My First Love

My First Love
Miko



Jarum jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Dan David masih belum pulang ke rumah. Setelah pulang dengan pacarnya, ternyata tidak turin di depan rumahnya. David turun di sebuah rumah mewah milik temanbya, dan pergi hang out bareng teman-temannya. Sampai larut malam.


Alana, dengan terpaksa ikut dengan David, ia tidak punya tempat tinggal, jika menginap di hotel juga mahal kalau beberapa hari ke depan. Dengan terpaksa dia duduk di pinggir para laki-laki di mobil yang sudah mabuk berat. 


Dan David tertidur di oangkuannya, sementara teman lainya masih saja terua berbicara gak jelas. Dengan tangan yang jahil berani mencoleknya. 


"Jangan sentuh milikku?" ucap David yang sudah tidak sadar dengan apa yang barusan ia ucapkan.


Milikmu, kapan aku jadi milikmu. Dasa David, aku kira dia juga daei kata nakal, ternyata ini di kuar ekspektasi pikiran aku. Dia benar-benar brutal. 


-----


#Keyla Pov


"Key kamu istirahat saja, jangan kecapekkan" ucap Ian, yang berjalan masuk ke dalam kamar Keyla, tanpa ijin lebih dulu, sekaan seperti akamrnya sendiri. 


Ian menarik selimut menutup tubuh Keyla. 


Dan duduk di ranjang sampingnya. "Maaf ya, soal kemarin. Ini pasti sakit banget ya sekarang. Kamarin aku gak bisa menahannya. Aku terlalu marah, setiap kamu tahu perlakuan Alvin padamu, kamu selalu masih cinta dengannya, tanpa memikirkan aku." ucap Ian, tangannya memegang daerah inti Keyla, yang terbungkus selimut tebal.


"Tapi kenapa kamu mengulanginya lagi, Kamu sudha tahu aku sakit, tapi ke eskokan hatinya kamu mengulangi hal yang sama." 


"Entah kenapa aku merasa hubungan dengan kamu berbeda, mungkin karena kita saling cinta. Aku merasakannya sangat beda." jelas Ian. "Kamu gak marah dengan apa yang sudah aku lakukan denganmu. Jika tidak berarti kamu suka dengan pergaulanku padamu kan. Kamu mengharapkan hubungan itu kan?"


Keyla memegang tangan Ian, "Tolong lupakan aku, aku tidak pernah marah padamu. Tapi kita sudah punya pasangan masing-masing Ian. jangan melukai istri kamu ke dua kalinya." ucap Keyla lembut. 


"Tapi aku suka dengan kamu,"


"Aku tahu," ucap Kwyla, meletakkan tangannya ke dadanya. "Rasakan, detak jantungku. Apa kamu tahu di lubuk hati aku paling dalam, aku masih beda rasa yang sama. Tapi kita tidak bisa bersama. Aku dulu menikah dengannya, pertama memang mulai jatuh cinta dengannya, tapi bukan hanya itu, aku sudah hamil dengannya, dan dia harus menikahi aku."


"Kenapa kamu dulu gak bilang, jika kamu bilang. aku amu menikahi kamu, apapun kondisi kamu, Keyla. Meskipun kamu mengandung anak Alvin. Aku akan terima semuanya,"


"Kita gak bisa bersama. Status kamu sekarang adalah anak suami Sheila. Dan anak kita juga akan menikah."


"Baiklah, tapi aku akan menami kamu malam ini," ucap Ian. Beranjak berdiri, dan berbaring di samping Keyla. 


"Ian, tolong pergilah, aku gak mau Sheila tahu."


"Dia gak akan tahu, lagian aku sudah mengunci rapat pintunya. Dan aku gaka kan menyakiti lagi. Aku ingin berbaring berdua di samping kamu," ucap Ian, dengan wajah memohon.


"Aku takut..."


Belum sempat meneruskan ucapanya, Ian mendekap erat tubuh Keyla, membuat hatinya merasa nyaman seketika. Gimana bisa hati aku goyah lagi sekarang. apa ini godaan, tapi suami aku juga sudah tergoda dengan wanita lain lebih dulu. Dia juga tidur semalaman dengan wanita lain.


"Apakah kamu mau melayaniku setiap hari, Keyla!" 


Keyla menakutkan ke dua alisnya bingung. 


"Aku mau kamu membuat aku tenang. Apalagi setelah kita pergi ke rumah aku di Sydney. Kita mungkin jarang bisa dekat. Jadi bolehkah aku di sini menemani kamu, dan sekaligus memuaskan kamu syang."


"Tapi.. Jangan menolaknya, sekarang aku hanya ingin mendekap kamu saja. Menemani kamu tidur. Tidak akan membuat kamu sakit lagi."


------------


#Miko Pov


"Aku mau ajak kamu keluar, sekarang aku gak bisa tidur, apa boleh aku menginap di sini. Lagian mereka semua pada tidur kan?" tanya Miko. "Memangnya rumah kamu kenapa?" tanya Cia heran.


"Aku besok mau pergi, tadi pagi aku ketinggalan pesawat jadi aku harus pergi besok pagi. Jadi kalau aku tidur di sini, kamu sekalian dekat dengan bandara.


"Bukanya rumah kamu juga dekat dengan rumah aku," 


"Sudhalah, aku gak tahu lagi apa yang harus kau lakukan. jadi sekarang aku mau menginap di sini. pikiran aku penat, aku butuh teman." ucap Miko, menggebu. 


