
Hiks... hiks.. Hikss.
Alana menangis sendirian, meluapkan isi hatinya yang dari kemarin ingin sekali menangis srjanmdi-jadinya. Ia tidak bisa hanya tinggal diam di sini. Aku akan pergi jauh setelah ini. Tapi kenapa sangat sulit untuk meninggalkan Joy dan yang lainya.
Alana duduk, dengan ke dua kaki di tekuk, ia memeluk kakinya menyembunyikan wajahnya di balik pahanya.
"Semuanya jahay!! Kehidupan ini jahat. Keluarga yang jahat, ku benci dengan mama Keyla dan aku benci dengan semuanya sekarang. Meraka sama saja, tidak ada yang tahu kebenarannya kenapa semua menylakan ibu aku. Ibu aku tidak salah! Dia tidak salah!" gumam Alana semakin menetakan air mata membanjiri kakinya
"Alana kanu di sini. Dan kamu sendiri" suara berat seorang laki-laki membuat Alana mendongakkan kepalanya, dan air mata masih membasahi ke dua pipinya
"David?" tanya Alana, segera mengusap ke dua air matanya dengan punggung tangannya.
David memegang tangan Alana, dan tangan kanan mengusap lembut kantung mata Alana yang masih ada bekas air matanya. "Kamu kenapa menangis? Apa Joy menyakiti kamu. Jika memang iya, maka aku akan sakiti dia lebih dari ini," gumam David, dengan nada kesalnya, ia mengepalkan tangannya sangat erat.
"Udah!! Aku hanya kenal pada diri aku sendiri." Alana memegang tangan David, membuat pacaran David yang berdiri di amaoingnya, mengernyitkan matanya, menatap ke dua tangan merek saking berpegangan, seakan seperti bukan saudara.
"Lepaskan!!" ucap oacaranya, menepis ke dua tangan yang saking berpegangan erat itu.
"Kita pergi sekaranf?" tanya David, menegang lengan Alana lagi, menariknya berdiri.
"Kita pergi kemana?"
."Bukanya kamu akan mencari ibu kamu. Ajy akan bantu kamu sekarang!!"
"Gak usah! Biar dia bersama dengan aku. Aku oacarnya, jadi hangan harap kanu bisa dekat denganya." saut Joy uang tiba-tiba datang mengungkapkan sebuah perkataan yang membaut Alana dan David shok, ke dua mata mereka saling tertuju sejenak, lalu kembali menayap ke arahh Joy di depannya.
"Apa yang kamu katakan?" tanya Alana lirih.
"Joy memegang tangan Alana, menariknya pergi, meninggalkan David dan pacarannya. "Aku pacarnya sekarang, hadi jangan ikut campur urusan aku dengannya." Alana beranjak pergi meninggalkan David.
"Ingagn jangan pernah suka dengan laki-laki lain selain aku. Dan hanya aku yang bisa memiliki kamu," ucao tegas Joy, membantu Alana masuk ke dalam mobilnya.
"Dia kenaoa? Baru saja kecupan panas dengan Amera, dia datang menemui aku. Dan mencoba merayuku lagi. Tapi aku gak bisa, gak bisa terus seperti ini." gumam Alana dalam hatinya.
"Jangan diam saja!! Apa kamu mau pacaran dnegan aku?" tanya Joy, yang mulai memasangkan sabung pengaman untuk Alana, laku berhenti dengan tubuh condong ke samping, dengan pandangan mata tertuju dekat wajah Alana. "Kamu cantik syang!!" ucap Joy, memegang dagu Alana, laku mengecup bibir Jalana lembut, dan seketika langsung di dorong keras dada bisa gnya oleh Alana membuat tubuhnya menjauh darinya.
"Aku belum bilang mau jadi pacar kamu. dan ingat jika kamu itu adalah orang yang paling aku cintai. Tapi bukan untuk memiliki. Aku sudah punya pacar, jadi jangan terlalu berharap padaku."
"Kamu kehilangan kesucian kamu sejak pertama kita melakukan itu di mobil. Dna Miko sudah tahu itu, dan dia memutuskan hubungannya dengan kamu,"
Alana melebarkan matanya, menatap ke arah Joy yang duduk di sampingnya.
"Miko? Dan Amera juga tahu tentang itu? Apa dia tidak marah dengan kamu?" " tanya Alana.
"Miko pergi kemana?" lanjutnya.
"Dia pergi ke London. Dan dia sekarang dekat lagi dengan Cia. Dan kamu hanya akan menjadi bekas aku. Aku hanya menawarkan yang baik buat kamu, jika aku ingin jadi pacar kamu. Meski hanya beberapa hari di sini aku gak masalah!!" ucap Joy tanpa rasa ragu mengungkapkan isi hatinya.
"Apa aku harus menerimanya. Tapi hanya beberapa hari, mungkin selama beberapa hari aku bisa mengungkap, gimana kelakuannya saat nanti" gumam Alana dalam hatinya.
