
Joy berjalan menuju ke kamarnya, ia menjatuhkan tubuhnya ke ranjangnya. Lalu memejamkan matanya kembali.
Keesoka. hatinya, jarum jam sudah kenunjukan pukul 07 pagi. Joy yang sudah terbangun, ia berbaring di ranjangnya, ia ingin sekali menghubungi Alana. Namun dari kamarin ponselnya belum juga aktif. sampai sekarang juga masih sama. membuat ia yang semua bahagia bersama dengan Amera, terbayang lagi dalam pikirannya, tentang Alana. Terbesit dalam otaknya untuk pergi mencari Alana. Sudah satu hari Alana gak ada kabar, bahkan Miko saja tidak tahu di mana Alana.
Miko juga sudah menghubungi ratusan kali. tapi masih sama ponselnya gak aktif, membuat mereka berdua geram.
"Joy!! Apa kamu bisa menghubungi Alana?" tanya Miko, berjalan menghampiri Joy, yang terlihat sangat gusrah. Ia berdirii, bersandar di tembok, dengan ke dua tangan di saku, dan pandangan mata ke arah Joy, yang terlihat terus mencoba menghubunginya. Meskipun sering gagal berkali-kali, seakan dia tidak putus semangat sama sekali.
"Shhiiittt..."
"Arrggg..." Teriak Joy, mengecak-acak rambutnya kasar, dengan emosi yang meluap-luap. Ia menggeram kesal, memukul bantalnya keras.
"Alana kamu di mana? Aku rindu denganmu? Kenapa kemarin aku tidak mencegahmu? Kenapa aku harus membiarkan mu pergi, Alana. kenapa? Dan sekarang kamu tinggal kemana, dan semuanya tidak bisa di hubungi... Aku khawatir denganmu, Alana." Decak Joy, dan hanya membuat Miko semakin yakin jika Joy suka dengan Alana. Dari cara dia khawatir saja sangat berlebihan. Hubungan mereka juga berlebihan.
"Kamu kenapa?" tanya Miko. "Aneh begitu?"
"Apa kamu gak khawatir dengan Alana?"
Miko tersenyum sinis, "Gak khawatir katamu, aku jauh lebih khawatir dari pada mamu. Kamu tahu aku semalaman gak tidur, hanya untuk mencoba berkali-kali menghubungi Alana, menunggu kabar darinya. Dan aku terus menatap layar ponselku, dan ternyata masih sama. Tad ada balasan sama sekali."
"Bukanya kemarin kamu ketiduran, di sofa. Dan cia yang membantu kamu kemarin." ucap Joy, yang emmqng tahu semuanya, ia juga tahu jika mereka berciuman, meski hanya sebuah kecupan. Tapi sudah berhasil di abadikan oleh Joy, yang memang awalnya hanya pura-pura tertidur. Agar bisa melihat kedekatan mereka.
"Dan dia sudah mengirimkan foto itu pada Alana. Namun belum juga di buka Chat darinya. Dan nomornya belum juga aktif."
"Mungkin aku tidur sebentar!!" ucap Miko mengelak.
"Apa kamu sudah bisa menghubunginya?" tanya Miko.
"Tidak, entah kenapa dia mematikan ponselnya. Ataudia kenapa-napa?" ucap Joy, wajahnya mulai panik, dengan tubuh gemetar, jemari tanganya tak berhenti terus gemetar, memikirkan di mana Alana
"Aku tidak mau kehilangan dia!!" ucap Joy.
"Aku juga gak mau kehilangan dia, apalagi aku pacaranya. Aku gak mau jika dia kenapa-napa."
"Sepertjnya kita harus kerja sama. Gimana kalau kita pergi cari Alana.
"Tapi kita mau cari kemana. Emangnya kamu mau keliling dunia ini.. jangan bodoh, jika Alana kenapa-napa, kamu gak tahu dia di mana, dan kamu seenaknya mencari dia ke ujung dunia sekalipun. Keburu dia terluka, jika harus menunggu kamu."ucap Miko dengan nada semakin meninggi.
"Apa kamu sudah coba telepon David? Gimaba kabar darinya? Dia bersama dengan Alana gak?" tanya Joy menggebu.
"Memangnya dia pergi dengan David?" tanya Miko memastikan, yang langsung beranjak mendekati Joy.
"Memangnya dia gak cerita padamu?"
