
kedua insan yang telah menjadi satu masih dalam pelukan dengan mata terpejam, alvin menyadari gerakan halus yang berada di samping nya itu perlahan berusaha bangun dari tempat tidur nya, ia melonggarkan lingkarang tangan yang memeluk nya erat. lalu merapihkan kembali pakayan yang terlihat kusut dan berdiri di samping tempat tidur menatap wajah sang suami.
perlahan alvin membuka matanya metap wajah sang istri dan masih menatap wajah nya tanpa menyadari bahwa sang suami telah membuka mata dengan lebar nya dan tersenyum manis pada nya.
"apakah wajah ku sangat tampan hingga mata mu tak berkedip sedikitpun saat menatap ku?", suara berat dan terdengar sangat se*y itu menyadari nya dari lanunan
dian terhenyak saat mendengar suara berat sang suami dan seketika wajah nya memerah seperti jambu
alvin tersenyum menyadari sang istri kini salah tingkah namun iapun tetap meng*oda nya dengan berbagai pertanyaan.
ingin rasa nya dian menenggelamkan kepala nya hingga wajah merah jambu nya tak terlihat. namun apa daya? ini bukan lah kolam ataupun lautan.
alvin menarik pergelangan tangan sang iatri hingga tubuh dian terhuyung dan mendarat sempurna di da*da bidang sang suami.
"ahhh....", pekik diang namun tertahan saat sudut bi*bir nya mengyentuh sudut bi*bir sang suami, dan seketika alvin meraup bi*bir yang di polesi lipstik berwarna nude itu.
aroma vanila dan stowberry dari dari tu*buh sang istri mampu membangunkan has*rat kelelakian nya. perlahan ia melepaskan pang**gutan nya dari bi*bir dian lalu mengecup pucuk kepala sang istri tanda kehormatan nya pada wanita yang amat sangat ia cintai di depan nya itu.
dian yang merasa mendapatkan perlakuan manis sang suami berbunga bunga hingga ia begitu sangat malu dan membenamkan wajah nya kedalam pel*ukan sang suamui, entah mengapa kehangat*an nya sangat mampu membuat hati nya begitu tenang, hingga ia merasa tak ingin berjauhan dengan sang suami.
"ayok gantikan pakayan mu dulu yang", suara berat dari alvin membangunkan nya saat itu. serttt ada getaran yang aneh di dalam diri dian. yah ada sesuatu yang selama ini mereka lupakan, yaitu panggilan yang sudah di sepakati sebelum nya. kini baru ia menyadari hal itu.
perlahan dian menjauhkan tubuh nya dari sang suami dan berdiri lalu berkata "maaf sayang, aku.. akuu", belum ia menyelesaika ucapan nya, tiba-tiba tersengar ketukan di luar pintu.
"cepatan rutual bobo nya, kita bentar lagi bakal mendarat", suara ivan terdengar kesal terhadap kedua pasagan suami istri yang berada di balik pintu kamar itu.
"ia bentar lagi", sambil melirikan jam di pergelangan tangan nya, ternyata pesawat akan mendarat sekitar 30 memit lagi.
*gak usah di gantiin baju nya aja sayang, biar aku pakai ini aja,agian kan gak berantakan baju ku",kata dian sambil kembali merapihkam baju yang ia kenakan dan menyisir rabut dengan jemari nya.
alvin menatap nya dengan senyuman tipis lalu bangkit berdiri dan meraih kemeja yang ia letakan sebelum nya di atas ujung tempat tidur lalu memakai nya, dan mbuka sebuah laci diatas tempat tidur dan mengeluarkan sisir rambut lalu berjalan mendekati sang istri yang tengah sibuk menyisir rambut kecoklatan panjang hingga pinggul itu dan menyentuh rabut sang istri.
