
Sekarang kamu tenang ya," ucap Joy.
Alana melepaskan pelukan Joy, menatap ke arahnya, dengan mata yang terlihat mulai merah.
Joy, mengusap air mata Alana dengan jemari-jemarinya. "Jangan nangis!!" ucap Joy.
"Kak Joy sekarang pergilah. Aku ingin sendiri. Aku gak mau semua yang melihat aku dengan kak Joy jadi beroikiran negatif" ucap Alana.
"Baiklah, aku akan pergi. Tapi kamu jangan sedih lagi ya. Kakak mau kamu selalu tersenyum. jangan sedih" ucap Joy, tersenyum tipis. mencubit ke dua pipi Alana.
"Sekarang kamu senyum dulu, baru akan pergi. Kalau kamu gak mau senyum, aku gak mau pergi dari sini." ucap Joy, menyadarkan punggungnya di ranjang Alana.
"Kak.. Aku gak mau marah-marah lagi. Sekarang kakak pergilah" Alana semakin memelankan suaranya.
"Iya, tapi kamu senyum dulu. Adik aku yang gemesin ini" ucap Joy menciba menjahili adiknya itu.
Alana mencoba tersenyum tipis, ia terpaksa menuruti apa kata kakaknya itu, agar dia bisa cepat pergi dari sini.
"Ya, sudah. Aku pergi dulu ya!!" Joy, mengusap lembut ujung kepala Alana, membuat wanita itu terdiam, merasakan kelembutan kasih sayang dari Joy.
Joy, beranjak pergi dari kamar Alana, Ia membuka pintu kamar Alana. Saat mau keluar, ia melihat Cia baru saja pulang, dan berjalan menaiki anak tangga. Joy langsung masuk kembali ke dalam kamar Alana.
"Alana, au di sini dulu. Kau masuk ke kamar mandi kamu ya . Nanti jika Cia tanya jangan bilang jika aku di sini." Joy, yang sangat panik, ia berjalan masuk ke kamar mandi Alana, bersembunyi di dalamnya.
Alana hanya menatap Joy bingung.
-----
"Sepertinya tadi aku melihat Joy di depan kamar Alana, tapi di mana dia?" gumam Cia, menghentikan langkahnya, menatap sekelilingnya, yang nampak sangat sepi.
"Apa tadi hanya perasaanku saja ya?" gumam Cia, melanjutkan langkahnya lagi beberapa langkah. Lalu berhenti, melangkah mundur lagi, berdiri tepat di kamar Alana.
"Apa aku coba tanya ke Alana saja ya" ucap Cia, langsung membalikkan badanya. dan segera mengetuk pintu kamar Alana.
Tok.. Tok.. Tok..
"Alana, kamu sudah tidur belum?" tanya Cia.
"Belum kak!!" jawab Alana, berjalan emmbuka pintunya.
"Ada apa kak?" tanya Alana.
Cia terdiam, berdiri tegap dengan kaki agak jinjit, melihat ke dalam ruangan kamar Alana.
Sepertinya memang gak ada Joy, tadi pasti aku hanya halusinasi saja. Pikir Cia.
"Kak!! Ada apa?" tanya Alana, melihat kakaknya yang hanya diam di depannya.
"Gak ada apa-apa, tadi aku melihat Joy. Tapi mungkin hanya pikiranku. Mata aku pasti salah lihat gara-gara sudah ngantuk berat." jawab Cia. "Ya, sudah sekarang kamu tidur ya, jangan tidur malam-malam" ucap Cia, membalikkan badannya. Tapi ada yang janggal membuat Cia, kembali lagi menatap ke adah Alana.
Alana yang mau menutup ointunya, Cia dengan sigap mencegahnya.
"Bentar Na, sepertinya mata kamu merah. Apa kamu baru saja menangis ya?" tanya Cia, menatap detail wajah Alana, matanya terlihat sembab, dan mata memerah.
Alana membalikkan wajahnya. "Enggak kok kak, ini hanya sakit mata saja" ucap Alana.
"Sudah ya kak, aku mau tidur dulu" ucap Alana, mencoba pergi dari Cia.
"Alana tunggu!! Aku tahu mata menangis sama mata sakit itu gimana." Cia memegang ke dua bahu Alana. "Apa kamu ada masalah?" tanya Cia memastikan.
"Baiklah, kalau memang sakit, kamu harus segera kasih obat tetes mata" ucap Cia.
