
"Keyla!! aku taruh aurat kamu di depan." ucap Ian, pura-ura akan pergi, ia meletakkan suratnya lantai depan pintu. Ia beranjak sembunyi di samping.
Dan keyla yang merasa sudah amat tidak ada Ian, ia membuka pintu kamarnya perlahan. Lalu sedikit jongkok mengambil sebuah surat. Ian langsung memegang tangan Keyla, lalu menariknya masuk ke dalam.
"Ian lepaskan!!" ucap Keyla meronta, mencoba menarik tangan Ian. Tangan laki-laki itu semakin mencengkramnya sangat erat.
"Aku hanya ingin lihat kondisi kamu. Kenapa kamu menghindariku?" tanya Ian, melepaskan tangan Keyla.
"Karena aku gak mau melihat kamu kenapa-napa nanti. Apalagi keadaan kamu seperti ini. Aku tahu aku salah, aku yang menyebabkan semua ini. Karena kerakusanku untuk memiliki kamu!!" gumam Ian, memegang ke dua bahu Keyla.
"Hiks.. Hikss... Kamu jahat Ian, kamu jahat!!" Keyla menangis semakin menjadi, memukul dada bidang Ian dengan ke dua tangannya. Ian hanya diam, menerima setiap pukulan Keyla. Jika itu membuat Keyla merasa puas, ia tidak masalah.
"Kamu kenapa melakukan semua ini apdaku. Kamu kenapa membocorkan pada Alvin. Sekarang rumah tanggaku hancur. Dan entah gimana nasip ke dua anakku nantinya. Aku gak tahu lagi. Apa yang harus aku lakukan," Keyla menyandarkan kepalanya di dada Ian. Seketika langsung di balas sebuah pelukan erat dari Ian.
"Jangan sedih. Meskipun kamu terluka karena dia, masih ada aku di sini. Aku akan selalu menemani kamu. Aku gak akan pergi kemana-mana. Aku akan selalu bersama kamu. Soal anak-anak kamu, maka semuanya biar jadi urusan aku!!" ucap Ian mengusap lembut rambut panjang Keyla.
Keyla mengangkat ke dua tangannya. Memeluk tubuh Ian, membuat hatinya perlahan mulai nyaman. Ia menarik napasnya dalam-dalam, setiap hembusan napasnya, mewakili detak jantungnya yang semakin cepat. Seakan tak mau melepaskan pelukan hangat tubuh Ian, Keyla menenggelamkan kepala di dada Ian.
Di balik pintu yang masih terbuka sedikit, Sheila melihat semua adegan yang ada. Bagai di hantam batu besar, sekujur tubuhnya terasa kaku, ia tak bisa berkata apa-apa lagi, ke dua tangannya matanya melotot, dengan tangan menutup mulutnya yang setengah menganga membentuk huruf o.
"Ternyata selama ini di sini, mereka ada hubungan. Kenapa aku terlalu bodoh percaya negitu saja dengan apa hang di katakan, Ian. Sekarang apa rumah tanggaku juga akan hancur sama seperti Keyla." gumam Sheila, tiba-tiba air mata jatuh dari matanya, membasahi pipinya.
Ia berlari menjauh dari kamar Keyla, tak mau terus melihat hal yang membuat hatinya semakin hancur nanti.
-----
"Keyla, aku akan selalu bersama kamu. Aku harap kamu mengijinkannya!!" ucap Ian, memegang ke dua bahu Keyla, melepaskan pelukannya. Dengan ke dua mata memandang Keyla yang hanya diam menundukkan kepalanya.
Keyla terdiam mendongakkan kepalanya, menatap mata Ian. "Apa maksud kamu, kita gak mungkin bisa bersatu. Aku yang terlalu bodoh, terbujuk rayumu. Dulu aku tidak pernah sepeeti ini, tapi entah kenapa, aku perlahan merasakan kasih syabgmu lagi!!" humam Keyla, memalingkan wajahnya berlawanan arah, ia membalikkan badanya, membelakangi Ian.
"Apa yang kamu katakan? Kenapa kita gak bisa bersatu?" tanya Ian, memeluk tubuh Keyla dari belakang.
"Apa kamu tidak ingin bersama aku lagi?" lanjutnya.
"Maaf!! Sepertinya tidak bisa!"
"Kenapa? Apa gak ada alsan kenapa kamu menolakku. Aku tahu cinta kamu perlahan mulai tumbuh lagi.. Apa kamu gak ingat dulu, ginana kamu berjuang dapatain aku. Gimana kamu anti-matian mencari aku. Cinta pertama kamu, yang sempat terpisah.. Aku Masih syang denganmu, Keyla!!" ucap Ian, nenyandarkan kepalanya di pundak Keyla.
Dan wanita itu hanya diam, memutar ingatannya lagi pada masa remaja. Ia memang berjuang untuk mendapatkan cinta Ian dulu. Ia yang tidak pernah bis melupakan Ian dulu. Karena kesalah pahaman semuanya berakhir. Tapi jika waktu bisa di ulang, Keyla lebih memilih bersama dengan Ian, memperbaiki semua kesalah pahaman itu.
