
“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Joy, yang tidak sengaja
ia mendengar apa yang mereka berdua bicarakan.
Seketika mereka bertiga kompak mentap ke arah Joy yang
berdiri di brlakangnya.
“Joy kamu sudah sadar?” tanya Keyla, penuh rasa ragu, menvoba
berjalan mendekati Joy.
“Jangan mendekat!!” ucap Joy. “Aku hanya tanya, jadi kalian
semua jangan mendekatiku. Kau gak mau kalian semua bohong lagi padaku” uacp
Joy.
“Apa kamu tadi sudah lama berdiri di belakang kita?” tanya
Alvin.
‘Papa ga perlu tahu tentang itu, dan papa searang cepat
ceritakan semuanya padaku. Aku gak mau lagi ada hal yang di sebunyikan lagi di
natra keluarga kita”
“Joy, kita bisa bicara baik-baik, dan kamu jangan marah
seperti ini. Semua bisa di jejaskan baik-baik” ucap Keyla.
“Aku tanya sekali lagi pada kalian, apa yang kalian
bicarakan tadi?” tanya Joy ke dua kalinya dengan nada kesalnya yang terpancar
di raut wajahnya.
“Joy, papa bisa jelaskan padamu?’ ucap Alvin beranjak
berdiri mednekati anaknya.
“Apa yang aku dengar tadi benar.. jika Alana bukan anak
kandung kalian, terus dia siapa pa? Dan kenapa papa dan mama merahasiakan semua
ini padaku.
“Benar aoa yang kamu dengar dan itu memang kenyataannya,”ucap
Keyla.
Joy seketika beranjak pergi, ia masih belu terima dengan apa
yang ia dengarkan, giaman bosa mereka menyembunyikan semuanya selama ini.
“jOy!!”
“Ma, pa biarkan aku yang bicara dengan Joy, biar alana yang
akan jelaskan pada Joy” ucap Alana.
“Iya, alana , kamu jelaskan pada Joy” Ucap Alvin yang sudah
terlihat panik dengan anaknya itu.
“Baik, pa” Alana beranjak berlari mengikuti Joy pergi menuju
kamarnya.
“Amera, aku mau kamu pergi dari kamar aku, aku mau di kamr
sendiri, Jangan datang lagi. Dan makasih kamu sudha merawat aku tadi. Kalau gak
ada kamu entah apa jadinya aku.” Ucap Joy pada Amera yang dari tadi masih di
kamarnya.
“Baiklah, aku akan keluar” jawab Alana, bergegas keluar dari
kamar Joy. Dengan wajah penuh kecewa ia seakan tidak di hargai sama sekali oleh
Joy dengan apanyang suda ia lakukan padanya, Tapi ia tidak perduli dan muilai
melangkahkan kakinya menuju kamar Cia.
“Amera!!” panggil Alana, yang berlari ke arah Amera. Membuat
langkah Amera terhenti dan menatap ke arahnya. Amera mencoba tersenyum meskiuin
raut wajahnya sangat sedih. Ia tidam mau Alana melihat dia bersedih.
“Ada apa?” tanya Amera ningung.
“Kamy melihat Joy gak tadi masuk ke dalam kamarnya, atau dia
keluar rumah” tanya Alana dengan nada terburu-buru. Dengan napas masih
ngos-ngosan di buatnya.
“Joy, ada di kamarnya, dia baru saja masuk ke kamar tai”
ucap Amera.
“ya, sudah makasih” gumam Alan yang beranjak menuju kamar
Joy, kemudian emngetuk pintu kamarnya keras.
Tok.. Tok.. Tok..
‘Kak Joy, ini aku Alana. Aku bisa jelaskan semuanya” ucap
Alana.
“masuklah” uacp Joy datar dari balik kamarya.
Alana menarik napsnya dalam-dalam, ia yang sebnarnya masih
marah dengan Joy, kini ia mengurungkan semua amarahnya. Membuangnya jauh-jauh
sekarang yang ia inginkan agfar keluarga mereka tidak ada pertengkaran lagi.
Alan perlahan memegang knop pintu, membuka pintu kamar joy
perlahan.
Amera yang berdiir di depan pintu melihat Alana masuk hanya
diam, dan bergumam dalam hatinya.
Kenapa Alana boleh masuk ke kamarnya dan sedangkan dirinya
di usir begitu saja dari kamarnya tanpa menguscapkan apa-apa lagi kecuali terma
ada hubungan spesial. Dan dari cara perlakuan Joy pada Alana itu beda Dri adik
dan kakak. Seperti seorang pasangan... Udahlah.. mungkin memang hanya pikiran
aku saja..
