
Melihat adegan yang dewasa Alan seketika menutup matanya, dan berhenti untuk menonton, sedangkan Alvin berusaha mengatur hati dan mama untuk tetap tenang melihat apa yang mereka lakukan, mereka saling melakukan berkali-kali saat dia tidak ada bahkan tak kenal waktu dan di mana saja, Setiap ruangan mereka melakukan hubungan itu, dan ternyata selama dia pergi Ian setiap malam tidur di kamarnya yang dulu ia tempati dengan Alana. Alvin melihat semua cctv yang terpasang di sana, seakan hatinya genar-benar hancur melihat Keyla yang terlihat puasan dengan permainan Ian yang bertubu-tubi tanpa lelah itu. Dan dia tidak takut sama sekali jika aku tahu mereka melakukannya, dan Keyla menerimanya begitu saja.
"Ternyata mereka memang melakukannya, apa yang aku katakan san curigai selama ini benar adanya. Hubungan mereka setia hari sebelum aku bercerai dengannya. Bahkan setiap hari dia melakukan itu dengan Ian, pantas saja kemarin dia tidak bisa jalan karena dia terlalu kelelahan bermain dengan Ian. Mau gak habis pikir!" ucap Alvin, dan langsung Silvia memegang tanganya, mencoba untuk meredakan emosinya sebentar.
"Alvin!! angan pikirkan hal itu lagi jika membuat kamu sakit. Jika itu menurut mereka bahagia, biarkan saja. san aku yakin jika kamu pasti akan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari pada Keyla. Sna pastinya juga kamu sukai," jelas Silvia.
"Kenapa tidak kalian menikah saka. Kalian sama-sama cocok. Jika kalian menikah lebih baik kita pergi. Sana biarkan mereka tahu , dan merasakan gimana rasanya di hianati dan di sakiti seperti itu!" ucap Alana, membuat Silvia dan Alvin saling memandang beberapa detik, lalu memandang bersamaan ke arah Alana.
"Apa yang kanu katakan syang!! Apa kamu yakin jika aku boleh menikah dengan mama kamu?" tanya Alvin memastikan. Dna langsung di berikan jawabannya anggukan kepala dengan senyum yipis, tanda jika dia mau mereka menikah, seketika membuat Alvin bahagia, rasa kecewa dan amarah yang memuncak pada dirinya yadi perlahan mulai pudar, an di balas dengan sebuah kebahagiaan hidup baru yang akan mereka lembut bersua, sebagai suami istri nantinya.
"Sekarang kita makan dulu!! Dan Maaf Alana tadi membahas tentang itu. harusnya Alan tidak bicara tentang hal yang tak seharusnya Alana bicarakan pada Mama dan Papa. Jika kalian menikah nanti, aku tetap panggil kalian mama papa. Sana kita akan menjauh dari keluarga Joy dan Cia."
"Bukanya kamu suka dengan Joy?" tanya Alvin.
"Nanti aku akan jawab, sekarang kita makan dulu, menikmati masakan mama yang sudah dingin ini. Karena kita terlalu banyak berbicara tadi, belum sempat untk mencicipi masakan lezat di depan ibu," gumam Alana, mencium harum masakan Silvia yang menyeruak masuk ke dalam penciumannya.
"Mama dan papa makan yang banyak ucap Alana, ia memang sengaja tidak mau membahas tentang joy, dan mencoba melupakannya lagi Joy akan menikah dengan Amera suatu saat nanti, pada akhirnya kuta tetap saudara tidak akan bisa bersama, karena cinta itu memang tidak bisa di paksa untuk bersama.
Sebuah cinta mungkin memang sangat indah, tapi cinta juga menyakitkan. Saat tahu kenyataan jika Cinta tak berpihak pada kita, Cinta lebih memilih terbang jauh berkelana, mencari beberapa orang yang cocok, namun bukan karena cinta juga mereka menikah, pernikahan mereka hanya terpaksa, tanpa adanya cinta sama sekali dari bibir mereka. Pernikahan palsu, dan tak pantas untuk di teruskan. Tapi Cinta tetap sama, Cinta hanya cinta, tetap Cinta yang terabaikan tanpa status, dan terus berkelana terbang tinggi mencapai apa yang dia inginkan. Tanpa bersandar di hari seseorang.
