam. Membuatnya tak bisa menatap depan, menghalangi pemandangannya.
"Kak Miko, pasti cari kesempatan kan?" tanya Alana, mendekatkan wajahnya tepay di samping Miko.
"Heheh.. Dikit, Lagian kamu selalu canggung saat bersama aku, sekarang aku ingin pegangan, sekali saja. Besok juga kita gak bisa bertemu lagi." Ucap Miko, memegang tangan Alana, manariknya melingkar di perutnya, Miko mulai fokus dengan jalan di depannya. Dan salah satu tangannya memegang lembut tangan Alana di perutnya.
“Aku ingin seperti ini, syamng. Jangan canggung algi bersama aku.” Lanjut Miko.
“Iya, kak.” Hebusan angin malam mula terrasa masuk ke dalam pori-pori kulitnya, membuat Alana semakin kedinginan. Dan nurut saja apa yang di katakan Miko.
"Alana, aku bingung apa yang membuat kamu, mau menerima aku jadi pacar kamu. Apa karena perjuagan aku selama ini padamu?" tanya Miko.
"Karena kak Miko baik," ucap Alana. Dengan kepala menyandarkan di punggung Miko, ia memeluk semakin erat tubuh Miko, menghilangkan rasa dingin yang sudah mulai menusuk tulangnya.
"Tangan kamu dingin," tanya Mko, melirik ke arah Alana, yang sepertinya sangat nayaman berada di dalam sandarannya.
"Iya, kak. dingin banget, lebih cepat kak, kalau naik montor. Biar aku bisa cepat sampai rumah nantinya." Ucap Alana.
10 menit perjalanan, Miko menghentikan montornya tepat di rumah Alana.
“Alana!” panggil Miko.
“Ada apa?” tanya Alana heran sembari melepaskan helm, milik Miko. Dan memebrikan padanya.
"Alana, selamat jalan ya. Nanti kalau kamu sudah sampai di Sydney, jangan lupa kabari aku lagi." Ucap Miko, yang baru saja sampai mengantar Alana tepat depan rumahnya.
"Iya, makasih kak!!" ucap Alana malu-malu.
" Iya, sama-sama."
"Udah cepat masuk sekarang, katanya tadi kamu ke dinginan. Aku pulang dulu sekarang. Byee..." ucap Miko, yang langsung menarik gas montornya, melaju jauh dari dari hadapan Alana.
Alana membalikkan badannya, menatap ke arah pintu, pandangannya tertuju pada David yang duduk di teras runah, Menatap aneh ke arahnya.
"kenapa kamu ada di sini?" Tanya Alana heran, di malam-makam seperti ini, David masih duduk di depan teras rumahnya.
Alana menghembuskan napanya kasar,
Kenapa juga aku harus melihat laki-laki ini lagi. Apa gak bisa sehari sjan tidak melihatnya, seepeti sebelumnya. Entah kenapa hari ini, aku begitu sial... Bertemu dneganya terus, membaut aku merasa sangat kesal saja.
"Aku ingin cari udara, kamu dari mana?"
Alana mentap ke arah David, menarik sudut bibirnya sinis.
"Bukan urusan kamu?" jawabnya jutek.
"Baiklah, memang itu bukan urusan aku. Tapi kamu membuat aku khawatir, kalau kamu pergi meninggalkan aku, dan naik pesawat sendiri. Aku gak tahu daerah sini, aku juga ingin pergi diam-diam. Kalau aku di antar sopir, sama saja nanti orang tua aku tahu." Jelas David, membuat Alana hanya diam mengernyitkan matanya.
Ia menarik sudut bibirnya, sembari tertawa kecil. "Apa aku gak salah dengar, kamu itu ya. Udah dewasa, kenapa kamu gak tanya orang jalan mau ke bandara. Dan lagian kenapa kamu kabur dari orang tua ka,u,"
"Itu bukan urusan kamu. Kalau kamu gak mau bantu aku, maka jangan harap aku akan membantu kamu menemukan ibu kamu. Lagian di Sydney, memangnya kamu tahu jalanan di sana."
