My First Love

My First Love
Keyla masuk rumah sakit



Keesokan harinya.


Keyla tiba-tiba terbaring lemas tanpa sebab. Membuat semua orang di rumah Sheila panik melihat kondisinya, yang tiba-tiba terjatuh pingsan di kamar mandi, jika bukan Ian yang membantu dia untuk keluar dari kamar mandi, mungkin tidak akan ada yang tahu jika dia pingsan di kamar mandi.


"Om!! Mama kenapa? Kenapa dia masih tidur?" tanya Cia, yang masih belum bis atennag, tubuhnya gemetar seketika saat melihat mamanya terus berbaring. Bahkan sudah hampir 2 jam belum sadarkan diri. Wanita cantik berambut lurus itu tak kuasa menahan air matanya yang terus menetes tak hentinya membasahi pipi mulus putih miliknya


"Sudahlah!! Aku yakin mama kamu baik-baik saja!!" ucap Amera, menepuk bahu Cia mencoba untuk menenangkan hatinya.


"Aku gak bisa tenang!! Gimana jika dia sakit parah. Aku gak mau jika kehilangan orang uang aku sayang ke dua kalinya!!" ucap Cia kenggebu, menatap ke arah Sheila dan Ian.


"Om! Tante! Apa lebih baik mama di bawa ke rumah sakit. Aku gak mau dia kenapa-napa!!" lanjut cia, ke dua mata bulat hitam miliknya mulai mengeluarkan pandangan memelas yang ia miliki, memohon pada ke dua orang paruh baya di sampingnya itu.


"Aku mohon tante!! Aku tang akan gantikan semua biaya mama aku nantinya!!" Cia beranjak betdiri, memegang tangan Sheila, yang berdiri dengan tatapan bingung dan terus memandang suaminya Ian, yang hanya diam tanpa suara menatap wajah Keyla, laki-aki tampan itu hanya tertegun, menatap setiap detail wajah wanita di depannya.


"Apa yang ingin kamu katakan sekarang!! Luapkan semuanya!!" ucap Ian, pada Sheila, ia saat jika wanita itu terus menatapnya penuh pertanyaan dalam hati dan pikirannya. Bahkan tanpa menatap ke arahnya, Ian sadar apa maksud dalam tatapannya itu.


"Apa kamu tidak mau bawa dia ke rumah sakit?" tanya Sheila ragu.


Ian memegang pundak kanan Sheila, dan berbisik pelan padanya


"Baiklah!! Aku akan bawa dia ke rumah sakit. Tapi ingat biarkan aku yang mengurusnya."


Sheila terdiam, mendongakkan kepalanya menatap wajah Ian, "Aku tahu maksud kamu, agar kamu bisa menyembunyikan apa yang kamu lakukan sebelumnya pada Keyla, kamu ingin menyembunyikan semuanya padaku.. Hemm... Tapi aku sudah tahu apa maksud kamu.. Dan sekarang kamu hanyalah sebuah masa lalu.. Aku juga akan pergi!!" gumam Sheila dalam hatinya.


Ian tak memikirkan perasaan istrinya sama srkali, dengan sigap dia mengangkat tubuh Keyla yang masih lemas, dan berjalan keluar dari kamarnya dengan langkah terburu-buru, di ikuti Joy, Amera dan Cia yang berlari di belakangnya. Joy segera membuka pintu mobilnya, mempersilahkan pamanya itu masuk ke jok kursi belakang mobilnya. Dan ia yang menuju ke depan menyetir mobilnya bersama dengan Amera yang duduk di depan.


Sedangkan Sheila hanya diam berdiri di depan pintu memandanf mobil Ian yang sudha melaju jauh dari depan rumahnya. Wanita itu, perlahan tak sadar meneteskan air matanya. Ia berusaha untuk tetap tersenyum, apalagi anak angkat laki-lakinya itu masih berada di sampingnya.


"Kenapa mama gak ikut?" tanya David, berdiri di samping mamanya.


"Aku lebih baik di rumah!!" Sheila membalikkan badannya, menghindari tatapan mata David yang tak hentinya terus menatap ke arahnya, ia bahkan terus mengawasinya. Melihat wajahnya yang terlihat pucat juga.


"Mama sakit? Dan mata mama kenapa berair? apa mama menangis?" tanya David, memegang lengan Sheila.


"Aku gak apa-apa, David. Lebih baik kamu sekarang pergilah."


"Aku akan tetap di sini. Lagian kenapa juga aku ikut dengan mereka. Aku gak ada hubungannya dengan keluarga mereka. Jadi lebih baik aku menghubungi seseorang!!" ucap David, laki-laki itu mencoba untuk cuek terhadap orang yang membuatnya bisa seperti ini. Tumbuh dewasa dengan orang yang benar-benar sayang dan merawatnya sangat tulus.


