My First Love

My First Love
Alana



Suasana rumah nampak sangat sepi. Joy yang baru saja pulang sekolah, ia duduk di sofa, dengan tangan memegang pinselnya. Ia sibuk main game onlene. Membuat ia lupa segalanya. Bahkan dari tadi ia juga tidak bicara dnegan siapa-siapa. Kecuali dnegan orang tuanya. 


Joy terlihat lebih tertutup sekarang. Dan sering kali menyendiri. Membuat semua orang yang melihatnya heran. Gimana bisa Joy yang terlihat biasanya sangat suka ngoceh. Tiba-tiba mulutnya diam tanpa suara. 


Amera yang melihat Joy duduk sendiri, ia berjalan mendekatinya. Dan dari tadi ia juga mencari teman untuk pergi cari bahan untuk buat kue. Tapi cia gak bisa anterin karena sibuk dengan tugasnya Dan Ia malah menyuruhnya pergi dengan Joy. 


Ya, dengan terpaksa Amera harus minta tolong pada Joy, meski dia tahu Jika suasana hati joy sedang tidak baik hari ini. 


Amera menarik napasnya dalam-dalam, menghilangkan rasa tahunya untuk bertanya pada Joy. Yang sepertinya gak mungkin memperhatikannya.


"Joy, kamu.. ada.. acara gak, hari ini?" tanya Amera, berjalan mendekati Joy. yang duduk sendiri di sofa ruang tamu. Dia sedang sibuk dengan mta fokus menatap ponselnya. 


"Emangnya kenapa?" tanya Joy, tanpa menatap ke arah Amera, beberapa detil. Lalu melanjutka game di ponselnya. 


"Gak, ada apa-apa sih, aku mau kamu mengantar aku. untuk beli bahan-bahan buat kue nanti" ucap Amera malu-malu, ia duduk di depan Joy. 


"Emangnya kamu mau buat kue ya nanti?" tanya Jiy, tanpa menatap ke arah Amera yang sudah duduk di depannya. 


"Iya, kamu mau antar aku kan?" tanya Amera ragu-ragu, ia ingin memastikan jika Amera ragu-ragu. 


Keyla yang mau menemui suaminya di kamar. Langkahnya terhenti saat melihat anaknya terlalu cuek dengan wanita. mendengar ucapan Amera, ia berjalan menghampiri Joy. 


"Joy, kamu antar Amera ya, kasihan dia gak tahu tempat buat beli bahan kue di sini" sambung Keyla, mamanya. 


"Iya, Ma. Bentar ya. aku masih sibuk sekarang. Nanti aku akan hubungi dian kalau mau pergi" ucap Joy, mencoba mengulur waktu. 


"Iya, cepetan Joy. Amera sudah nunggu kamu tu" ucap keyla semakin meninggi.


"Udah gak apa-apa tante, biarkan saja dia melanjutkan kegiatanya dulu" ucap Amera tanpa rasa kecewa dan marah di dalam senyum ramah, yang terukir di wajahnya. 


"Iya, sudah. Joy jangan lupa antar dia ya. Jangan sampai kamu buaf kecewa Amera." ucap Keyla, sebelum beranjak pergi.


"Iya, Ma. tenang saja!!" ucap Joy. 


tanpa memandang maanya yang dari tadi bicara dengannya. 


"Ya, sudah. Mama pergi dulu. Amera kamu gak apa-apa kan tunggu Joy dulu" tanya Keyla. 


"Gak apa-apa kok tante" ucap Amera ramah. 


Tap.. Tap.. Tap. 


Suara hentakan kaki, berjalan menuruni anak tangga.


Alana dnegan langkah ringan, menghentakkan kakinya selaras. Ia kini tampil sangat berbeda dari biasanya, lengkap dengan pakaian rapi. seperti anak gadis pada biasanya. Ia berjalan ringan, dengan senyum tipis menyapa mamanya. Yang ada di depannya. 


"Alana!! Kamu mau kemana?" tanya Keyla. 


"Mau keluar bentar Ma" jawab Alana. 


"Sama siapa? Dan keluar kemana?" tanya Keyla, yang semakin penasaran dengan anaknya yang mulai berubah sekarang. Dia sudah sering keluar dengan laki-laki. bahkan, udah terus terang pergi bolak-balik dengan laki-laki. Meski Keyla tahu, yang sering dengannya adalah Miko, teman Cia juga. 


"Sama Miko, ma. Mau pergi cari buku" ucap Alana, Ia mencoba berbohong pada mamanya. Alana tidak mau jujur jika ia ingin pergi ke suatu tempat nantinya. Alana sekilas melirik ke arah Joy, yang sibuk di dengan hp nya. Tapi telinganya masih tajam, ia mendengar apa yang di katakan Alana dan mamanya. 


Kak Joy, aku tahu hari ini adalah hari ulang tahun kamu. Dan kamu mengajakku ke danau. Entah kamu masih ingat atau enggak. Aku akan datang, untuk memberikan hadiah untukmu. gumam Alana dalam hatinya. 


"Ya, sudah kamu hati-hati ya. Ingat jangan pulang malam-malam" ucap keyla, mengusap lembut rambut anaknya itu. 


