
Jarum jam sudah menunjukan pukul 7 pagi. Keyla duduk, menunggu Alvin yang masih ganti baju di kamarnya.
"Syang, sudah selesai belum?" tanya Keyla. Berjalan menghampiri suaminya itu.
"Syang, kenapa jalan kamu, menyeret seperti itu?" tanya Alvin, membalikkan badannya, menatap ke arah Keyla.
Seketika Keyla gemetar, keringat dingin mulai bercucuran. Ia bingung harus jawab apa lagi, dan alasan apa lagi yang ingin ia keluarkan pada Alvin. Ia benar-benar sangat bingung, entah.
"Apa yang harus aku lakukan," gumam Keyla dalam hatinya.
"Syang, kamu kenapa?" tanya Alvin, memegang tubuh istrinya yang terlihat gemetar.
"Emm.. Aku kemarin kebereset di kamar mandi, syang. Sekarang kaki aku sakit. Jadi ya, gini jalannya." ucap Keyla, mencoba beralasan
"Makanya, kamu hati-hati syang. Sekarang aku bantu kamu turun ya." ucap Alvin, mengusap rambut istrinya manja. Tanpa rasa curoga terlintas di otaknya.
Hari ini Keyla bisa bernapas lega, Alvin yidak curiga dengannya. Entah tapi kedepannya gimana, semoga saja dia tidak tahu.
"Iya, yang. Lagian kemarin aku mengantuk. Jadi gak terlalu fokus saat ke kamar mandi."
"Ya, audah. Sekarang kamu diam saja, aku gendong kamu turun nanti."
"Gak usah, aku malu syang. Lagian aku juga bisa jalan meski susah" ucap Keyla.
"Gak, kamu lagi sakit syang. Udah nurut apa kata aku!!" ucap Alvin, yang langsung mengangkat tubuh Keyla.
"Syang!! Turunkan aku!! Lebih baik pakai kursi roda saja syang," ucap Keyla, mencoba mencari solusi, lagian dia juga malu jika di lihat anak-anak mereka yang sudah menginjak dewasa itu. Tahu orang tuanya masih sangat mesra, seperti anak muda saja.
"Iya, tapi nanti saja. Aku mau gendong kamu. Kita turun .Aku amu bicara dnegan Joy dan Alana." ucap Alvin, yang mulai melangkahkan kakinya.
"Tapi syang!!"
"Udah, diamlah!!" Alvin, tak menggubris istrinya. Alvin melangkahkan kakinya bergegas, turun. Dan beranjak menuju ruang keluarga. di sana sudha di sambut Ian dan Shila yang duduk berdua, dengan wajah cemas dan khawatirnya.
"Kalian meski sudah punya anak tapi romantis juga ya?" goda Sheila.
Ian menatap tajam ke arah Keyla. Ia ke dua mata mereka saling tertuju. Sekaan ada percikan api yang menjalar dari tatapan tajam mereka.
"Alana kamu kenapa?" tanya Ian menciba basa-basi.
Keyla hanya diam, tanpa menjawab pertanyaan Ian.
"Dia jatuh di kamar mandi," jawab Alvin jutek.
Ian tersenyum kecut, "Ternyata begitu bodohnya kamu di bohongi dengan Keyla. Jika kamu tahu pasti akan menceraikan Keyla secepatnya. Tapi aku merasa sangat puas, berjam-jam bermain dengan tubuh kamu Keyla, syang." batin Ian dalam hatinya.
"Syang, kamu diam dulu. Duduk sini. Aku mau ambilkan. minuman buat kamu." ucap Alvin, mengusap manja rambut Keyla.
Keyla menggenggam erat tangan Alvin, seakan ia tidak mau, jika di tinggal suaminya lagi. Semenjak kejadian kemarin amalm, Keyla merasa trauma jika keluar sendiri, jika Ian masih berada di dalam rumahnya tinggal bersamanya. Ia juga tidak enak mengusir Sheila.
"Syang, sebentar saja. Aku tidak akan kemana-mana ya." ucap Alvin, mencoba menyakinkan.
Meski rasa takut menghantuinya, ia mencoba untuk tetap tenang dan tidak khawatir lagi.
"Baiklah!! Cepat ya, syang!!"
Alvin hanya mengangguk, ia bergegas pergi menuju ke dapur.
"Syang, kamu belum temui David. Dari kemarin aku belum bertemu dengan David sama sekali." ucap Sheila, menepuk paha Ian.
"Baiklah, Keyla bentar ya." Sheila bergegas pergi.
Keyla yang ingin mencegahnya, ia hanya bisa mengurungkan niatnya. melihat Sheila sudha pergi menjauh.
