
Hari sudah menjelang pagi, Joy beranjak menuju kamar Amera yang tak jauh dari kamarnya, dan Cia yang lebih dekat dengan kamarnya, sepertinya lebih suka mengunci kamarnya dari pada harus berbincang dengan kakaknya sendiri.
"Joy, mau kemana?" tanya Sheila, seketika menghentikan langkah Joy.
"Mau ke kemar Amera, tante!!"
"Oo.. Ya, sudah sekalian panggilan dia. Kita makan bersama nanti. Tante juga akan memanggil David, dari kemarin dia belum keluar sama sekali dari kamarnya.
Mendengar nama David, seketika Joy teringat dnegan Alana yang baru pergi kemarin, ia ingin bertemu dengannya, tapi dari kemarin Alana belum bisa di hubungi, bahkan tidak membuka pesannya.
"Oya, Joy. Kamu tahu Alana di mana?" tanya Sheila.
"Alana pulang ke rumah ibunya, tante. kemarin malam. Sebenarnya mau telepon tante, tapi aku bilang jika tidak usah, biar aku yang bantu bicara dengan tante," ucap Joy.
"Ya, sudah tidak apa-apa!! Lain waktu kamu kasih salah tante ke dia, ya. Sama ibunya, sekalian kalian undang mereka untuk datang ke pesta pertunangan kamu dan Amera."
"Iya tante, nanti saya akan usahakan." ucap Joy tersenyum ramah ke arah Sheila.
"Iya, sekarang kamu cepat temui Amera, nanti takutnya dia belum bangun jam segini. Bilang jika mamanya suruh aku membangunkannya." ucap Sheila.
"Iya, tante. Saya, pergi dulu tante," ucap Joy, melangkahkan kakinya pergi menuju ke kamar Amera yang tinggal lima langkah lagi dari tempat dia berdiri.
"Joy, jangan lupa kamu lihat Davud sudah bangun bekum Jika dia masih marah jangan ketuk pintunya. Kamu lihat saja, kalau sudha bangun biar Maera nanti yabg panggilkan!!" teriak sheila, pada Joy yang sudah melangkah dua langkan jauh darinya.
"Siap tante!!"
Amera jam segini belum bangun. Gitu mau jadi istri aku, bis amati kelaparan kalau pagi-pagi belum masak atau siapkan semua makanan untuk suaminya. Lagian aku juga tidak mau menangis menyewa pembantu. Biar semua di urus sendiri istri aku.Agar tidak manja jika menikah dnegan aku," gerutu Joy ngedumel kesal, ia terus melangkahkan kakinya mendekati pintu kamar Amera.
Tok!! Tok! Tok!
"Siapa?" teriak Amera dari dalam kamarnya.
"Aku Joy!!"
"Masuklah Joy!! Kamarku gak di kunci!!" jawab Amera.
"Bener-benar pemalas, sudah bangun buka kamarnya saja gak mau," gumam Joy kesal.
Joy menghela anapsnya kesal, memegang gagang pintu kamar AmeraN memutarnya, laku membuka perlahan, mrmasukan separuh badanya, meliaht sekeliling kamarnya, pandangannya sekeyika terhenti melihat Amera duduk sendiri di balkon kamarnya.
"Masuklah!! Apa yang kamu lakukan di situ?" ucap Amera tanap melihat ke arah Joy yang amsih berdiri di balik pintu.
Joy yangs udah ketahuan Amera, ia melangkahkan kakinya amsuk ke dalam kamar yang terlihat sangat luas, dengan naunsa klasik berwarna coklat tua, semua sudah berjejer rapi, mulai dari lemari dan perlengkapan lainya ada di ruang smapibg kamarnya tepat. Khusu untuk menempatkan sepatu, tas, baju pesta dan perhiasannya atau aksesoris miliknya.
"Ini kamar kamu?" tanya Joy? melangkah dengan mata terkagum-kagum melihay isi kamar Maera.
"Iya, jelek ya?" tanya Amera tanpa sedikitpun menatap ke arah Joy, ia beranjak berxiri, memejamkan matanya, merasakan udara pagi yang menyeruak masuk ke dalam penciumannya, udara yang sangat sejuk, dengan angin semilir pagi yang masuk ke dalam pori-pori kulitnya
"Amera apa yang kamu lakukan?" tanya Joy, beranjak mendekati Amera di balkon kamarnya.
"Merasakan udara pagi!!" ucap Amera. Merentangkan ke dua tangannya, semakin menarik napasnya dalam-dalam merasakan sejuknya udara pagi hari.
""lKenapa kamu tidak sekalian pergi olahraga di luar?" tanya Joy, berdiri di samping Amera.
"Boleh juga. Emmm... Gimana kalau besok kita pergi pagi lari-lari ke sekitar rumah ini."
"Kita?" tanya Joy mengernyitkan matanya, dengan telunjuk tangan menunjuk dirinya sendiri.
Amera membuka matanya, menoleh menatap ke arah joy. "Iya, kita. Memangnya siapa lagi. Kita juga harus olahraga bersama. Biar sama-sama sehat. Aku gak mau kamu juga jadi malas olahraga jadinya nanti sakit-sakitan aku gak mau jika kamu juga sakit," jelas Amera panjang lebar.
