
Keyla yang baru saja keluar dari kamarnya. Ia ingin menyiapkan bekal untuk anak-anaknya. Ya, meskipun semua anaknya sudah dewasa ia tidak bisa melepaskan mereka begitu saja. Seakan sulit untuk membiarkan mereka mengerjakan semuanya sendiri.
Tapi pada saatnya nanti, semua akan berubah. Dan anaknya juga akan pergi meninggalkan mereka semua. Menjalani kehidupan masing-masing.
"Keyla!!" Panggil seseorang yang sangat familiar di telinganya. Keyla semula berjalan santai, ingin turun ke lantai dasar, menghentikan lengkahnya. menoleh ke belakang perlahan.
Seketika metanya melebar melihat Ian, ada di belakangnya.
"Ian, ada apa?" tanya Keyla ramah.
"Gak ada apa-apa,"
Ian mendekati Keyla, dengan senyum pagi sebagai sambutan untuk hari yang indah. Senyumnya pudar seketika, melihat sosok wanita, di depannya, nampak sangat muram. ia menyentuh dagu Keyla, sedikit mendongakkan dagunya.
"Bentar! Kenapa kamu, hari ini kamu terlihat kusam. Apa ada masalah?" tanya Ian, menatap setiap detail wajah Keyla.
Dari kemarin mamang Keyla benar-benar gak bisa tidur. Memikirkan masalah anaknya, Alana dan Alvin. Gimana bisa Alvin punya anak dari wanita lain. Yang menbuat dia sampai sekarang belum bisa terima. Tapi ia juga tidak bisa membenci Alana. Karena dia tidak salah, dan tidak patut untuk di salahkan.
Keyla mencoba untuk tersenyum di hadapan Ian. Meski sebenarnya dalam hati, ia merasa sangat sedih. Keyla menepis tangan Ian di dagunya.
"Gak ada masalah sama sekali," ucap Keyla datar.
"Ya, sudah kalau kamu ada masalah cerita padaku. Aku akan bantu kamu." Jawab Ian, memegang ke dua tangan Keyla. Tak lama di tepis begitu saja oleh Keyla.
Tanpa perasaan marah Ian tersenyum menatap Keyla.
"Baiklah, kalau kamu gak mau cerita. tapi setidaknya, wanita yang paling cantik ini, jangan pernah menangis lagi. Aku gak bisa melihat mata kamu sembab, terlalu banyak menangis setiap malam," ucap Ian, lembut seakan penuh dengan arti perasaannya.
Deg..
Mendengar hal itu, hati Keyla bergetar seketika. Meski dalam pikirannya pernah terlintas menyesal tidak kembali dengan Ian dulu, padahal ia tahu Ian hanya di manfaatkan Sheila, ia tahu laki-laki itu sangar setia. Bahkan tidak pernah dekat dengan wanita lain, meski dia sekarang punya istri.
Keyla apa yang kamu pikirkan. kamu harus tetap ingat suami kamu, jangan sampai terbawa emosi sesaat, dan mengatakan hal yang tidak harus kamu lakukan.
Ian mengernyitkan keningnya. Menatap Keyla, dari tadi hanya diam. Dnegan kepala sedikit menunduk ke bawah.
"Oya, Kamu mau kemana?"
"Mau turun, siapkan bekal untuk anak-anak." ucap Keyla.
"Boleh aku bicara sebentar," ucap Ian, dengan nada merendah, memohon pada Keyla.
Ian memegang lengan Keyla, menarik tubuhnya lebih dekat dengannya. ke dua mata mereka saling tertuju. "Kamu masih cantik, sama seperti dulu, gak ada yang berubah, hanya saja kamu sudah memiliki laki-laki lain." ucap Ian, mengusap pipi keyla. Dan di tepis oleh Keyla
"Kalau mau bicara, kamu bicara saja." jawab Keyla jutek.
Ia menarik napasnya, memegang lengan Keyla, menariknya pergi ke suaru ruangan, sebuah ruangan yang tak terpakai. "Aku ingin bicara berdua, jangan sampai semuanya tahu." ucap Ian.
"Bicara apa, kenapa kamu bawa aku ke sini?" tanya Keyla, mencoba untuk pergi, dengan sigap Ian menghalangi langkah Keyla.
"Jangan pergi!! Ijinkan aku bicara sebentar!" ucap Ian, memegang ke dua tangan Keyla.
Keyla mengernyitkan matanya, seakan ia paham dengan apa yang akan di katakan Ian padanya nanti.
