My First Love

My First Love
Episode 205



Alana pulang ia naik taksi, dari pada menunggu Miko yang masih


melaksanakan ulangan harian. Idi kelas, dan dia memutuskan untuk pulang lebih


dulu dari pada menunggu Miko yang masih sangat lama.


Alana berjalan masuk ke rumahnya, ia melihat rumahnya nampak


sangat sepi, tidak ada satu orang pun di sana. Semuanya di mana ya? Pikir Alana,


Bi ijah tiba-tiba datang dan berjalan menghampiri Alana.


“Bi mama mana?” tanya Alana, berjalan masuk ke rumahnya.


“Nyonya sedang belanja non, dengan keluarga tuan Ian.”


“Dan Amera kemana?” tanya Alana lagi.


“Kalau non Amera ada di dalam kamar Joy. Dia merawat tuan


kecil Joy. Non Amera baik banget ya nin, dia mau merawat tuan Joy, menyapi dia,


memberi minum dia bahkan samoai membantu dia minum obat. Dan tadi nyonya besar


juga menitipkan Joy pada Amera.” celoteh bi ijah tanpa jeda.


‘Ya, biarkan saja bi, lagian ada yang merawat Joy itu lebih


baik. Dari pada gak ada yang merawatnya.” ucap Alana, sambul berjalam menuju ke


ruang tamu, dan duduk di sofa. Melepaskan sepatunya.


“Bentar non, aku ambikan minum dulu ya” ucap Bi ijah,


berlari kecil mengambilkan Alana satu gelas air putih.


Dan kembali lagi, menghampiri Alana.


“Ini non>” ucap bi ijah.


‘makasih bi” Alana segera memeguk minumannya.


“Bibi denger-denger ya, non, apa non Amera akan dinjodohkan


dengan kak Joy. Kaka non Alana” ucap bi ijah, sontak membuat Alana,


mengeluarkan minumanya. Hingga muncrat ke depan.


“Maaf non, buat non terkejut. Bibi gak bermaksud membuat non


Alana terkejut,” ucap Bi ijah takut.


“Apa bi, di jodohkan?’ tanya Alana yang tidak percaya dengan


apa yang di katakan bi ijah. “Aku hanya tanya bi gak usah takut, lagian mana


bisa kau marah dengan Bi ijah”


“Sya dengar begitu non, nyonya keyla merasa non Mereka


sangat baik, dan pantas mendapatkan anaknya” ucap Alana


“Ya, sudah bi makasih” ucap Alana, beranjak berdiri


melangkahkan kakinya menaiki anak tangga berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Alana yang sudah pulang dari awal, ia berjalan masuk ke


dalam rumah, tanpa sepengetahuan mamanya. Ia ingat jika mama dan papanya ingin


bicara padanya. Tapi ia ingin melihat ke adaan Joy lebih dulu, sebelum mamanya


pulang dari belanja.


Alana bergegas masuk ke kamarnya untuk ganti baju, dan


selesai ganti baju, ia segera keluar dan masuk ke dalam kamar Joy,  yang terlihat terbuka sedikit.


“Amera!! Gimana ke adaan Joy?” tanya Alana, berjalan


mendekati Amera yang duduk di pinggir mentap Joy.


“Kamu Na, kamu sudah pulang” ucap Amera.


“Baru saja pulang,” jawab Alana Datar.


“Keadaan Joy sudah semakin membaik, dia tadi baru saja di


periksa dokter. Dan dia hanya demam biasa” ucap Amera.


“Ya, sudah. Makasih kamu sudah merawat dia.” Ucap Alana,


membalikkan badanya dan melanghkahkan kakinya pergi..


“Tungguuu..!” ucap Amera membuat langkah kaki Alana


terhanti, ia menggerakkan kepalanya ke belakang tanpa membalikkan badannya.


“aku hanya bilang, tadi Joy panggil nama kamu terus. Apa


kalian berdua ada masalah?” tanya Amera ragu.


Alan atersenyum tipis. “ Gak ada, aku gak ada masalah sama


sekali dengannya, ya muungkin saja dia ada salah dengan aku. Sampai ke bawa


mimpi. Biasa kak Joy memang selalu jahil tekadang denganku” ucap Alana


beralasan.


“OO.. aku kira kamu ada masalah dengannya.” Ucap Amera.


