My First Love

My First Love
Episode 206



“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Joy, yang tidak sengaja


ia mendengar apa yang mereka berdua bicarakan.


Seketika mereka bertiga kompak mentap ke arah Joy yang


berdiri di brlakangnya.


“Joy kamu sudah sadar?” tanya Keyla, penuh rasa ragu, menvoba


berjalan mendekati Joy.


“Jangan mendekat!!” ucap Joy. “Aku hanya tanya, jadi kalian


semua jangan mendekatiku. Kau gak mau kalian semua bohong lagi padaku” uacp


Joy.


“Apa kamu tadi sudah lama berdiri di belakang kita?” tanya


Alvin.


‘Papa ga perlu tahu tentang itu, dan papa searang cepat


ceritakan semuanya padaku. Aku gak mau lagi ada hal yang di sebunyikan lagi di


natra keluarga kita”


“Joy, kita bisa bicara baik-baik, dan kamu jangan marah


seperti ini. Semua bisa di jejaskan baik-baik” ucap Keyla.


“Aku tanya sekali lagi pada kalian, apa yang kalian


bicarakan tadi?” tanya Joy ke dua kalinya dengan nada kesalnya yang terpancar


di raut wajahnya.


“Joy, papa bisa jelaskan padamu?’ ucap Alvin beranjak


berdiri mednekati anaknya.


“Apa yang aku dengar tadi benar.. jika Alana bukan anak


kandung kalian, terus dia siapa pa? Dan kenapa papa dan mama merahasiakan semua


ini padaku.


“Benar aoa yang kamu dengar dan itu memang kenyataannya,”ucap


Keyla.


Joy seketika beranjak pergi, ia masih belu terima dengan apa


yang ia dengarkan, giaman bosa mereka menyembunyikan semuanya selama ini.


“jOy!!”


“Ma, pa biarkan aku yang bicara dengan Joy, biar alana yang


akan jelaskan pada Joy” ucap Alana.


“Iya, alana , kamu jelaskan pada Joy” Ucap Alvin yang sudah


terlihat panik dengan anaknya itu.


“Baik, pa” Alana beranjak berlari mengikuti Joy pergi menuju


kamarnya.


“Amera, aku mau kamu pergi dari kamar aku, aku mau di kamr


sendiri, Jangan datang lagi. Dan makasih kamu sudha merawat aku tadi. Kalau gak


ada kamu entah apa jadinya aku.” Ucap Joy pada Amera yang dari tadi masih di


kamarnya.


“Baiklah, aku akan keluar” jawab Alana, bergegas keluar dari


kamar Joy. Dengan wajah penuh kecewa ia seakan tidak di hargai sama sekali oleh


Joy dengan apanyang suda ia lakukan padanya, Tapi ia tidak perduli dan muilai


melangkahkan kakinya menuju kamar Cia.


“Amera!!” panggil Alana, yang berlari ke arah Amera. Membuat


langkah Amera terhenti dan menatap ke arahnya. Amera mencoba tersenyum meskiuin


raut wajahnya sangat sedih. Ia tidam mau Alana melihat dia bersedih.


“Ada apa?” tanya Amera ningung.


“Kamy melihat Joy gak tadi masuk ke dalam kamarnya, atau dia


keluar rumah” tanya Alana dengan nada terburu-buru. Dengan napas masih


ngos-ngosan di buatnya.


“Joy, ada di kamarnya, dia baru saja masuk ke kamar tai”


ucap Amera.


“ya, sudah makasih” gumam Alan yang beranjak menuju kamar


Joy, kemudian emngetuk pintu kamarnya keras.


Tok.. Tok.. Tok..


‘Kak Joy, ini aku Alana. Aku bisa jelaskan semuanya” ucap


Alana.


“masuklah” uacp Joy datar dari balik kamarya.


Alana menarik napsnya dalam-dalam, ia yang sebnarnya masih


marah dengan Joy, kini ia mengurungkan semua amarahnya. Membuangnya jauh-jauh


sekarang yang ia inginkan agfar keluarga mereka tidak ada pertengkaran lagi.


Alan perlahan memegang knop pintu, membuka pintu kamar joy


perlahan.


Amera yang berdiir di depan pintu melihat Alana masuk hanya


diam, dan bergumam dalam hatinya.


Kenapa Alana boleh masuk ke kamarnya dan sedangkan dirinya


di usir begitu saja dari kamarnya tanpa menguscapkan apa-apa lagi kecuali terma


ada hubungan spesial. Dan dari cara perlakuan Joy pada Alana itu beda Dri adik


dan kakak. Seperti seorang pasangan... Udahlah.. mungkin memang hanya pikiran


aku saja..