"Enggak. Lebih baik kamu selidiki David,"
"Kenapa harus aku?"
"Apa kamu tahu David di mana sekarang?" tanya Joy
"Harusnya aku yang tanya kamu, David adalah sepupu kamu. Jadi kamu coba cari tahu, di mana David menyembunyikan Alana.
"Iya, lebih baik sekarang kita pergi. Tanya pada Cia, pasti dia tahu. Aku yakin dia tahu," ucap Joy penuh percaya diri, seakan memang dia tahu semuanya.
"Tapi.. "
"Ssttt... gak usah tapi-tapian, lebih baik sekarang kamu harus cari informasi pada Cia, kamu ambil nomor David di ponsel Cia secara diam-diam. Lagian
kamu sekarang juga dekat denganya. Aku yakin dia tidak marah dengamu." jelas Joy.
"Kamu kaaknya, harusnya kamu yang cari informasi tetang Alana.
"Apa kamu gila, dia bisa marah besar dneganku. Apalagi bahas soal Alana. Pasti dia akan berpikir yang maca-macam. Padahal aku dengan Alana juga gak ada hubungan apa-apaa. Aku juga akan bertunangan dengan Amera jadi tak ada satu pikiranpun, untuk aku bepacaran dengan Alana." ucap Joy, meski ia harus menyembunyiak kenyataan semuanya pada Miko.
"Tapi gimana aku bisa mencari kontak David di ponsel Cia?" tanya Miko, menatap bingung ke arah Jiy.
"Kenapa kamu ganya aku, bukanya mamu sudah dekat. Bahkan teman dektanya, kamu bisa dengan mudah pinjam ponselnya, aku yakin jika kamu yang pinjam pasti dia memberikan segera cuma-cuma." ucap Joy.
"Baiklah, aku akan coba."
"Sekarang di ada di kamar, lebih baik kamu coba cari dia. Dan Amera panggil ke sini, bilang aku mau bertemu dengannya.
"Baiklah!!"
Miko bergegas pergi meninggalkan Joy sendiri, melamun, dan tak berhenti terus berusaha. Joy masih sama terus nenghubungi Alana. Meski jawaban tetap sama, "Nomor yang anda hubungi tidak aktif".
"Alana kamu di mana sekarang. Aku khawatir dengan kamu. Apalgi kanu di sana sendiri. Aku tidak bisa bayangkan. Apa kamu bisa jaga diri kamu sendiri. Apa kamu bisa menjaga hati kamu juga, Alana. Aku syang dengan kamu." ucap Joy. Melemparkan ponselnya ke ranjang, ia menjatuhkan tubuhnya lagi di ranjang. Menatap atap langit dan erus melamun, memutar ingatanya bersama dengan Alana. Saat di mana dia tahu jika Alana juga bekorban untuknya.
"Joy! Kamu memanggilku?" tanya Amera berjalan mendekati Joy.
"Eh.. Amera.. pasti Miko ya yang memebri tahu kamu,"
"Iya," ucap Amera.
Joy beranjak duduk, kenarik tangan Amera duduk di sampingnya.
"Jangan berdiri terus, lebih baik duduk di sebalah aku. Atau di pangkuan aku," goda Joy, memeluk tubuh Amera, dari samping, dengan ke dua tangan melingkar di pinggangnya.
Amera terkejut, jantungnya berdegup lebih cepat, meraskan lembutnya tangan Joy. Gimana bisa ia lupa sentuhan tangannya yang pernah menkelajahi tubuhnya. Meski tidak sampai behubungan tapi hangat tangan Joy masih membekas di tubuhnya.
"Joy menyandarkan kepalanya di bahu Amera."
Maaf Amera, aku melakukan ini, agar hatiku bisa tenang. Dan perlahan melupakan Alana.
"Pergi kamana?" tanya Joy, mengusap lembut wajah Amera, sentuhan yang membuat Amera tersipu malu. Ia semakin cinta dengan Joy jika Joy terus perhatian dengannya.
"Alana!!"
Mwndengar kata itu dari mulut Joy, Amaera meanutkan ke dua alisnya, msnatap aneh pada Joy.
"kamu memanggilku apa?" tanya Amera. " Kenapa kamu tidak bisa melupakan Alana. Dan kenapa di pikiran kamu selalu Alana. Apa kamu tidak bis amemandang kamu sebagai pacara kamu sekarang, dan sebagai calon tunangan kamu," ucap Amera menggebu.
