My First Love

My First Love
Hal bodoh yang di lakukan joy



"Aku langsung pulang ya, sudah malam. Oya, maaf aku gak bisa bantu kamu bereskan ini. Aku sedang buru-buru sekarang." Ucap Alana, yang sudah membungkus kue nya dalam kotak yang juga sudah ia belikan tadi. 


"Alan aku antar kamu ya!!" ucap Miko. 


"Gak usah kak, ku bisa pulang sendiri. Oya, makasih ya kak. Sudah bantu aku tadi." ucap Alana. 


"Tapi , ini udah malam, Na." ucap Miko.


"Iya, tapi kak Miko juga harus istirahat. Aku bisa pulang naik taksi." ucap Alana, yang memang tidak mau nantinya dia tahu kue yang ia buat untuk siapa. 


"Baiklah, kalau begitu. Kamu sekarang aku antar kamu sampai depan ya. Sekalian aku carikan taksi nanti" ucap Miko, memegang tangan Alana. 


"Baiklah," 


Miko memegang tangan Alana, berjalan menuju ke depan rumahnya. "Kak, bisa lepaskan tangan kakak" ucap Alana. 


"Iya, maaf" ucap Miko. 


"Oya, itu taksi." ucap Miko, mengulurkan tangannya ke depan. memberhentikan taksi itu. 


Taksi berhenti tepat di depan Alana. 


"Udah, sekarang kamu cepat pergi. Hati-hati ya" ucap Miko.


"Iya" 


Taksi itu melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan Miko yang masih berdiri di depan rumahnya. 


"Kemana, non?" tanya sopir taksi itu. 


"Ke danau ya pak!" ucap Alana. 


"Malam-malam gini ke danau non" ucap sopir itu. 


"Iya, pak mau kasih kejutan buat teman aku di sana." ucap Alana, yang sudah tidak sabar memberikan kue buatanya untuk Joy. 


Tak lama perjalanan. Taksi sudah berhenti tepat di jalan raya menuju ke danau. 


"Sudah sampai non," ucap Sopir itu. 


Alana menatap ke samping, ia memang sudah sampai. Tapi sepertinya Joy belum datang. 


Alana segera memberikan beberapa lembar uang pada sopir. "Teman, non sepertinya belum datang." ucap sopir itu. 


"Tapi, sia pasti di jalan pak" ucap Alana, yang bergegas turun dari taksi. San berjalan menuju ke danau, yang terlihat gelap dan sangat sepi, hari ini langit sepertinya tidak bersahabat. Bintang dan bulan tak menampakkan sinarnya.


Seorang gadis cantik, berbadan kecil mungil Duduk sendiri, dengan rasa takut yang sudsh mulai menjalar dalam tubuhnya. Semua terlihat sudah mulai gelap, Bahkan sudha semakin sangat gelap.


Alana tetus memegang kotak kue yang sudah ia akan berikan pada Joy. Ia berharap dia akan suka dengan buatanya.


"Kenapa kak Joy lama sekali. Sudah jam seouluh, aku hampir satu jam di sini. Dan kenapa dia gak datang. Tapi aku yakin dia akan dyan, dia sudah janji, gak mungkin dia tidak menepati janjinya. Aku akan tunggu kak Joy sampai dia benar-benar ada di sini, duduk di sampingku. Oikir Alana, menciba untuk bersabar.


hembusan angin amalm, memukai menusuk ke dalam tulang sum-sumnya. Ia mendekap tubuhnya sendiri. Menahan rasa dingin semakin menjadi. Bahkan nyamuk menemani Alana di sana.


"Hari ini.. Dingin banget, apa mau hujan ya?" guam Alana, menatap ke arah langit, yang sudah semakin gelap.


-----


Di sisi lain Joy masih berdiam diri di rumah, ia sudah memutuskan untuk menjauhi Alana. Ia kini duduk di ranjang, menatap di luar yang sudah mulai hukan lebat


"Kak Joy" ucap Amera berjalan masuk ke dalam kamarnya dengan Cia dan yang lainnya. Mereka memberi kejutan Joy dengan kue buatan Amera tadi. Meski Joy tidak tahu kapan Amera membuat kue itu.