"Ole, oke, Baiklah!! Udah aku tunggu kamu jam 3 lagi, kamu beki tiket jam berapa? Jadi jangan mengancamku lagi,’
"Beliin sekalian?"
Mata Alana terbelalak, mendengar ucapan David. “Apa maskud kamu, beliin?” tanya Alana memastikan.
“Iya, memangnya kamu gak mau?” tanya David, menarik alisnya ke atas.
Alana tahu ancaman apa yang akan di lontarka lagi padanya. Ia hanya diam dan seakan pura-pura gak tahu apa maksudunya.”
"Kenapa kamu gak beli online sekarang?"
"Iya beliin, aku gak tahu caranya." Ucap David.
‘Gak mungmi juga, kamu gak tahu caranya. Atrau kamu gak punya uang, atau hanya malas untuk membelinya. Bilang saja kamu mau yang gratisam, kan.” Ucap Alana semakin geram.
Wajah David asih sangat datar, ia menarik ke dua alisnya ke atas.
“Bagaimana?” tanya david, melirik ponsel alana.
“Sabar!!” jawab tegas Alana.
"Ini ada masih satu, gimana jadi gak?" tanya Alana.
"Jadi!!" Mendengar itu, Alana segera membeli tiket segera, sebelum ke duluan orang lain.
"Tiket sudah, sekarang aku mau bersiap. Lagian sudah hampir jam tiga pagi, cepat bersiap dan ikut aku nanti. Aku sduah pesan taksi nanti tepat jam 3 taksi itu berada di depan rumah jni" ucap Akana, bergegas pergi menjauh dari David
"Amakasih!!" Ucap David, ia memabg sengaj ingin memaksa Alana ubtuk membekikannya tiket je Sydney, agar dia bisa cepat pulang, lagia ia gak punya uang untuk bisa membeli tiket itu.
Alana melangkahkan kakinya, berjalan menaiki anak tangga. Menuju ke kamarnya. Ia tak senagaj melihat Ia yang sepertinya turun dnegan langkah terburu-buru, dengan tubuh penuh dnegan puluh keringat. Membaut Alana semakiin hera, dan mencoba untuk bertanya padanya.
"Om... Dari mana?" Tanya Alana, sedikit menyipitkan matanya, melihat Ian, baru saja dari lantai atas, padahal kamarnya di lantai satu.
"Bertemu Amera, aku dari dia tapi sudah tidur." Ucap Ian gugup.
"Bukannya kamar Amera di sana, bersama dengan Cia om. Di sana gak ada kamar Om?” tanya Alana semakin curiga.
Ian terliahat sangat gugup, dan bergeges untuk segera mencari alasan lain, untuk pergi dan bebas dari pertanyaan Alana yang sepertinya curiga padanya.
“Iya, tadi om. Dari kamar Amera. Setelah itu aku ke ruag keluarga, mencoba mennotnm tv di lantai atas.”
“Ooo. Ya sudah, aku pergi dulu ya, om.” Ucap Alana, menyapa Ian dengan sbeuah sneyuman tipis, dan bernajak pergi meninggalkan Ian.
Ian segera masuk ke dalam kamarnya, sebelum ada yang memergokinya nanti.
------
Sedangkan Keyla, masih terdiam duduk di kamar mandi, dengan tubuh yang terasa sangat lemas. Ia benar-benar membuatnya merasa sangat kesakitan, hamoir 4 jam tanpa henti, membuat ia merasa tak bisa jalan seketika. Tubuhnya sangat sulit untuk berdiri.
Keyla duduk memeluk ke dua kakinya, dengan tubuh yang sudha oenuh dengan eringat, ia masih terus menangis, meratapi nasibnya sekarang. Rasa menyesal, kesal dan marah. Campur aduk jadi satu.
