My First Love

My First Love
Pengungkapaan perasaan



“Saya, akan bilang pada kalian, jika kalian di terima beasiswa, kuliah di luar negeri." ucap bu Ika dengan bangganya pada tiga muridnya itu, meski bukan gurunya langsung, tapi ia bangga pada mereka semua. Bisa mengharumkan nama sekolahannya, apalagi di terima kuliah di luar negeri, universitas bergengsi di dunia.


Semua mata tercengang, mendengar perkataan bu Ika, masih belum percaya jika bisa di terima dengan beasiswa di luar negeri. Ya, meskipun Joy tidak berharap banyak dengan beasiswa. Lagian ia bisa kuliah di mana saja. Tapi dapat beasiswa juga lebih baik, untuk bisa mandiri, saat jauh dengan orang tuanya.


Sedangakan, Alana, masih melebarkan matanya, dengan mulut setangah terbuka tak percaya. Ia merasa sangat senang ingin melompat gembira seketika. Tapi, terlintas dalam pikirannya. Padahal ia hanya nengikuti tes online, karena memang tidak ada waktu untuk ke sana selain sehabis ujian.


Apa dia satu University dengan Joy? Dan bagaimana dengan orang tuanya nanti? Dan, apakah ia benar lepas dengan keluarga Joy setelah ini?


Memikirkan hal itu, raut wajah bahagia Alana berubah seketika, sudut bibirnya tertarik ke bawah, membuat senyum manisnya memudar dari ukiran bibirnya.


Sejak kejadian malam lalu, di mobil. Seakan aku tidak bisa lepas dengan kak Joy. Aku merasa ingin selalu dekat dengannya. Meski sekarang status aku adalah pacara Miko, tapi aku belum yakin jika Miko akan mau menerimaku, apalagi saat tahu jika aku pernah di nodai Joy.


Joy yang sudah sangat penasaran, ia mulai membuka mulutnya, dan mulai ber-suara.


“Memangnya kita di terima di kampus yang sama?” tanya Joy.


Bu Ika masih diam, menatap wajah Alana yang terlihat sepertinya tidak senang dengan kenyataan yang ia ucapakn tadi.


“Alana apa kamu gak bahagia?” tanya bu Ika.


Alana mendongak, menatap ke arah Bu Ika. Ia mencoba tersenyum paksa, meski merasa sangat sedih jika harus pergi nantinya. “Tidak bu, saya sangat senang.” Ucap Alana, melirik sekilas ke arah Joy. Joy yang sadar Alana menatapnya, ia menatap balik Alana hingga ke dua nata mereka tertuju.


Mungkin ini yang terbaik Alana, tapi jika kita jauh, aku masih belum bisa melupakan kamu. Aku gak bisa lakukan apapun nantinya. Hanya bisa berharap bisa bersama kamu Alana.


"Baiklah, kalau begitu saya akan ambilkan berkas kalian.” Bu Ika segera mengambil berkas, sembari memberi persyaratan apa saja yang harus ia bawa nantinya untuk pergi je sana.


"Alana kamu sudah nengikuti tes di sana, dan keterima di University of Oxford. Benar-benar suatu keberuntungan kamu bisa di terima kuliah di sana. Apalagi lagi IQ kamu memang di atas rata-rata, kamu patut mendapatkan beasiswa di sana." ucap Bu Ika pada Alana. Ini benar-benar membauat Alana merasa sangat senang, ia bisa sekolah di Inggris, membuat kebanggaan sendiri dalam dirinya.


"Makasih bu. Saya, pasti akan mengambil jurusan beasiswa ini." ucap Alana antusias. Ia tak berhebti bangga pada dirinya sendiri.


"Sama-sama. Dan kamu Miko ibu juga bangga denganmu. Kamu bisa masuk di Universitas Imperial College London." jelas Bu Ika. Sambil menyerahakn daftar berkas apa saja yang harus di siapkan.


"Dan, untuk Joy. Kamu di terima di Harvard University, Amereka Serikat. Semoga kalian betah di sana. Jaga nilai kalian dengan baik." lanjut Bu Ika.


Joy memang sengaja untuk coba-coba ambil beasiswa di sana. Dan di bantu dengan papanya. Meski tidak berharap banyak untuk bisa di terima di sana. Tapi ini kesmepatan bagus, bisa di terima di Universitas bergengsi di dunia.


Alana merasa lega, ternyata kakaknya mengambil universitas berbeda dengannya.