Sheila hanya diam, ia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan David, yang masih berdiri di depan pintu, ia berlari masuk ke dalam kamarnya, hatinya ingin sekali membeludak, meluapkan sebuah tangisan yang tak bisa lagi ia pungkiri. Wajahnya benar-benar membuatnya ingin sekali tergelam dalam.bantal, meluapkan emosi dan tangisan yang tertahan ingin sekali segera membanjiri kamarnya.


"Apa mama Sheila menyimpan sesuatu? Sepertinya ada yang di sembunyikan.. Tapi tentang apa? Kenapa tidak terlihat jika dia sedih?" gumam David dalam hatinya, dengan otak yang tak hentinya terus bekerja, untuk berpikir, menatap ke halaman rumahnya, lalu menatap kembali ke dalam rumah.


"Apa hubungannya dengan keluarga Cia?" lanjutnya, yang langsung melangkahkan kakinya berjalan mendekati kamar mamamya, ia sengaja ingin mendengarkan jeritan hati mamanya itu. Meski mama angkatnya tak bisa berkata terbuka padanya, saling cerita masalah pribadinya.


Sampai di depan pintu, David memasang pendengaran tajamnya, berdiri di balik pintu.


"Arggg... Aku benci dengan kamu.. Aku benci kamu, Keyla.. Kenapa kamu selalu dapat perhatian lebih dari suami aku.. Bahkan sifat perhatiannya melebihi perhatian dia ke isyrinya!!" umpat kesal Sheila, membaringkan tubuhnya tengkurap, dengan wajah tergelam dalam bantal empuk berwarna putih awan itu.


"Aku gak akan pernah lupa penghianatan kalian... Hubungan kalian sangat menjijikkan. Aku gak akan tinggal diam..." laniutnya, terus menggerutu meski suaranya tak begitu jelas tertutup bantal di bawah wajahnya.


"Ian... Aku gak bisa melupakan penghianatan kami.. Hubungan kamu dengannya, sudah menggoreskan sebuah luka yang sangat dalam di hatiku.. Hatiku susah berkali-kali kau gores dan kini tak ada kesempatan lagi untuk sembuh sempurna!!"


Sheila terus bergumam di dalam kamarnya, dan tanpa sadar jika David terus mendengar ucapannya meski terdengar samar-samar, tapi dia masih bisa mendengarkan secara jelas.


---------


Di rumah sakit umum yang nampak sangat ramai lalu lalang pengunjung rumah sakit keluar masuk, tak membuat merasa terhalangi saat membawa tubuh Keyla yang masih lemas, berlari masuk ke dalam rumah sakit, dengan terus berteriak minta tolong di sana. Agar bisa di tangani dengan ceoat, dan tak butuh waktu lama dokter dan suster mulai datang dan membantu Ian membawa dia ke ruang UGD.


"Dia kenapa?" tanya Dokter itu.


"Saya tidak tahu, dok. Dan terakhir hidungnya selalu mengeluarkan darah!!" kata Ian, dengan ke dua tangan berkacak pinggang, mencoba berbicara sambil mengatur napasnya.


"Baiklah!! Saya akan memeriksanya, mungkin harus butuh penganan khusus, sepertinya penyakitnya sangat serius." ucap Dokter itu.


"Baik!! Aku mau yang terbaik buatnya!!" jawab Ian, yang beridir di pintu tampa di ijinkan oleh dokter itu untuk masuk menemani Keyla di dalam.


"Om!! Tenang dulu, ya. Kita duduk dulu!!" ucap Joy, memegang pundak Ian, perlahan membujuknya untuk duduk dan menunggu kabar dokter selanjutnya.


"Iya, Pa. Jangan panik!! Lagian nanti pasti mama Keyla baik-baik saja!!" sambung Amera. Suara lembut Amera membuat Ian mendongak menatap ke arahnya. "Maksud kamu panggil dia, mama?"


"Iya? memangnya kenapa. dia juga bakalan jadi mama aku saat aku menikah dengan Joy nantinya,"


Ian tertegun, entah kenapa dia mikir jika Amera mau jika dia menikah dengan Keyla. Tapi di sisi lain itu tidak akan mungkin Ia tidak akan menikah dengan Keyla. Karena Amera sudah bertunangan denga Joy, ia tak mau merusak kebahagiaan anaknya hanya untuk ego hatinya sendiri.


"Emm.. Iya.. Aku kira tadi kamu ada alasan lain,"