“Aku harus pergi sekarang, sebelum Alvin curiga padaku nantinya?” ucap Keyla, mencoba untuk berdiri, memegang dinding di sampingnya, dan berdiri, ia mencoba untuk melangkahkan kakinya, meski terasa sangat berat dan sakit. Dnegan segera mengambil gaunya, dan bergegas berdiri.
Keyla selesai memakai dress miliknya, bergegas menuju kamarnya, dengan kaki menyeret masuk ke dalam kamarnya, yang berjarak hampir 10 langkah dari kamar mandi itu.
Ia membuka pelan pintu kamarnya, melihat Alvin yang masih tertidur lelap, ia segera beranjak menuju kamar mandi miliknya. Merendam tubunya di dalam bathup kamar mandi. Membasuh tubuhnya, yang penuh dengan air yang di kirimkan Ian padnaya tadi, membuat tubunnya terasa sangat lengket.
Kejadian tadi masih terngiang di pikiran Keyla, seakan ia tidak bisa melupakan apa yang di lakuakn Ian padanya, benart-benar seperti bukan Ian yang ia kenal dulu. Dia lebih ganas, dan hampir saja membunuhnya secara perlahan.
Alvin yang tersadar isitrinya itu tidak ada di sampingnya, ia beranjak duduk.
“keyla kamu di mana?” teriak Alvin bangkit dari ranjangnya, Ia meraih ponsel, di sampinganya, melihat jam yang sudah menunjukkan pukul dua pagi. Alvin melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi, seketika ia merasa sangat lega, melihat istrinya ternyata berendam dalam kamar mandi.
“Syang, kenapa kamu mandi jam segini?” tanya Alvin, melangkahkan kakinya, mendekati Keyla.
Mendengar suara yang sangat familiar di telinganya, Keyla segera membuka matanya, dan duduk tegap menatap, takut, ke arah Alvin yang berdiri di sampingnya.
“Aku hanya ingin mandi sayang, gak tau kenapa aku merasa sangat gerah, hari ini.” Ucap Keyla, beralasan.
“Aku ikut berendam ya, sudah kama kita tidak berendam berdua.” Ucap Alvin, yang langsung melepas dalamnya dan berendam di dalam batajup tanpa, menunggu jawaban ‘iya’ dari Keyla.
Tubuh Keyla seketika bergetar hebat, ia terlihat sangat gugup, bagaimana jika nanti Alvin tahu, rasa takut itu mulai menghantuinya. Meskipun yang melecehkannya adalah Ian, tapi ia takut Jika Alvin akan salah paha, dan berbalik marah dengannya.
Alvin memeluk tubuh Keyla dari belakang.
“Syang jangan di belakangku, aku mau bersandar, hari ini kapalaku pusing jadi butuh ketenagangan.”
“Baiklah, aku duduk di depan kamu, lagian saa saja berendam berdua.” Uca Alvein, mentap istrinya itu, yang sepeertinya sangat kelelahan, ia tidak berani tanya lagi, saat Keyla sudah menyandarkan kepalaknya di batahup dan mulai memejamkan matanya.
“Apa dia cepek seharian urus pesta Joy dan Cia, meski Joy tidak mau di rayakan. Tapi Cia sudah sebagai perwakilan ulang tahun mereka.
Alvin membelai lembut rambut Keyla, menatap wajah istrinya yang sangat kelelahan, membuatnya sangat kasihan.
Hampir setengah jam berendam Alvin tak henti memandnag istrinya, kini sepertinya dia tertidur. Alvin segera mengangkat tubuh Keyla dari dalam bathup, dan membaringkan di kamarnya tanpa busana dan hanya di tutupi selimut tebal. Ia mengecup kening istrinya dan berbaring di sampingnya.
“Selamat tidur, lagi syang!!” ucap Alvin, tanpa menatap curiga pada Keyla, mesi sebenarnya ada bercak merah di lehernya, ia tidak begitu melihatnya.