"Iya, kak. nanti aku kasih obat" ucap Alana, tanpa menatap wajah Cia. Ia segera menutup pintunya.
"Tapi aku kerasa aneh" gumam Cia, yang masih berdiri di depan pintu kamar Alana.
Ahh.. Udahlah aku pergi saja. Lagian mata aku sudah gak bisa di ajak kompromi lagi. Aku juga capek hati, kepala dan badan. Harus di buat istirahat total nih. Pikir Cia, melangkahkan kakinya pergi, ia menguap lebar, menari ke dua tangannya ke atas, mencoba merenggangkan ototnya yang terasa kaku.
----
Alana masih berdiri di belik pintu, dengan tubuh menyandar. Ia akhirnya bisa bernapas lega, kakaknya tidak terlalu memaksa untuk cerita lebih. Dan percaya begitu saja dengannya.
Alana menundukkan kepalanya,dengan wajah penuh penyesalan.
Maaf kak Cia, kalian semua gak boleh tahu. Hanya orang tua kita yang tahu. Tapi aku akan tetap merahasiakan semuanya. Biad mereka tahu sendiri. Aku gak mau merusak kebahagiaan keluarga ini. Dan Joy juga, jika tahu papanya pernah punya wanita lain. Aku yakin dia pasti akan marah besar. Aku gak bisa biarkan itu terjadi. Gak boleh, aku gak mungkin tega memecah belah keluarga ini. Pikir Alana,
Ia duduk di ranjangnya. "Kak, keluarlah. Kak Cia, sudah pergi" ucap Alana.
Kenapa gak ada jawaban dari kak joy, apa dia ketiduran di kamar mandi. Pikir Alana.
Ia beranjak berdiri, mencoba cek keadaan Joy di dalam. Benar tidur atau dia pergi.
Alana membuka pintu kamar mandinya. Pandangan Alana lngsung terjuju pada bathup kosong tak berisi air. Namun berisi seseorang yng sedang tidur di dalamnya.
Alana tersenyum, melihat Joy yang terlihat menggemaskan sata tidur. Gimana bisa ia ketiduran di dalam bathup kosong.
"Kak Joy, gimana bisa kamu itu benar-benar ya. Kenapa kamu bisa tidur di tempat seperti itu" gumam Alana.
Alana mencoba mendekati Joy, menepuk-nepuk tangannya pelan.
"Kak Joy bangun, " ucap Alana.
"Ada apa, Na" tanya Joy, mengusap wajahnya, ia membalikkan badanya.
"Kak, bangun. Kalau mau tidur pindah di kamar kamu saja kak" ucap Alana.
Joy, membuka matanya perlahan, ia melihat wajah cantik Alana tepat di depannya.
"Alana!!" ucap Joy, memegang ke dua pipi Alana.
"Apa aku mimpi sekarang?" tanya Joy, mencubit pipi Alana yang terlihat cemberut, tidak suka dengan perlakuan Joy padanya.
Alana menyingkirkan tangan Joy di pipinya.
"Kak, jangan bercanda. Sekarang cepat bangun. Jangan tidur di sini. Cepat kembali ke kamar kakak. Aku gak mau kalau orang tua kita tahu, dan marah dengan kak Joy" ucap Alana, beranjak berdiri, membalikkan badannya.
"Tunggu!!" Joy, memegang tangan Alana, mencegahnya pergi.
"Kamu mau kemana?" tanya Joy. "Apa kamu gak mau menunggu kakak kamu dulu." lanjutnya.
"Kak Joy, bisa berdiri sendiri kan. jadi cepat berdiri dan pergi kak" ucap Alana, mencoba memelankan suaranya. "Aku mau tidur sekarang. Udah ngantuk, besok kita juga sekolah" lanjut Alana, menjelaskan.
"Iya, Aku bangun sekarang" ucap Joy, beranjak bangun dari dalam bathup.
"Iya, cepat keluar sekarang. Aku gak mau kakak ada di sini lama-lama" ucap Alana.
"Iya, kamu cepat tidur ya, jangan pikirkan masalah yang membebani pikiran kamu. Dan mungkin aku akan menuruti apa katamu. Aku tidak akan mendekati kamu lagi. Maaf sudah kenjadi beban buat kamu ya, Na" ucap Joy, tersenyum, mengusap ujung kepala Alana lembut. Dan beranjak pergi dari kamar Alana.