"Aku gak mau jika kamu bahas tentang perasaan kamu. Aku mau kamu lupain aku. Ingat kita sudah punya anak masing-masing." ucap Keyla.
"Aku tahu, tapi entah kenapa semakin lama, kenangan kita semakin terukir jelas di pikiran aku. Aku gak bisa, Keyla. melupakan semuanya begitu saja." ucap Ian.
"Kalau kamu tidak bisa melupakanku, kenapa kamu bisa menikah dengan Sheila." ucap Keyla kesal.
"Aku menikah dengannya, karena aku kasihan. Dia telah mengorbankan semuanya untukku. Dan bahkan kehilangan anak yang ada dalam kandungannya. Aku hanya sebatas kasihan, sampai sekarang aku tidak bisa mencintai Sheila." Ian meletakkan tangan Keyla di dadanya.
"Kenapa kamu bicara seperti itu, ingat kita gak akan pernah bisa bersatu lagi. Aku mencintai Alvin. Dan cintaku hanya untuknya." ucap tegas Keyla.
"Apa kamu masih mencintai orang yang menghianati kamu?" tanya Ian. Ucapan itu seakan membungkam mulut Keyla, ia terdiam, menundukkan kepalanya. Mulutnya benar-benar terkunci, tak bisa mengelak lagi.
"Bagaimana kamu tahu?" ucap Keyla lirih, sedikit mendingkkan kepalanya, menatap ke arah Ian.
"Aku sudah lama diam-diam mencari tahu semua kehidupan kamu dan suami kamu. Dan aku sudah puluhan tahun menunggu jawaban Cinta lagi darimu," Ian semakin mencengkram erat telapak tangan Keyla di dadanya.
"Rasakan detak jantungku, masih sama seperti dulu kan. Kamu pasti masih ingat semuanya. Semua tentang kita!!"
Keyla terdiam, mulai memutar ingatan masa lalunya saat bersama Ian, gimana pertama kali kita bertemu, sewaktu kecil main bersama. Dan remaja tak sengaja di pertemukan kembali.
Kenangan itu seakan menyakitkan, membuat Keyla, meneteskan air matanya.
"Aku gak beleh menyesal dengan semua yang terjadi, aku harus bisa bangkit dan move on, dari masa lalu. kamu gak boleh terbawa suasana Keyla." pikir Keyla dalam hatinya, mencoba menancapkan tembok kokoh dalam hatinya, agar tidak bisa pergi jauh lagi pendiriannya, tentang cintanya dengan Alvin.
Keyla menagap tajam, Menelan ludahnya untuk berani menjawab ucapan Ian. Dalam satu tarikan naapsnya. "TIDAK ADA KENANGAN SAMA SEKALI DI ANTARA KITA!!" pekik tegas Keyla, membuat laki-laki itu terdiam. menelan ludahnya kasar. Jawaban yang menbuat hatinya seketika hancur, berkeping-keping.
"Apa benar yang kamu katakan?" tanya Ian lirih, dengan wajah sedikit menunduk.
Deg..
Seketika langkah Keyla terhenti, menatap sepasang sepatu dengan balutan celana hitam di depannya. Ia menarik napasnya, mencoba mendongakkan kepalanya perlahan menatap seseorang di depannya.
Terpapang wajah dingin Alvin, dengan tatapan tajamnya, yang sudah siap untuk nencengkram erat musuhnya.
"Apa yang kamu lajukan dengannya" bentak Alvin, nencengjram erat pergelangan tangan Keyla
"Aw---" rintih Keyla, meringis kesakitan.
Alvin tak perdulikan rintihan itu. Seakan ia menulikan telinganya. amarahnya benar-benar memuncak mendengar apa yang mereka bicarakan. Dan di sebuah ruangn tertutup berdua, membuat salah paham semakin menjadi antara Alvin.
"Lepaskan tangannya!!" ucap Ian, memegang lengan Alvin, menatap tajam ke arahnya.
"Ini bukan urusan kamu," ucap Alvin dingin.
"Ini urusan aku, jangan kasar dengan wanita. Apa yang kamu lihat tidak seperti kenyataan sebenarnya."
Alvin tersenyum kecut, "Apa kamu bilang, dasar munafik. Aku takut kamu masih suka dengan Keyla, tapi selama ini aku hanya diam. Tapi melihat kalian pagi-pagi begini berduaan di dalam. Hati siapa yang gak luka," ucap Alvin dengan nada semakin meninggi.
"Alvin.. Dengarkan aku dulu," ucap Keyla, mencoba menenangkan hati Alvin.