"Aku akan menjadi pacar orang yang tulus padaku. Pacaran bukan hal yang mudah, aku tidak mau pacaran, jika memang kamu tulus. Maka suatu saat akan menikahiku,"
"Apa kamu mau menikah dengan aku?"
Uhuk... Uhuk..
"Apa yang kamu katakan?" tanya Alana, memegang dadanya yang terasa sesak.
"Kamu mau menikah dengan aku?" tanya Joy mengulanginya lagi.
"Ha.. Ha.. Apa kamu bercanda. Kita tidak akan pernah bersama. Dan kita adalah saudara. Gak mungkin kita bisa menikah. Ingat itu!!" ucap Alana, kembali meneguk minumannya lagi.
"Oke, kamu bilang itu gak mungkin. Tapi aku akan menikahimu kelak nanti!!"
"Jangan banyak bicara lagi. Kamu sudah janji akan menikahi Amera. Dan apa kamu mau aku menikahiku juga. Jangan harap!! Aku tidak akan mau menikah dengan kamu!!" jelas Alana tegas.
"Kenapa?" tanya Joy.
"Aku gak mau jadi yang ke dua,"
"Jadi kalau aku tidak menikahi Amera. Apa kamu mau menikah denganku?" tanya Joy, memegang ke dua tangan Alana.
Jangan jadi laki-laki plin plan. Kamu suka sana sini, kamu ciuman dnegan wanita sana sini. Dan kamu lakukan dalam jari yang sama. kamu mengucapkan kata menikah pada hati yang sama. Kamu ingin menikahi aku atau Ameta. Jangan hanya diam kamu putuskan jika kamu sudah mantap untuk menikah. Aku ingin tahu seberapa kaya kamu nanti jika tanpa orang tua kamu!!"
"Maksud kamu? Apa kamu mau menikah karena uang!! Sekarang kamu jadi wanita murahan yang menikah atas dasar uang!!"
"Jangan bicara tentang uang. Kamu tunjukan padaku. Seberapa hebat kamu nanti. Aku akan menikahi kamu jika kamu bisa menunjukan pada semua orang kamu bisa mandiri, dan membangun perusahaan kamu sendiri tanpa bantuan siapapun. Maka kamu bisa cari aku, aku akan menepati janji aku." ucap Alana menghela napasnya.
"Aku akan tunjukan pada kamu, jika aku bisa jadi orang sukses, meski tanpa harta dari papa aku. Dan ibgat, kamu harus tepat janji kamu. Apapun yang terjadi kelak nanti. Kamu harus tepati janji kamu!!"
Alana terdiam, ia tersenyum tipis.
"Maaf!! Aku hanya bicara asal dengan kamu. Aku mau kamu bangkit. Meski papa kamu memang pergi meninggalkan mama kamu. Tapi kamu dan Cia gak boleh terpuruk, kalian bisa jadi orang sukses tanpa orang tua lengkap. Aku harap kamu mengerti itu. Dan aku gak akan mungkin kembali, aku akan pergi jauh dari kalian!!" gumam Alana dalam hatinya.
"Sekarang kita mau kemana?" tanya Joy menatap wajah Alana di sampingnya.
"Aku mau cari ibu aku. Kita bisa lihat nanti. Dia benar sama papa kamu atau tidak!!" ucap Alana.
"Baiklah!!" Joy tanpa banyak bicara lagi, ia menjalankan mobilnya, dan beranjak pergi dati taman. Dan David dengan pacarnya hanya diam, duduk di taman menatap kepergian Joy dan Alana.
"Kita mau kemana?"
"Sudah kamu ikut denganku," David memegang tangan kekasihanya, berjalan menuju ke mobilnya, dan beranjak masuk.
"Tapi aku mau di taman!!"
"Sudah diamlah!!" bentak David.
-----
Sementara Joy dan Alana menelusuri jalanan di pusat kota mencoba mencari ibunya. Di dalam mobil nampak sangat hening, tanpa ada suara keluar dari mulut mereka berdua. Hanya musik pop yang menemani perjalanan mereka.
Mobil mereka berhenti, terjebak lampu merah.
Berdampingan dengan sebuah mobil hitam pekat di sampingnya, Alana yang merasa bosan, ia menoleh ke samping melihat Alvin berada di mobil itu, dan bersama seorang wanita yang entah siapa ia tidak begitu tahu, wajahnya terlihat samar-samar dari kaca mobilnya.
"David!!" ucap Alana, memegang tangan Joy, tanpa sadar ia salah menyebut nama Joy dengan David.
"David? Kenapa kamu memanggil aku David? Apa kamu kangen dengannya?" tanya Joy kesal, menatap sinis ke arah Alana.
"Gak!! Sekarang lampu hijau. Kamu ikuti mobil hitam di depan itu."
"Jawab dulu, kenapa kamu panggil nama David? Apa benar kamu suka dengannya?" tanya Joy, melirik kesal menatap Alana, wajahnya terlihat gusrah dengan pandangan mata ke depan.
"Aku gak suka denganya!!" jawab Alana tanpa menatap ke arah Joy.