"tetaplah terdiam, aku akan menyisir rambutmu dan akan melakukan nya dengan baik dan lembut hingga kamu tak merasa kesakitan", kata alvin yang membuat gerakan tangan dian akhir nya terhenti dan terdiam di tempat nya.
lagi lagi aroma yang keluar dari rambut sang istri adalah wangi vanilla yang selalu membuatnya kemabukan hingga kepayang. alvin terlaksa menggerakan sisir rambut itu secara perlahan dan lembut sambil menahan nafas nya agar tak terhipnotis oleh wewangian dari rambut indah sang istri.
sedagkan dian, meski ini bukan lah pertama kali nya alvin melakukan kedekatan yang sama dan bahkan kadang snagat in*tim pun ia tetap merasa ada sesuatu yang tak mampu ia jelaskan seperti apa. ia pun tak kalah gugup seperti pasangan yang barusaja menikah,.
yah wajar saja kedua nya meraskan hal semacam ini setiap hari nya, sebab pernikahan kedua nya kan bukan atas dasar suka sama suka dan bukan pula atas dasar cinta.
bicara tentang cinta? hahaha sepertinya kedua sejoli ini telah banyak melalui hari dam waktu yang panjang hingga ada nya perasaan cinta satu sama lain. jika bukan karena kekuatan cinta untuk apa keduanya berada sampai pada titik ini bukan? meski membutuhkan waktu yang terbilang lama untuk kedua nya saling mencintai dan menerima satu sama lain.
namun tidak seperti kebanyakan orang di luar sana, jika kedua pasangan suami istri yang sah atau mungkin bahkan yang belum menikah atau memiliki ikatan baik secara hukum dan agama sudah berbagi kamar dan tempat tidur, meski bukan atas dasar cinta melainkan hawa nafsu, bisa saja kedua nya sudah melakukan hal yang lebih dan sangat intim bukan? namun berbeda dengan kisah kedua pasagan ini. mungkin lebih tepat disebut bahwa kedua nya saling menghargai cinta atau lebih tepat nya menghargai pasangan dan keputusan dari pasangan.
"emh baiklah", sambil melangkah bergandengan tangan keluar dari kamar keduanya berjalan berdampingan menuju tempat duduk mereka masing-masing.
alvin sibuk dengan mengenakan pengaman pada sang istri dan diri nya lalu menggenggam jemari sang istri seolah memberikan kekuatan pada dian.
sang istri hanya tersenyum kecil mendapatkan tiap perlakuan manis sang suami. hingga deheman winda pun tak ia hiraukan
"apa kalian habis melakukan peperangan dan kini berdamai?", winda mengeluarkan suara nya namun dian tetap tak mau memperdulikan keberadaan nya dengan ivan
"apakah kalian seperti kutu loncat sekarang?", alvin kembali bersuara saat menyadari bahwa winda dan ivan duduk berjejer dengan kursi dia dan istri nya sambil mengerutkan kening.
"emhhh aaa..aanu", ucapan winda terhenti saat ivan menggenggam jemari winda seolah memberikan kenyamanan lalu berbalik pada sumber suara itu.
"oh yah, aku lupa, kita baru saja jadian, jadi tolong kondisikan pertanyaan mu itu dan jika kau masih saja ingin bertanya lagi, tolong ketika sampai di maldives saja", ucapan ivan membuat alvin dan dian sontak sangat terkejut dengan apa yang baru saja kedua nya dengarkan
"apa???? jadian? dalam waktu yang singkat ini? waowww good", ucap dian lalu tersenyum kegirangan.
"kenapa gak boleh?", tantang winda dan menatap dian malu malu meong
"hahaha kenapa gak? tentu saja boleh.. sangat boleh", ucap dian sambil tersenyum jahil.
winda sangat mengerti maksud dari senyuman jahil sang sahabat baik nya itu.
lalu muncul ide konyol yang ada di kepala nya yamg akan membuat dian tak berkutik.
"oh yah aku lupa mau bertanya sama kamu, apakah tamu bulanan mu sudah berhenti?? bukan kah kalian akan berbulan madukan yah? gak baikloh jika tamu wajip mu masih ada disana, nanti gak bagus hasil nya kan? bisa aja gak ada guna nya kita ke maldives untuk honey month kalian berdua" , kata winda yang benar saja membuat dian tak mampu berkutik, bahkan kini wajah merah jambu nya sangat merona lalu perlahan malingkan wajah nya dari winda.
sedangkan winda? jangan di tanya apa yang terjadi saat ini pada diri nya, dia sangat senang terlihat dari wajah nya yang berseri seri seolah baru saja mendapatkan permen yang banyak saat ini seperti anak kecil sambil menggoyangkan kaki nya dan dengan gerakan tepuk tangan tak berbunyi nya dan hanya terkikik geli melihat kekalahan sahabat nya itu.
.
.
.
hay guys jangan lupa vote novel ku sebanyak mungkin yah... dukungan kalian sangat berarti bagi ku saat ini.
thank"s
god bless all ๐๐งก