"Apa yang perlu di dengarkan." ucap Alvin, menepis tangan Ian di tangannya, menarik tangan Keyla kasar, berjalan menuju kamarnya, dan masuk ke dalam. Ia melemparkan tubuhnya Keyla ke atas sofa.
"Jadi gini kelakuan kamu di belakangku," umpat kesal Alvin, menatap tajam ke arah Keyla. Dengan wajah nampak gusrah, ia membalikkan badanya, dengan tangan memegang kepalanya yangbterasa sangat penat.
"Apa maksud kamu, ku dan Ian gak ada apa-apa," Keyla mulai meneteskan air matanya, beranjak berdiri, mendekap tubuh Alvin. Namun, terus di tepis olehnya.
Keyla menelan ludahnya kasar, menarik napasnya, mencoba untuk tetap sabar. Menghadapi suaminya, yang semakin membludak amarahnya. "Apa kamu gak sadar, kamu lebih menyakiti hatiku. Apalagi kamu punya anak dari wanita lain, apa kamu gak mikir. Aku lebih sakit hati, yang aku lakukan tidak seberapa dengan apa hang kemu lakukan 15 tahun lalu. Ingat sampai anak kita sudah besar, aku amsih terbayabg jelas gimana dulu kamu campakan aku," ucap Keyla, menyuarakan isi hatinya yang terpendam selama ini.
Dan Alvin hanya diam, ia menatap ke arah Keyla dengan wajah menyesal. Ia tahu yang di lakukan dulu salah. Tapi cintanya masih tetap sama, tidak pernah berpaling pada wanita lain.
Alvin menegang ke dua bahu Keyla.
"Kamu tahu, gimana rasa sakitnya aku dulu." lanjutnya, dengan tangisan semakin menjadi.
"Hikksss.. Hiksss." Keyla mencoba meredakan tangaisannya, menyandarkan kepalanya di dada bidang Alvin, di sambut dengan dekapan hangat tangan suaminya itu.
"Maaf!!" ucap Alvin, mengusap rambut Keyla, menenggelamkan wajahnya dalam dekapan dada bidangnya.
Alvin mengngat tubuh Keyla dari dekepalanya, mengusap lembut air mata yang membasagi pipinya. "Jangan nangis lagi, maaf aku tadi sudah kasar denganmu." ucap Alvin, mengecup kening Keyla manja.
"I--ya" Keyla masih sesegukan di buatnya, mendongakkan ekapalnya menatap Alvin.
"Kamu mau kemana?" tanya Keyla.
"Aku mau ajak kamu pergi, bertemu dengan Client. Dan aku tadi mencari kamu tapi..." Keyla menutup mulut Alvin, seakan tidak boleh membiarkan dia membahas itu lagi. Amarahnya sudah mulai mereda, ia tidak mau ia terlihat marah lagi, membuatnya takut!!
"Rmangnya client kamu ada di indonesia?" tanya Keyla penasaran.
"Iya, dia liburan di bali. Dan aku mengajaknya untuk bertemu untuk bahas bisnis sekalian. Dan sekarang kamu cepat ganti baju, aku mau ajak kamu nanti." ucap Alvin, memegang ke dua telinga Keyla.
--------
Di sisi lain, Joy baru saja keluar dari kamarnya. Ia tidak melihat Alana keluar dari kemarnya.
"Joy! Ayo!" panggil Cia.
"Bentar!! Alana mana?" tanya Joy, menatap pintu kamar Alana.
"Panggil saja, aku keluar. Dan nanti kamu sekalian temui Amerta di kamarku, dia mau bicara sama kamu."
"Aku gak bisa, nanti saja pulang sekolah. Aku akan temui dia." jawab Joy.
"Baiklah, terserah kamu. Aku turun dulu, mau makan! Lapar!" Cia mengusap perutnya, yang sudah ingin di masuki beberapa makanan sekaligus.
Joy tak perdulikan Cia, yang sudah berjalan pergi. Ia segera mengetuk pintu kamar Alana.
"Ada apa kak Joy," ucap Alana, membaut Joy terjingkat, terkejut melihat Alana sudah berdiri di depannya.
"Gak apa-apa, cepat turun dan makanlah" ucap Joy datar, lalu melangkahkan kakinya pergi.
Alan menghela napasnya, menutup pintunya kembali. Dan beranjak turun menuju ke ruang makan.
"Mama dan papa mana?" tanya Joy pada Cia dengan amta memutar menatap kursi orang tuanya itu kosong.
"Mereka keluar tadi pagi. Katanya ada urusan." ucap Sheila, ramah. Dan Ian hanya diam, di tempat duduknya tanpa sepatah keluar dari mulutnya.