"Alana apa kamu ada masalah!" tanya Silvia memegang pundak anaknya, sehabis bicara tadi, ia hanya diam, dengan makanan i piringnya hanya di orak-orik membuat berantakan di mejanya.
"Maaf, ma!!" ucap Alana, menundukkan kepalanya di samping mamanya.
"Mama gak apa-apa, syang!! Sebenarnya apa ada pikiran yang mengganggu kamu sekarang?" tanya Silvia, yang masih penasaran dengan anaknya itu.
"Lebih baim makan dulu. Nanti aku ganti ingin bicara dengan kamu Alana. Papa ingin tanya tentang perasaan kamu!!" ucap Alvin menatap Alana dengan mulut yang masih mengunyah makanannya dnegan lahapnya.
"Iya, benar kata papa kamu. Lebih baim sekarang kamu makan dulu, tau mau mama suapin kamu sekarang!!" lanjut Silvia.
"Memangnya mama mau suapin Alana yang manja sepeti anak kecil ini. Mama hanya ingin tahu perasaan kamu. Dan siap cinta pertama kamu Alana. Jadi sekarang kamu juga harus jujur pada mama," ucap Silvia, mengusap rambut sepunggung milik Alana.
"Iya, ma!!" Alana mencoba untuk tumbuh tetap tersenyum di balik luka yang terpendam selama ini. Dan semoga kamu bisa tanya ap bedanya cerita ini dan sebelum-sebelumnya.
"Selesai makan, Alana segera membantu mamanya untuk membereskan semua piringnya dan sisa makanan membawanya ke dapur.
"Alvin, lebih baik kamu sekarang ke ruang tamu dulu, kita akan berikan piring dulu baru bicara lagi nanti." ucap Silvia, menatap ke arah Alvin yang masih duduk di tempatnya.
"Baiklah!!" Alvin beranjak menuju ruang tamu menunggu calon istri dan anaknya itu datang menemuinya lagi."
---
Sedangkan Alana masih mencuci piring di dapur.
"Syang!! Apa yang ingin kamu katakan pada mama?" tanya Silvia.
"Mama pernah berhubungan juga dengan papa Alvin?" tanya Alana, yang seketika membuat Silvia menelan ludahnya, ia terkejut mendengar kata itu, dan langsung terbanyang sudah dua kali dia berhubungan dengan papa Alvin, dan pertama tidak sengaja dan yang ke dua karena entah kenapa ia tidak bis menolaknya.
"Ma jujur saja, Alana tidak akan marah!!"
"Baiklah!! Mama jujur padamu!!" ucap Silvia.
"Sebenarnya mama pernah bubungan dengan papa Alvin, dua kali. Di tempat yang berbeda. Yang terakhir memang mama tak bis menolak Alvin. entah kenapa aku merasakan sensasi yang berbeda dar sebelumnya syang!!"
"Kenapa kamu tanya itu, lebih baik kamu jangan tanya itu dulu. Bahaya bagi kamu, jika kamu suka dengan seseorang jangan sampai kamu berhubungan lebih dulu," ucap Silvia mengusap rambut Alana.
"Tapi ma..." Alana menundukkan kepalanya, ia ingin berkata jujur pada mamanya tapi seakan sangat berat untuk mengungkapkan kejujuran itu pada mamanya.
"Aku sudah tidak Virgin, ma!!" ucap Alana menundukkan kepalanya malu.
"Apa kamu bilang, siapa yang mengambil kesucian kamu?" tanya Silvia, memegang ke dua bahu Alana, meski dirinya kecewa, tapi dia tidak bisa marah dengan Alana sepenuhnya sebelum mendengarkan menjelaskan dari Alana lebih dulu.
"Joy!!" ucap Alana yang masih menatap ke bawah, melihat lantai putih di bawahnya.
"Jelaskan gimana semua itu bisa terjadi, mama akan marah jika kamu melajukan itu dengan sengaja." ucap Silvia, menatap wajah Alana.