"Baiklah, kamu boleh menginap di sini. Oya, tapi kamu tidur di sofa ruang keluarga gak apa-apa kan, nanti aku akan ambilkan kamu selimut sama bantal. Taoi kamu besok berangkat jam berapa. Aku akan bangunkan kamu." Ucap Cia, penuh semangat. Ia juga senang jika ada teman di rumah, apalagi itu Miko. Ia tambah senang dua kali lipat lagi, bisa memandang wajah Miko saat tidur.


Miko tersenyum tipis, merangkul pundak Cia, menariknya masuk ke dalam. "Kamu memang teman aku paling baik deh. Tapi kamu harus temani aku main ps nanti. Buaknya di rumah kamu ada ps kan?" 


Cia menatap wajah Miko, menelan ludahnya saat melihat ia berbicara dengan pandangan sangat dekat ke arahnya. Rasa gugup menjalar ke seluruh tubunya.


Jadi aku hanya di anggap teman, tapi kalau bisa mesra setiap hari seperti ini aku tidak masalah. Setiap saat bisa dekat dengannya, sepertinya aku harus menurut apa kata papa, kuliah di London, agar bisa setiap saat bertemu dengan Miko.


"Kenaoa kamy menatapku seperti itu?" Miko mencubit hidung Cia. Mereka berjalan masuk, terlihat rumah yang nampak sangat sepi. 


"Kamu duduklah di sofa, aku ambil ps dulu sekalian bantal sama selimut buat kamu," ucap Cia. 


Miko, hanya menatap Cia yang sudah pergi eknjauh, ia mengambil ponselnya. Belum juga, ada kabar dari Alana sama sekali. Dan nomornya juga tidak bisa di hubungi. Rasa khawatir menghantui didirnya. 


Miko terus menghantakkan kakinya, menunggu Cia yang sangat lama. Padahal ia juga ingin menghubungi Davis, minta nomor telepon Davis pada Cia. 


Merasa menunggu terlalu lama, David yang sudah biasa keluar masuk rumah Cia. Ia berjalan menuju ke lantai atas, namun langkahnya terhenti, ia lupa di kana kamar Cia. 


Ia berkeliling lantai dua, hingga sampai ke ruang keluarga di lantai dua, tiba-tiba langkahnya terhenti, saat mendengar suara desahan dari dalam kamar. Suara itu sangat jelas terdengar di telinganya. 


"Ian, sakit!!" 


"Emmm... Ian!!"


"Audha kupain, kenapa aku mendenafrkan orang yabg lagi hubungan. Wajar saja, mungkin di dalam om dan tnate Sheila. Lebih abim aku pergi cari Cia lagi." 


"Miko!!" teriak Cia, membuat langkah miko terhenti. 


"Kenapa kamu di situ?"


"Aku tadi cari kamu!!"


Keyla yang mendengar anaknya, ia bergegas memakai pakaiannya, dan bergegas keluar menemui mereka. Dan Ian maaih berbaring di ranjang Keyla.


Ckleekkk... 


"Tante!!" ucap miko, seketika terekjut saat melihat Mama Cia keluar dari kamar aumber suara tadi. 


"Ada Miko, kamu mau tidur di sini?" tanya Keyla. 


"Iya tente, ku tidur di sofa depan." ucap Miko ragu. 


"Gak aoa-apa kan ma, dia di rumah gak ada temanya. Lagian besok dia sudah mau ke London".


"Iya gak apa-apa," ucap Keyla, menguaap rkabut anakanya, tanpa tahu jika Miko di masih berdiri di deoan kaamenya? dengan sekali lihat, dia oasti akan athu semuanya.


Ini kamar mama Cia, tapi tadi nama yang di oabghol adalah Ian. Siapa dia? Bukanya papa Cia namanya Alvin kan. 


Miko mengitip dalam kamar Keyla, ia melihat ada seorang laki-laki tanpa apapun yang berdiri di samping ranjangnya.


Apa mama Cia selingkuh dengan ayah saudaranya itu. Cia gak boleh tahu, sia pasti akan marah. 


"Cia, ayo kita pergi. Katanya mau main ps juga." ajak Miko, memegang tangan Cia, dengan salah satu tangan mengambil selimut. 


Keyla menutup pintunya kembali, san langsung di balas pelukan hangat dari belakang. "Ada apa? Ayo tidur!" ucap Ian.


"Untung saja mereka tidak tahu, kalau anak aku taji. Mereka pasti akan marah." 


"Oya? tapi kamu tadi jalan sudah lumayan, gak nyeret lagi seperti kemarin"


"Kamu pergilah ke kamar, aku gak mau Sheila tahu," 


"Tapi bukanya ada orang di bawah. Kalau anak kalau tahu malah lebih bahaya lagi. Kalau Sheila bisa alasan aku."


"Ya, sudah sekarang kamu tidulah."


Ian, mengankat tubuh keyla yang masih belum bisa jalan, dan menidurkannya lagi di ranjang. 


Keyla mengambil ponselnya di sampingnya. Ada panggilan dri Alvin.


"Oya, tadi suami kamu telepon."


"Apa kamu menerima panggilan dari dia,"


"Tidak syang!!"


"Tapi ini siapa yang menerima oanggilannya," Wajah Keyla seketika pucat. 


"Giaman ini, apa tadi kepencet, apa dia mendengar apa yang kita lakukan tadi"


"Biarkan saja," Ian mengambil ponsel di tangan Keyla, dan menyembunyikannya. 


"Sekarang malam kita."