Alana mmebalikkan badanya dan kembali menatap Amera. “Aku


boleh tanya sesuatu pada kamu tidak” tanya Alana


“Emangnya kamu mau tanya Apa?” ucap amera.


“Apa kamu suka dengan Joy’ tanya Alana, seketika membuat


Amera melirik ke arah Joy, yang masih tertidur . karena efek obat dokter yang


di berikan tadi.


“Iya, aku suka dengannya” ucap Amera menatap ke arah Alana.


“kalau kamu suka dengannya, aku mau jaga dia. Kamu jaga Joy.


Dia butuh kamu, dia butuh orang yang sayang dia di sisinya. Aku tahu jika kamu


tulus sayang dengannya.” Ucap Alana, tersenyum tipis.


“Iya, aku gak tahu gimana perasaan di apdaku. Dan sepertinya


dia suka denga orang lain, bahkan dia mau belajar buat kue hanya untuk membuat


kejutan pada orqang yang ia syang. Dan aku kira itu aku, ternayata bukan, dan


aku juga gak tahu siapa orang yang oia syang’ ucap Amera, dengan senyum terpaksa


terpaut di wajahnya.


Mendengar hal itu alana terdiam.


Jadi kak Joy dan Amera kemarin di dapur dan sering kelura


bersama hanya karena mau belajar bikin kue. Dan kenapa dia cerita padaku. Apa


dia mau buatkan aku kue, karena rasa bersalahnya dengan aku saat dia tidak


datang ke danau. Pikir Alana.


“Na, apa kamun tahu siapa orang yang Joy suka, apa dia teman


sekolahnya? Dan kalau iya, kenapa dia sekarang tidak ke sininjenguk Joy. Padahal


dia lagi sakit seperti ini’ ucap Amera, sesekali melirik ke arah Joy. Ia takut


jika Joy akan bangun dan mendengar apa yang mereka bicarakan.


Yang dia suka itu aku, aku sudha ada di depanya, menjenguknya.


Tapi aku gak bisa merawatnya. Aku gak mau semua salah paham padaku nantinya.


Lebih baik biarkan amera yang merawatnya. Pikir Alana dalam hatinya.


“na, kenapa kamu diam?’ tanya Amera.


‘Gak ada apa-apa, udah aku pergi dulu. Mau lihat mama sudah Datang


atau belum. Aku ada janji dnegannya. Kamu tolong rawat Joy ya.” Ucap Alana


membalikkan badanya.


Alana...


Suara seraj berat itu terdengar jelas di telinga Alan,


Ia melirik sekilas ke arah Joy, melihat Joy masih tertiudr,


ia langsung menarik napasnya lega. Dan beranja pergi dari kamar Joy, sebelum ia


bangun dan melihatya.


````


Alana berjalan masuk ke dalam kamarnya, ia membaringkan


tubuhnya di atas ranjang miliknya, dengan pandangan mata menatap atap langit di


depannya. Seketika ia terbangun saat teringat tentang sebuah jam tangan yang


akan ia berikan pada Joy ekmarin,namun ia mengurungkan niatnya. Ia ingin


memberikan padanya tapi sepertinya, ia harus mengrungkan niatnya dalam dalam.


Dan menyimpannya ke laci meja belajarnya.


“Ini sudah gak berguna lagi, dan sebentar lagi aku akan


pergi dan gak butuh semuanya. Dan ponsel Joy aku juga akan kembalikan. Aku


simpan semuanya di laci. Semoga dia bisa melihatnya jelak nanti.


``````


“Alana, kamu sudha pulang?” tanya Keyla, mengetuk pintu


kamar Alana.


“Iya, ma. Akunsudah pulang” ucap Alana.


“Papa sekarang mau bicara dengan kamu, da kamu cepat keluar


sekarang” ucap keyla.


Alana segera memasukkan semua barang yang di berikann olehn


joy dulu dan hadiah yang akan ia berikan ke dalam laci meja . lalu menutupnya


rapat. Dan beranjak berdiri melangkahkan kakinya menuju ke pintu kamarnya,


membukanya perlahan.


“Iya, ma” ucap Alana.


“Ayo syang. Ada hal penting yang akan kita bicarakan pada


Alana.”


“Hal penting apa ma?” tanya Alana, berjalan di samping


mamanya.


“nanti kamu juga tahu, dan papa kamu sudha menunggu kamu di


rumah keluaga lantai dua.”


Alana mengikuti langkah mamanya.