"Amera, dengarkan penjelasanku dulu," Joy memegang tangan Amera, mencoba menjelaskan padanya.
"Mendengarkan apa lagi, kamu memang gak bisa melupakan dia. Kamu sangat suka dengannya kan," Joy beranjak berdiri, mengecup bibir Amera, membuat gadi situ terbungkam seketika.
"Jangan banyak bicara lagi, aku akan menikahi kamu. Gak usah bahas itu lagi." ucap Joy mengusap ujung kapala Amera.
"Kamu sidha mandi?" gabya Joy.
"Belom!!"
"Kamu mandi saja dulu, di kamar kamu ada Miko kan. Lebih baik mandi di sini saja. Tenang aku tidak akan melihat kamu mandi," ucap Joy beranjak duduk.
"Di dalamada handuk, kamu bisa pilih salah satu,"
"Tapi baju aku di kamae Cia."
"Aku yang akan ambilkan. Kamu mandi saja dulu," ucap Joy.
Amera tersenyum dan bergegas pergi masuk ke dalam kamar mandi.
-☆☆☆-
Cia boleh pinjam ponsel kamu gak?" tanya Miko, yang langsung masuk ke kamar Cia, yangbterlihat sudah terbuka.
"Biat apa?"
"Telefon arang tuaku, boleh gak?"
"Baiklah, ambil sendiri di ranjang. aku mau mandi," ucap Cia, beranjak pergi meninggalkan Miko yang duduk di ranjangnya.
Miko mencari ponsel Cia, "Semoga saja ada nomornya." ucap Miko, mulai membuka ponsel Cia. Seektika matanya terkejut saat melihat layar ponselnya, gambarnya berdua dengannya saat di sekolah.
"Kenapa dia menyimpan foto aku. Mungkin di sini banyak foto aku juga dengannya." gumam Miko, dengan segera mencari nomor David. Dan langsung mencatat di ponselnya. Ia mencoba melihat galery foto Cia. Banyak banget dengan bersamanya yang tersimpan di ponselnya. Bahkan tidak ada foto dengan laki-laki lain.
Hampir 15 menit mandi, Cia keluar dari kamar mandi, yang hanya menemgenakan handuk menutupi tubuhnya. "Kamu masih di sini?" tanya Cia, menutupi tubuhnya dengan ke dua tangannya.
"Maaf... aku akan pergi!!" ucap Miko, melangkah pergi.
"Ponael aku!!" Cia, menarik ponsel di tangan Miko.
"Aaaa." Tangan Miko berbalik, memegang tangan Alana, membuat laki-laki itu terjatuh berdua dengannya.
Dan untuk ke sekian kalinya, kecupan mendarat sempurna di bibirnya. "Miko kamu cari kesempatan ya," umpat kesal Cia.
"Siapa yang cari kesempatan!!" Miko bergegas berdiri. Dan mengusap bibirnya. Sama dengan Cia, ia mengusap bibirnya.
"Kalian ngaoain bermesraan!!" ucap Joy.
"Dia yang menggoda aku," ucap Miko.
"Enak saja. Kamu yang cari kesempatan,"
"Kamu!!"
"Kamu!!"
Ke dua mata mereka saling tertuju, penuh dengan percikan api pertikaian.
"Udah-udah, Cia ambilkan baju Amera, dia mandi di kamarku. Nanti, kamu bawakan ke sana. Aku tidak mau meliaht orang mandi. Dan Miko ayo ikut aku keluar." ucap Joy, menarik tangan Miko pergi.
"Eh... Tapi...
-----
Joy berjalan menuju ke taman
"Kamu kenapa membawaku ke sini?" tanya Miko kesal.
"Mana nomor David? Kamu pasti sudja mendapatkan?"
"Sudah, ada di ponsel aku, dan biarkan aku sendiri yang tanya nanti apdanya. "
"Baiklah, cepat hubungi dia sekarang. mau dengar apa yang di katakan dia."
Miko hanya diam, dan mencari nomor David, lalu segera menghubunginya.
"Nomornya gak aktif!!"
"Shiittt..!!" umpat kesal Joy.
"Baiklah, kirim nomornya je ponsel aku. Aku akan coba hubungi dia nanti," ucap Joy beranjak pergi.