Alana berjalan masuk ke dalam kamar Joy, melihat duduk


menyadar pada tembok.


“kenapa kamu pergi tadi, mama dan papa mau jelaskan semuanya


pada kamu. Dan kenapa kamu gak mau mendengar penjelasan mereka. Apa kamu gak


bisa menghargain orang tua kamu sendiri” ucap Alana dengan nada penuh dengan


emosi meluap pada Joy.


“Aku hanya kecewa pada mereka. Kenapa mereka tidak memberi


tahu aku sebelumnya” ucap Joy, tanpa mentap ke arah Alana.


“Aku tahu kamu kecewa, sam seperti apa yang aku rasakan


dulu. Saat pertama kali aku mendengar hal itu. Rasa kecewa aku jauh dari pada


rasa kecewa kamu. Apa kamu tahu, aku di pisahkan dengan ibu kandung aku


sendiri. Dan hal itu yang membuat aku sangat kecewa. Dan benar-benar marah


debgan mereka. Tapi aku perlahan bisa menerima semuanya. Dan mencoba menerima


semua yang terjadi.” Ucap Alana duduk di samping Joy.


“Kamu sudah tahu sejak lama?” tanya Joy.


“Sudah sejak aku masi sekolah dasar dan aku mendengarnya


tidak sengaja. Awalnya aku marah banget sama mereka. Tapi sekarang aku sadar,


mereka juga sangta menyangi aku sama seperti mereka menyayangi kalian semua.


Keluarga ini begitu berharga bagi aku sekarang”


“Kenapa kamu juga tidak cerita padaku?” tanya Joy menatap ke


arah Alana.


“Karena aku dulu terlalu kecewa, sampai pada akhirnya aku


mulai dima, dan gak mau bicara pada siapapun kecuali pembantu di rumah ini.


Sekarang aku sudah bisa menrima semuanya. Dan kalian juga gak salah, jadi harus


kena imbas dariku juga” ucap Alana


Joy menatap ke arah Alana, memegang ke dua pipi Alana. “Sekarang


aku tanya padamu, soal perasaan kamu padaku?” tanya Joy, seketika membuat Alana


menelan ludahnya, hingga melegakan tenggorokannya yang terasa sangat kering.


“Jangan bahas itu lagi kak, yang paling pentinh sekarang kak


Joy temui orang tua kakak. Dan aku akan jawab saat waktunya tepat nanti.” Ucap Alana,


seolah ia sudah meulapakn rasa kecewanya pada Joy pada apa yang ia klakjukan


padanya dulu. ia sudah tidak mau bahas itu lagi sekarang karena sion dan


kondisi yang berbeda saat ini.


“Baiklah, aku akan bicara dengan mereka. Tapi aku mau kamu


jawab dulu pertanyaan aku satu saja” ucap joy, yang tidak behenti emnadnag


wajah Alana di depannya.


“Baiklah, kamu mau tanya apa?” tanya Alana.


“Aku tanya, apa kamu sudah tidak marah lagi dengan aku. Aku


mohon kamu jangan marah lagi dengan aku. Aku janju gak akan berbuat itu lagi


aku tahu aku salah. Dan tolong maafkan aku Alana” ucap Joy, memegang ke dua


tangan Alana. Dengan wajah terlihat sangt sedih dengan mata berkaca-kaca.


Alana me yentuh pipi Joy, “Aku sudah maafkan, tapi kenapa


aku bisa memafkan kamu nanti kamu akan tahu sendiri. Srkarang kamu cepat temui


orang tua kamu, aku akan ikut dnegan kamu” ucap Alana, beranjak berdiri menarik


tangan Joy untuk berdiri juga.


“baiklah, aku akan tanya baik-baik pada mereka.” Ucap Joy,


yang mulai luluh dengan kata-kata Alana padanya, Joy memegang tangan Alana


berjalan keluar dari kamrnya.


“kak, jangan opegang tangan aku, tolong lepaskan” ucap


Alana, menarik tangannya.


“Maaf, aku gak sengaja tadi” ucap Joy.


“Ayo pergi” lanjutnya, melangkahkan kakinya lebih dulu


berjalan menuju ruang keluarga, di susul dengan Alana yang berjalan di belakang


Joy dengan langkah ringannya. Mereka melihat orang tua mereka masih duduk menanti


mereka.


“Joy!! Duduklah nak” ucap Keyla.


Joy menarik napasnya, ia beranjak duduk di depan orang tua


merka dengan mata memandang ragu pada orang tuanya.


“Apa yang akan kaian jelaskan padaku?” tanya Joy dengan nada


datarnya.


Alana segera duduk di samping Joy, mendengarkan apa yang


orang tua mereka katakan.