"Sekarang tataplah mama, kamu lihat mata mama, dan jujurlah pada mama." ucap Silvia menggebu.
"Joy, hanya ingin menyelamatkanku dari tubuhku yang lalu karena kedinginan, bahkan aku sampai tak sadarkan diri, karena dingin yang muali mengigil, dan kejadian itu di mobil Joy!!"
"Apa benar yang kamu katakan, jika benar aku akan memukul Joy!!" sambung Alvin yang tak sengaja mendengar apa yang di katakan Alana pada mamanya. Alvin melangkahkan kakinya pergi, meninggalkan mereka dengan ke duantangannyang sudah mulai mengepal, rahangnya mulai kenegang, dengan langkah kaki penuh amarah, an Alana langsung berlari mengejar papanya. "Pa!! Jangan sakiti Joy!! Dia gak sakah, tolong biarkan saja. Alana tidak apa-apa!!" Alana merentangkan ke dua tangannya, berdiri tepat di depan Alvin, menghalangi langkahnya untuk pe4gi ke rumah David lagi untuk menemui Joy.
"Papa gak mau anak itu tidak tanggung jawab dengan apa yang sudah dia lakukan, dan dia menikah dengan wanita lain, aku akan membatalkan pernikahannya,"
"Tidak usah pa, biarkan saja mereka menikah. Alana benar-benar tidak kenapa-napa, alana terima jika dia menikah dengan orang lain!!"
"Pala tahu, kamu pasti sakit hati!! Papa aka beri dia pelajaran."
"Pa!! Alana mohon, viarkan Joy bahagia, Alana sudah punya pacaran dan bahagia dengan pacar Alana. Jadi tolong jangan bahas soal itu lagi," ucap Alana memegang ke dua tangan Alvin memohon padanya.
"Iya, biarkan saja dia bahagia dan menikah dengan pilihannya. Alana sudah bahagian dengan pilihannya, jadi jangan ganggu mereka lagi," saut Silvia berjalan menghampiri alvin.
"Tapi merelakan menikah juga karena aku yang jodohkan mereka, aku yang akan batalkan perjodohan itu." ucap Alvin.
"Tapi pa, apa papa tidak mikirin perasaan mereka nantinya. Mereka bukanya sudah sangat dekat, dan cocok satu sama lain. Jadi jangan pisahkan mereka," ucap Alana.
"Lagian biarkan mereka bersatu, agar Ian dan keyla juga tidak akan pernah bersatu karena hubungan mereka tidak akan pernah di restu siapapun. Mereka akan jadi saudara pada akhirnya." jelas Silvia.
"Benar juga katamu!!" ucap Alvin yang mulai mengurungkan niatnya lagi untuk pergi, sesuai apa yang di katakan Alana dan Silvia yang tidak mengijinkan dia untuk pergi.
"Sekarang kita masuk ke dalam!!" ucap Alana, dan Silvia menggandeng tangan Alvin untuk berjalan masuk ke dalam rumahnya. Dan duduk di ruang tamu.
"Lebih baik kalian berdua saja di sini, Alana langsuny masuk masuk ke kamar ambil ponsel Alana, sudah lama Alana tidak menghubungi pacar Alana." ucap Alana beralasan.
"Baiklah!! Kamu siapkan juga berkas untuk kuliah kamu" lanjut Alvin
"Siap, pa!!"
"Dan kalian rencanakan dulu pernikahan kalian, kapan di laksanakan. Alana pasti setunu, agar papa Alvin bis menghilangkan rasa kecewa dan sakit hatinya terhadap wanita. Dan Alana yakin mama wanita yang baik untuk papa," jelas Alana tersenyum menggoda ke dua orang taunya itu.
"Alana!! Sudah cepat masuk ke dalam,"
"Iya? ma. Lagian mama sudah gak sabar banget sih, berduaan dengan papa. Tapi ingat jangan aneh-aneh, nanti kalau Alan tiba-tiba keluar dan melihat kalian gimana," goda Alana lagi, tersenyum dan langsung masuk ke dalam kamarnya, menutup rapat kamarnya, dan silvia mengeram kesal pada anaknya yabg terus menggodanya itu.