Dan Miko masih belum percaya, bisa keterima di London. Dj kampus impiannya. Meski tidak satu kampus dengan Alana. Tapi setidaknya jaraknya masih dekat, dan bisa sering bertemu nantinya.


Alana terdiam, nebdengar itu semua ia merasa lega kali ini.


Mungkin memang benar kak Joy mau menghindari aku, tapi ini lebih baik, aku senang mendengarnya.


-----


Mereka yang sudah selesai berbincang, bergegas pergi meninggalkan ruangan Bu Ika. Miko memegang tangan Alana melangkahkan kakinya keluar.


"Alana, selamat ya! Kamu kenapa ambil jurusan di sana. bukanya kamu sangat minat kedokteran?" tanya Miko heran dengan keputusan yang di ambil Alana.


"Aku mau mendalami dunia bisnis. Itu tujuan aku sekarang. Ilmu kedokteran hanya sebagai bekal aku sehari-hari saja." ucap Alana menjelaskan.


"Iya, kamu dan aku bisa sering bertemu kan. Lagian jarak juga gak terlalu jauh, nanti aku bisa setiap minggu datang menemuimu." gumam Miko, memegang tangan Alana.


"Oya, kamu pulang dengan siapa?" tanya Joy, yang berdiri dengan tatapan sinis, tidak suka mendegar pembicaraan mereka berdua.


"Sama aku saja ya?" tanya Miko, memegang tangan Alana menariknya pergi.


Melihat wajah Joy yang terlihat sangat marah. "Tunggu!! Aku mau pulang dengan kak Joy." ucap Alana. Membaut Miko melebarkan matanya, menegangkan lingkaran matanya.


"Apa, udah kamu pulang denganku saja." ucap Miko kesal.


"Kak Mik, aku mau bicara dengan kak Joy. Gak apa-apa ya, nanti kalau sampai rumah aku akan hubungi kamu lagi." ucap Alana, memegang lengan Joy menariknya pergi, membuat Miko semakin kesal di buatanya.


Aku pacar-nya, tapi seakan Alana tidak menganggapku. Dia semakin dekat dengan Joy.


Miko yang sudah terlanjur Kecewa, ia bergegas pergi.


-------


"Alana, kita naik taksi saja atau naik bus?" tanya Joy, menatap Alana.


"Naik bus saja ya!" ucap Alana, yang langsung menuju halte bus. Tak lama, bus datang, dengan segera Alana menarik tangan Joy untuk naik. Bus nampak penuh, dan mereka dengan terpaksa harus berdiri.


Saat bus mulai berjalan, Alana yang berada di belakang Joy, dan Joy membalikan tubuhnya menghadap ke arah Alana. Alana seketika mengernyitkan matanya, berdengus kesal, saat merasa Paha, ada yang menyentuh, mengusapnya ke atas, beberapa detik. Ia mengira jika Itu Joy. Seketika Alana menatap tajam ke arah Joy.


"Ada apa?" tanya Joy heran dengan tatapan tajam Alana.


"Kenapa kamu menyentuhku." umpat kesal Alana, dengan nada rendahnya.


Joy seketika mengerutkan alisnya, bingung. "Siapa yang menyentuhmu."


"Jangan pura-pura, deh."


Shhiittt...


Belum selesai bicara, tiba-tiba rem bus, behenti mendadak. Dan tangan itu melecehkannya lagi. Ia mengusap rok pendeknya, ingin rasanya berteriak, pandangannya tertuju pada Joy, mendekap tubuhnya yang terpental, akibat rem dadakan tadi dengan tangan tak sengaja memegang dada Alana. Semakin membuat geram Alana. Padahal ia ingin memperbaikai hubungannya, namun sepertinya akaknya itu memabg hanya ingin selalu melecehkannya saja.


"Kak Joy apa yang kamu lakukan," ucap Alana kesal. Ia ingin menamparnya namun tidak berani mempermalukan kakanya di depan umum.


"Kak jangan sentuh aku," ucap Alana, menepis tangan seseorang yang di duga tangan Joy di pahanya.


Joy kenarik tubuh Alana, agar berdiri di depannya. Dengan tubuh menempelkan ke punggung Alana. Ia sadar jika ada orang yang kurang ajar dengan Alana, membuat gadis itu mengira jika dirinya.