Alana berjalan masuk ke dalam kamar Joy, melihat duduk
menyadar pada tembok.
“kenapa kamu pergi tadi, mama dan papa mau jelaskan semuanya
pada kamu. Dan kenapa kamu gak mau mendengar penjelasan mereka. Apa kamu gak
bisa menghargain orang tua kamu sendiri” ucap Alana dengan nada penuh dengan
emosi meluap pada Joy.
“Aku hanya kecewa pada mereka. Kenapa mereka tidak memberi
tahu aku sebelumnya” ucap Joy, tanpa mentap ke arah Alana.
“Aku tahu kamu kecewa, sam seperti apa yang aku rasakan
dulu. Saat pertama kali aku mendengar hal itu. Rasa kecewa aku jauh dari pada
rasa kecewa kamu. Apa kamu tahu, aku di pisahkan dengan ibu kandung aku
sendiri. Dan hal itu yang membuat aku sangat kecewa. Dan benar-benar marah
debgan mereka. Tapi aku perlahan bisa menerima semuanya. Dan mencoba menerima
semua yang terjadi.” Ucap Alana duduk di samping Joy.
“Kamu sudah tahu sejak lama?” tanya Joy.
“Sudah sejak aku masi sekolah dasar dan aku mendengarnya
tidak sengaja. Awalnya aku marah banget sama mereka. Tapi sekarang aku sadar,
mereka juga sangta menyangi aku sama seperti mereka menyayangi kalian semua.
Keluarga ini begitu berharga bagi aku sekarang”
“Kenapa kamu juga tidak cerita padaku?” tanya Joy menatap ke
arah Alana.
“Karena aku dulu terlalu kecewa, sampai pada akhirnya aku
mulai dima, dan gak mau bicara pada siapapun kecuali pembantu di rumah ini.
Sekarang aku sudah bisa menrima semuanya. Dan kalian juga gak salah, jadi harus
kena imbas dariku juga” ucap Alana
Joy menatap ke arah Alana, memegang ke dua pipi Alana. “Sekarang
aku tanya padamu, soal perasaan kamu padaku?” tanya Joy, seketika membuat Alana
menelan ludahnya, hingga melegakan tenggorokannya yang terasa sangat kering.
“Jangan bahas itu lagi kak, yang paling pentinh sekarang kak
Joy temui orang tua kakak. Dan aku akan jawab saat waktunya tepat nanti.” Ucap Alana,
seolah ia sudah meulapakn rasa kecewanya pada Joy pada apa yang ia klakjukan
padanya dulu. ia sudah tidak mau bahas itu lagi sekarang karena sion dan
kondisi yang berbeda saat ini.
“Baiklah, aku akan bicara dengan mereka. Tapi aku mau kamu
jawab dulu pertanyaan aku satu saja” ucap joy, yang tidak behenti emnadnag
wajah Alana di depannya.
“Baiklah, kamu mau tanya apa?” tanya Alana.
“Aku tanya, apa kamu sudah tidak marah lagi dengan aku. Aku
mohon kamu jangan marah lagi dengan aku. Aku janju gak akan berbuat itu lagi
aku tahu aku salah. Dan tolong maafkan aku Alana” ucap Joy, memegang ke dua
tangan Alana. Dengan wajah terlihat sangt sedih dengan mata berkaca-kaca.
Alana me yentuh pipi Joy, “Aku sudah maafkan, tapi kenapa
aku bisa memafkan kamu nanti kamu akan tahu sendiri. Srkarang kamu cepat temui
orang tua kamu, aku akan ikut dnegan kamu” ucap Alana, beranjak berdiri menarik
tangan Joy untuk berdiri juga.
“baiklah, aku akan tanya baik-baik pada mereka.” Ucap Joy,
yang mulai luluh dengan kata-kata Alana padanya, Joy memegang tangan Alana
berjalan keluar dari kamrnya.
“kak, jangan opegang tangan aku, tolong lepaskan” ucap
Alana, menarik tangannya.
“Maaf, aku gak sengaja tadi” ucap Joy.
“Ayo pergi” lanjutnya, melangkahkan kakinya lebih dulu
berjalan menuju ruang keluarga, di susul dengan Alana yang berjalan di belakang
Joy dengan langkah ringannya. Mereka melihat orang tua mereka masih duduk menanti
mereka.
“Joy!! Duduklah nak” ucap Keyla.
Joy menarik napasnya, ia beranjak duduk di depan orang tua
merka dengan mata memandang ragu pada orang tuanya.
“Apa yang akan kaian jelaskan padaku?” tanya Joy dengan nada
datarnya.
Alana segera duduk di samping Joy, mendengarkan apa yang
orang tua mereka katakan.