"Tapi kenapa kamu tidak memanggil nama aku, kenapa harus David!!"
"Udah jangan cemburu dulu. Sekarang kamu ikuti mobil di depan itu!!" ucap alana, menunjuk ke depan, ke arah mobil hitam yang sudah berjarak 4 mobil di depannya.
"Gak mau!!" jawab Joy kesal.
"Kenapa, cepat ikuti kalau gak mau aku keluar dari mobil ini,"
"Keluar saja. Emangnya kamu mau cari pacar kamu David itu?" tanya Joy kesal.
Alana menggeram kesal, ia menatap tajam Joy. "Aku melihat papa kamu!!" umpat kesal Alana dengan nada kesalnya.
"Papa aku!! Kenapa kamu gak bilang dari tadi, di mana mobilnya? Dan nomor platnya apa?" ucap Joy, wajahnya mulai menegang, ia menatap ke depan, melihat mobil di depannya.
"Mobil hitam di depan, kamu cepat ikuti mereka. Kalau perlu hentikan mobil mereka." ucap Akan yang terlihat sudah mulai cemas, ia takut jika apa yang di katakan Joy benar, jika apanya itu bersama dnegan ibu kandungnya.
"Baiklah!! Kamu pegangan sekarang. Aku akan melaju dengan kecepatan tinggi!!" Joy mulai menambah kecepatannya, melaju cepat melesat, menyalip mobil di depannya, mencoba mengejar mobil hitam yang sudah jauh di depan.
"Kamu tetap berpegangan erat, Alana. Mungkin nanti akan tambah eksyrim!!" ucap Joy mengemudi seperti pembalap mobil internasiaonal, ia melesat cepat, dan. Wuusshhh... Srekkkk...
Ia membanting setir mobilnya tepat di depan mobil hitam yang ia kira mobil Alvin, membuat mobil itu seketika menginjak keras rem mobilnya.
Alana mengatur napasnya, memegang dadanya, jantungnya terasa mau copot di buatnya. Joy membuatnya nyawanya di ujung. "Kamu gak apa-apa?" tanya Joy, mengusap rambut Alana, wajahnya terlihat oanik dan Khawatir dengan Alana.
"Enggak!! aku gak napa-napa. Kamu cepat turun. Lihat siapa yang ada di mobil itu?" ucap Alana memegang lengan Joy yang masih menyentuh pipinya.
"Beneran kamu gak apa-apa?"
"Iya, jangan terlalu khawatir."
"Eh.. Kalau bawa mobil hati-hati, jangan kebut-kebutan di jalan." teriak seorang laki-laki di dalam mobil itu.
"Aku turun dulu, kamu di sini!!" ucap Joy, mengusap kepala belakang Alana, dan beranjak turun.
"Iya, kamu jangan terlalu emosi nanti!!" ucap Alana, membiarkan Joy keluar lebih dulu.
"Papa!! Ternyata benar kamu di sini. Tapi bersama siapa kamu di sini?" ucap Joy menatap tajam pada Alvin, yang berjarak empat langkah di depannya, Joy melangkahkan kakinya pelan, menatap ke arah Alvin.
"Joy? Kenapa kamu bisa ada di siji?"
"Pap kaget aku di sini? Apa emang papa menyembunyikan sesuatu, dariku?" tanya Joy, menarik bibirnya sinis.
"Apa yang kamu bilang, aku tidak menyembunyikan apapun?" wajah Alvin terlihat sangat panik, ia takut jika dia bersama dengan Silvia.
"Ada apa?" suara seorang wanita, membuat Joy semakin menguap, kepalanya seakan di siram air panas, di tambah terlihat wanita berjalan mendekati Alvin.
"Oo.. Jadi dia yang selama ini dekat dengan papa. Sampai papa pisah dengan mama. Wanita murahan ini gak pantas buat jadi ibu tiri aku." ucap Joy, mendorong tubuh Silvia.
"Joy!! Apa yang kamu lakukan," Alvin melindungi tubuh Silvia.
"Mama!!" ucap Alana di dalam mobilnya, menatap mereka dari jauh.
"Sudah kita pergi sekarang." ucap alvin pada Silvia.
"Jadi hanya karena ada wanita ini kamu tidak anggap aku anak lagi?" tanya Joy, semakin geram dan di penuhi emosi dalam dirinya.
"Joy, jaga mulut kamu!! Aku gak bisa bawa kamu pergi. Aku akan menghubungi kanu lagi nanti saat kita sudah di rumah. Apa kanu mau ikut aku sekarang." ucap Alvin
"Gak usah!! Aku gak mau ikut dengan kalian. teruskan saja bercinta kalian. Aku gak mau lagi melihat wajah papa aku yang terlihat baik tapi munafik!!" ucap kesal Joy, beranjak masuk ke dalam mobilnya dengan nada penuh kekesalan.
"Ibu!!" teriak Alana, keluar dari mobiknya, membuat Silvia dan Dan Alvin menghentikan langkahnya masuk ke mobil.