"Tetaplah di sini! Ada yang sengaja melecehkanmu di belakang," bisik Joy. Ia memeluk tubuh Alana dari belakang. Tanpa perdulikan orang di sekitarnya. Hanya itu yang bisa ia perbuat, agar siapa yang di belakang Alana tidak bisa menyentuhnya.


Sampai di seberang rumahnya, Alana beranjak turun dengan wajah kesal. Menepis tangan Joy yang terus menghalanginya.


"Alana, kamu marah?" tanya Joy, menghalangi jalan Alana.


"Minggir!" Alana, mendorong tubuh Joy.


Dengan langkah kesal, ia berjalan masuk ke dalam rumahnya dan langsung menuju ke kamarnya. Ia mengunci rapat pintu kamarnya.


"Kenapa dia marah, apa gara-gara aku menyentuhnya tadi. Padahal aku gak sengaja tadi." gumam Joy, yang langsung masuk ke kamarnya.


Ia segera membasuh tubuhnya yang terasa lengket, setelah itu menemui Alana lagi.


-------


“Alana, kamu mau kemana?” tanya Joy, memegang tangan Alana.


"Kak Joy, kenapa kamu ada di sini?" tanya Alana.


"Aku mau minta maaf padamu, tadi bukan aku yang menyentuhmu." ucap Joy memegang ke dua tangan Alana.


"Pergi dari sini!!" pinta Alana, dengan seuara rendahnya.


"Aku gak akan pergi!!"


Alana berdengus kesal, membalikkan badannya, menatap tajam ke arah Joy. “Aku sudah bilang padamu, pergi dari sini!!” pekik kesal Alana.


“Aku gak akan pergi jika kamu mau memaafkan aku,”


Alana menarik sudut bibirya sinis. “Apa.. Maaf!! Apa aku gak salah dengar. Kamu sudah minta maaf berkali-kali kak, tapi apa kamu mengulanginya berkali-kali juga.” Ucap Alana semakin kesal.


"Pergi dari sini aku gak mau melihat wajah kak Joy lagi." ucap Alana.


“Alana! Aku, gak mau, kehilangan kamu, aku mau kita bersama.” Joy mencoba memegang ke dua tangan Alana erat. Di balas dengan senyuman sinis, dan di tepis oleh Alana.


“Maaf kak, kita sudah gak bisa bersama lagi. Aku suda punya pacar, dan akan lebih bahagia dengan pacar aku.” Ucap Alana mulai merendah. "Dari pada dengan laki-laki mesum seperti, kak Joy."


“Aku tahu kamu gak suka dengannya. Perasaan kita pasti sama, kamu hanya suka dengan ku Alana”


“Jangan bodoh kak siapa yang suka dengan kak Joy, pacar pertama aku adalah kak Miko. Dan dia sudah begitu baik dengan aku.” Alana beranjak pergi, dengan sigap Joy menghalangi jalannya.


“Aku gak akan biarkan kamu pergi, aku mau kamu di sini bersama denganku Alana.” Ucap Joy.


“Kak, aku ada urusan sekarang, tolong ngertiin aku.”


"kamu juga gak pernah ngertiin perasaan aku Alana, kamu tahu aku gak bisa melupakan kamu. Meski aku tahu kenyataannya jika kamu adik tiriku, tapi aku gak perduli. Aku hanya suka denganmu. Karena kamu-lah yang membuat aku merasakan gimana rasanya cinta, takut, senang, kehilangan, dan kamu semakin membuat aku tertarik Alana.” Ucap Joy menggebu, meluapkan isi hatinya selama ini.


Alana yang semula kesal, ia sedikit menunduk. Memejamkan matanya sejenak. 


“Jawab aku, Alana. Apa kamu suka denganku? Aku hanya ingin jawaban jujur darimu.” Joy memegang ke dua bahu Alana.


Alana menggeram kesal, ia menggertakkan rahangnya. Dengan penuh Amarah menguap di wajahnya. “Aku gak pernah suka dengan kak Joy,” ucap Alana dengan nada tinggi.


Joy menarik bibirnya, melepaskan tangannya di bahu Alana.


“Baiklah, kalau kamu gak mau jujur, tapi setidaknya aku bisa melihat kamu sekarang.” Ucap Joy, yang sudah terlihat sangat kesal, ia berjalan menubruk bahu Alana, hingga gadis itu terpental ke samping.