Keyla mengernyitkan matanya, menarik napasnya, lalu membalikkan badannya, memegang ke dua tangan Ian.
"Makasih!! Kamu sudah menjadi bagian dari hidup aku!! Tapi maaf, aku gak bisa. Aku gak bisa terus seperti ini nantinya." ucap Keyla mencoba untuk tetap tersenyum.
Keyla menarik sudut bibirnya, "Maaf!!" ucapnya sibgkar, menepis ke dua tangan Ian, menjauhkan dari wajahnya. Ia membalikkan badannya, lalu duduk di ranjang, dengan pandangan kosong, ke dua tangan memegang ranjangnya.
"Aku gak perduli mau bilang apa. Meski kamu tidak suka aku di sisi kamu. Tapi aku akan selalu ada baut aku. Hubungan kita berantakan gara-gara kita menikah terlalu muda, dengan pasangan yang tidak kita cinta!!" jelas Ian, berdiri di depan Keyla, yang terus menunduk menatap ke dua kakinya di bawah.
"Ya, sudah sekarang kamu pergi. Aku gak mau jika Sheila tahu tentang ini. Dia pasti sangat terluka." ucap Keyla, mendongakkan kepalanya menatap Ian di depannya. "Dan aku hanya ingin bilang, jika dulu aku suka dengan Alvin. Bukan karena aku putus dari kamu dan segera cari pengganti kamu. Alvin bukan pelampiasanku!!" tegas Keyla.
"Tapi kenapa kemarin kamu mau berhubungan dengan aku?" tanya Ian, memegang ke dua bahu Keyla, seketika membuat gadis itu terkejut, menatap mata Ian yang semakin menajam.
"Aku tahu kamu menikmati hubungan kita. Dengan kamu itu menunjukan jika kamu sangat menikmati." ucap Ian mencari penjelasan.
"Jangan bahas itu!!"
"Tapi aku ingin tahu kenyataannya dari kamu!! Kamu menikmatinya kan,"
"Aku bilang jangan bahas itu!!" bentak Keyla.
"Oke, aku gak akan bahas itu lagi. Tapi aku gak akan pernah melupakan kamu Keyla, sampai maut memisahkan kita berdua."
"Terserah kamu!!" Keyla beranjak berdiri, mendorong tubuh Ian keluar dari kamarnya.
"Keyla, aku ingin disini!!"
"Gak boleh!! Aku bukan siapa-siapa kamu. Kamu punya istri, yang harusnya kamu jaga, bukan aku!!"
"Tapi aku punya wanita yang sangat aku cintai, yang sekarang membutuhkan aku untuk menjaga dia." ucap Ian, membuat Keyla terdiam seketika, ia memandang wajah Ian beberapa detik.
"Ijinkan aku menjaga kamu!!" ucap Ian, memeluk erat tubuh Keyla, hingga wanita itu terbuai dalam pelukan lembutnya, yang mampu membuat hatinya seketika luluh.
"Jangan pergi lagi. Aku ingin sekali sekali selalu berada di dekat kamu. Aku ingun selalu menguatkan hati kamu. Jika kamu butuh bantuan aku, kamu boleh menganggap aku sebagai sahabat kamu. Meski aku tidak bisa memiliki kamu. Tapi setidaknya aku bisa menjadi teman bicara yang baik untuk kamu!!" ucap Ian, mengusap punggung Keyla. Ian yang merasa takut jika Sheila melihatnya, perlahan langkahnya masuk ke dalam kamar Keyla, tanpa melepaskan pelukannya.
"Maaf!! Aku harus masuk kembali. Nanti jika Sheila tahu, kamu juga yang akan di salahin!!" Ian melepaskan pelukannya, memandang wajah cantik Keyla, yang masih terlihat sangat muda, tanpa ada kerutan di wajahnya sama sekali.
"Kamu jangan seperti itu syang, aku akan segera menikahi kamu!!"
"Apa kamu sudah semakin gila sekarang. Apa kamu tahu jika ke dua anak kita akan menajdi suami istri nanti. Jadi kita akan menjadi besan. Jadi kamu harus jaga jarak dengan aku. Ingat itu!!" jelas Keyla.
"Iya, iya. Aku hanya bercanda. Jangan ngambek gitu," ucap Ian, mencubit pipi Keyla.
"Sekarang kamu istirahat. Jangan terlalu mikirkan suami kamu itu. Pikirkan anak-anakkamu. Fokus dengan masa depan anak-anak kamu!!" gumam Ian, mengusap kepala Keyla lembut.
"Iya, sekarang lebih baik kamu pergi dari sini. nanti Sheila tahu, semua akan berakhir. Aku gak mau hubungan kalian itu berkahir sama seperti aku, lebih baik pertahanin pernikahan kalian!!" gumam Keyla.