"Iya-iya, terserah kamu. Tapi besok bangunkan aku. Karena peresmian pertunangan kuta dua hari lagi. Jangan sampai kamu kecapekkan dan sakit!!"
"Tenang saja, aku sehat, sayang!!" Ucap Amera dengan senyum sumringah di bibirnya. Hatinya sangat bahagia bentar lagi kan bertunangan dengannya, dan meski jarak jauh memisahkan mereka. Tapi statusnya mereka sudah bertunangan , dan kaapan-kapan dia bisa pergi menemui Joy di Amera, untuk memastikan keadaannya, dan melihat apa aktifitasnya di sana. Agar tahu dia punya wanita lain atau tidak. Karena sifatnya yang posesif membuat Amera benar-benar tidak mau kehilangan Joy nantinya.
Amera hanya diam, ia memejamkan matanya, laku memegang ke dua pundak Joy, mengecup bibir Joy lembut. "Pagi syang" ucap Amera sebagai sambutan selamat pagi untuknya.
"Kamu ini!!" Joy mengusap ujung kepala Amera membuat rambutnya terlihat lebih berantakan.
"Ayo, cepat turun sekarang,"
"Kemana?" tanya Mara bingung.
"Kita makan bersama, mama kamu sudah nunggu" ucap Joy memegang tangan Amera.
"Kamu turun saja dulu. Aku mau merapikan rambut aku. Lagian baru selesai mandi, belum sempat make up dan merapikan rambut."
"Biar aku yang bantu kamu merapikan rambut kamu!!" Joy memegang helaian rambut sepunggung milik Amera.
"Kamu bisa?" tanya Amera ragu.
"Bisa, dikit. Dari pada kamu lama-lama di kamar," gumam Joy.
"baiklah, cepat rapikan!!"
Amera beranjak menuju ke depan cermin kamarnya, melihat sekujur tubuhnya yang masih terlihat seksi, ia tak berhenti memandangi dirinya sendiri di depan cermin yang semakin terlihat cantik meski tanpa make up di wajahnya.
"Kamu cantik!!" ucap Joy, mengusap wajah Amera dari belakang. Wanita itu terdiam, kaku merasakan sentuhan lembut jemari tangan Joy, ia memejamkan matanya, merasakan sentuhan hangat Joy di pelipisnya dengan ke dua tangannya.
"Joy!!" desah Amera.
Sentuhan tangan Joy perlahan mulai turun ke bawah, dagunya, ke dua tangannya memegang dada Amera, dan dagunya menyandar ke dipundak Amera. "Gimana?" bisik Joy lirih.
"Emmppp.. Syang mulai nakal sekarang!!" ucap Amera menikmati sentuhan Joy.
"Kenapa, kamu gak suka?" tanya Joy.
"Suka syang!! Tapi kapan kita bisa lebih dari ini," ucap Amera, seketika Joy langsung menarik kembali tangannya. Seakan dia baru tersadar dari lamunannya.Yang tiba-tiba menyentuh dada Amera, yabg membuatnya bergairah seketika.
"Kenapa sudah? Kamu gak mau lagi?" tanya Amera memegang tangan Joy, meletakkan di daerah intinya.
"Kita sudah di tunggu mama kamu di ruang makan. Lebih baik kita cepat turun." gumam Joy.
"Baiklah!!" ucap Amerq, dan Joy mengambil sisir di meja riasnya, dan segera menyisir rambut Amera.
Amera menatap Joy di balik cermin di depannya. Ia melihat wajah cantiknya bersanding dengan wajah tampan Joy yang berada di belakangnya tepat.
"Kamu kenapa melihatku seperti itu?" tanya Joy, mengusap rambut Amera yang sudah ia rapikan, ia menguncir satu rambut Amera, bahkan wanita itu terlihat lebih manis dari sebelumnya yang selalu terurai sepunggung rambutnya.
"Ini aku? Cantik juga. Aku belum pernah melihat wajah aku berbeda dari biasanya. Dan rambut aku juga bagus, kamu pintar sekali menata rambut.
"Memangnya kenapa?" tanya Joy.
"Kalau menikah kamu bisa menatap rambut aku setiap hari."
"Boleh juga, sekarang kuta cepat turun. Dan kamu lihat adik kamu dulu sudah bangun brlum," ucap Joy.
"Oke," Amera beranjak dari duduknya, melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya, menuju ke kamar David yang berada di atas. tepat di atas kamarnya.Joy berjalan di qbelakang Amera. Mengikuti setiap langkahnya. "Gimana?" tanya Joy.
"Dia belum bangun!!" ucap Alana.
"Sepertinya kita duluan saja. Aku mau bangunkan Cia. Dari kemarin aku belum melihatnya."
"Bentar!! Tangan kamu kenapa. Dan tadi aku tidak menyadari kalau tangan kamu terluka?" ucap Amera memegang tangan kanan Joy.
"Tidak aap-apa, udah aku pergi dulu!!" gumam Joy beranjak pergi meninggalkan Amera. Tanpa banyak bicara lagi dengannya, bahkan dia tidak perdulikan Amera yang khawatir dengan keadaannya.