Dan sekarang ca belum pulang sekolah, jadi ini kesempatan


kita bicara sama kamu. Ini juga untuk kehidupan kamu dan masa depan kamu


mendatang, syang” ucap Keyla, menuntun anaknya untuk duduk di sofa.


“Alan, dudukdulu” ucap Alvin.


“Iya pa, langsung saja kalain mau bicara apa?’ tanya Alana


yang sudah tidak sabar untuk mendengar apa yang mereka akan bicarakan padanya.


Namun, ia takut jika itu akan menyangkut tantang Joy, ia gak akan bisa jawab.


Dan gimana kalau mereka tanya hubunganku dengan Joy.. Pasti mereka akan marah.


Pikiran itu selalu menganggu otak Alana, membuatnya merasa sering mekamun


sendiri.


Alvin menarik napasnya dalam-dalam, dan mencoba berbicara


dengan Alana.


“Alana, mama dan papa, ingin kamu bicara jujur sama kita


semua?” ucap Keyla.


Mendengar katab itu hati alana  seakan terketuk, dan membuatnya sangat gugup.


“Apa kamu merindukan orang tua kamu?’ tanya Keyla, membuat


Alana melebarkan matanya seketika. Bagaimana bisa mereka berbicara tentang itu,


ya. Jelas ia merinduka orang tuanya, sangat-sangat merindukan merka. Orang tau


kandung aku yang sebenarnya.


“Iya, Ma” ucap Alana lirih penuh dengan keraguan.


“Dua minggu lagi, mama dan papa akan mengatarkan kamu


tinggal bersama ibu kandung kamu. Dan mama juga sudah iklas kamu pergi dari


sisi mama, tapi setidaknya kamu bisa hubungi kita setaiap saat saat kamu


bersama dengan keluarga kamu’ uavp Keyla.


“Dan papa, juga tidak ingin kamu, merasa tertekan terus


dengan apa yang papa kamu lakukan, mama gak bisa melihat anak aku yang paling


pintar selalutertekan, dan selalu merindukan ibunya” Sambung Alvin.


Alana hanya diam, ia masih tidak percaya dengan apa yang di


katakan orang tuanya itu. Gimana bisa mereka tiba-tiba mengembalikannya pada


ibu kandungnya. Apa gara-gara masalah dengan Joy, yang sampai terdengar ke


telinga mereka.


“Boleh tanya?” ucap Alana penuh ragu.


“Memangnya kamu tanya apa”


“Kenapa mama, dan papa mau aku balik ke ibu kandung aku.


Kemarin aku seakan tidak boleh kembali ke sana dan sekarang begitu cepatnya aku


bisa kembali dengan ibu kandung aku.” Ucap Alana.


“karena aku gak mau menyiksa kamu lagi Alana, dan apalagi


saat setaip hari bahkan kamu merindukan ibu kandung kamu, setiap detik yang


kamu sebut juga ibu kandung kamu. Ya, meskipun aku gak tahu siapa ibu kanung


kamu, tapi setidaknya aku tahu siapa yang paling kamu syangi. Meski mama


merawat kamu dari kecil, kamu seaklipun gakl pernah cerita apa yang kamu


masalahkan dalam hati kamu pada mama. Dan kamu selalu tertutup pada kaluarga


ini” ucap Keyla, meneteskan air matanya.


Alana, beranjak berdiri dan duduk di samping mamanya, ia


langsung memeluk mamany erat. “Maafin alana ma, alana memang sangat syang


dengan mama kandung alana, tapi alana juga syang pada keluarga ini, alana gak


bermaksud seperti ini pada mama dan papa, alana hanya kecewa ma sama papa,


kenapa tidak ceritakan ini dari dulu, dan kenapa melarang aku bertemu dengan


ibu kandungku”


Keyla mengusap lembut rambut anaknya itu, “Gak apa-apa, mama


memang sangat syang dengan kamu, tapi mama juga gak mau kamu seperti ini. Jadi


kalau kamu mau pergi. Mam tidak larang kamu, kalau kamu mau tetap tinggal di


sini, mama juga tidak larang kamu. Tapi satu yang mama gak inginkan. Orang tua


kamu tinggal di sini dengan kita. Kalau hal itu, mama gak akan pernah mau menerima


mereka. Mama sudah terlanjur sakit hati.” Ucap Keyla, melepaskan pelukan


anaknya,