Ian menatap Keyla, menyilangkan kakinya, dengan tangan kanan menyandar di atas sofa. "Gimana tadi? Apa kamu puas?" tanya Ian, tersneyum kemenangan.
"Dasar menjijikkan!!"
"Kalau kamu menginginkan lagi, hubungi aku," ucap Ian, dengan senyum kemenangan yang terus terukir di bibirnya.
Keyla hanya diam, tak menggubris apa yang di katakan Ian. ia melemparkan pandangannya berlawanan arah. Seolah ia sangat jijik menatap wajah Ian saat ini.
"Keyla syang, makasih. Atas apa yang kamu berikan apda aku kemarin. Tubyh kamu benar-benar menggoda. Jadi bukan salah aku jika aku melakukan itu padamu." Ian berjalan mendekati Keyla, dan duduk di sampingnya. Dengan tanganya yang mulai nakal, mengusap lembut paha Keyla.
"Tapi makasih, atas waktu empat jam yang kamu berikan. Aku sangat puas, nanti malam aku tunggu kamu. Jika kamu masih menginginkan lagi. Tenang saja, kubakan main lembut, syang" ucap Ian.
Ian ada apa?" tanya Alvin, yang terliaht menayap tajam ke arah Ian.
Ian tersenyum tipis dan beranjak berdiri, ia menepuk pundak Alvin, dan berbisik apdanya. "Tenang saja, dia baik-baik saja. Aku tadi hanya menolongnya. Jadi kamu jangan cemburu. Dia sangat setia padamu."
Apa yang di bicarakan, Ian pada Alvin. Apa dia akan menceritakan kejadian semalam padanya. Tidak, itu tidak mungkin. Alvin tidak boleh tahu.
"Syang, kamu bisa antarkan aku ke kamar Alana?" tanya Keyla, mencoba memotong pembicaraan mereka.
"Baiklah, tapi kamu minum dulu syanh, lihat wajah kamu sangat pucat," ucap Alvin, tak menghiraukan Ian, melangkah mendekati Keyla, memeberikan satu gelas minuman untuknya.
"Baiklah, tapi giliran ya. Kamu juga harus minum." ucap Keyla, mengusap rambut Alvin, yang menghalangi pandangannya.
"Iya, syang!!"
Keyla segera meminum setengah sirup yang Alvin buat. Lalu memberikan pada Alvin.
"Aku minum, bekas bibir kamus yang. Biar seperti anak muda, mesra-mesraan." ucap Alvin, membuat Ian yang masih berdiri membelakangi mereka merasa sangat kesal. Ia mengepalkan tangannya, dengan wajah sudah terlihat merah padam, melirik tajam ke arah Alvin dan Keyla yang terlihat sangat bahagia.
Padahal Keyla sudah tahu jika Alvin itu punya wanita lain, bahkan tidur semalam dengan wanita lain. Tapi Keyla masih sangat cinta padanya.
"Pa!! David gak ada di kamarnya!!" teriak Sheila berlari, menghampiri Ian, dengan mata yang mulai bercucuran air mata.
Ian terbangi dari lamunannya, ia menatap ke arah Sheila. "Mungkin dia sedang keluar!!" jawab Ian santainya.
"Keluar kemana? Dia membawa semua bajunya. Apa dia marah dengan kita?" ucap Sheila, tubuhnya terasa sangat lemas, saat melihat jika David tidak ada di kamarnya.
Ian memegang ke dua tangan Sheila, "Kita cari sama-sama. Siapa tabu dia hanya pergi sebentar, kamu pasti hanya mengira jika pakaian David juga gak ada di lemarinya."
"Aku yakin, jika semua pakaiannya gak ada. Aku sudah periksa semuanya. Dari kamar mandi, dan semua barang-barang dan lukisannya, juga tidak ada."
"Apa kamu yakin?" tanya Keyla pada Sheila.
"Iya, Key. Aku sudah cari kemana-mana, dan tanya pada pembantu juga mereka tidak ada yang melihat David sama sekali." ucap Sheila, dengan wajah yang sudah terlihat sangat cemas, jemari tangannya terlihat bergetar.
"Gimana kalau kita cari di mana David sekarang. Kamu juga coba menghubunginya," ucap Alvin.
"Baiklah, ayo kita pergi sekarang." ucap Ian, yang sudah terlihat panik. Dia adalah anak dari adiknya, tidak. Mungkin ia membiarkan David sampai hilang, David adalah menganti adiknya yang sekarang ini tidak ada.
"Aku gak akan tinggal diam lagi. Aku harus cari dia, David harua ketemu." ucap Ian, yang kini sekan melupakan masalahnya dengan Keyla. Ia lebih fokus dengan David.