“Baik, kalau memang itu mau kamu Alana, mungkin ini akan jadi ucapan terakhir aku. Dan kamu tahu, aku akan di jodohkan dengan Amerta. Dan aku berharap kamu bisa menemukan kebahagiaan sejatimu.” Ucap Joy, tanpa menatap Alana.


“Alana masih terdiam mencoba berpikir sejenak. Entah kenapa hatinya merasa sangat berat jika kehilangan Joy, tapi setidaknya ia ingin bicara dengannya tentang perasaan yang terpendam selama ini pada dirinya, perasaan yang hanya ia kira sebagai kakak adik, dan ternyata erubah jadis ebuah cinta yang entah datang dari mana, dan sejak kapan cinta itu hadir.


Joy beranjak menuju balkon kamar Alana, dan segera pergi ke kamarnya.


“Tunggu!!” Alana berlari, meneteskan air matanya, memeluk tubuh Joy dari belakang.


“Kak, aku suka dengan kak Joy,” ucap Alana tersedu-sedu.


“Apa benar yang kamu bilang.” Joy melepaskan pelukan Alana, dan membalikkan bandanya menetap ke arah Alana, memegang ke dua bahu gadis itu.


“Aku kurang jelas dengan apa yang kamu katakan?” ucap Joy.


“Aku cinta dengan kak Joy,” ucap Alana menunduk malu.


Joy memegang ke dua pipi Alana, sedikit mendongakkan keplakanya, mengecup lembut bibir Alana. Merasakan kecupan Joy Alana hanya diam, memejamkan matanya.


Joy menyudahi kecupannya, memeluk erat tubuh Alana. Dengan ke dua tangan mengusap lembut punggung gadis itu. “Makasih, aku sudah tahu perasaan kamu sekarang, setidaknya jangan ada jarak lagi di antara kita.” Ucap Joy.


Alana melepaskan pelukan Joy, “Tapi kita tetap tidak bisa bersama kak, kita masih tetap sama, dengan pasangan kita masing-masing. Jangan sakiti hati mereka.” ucap Alana.


“Tapi, aku gak bisa Alana..”


“Kak, aku mohon, jika kak Joy suka denganku. Kak Joy harus rela melepaskan aku, kita punya kehidupan masing-masing kak, dan jika suatu hari nanti kita berjodoh, maka kita akan bersama.” Jelas Alana.


Joy tersenyum, menarik pinggang Alana dalam dekapannya, dan salah satu tanganya mengusap lembut rambut Alana. “Makasih, kamu sudah mencintai aku. Dan aku akan janji padamu, akan selalu perjuangankan cinta ini.” ucap Joy. Yang tak kuasa meneteskan air matanya.


“Biarkan waktu yang menjawab semuanya kak.”


‘Kalau begitu sekarang kamu ikut aku,”


Alana mengerutkan keningnya bingung. “Kemana?”


“Kita ke kamar aku, lewat balkon, aku mau ajarkan kamu bagaimana main ps. Jangan sibuk belajar terus.” Ucap Joy, mencubit pipi Alana, melepaskan pinggang Alana. Lalu memegang tangan gadis itu, naik ke pinngira balkon dan melompat.


“Hati-hati,” ucap Joy.


“Kak, aku takut,” Alana gemetar seketika, saat melihat ke dasar balkon kamarnya,


Joy tersenyum, menarik tangan Alana hingga terjatuh ke lantai berdua, pandangan mata mereka saling tertuju. “Meski aku gak bisa miliki kamu, tapi setidaknya aku bisa mesra dengan kamu seperti ini,” Joy tersenyum, memegang pinggang Alana merekatakn pada tubuhnya.


“Kak Joy lepaskan,” ucap Alana.


“Cium dulu baru aku lepaskan,” ucap Joy.


“Gak mau, kalau begitu aku pergi saja.” Ucap Alana kesal.


“Baiklah,” Joy membalikkan tubuh Alana di bawahnya, ia menyentuh helaian rambut Alana di dahinya.


“Makasih ya,” ucap Joy.


Alana mendorong tubuh Joy hingga terjatoh di sampingnya. “aww..”


“kak, kamu gak apa-apa kan?” tanya Aana mendenagar rintihan Joy, ia langsung duduk dengan wajah cemasnya memegang tangan Joy.


Dan sebuah kecupan mendarat di pipi Alana, membuat gadis itu bengong seketika. 


“kamu bohongi aku?” ucap Alana kesal.


“Maaf lagian kamu serius banget.” Ucap Joy, tersenyum tipis.