"Iya, ma" Alana bergegas pergi. Tanpa perdulikan Joy dan Amera yang duduk di sofa. Bahkan dia tidak menyapanya sama sekali.


Kemana dia pergi dengan Miko, tumben banget. Malam minggu dia pergi keluar dengan laki-laki. tidak seperti Alana yang biasanya. Apa mereka lagi kencan ya? Tapi apa Alana masih ingat dengan apa yang aku bicarakan kemarin, soal temui aku di danau. Tapi sudah dari kemarin aku tidak ajak bicara sama dia sama sekali. Gumam Joy. Menghentikkan permainan di ponselnya. Dan bergegas berdiri dari duduknya. 


"Amera ayo pergi!!" ucap Joy, pada Amera yang dari tadi sudah menunggunya. Ia juga ingin menunjukan pada Alana jika dia juga bisa dekat dengan wanita. Seperti yang dia inginkan. 


"Iya," Amera beranjak berdiri. 


"Joy, itu pacar baru kamu ya?" tanya Miko, menggoda. 


"Hehe.. kenapa cantik kan dia?" tanya Joy. 


"Iya, cantik. Tapi bagi aku. Bidadari terindah yang paling cantik adalah Alana. Pujaan hatiku selama ini" ucap Miko dengan bangganya. Mengusap lembut pipi Alana. 


Membuat hati Joy seketika di tusuk seribu duri tajam, yang membuatnya benar-benar sakit, tersayat-sayat. Joy mengepalkan tangannya. Menatap tajam ke arah Miko. Yang sudah tida memperhatikannya. 


Amera melirik sekilas ke arah Joy.


"Joy, Ayo pergi" ucap Amera, Seketika Joy merenggangkan kepalan tangannya. 


Amera, memeganga tangan Joy , menariknya segera beranjak pergi. 


Alana yang melihat hal itu, hanya bisa diam. menelan ludahnya. 


"Iya, Aku pergi dulu. Kalian selamat bersenang-senang." ucap Joy, terpaksa berbicara seperti itu, menghilangkan rasa sakit hati di dalam hatinya. 


Joy, mulai menjalankan mobilnya. keluar dari halaman rumahnya. 


"Na, Apa dia pacar baru Joy?" tanya Miko, pada Alana yang tiba-tiba diam mematung di depannya. 


"Dia itu anak dari teman orang tua aku" ucap Alana. "Udah, yo pergi sekarang. Keburu malam nanti." Alana menepuk-nepuk punggung Miko.


Alana bergegas naik, ke boncengan belakang Miko. "Sudah siap!!" 


"Iya," 


"Pegangan ya!!" ucap Miko, memegang tangan Alana. menariknya untuk melingkarkan tangannya ke pinggang Miko.


Alana hanya diam, ia merasa tidak suka harus menuruti apa kata Miko. Ia juga tidak mau memberi harapan lebih pada Miko. Jika dia tahu kalau aku gak suka dengannya pasti dia akan kecewa. Tapi kamu itu hanya menganggapnya sebagai kakak. Batin Alana, menarik tangannya. Memegang pundak Miko. 


Miko, menarik bibirnya ke dalam, ia mencoba menahan hatinya. "Ya, sudah. Kalau gak mau." ucap Miko, menarik gas, dengan kecepatan sedang. 


"Kita mau kemana?" tanya Miko. 


"Kamu antar aku ke toko bahan kue ya, aku mau buat kue nanti." ucap Alana, agak mendekatkan kepalanya ke telinga Miko. 


"Terus kamu mau masak di mana?" tanya Miko. 


"Di rumah kamu!!" ucap Alana, sontak membuat Miko seketika menarik rem montornya. 


"Apa aku gak salah denger. Emangnya kamu mau ke rumah aku?" tanya Miko. 


"Iya, kalau di rumah aku. Nanti semua pada ganggu. Lagian masih banyak tamu, aku gak mungkin masak terus aku makan sendiri kan. Karena ini aku masak buat kado seseorang, jadi aku buat dengan porsi dikit" pungkas Alana menjelaskan. "Udah sekarang ayo cepat pergi. Aku gak mau nanti lama-lama, keburu malam" lanjutnya. 


Miko menatap jam tangan melingkar di pergelangan tangannya. Jarum jam sudah menunjukan pukul tujuh malam.


Miko, menarik gas montornya lagi, melesat dengan kecepatan standart. 


"Oya, nanti aku boleh minta kue buatan kamu kan?" tanya Miko. 


"Iya, nanti kalau ada sisa. Aku Mau kamu coba ya. Kalau gak enak, kamu bisa bilang padaku" ucap Alana. 


"Siap deh!!" 


Miko menoleh ke belakang beberapa detik. 


"Kalau boleh tahu, memangnya kue itu kamu berikan pada siapa? Apa sekarang kamu punya orang yang speaial ya di hati kamu" tanya Miko ragu-ragu. 


"Gak tahu kak, aku hanya memberikan untuk seseorang yang sangat baik selama ini denganku" ucap Alana, membayangkan wajah Joy. Dengan senyum tipis yang terpaut di wajahnya. Miko menatap di balik spion montornya, ia melihat jika Alana terlihat tersenyum tipis.