"Kalian semua, aku kira siapa" ucap Joy, tersenyum tipis.


"Maaf, gak bisa ngerayain pesta mewah. Lagian sederhana gini juga Joy suka kan?" ucap Keyla, memeluk tubuh anaknya yang sudah mulai dewasa.


"Suka ma, lagian kalian kenapa ja. segini belum tidur?" tanya Joy.


"Kita mau kasih kejutan buat kamu" ucap Amera.


"Oya, Joy. Kamu tadi bertemu dengan Alana gak?" tanya Cia, menghancurkan keceriaan dalam raut wajah Joy.


"Bukannya dia sama Miko, kenapa tanya denganku" ucap Joy.


"Kata Miko dia sudah pulang naik taksi, dan Alana gak mau di antar Miko" ucap Cia, semua di sana tercengang. Suasana yang semula bahagia, berbuha menjadi rasa cemas dan Khawatir.


Joy, berlari keluar dari kemarnya. Menuju ke kamar Alana, ia membuka kamar Alana, sama skelai tidak menemukan Alana, dengan wajah yang sydha mulai panik Joy membuka kamar mandi Alana, ia juga tidak ada di dalam. Rasa panik dan Khawatir Joy semamin menjadi.


"Di mana Alana, berarti memang dia belum pulang" ucal Joy lemas s ekana tak berdaya lagi berdiri. Ia duduk di ranjang, memegang kepalanya.


"Giamna Joy, Alana ada di dalam?" tanya keyla dan yang lainnya masuk ke dalam kamar Keyla.


"Gak ada ma?" ucap Joy lirih.


Apa Alaan oergi kendanau, seperti yang aku bilang. Tapi kenapa dia kesana. Bukanya dia gak suka dengan aku. Sepertinya aku harus cepat ke sana. Di luar hujan deras, Alana tidak bawa payung tadi.


"Biar aku saja yang cari Alana, jadi kalian semua tetap di sini Di luar hujan lebag, jadi biar Joy saja yang cari Alana." ucap Joy, beranjak bediri.


"Baiklah, kamu hati-hati Joy" Ucap Alvin.


Jiy segera berlari, menuju ke parkiran mibilnya, ia segera masuk ke dalam mobil. Dna melajut oesat dengan kecepatan tinggi menembus hujan lembat.


"Alan tunggu aku.. Alana, kenapa kamus angat bodoh. Hujan seperti ini kenapa kamu menungguku. Aku yidak memaksamu. Pikir Joy, yang tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri.


Ia terus memukul setir mobilnya berkali-kali, menghilangkan rasa kesal dalam dirinya. Ia merasa bersalah tidak dtang ke danau dari tadi.


Joy, berhenti di jalan menuju ke danau, ia berlari penuh rasa khawatir dalam dirinya tanpa menggunakan payung, ia berlari menembus hujan deras, yang kini semakin lebat. Ia berlari menunu ke danau, berusaha mencari Alana, dengan pandangan mata yang sudah tidak terlalu jelas.


"Alana..."


"Alana.. kamu di mana?" teriak Joy, mencoba terus mencari Alana.


"Kak, Joy." ucap Alana Lirih, ia menginggil kedinginan, dengan bibir terlihat sudah mulai membiru.


Koy yang mendengar suara Alana, mencoba mencarinya. Matanya tertuju pada kursi di bawah pohon. "Alana" ucap Joy, seketika memeluk tubuh Alana erat, di bawah guyuran hujan.


"Aku khawatir dengan kamu, kenapa kamu bodoh. Kenapa kamu datang" ucap Joy, melepaskan pelukannnya. Ke dua tangan memegang pipi Alana.


"Dia dingin banget.." ucap Joy.


"Kak, Joy akhirnya datang. Aku dingin kak.. Dingin


banget kakk. " ucap Alana yang semakin mengigil.


Joy melihat bibir Alana sudah semakin membiru. Ia mengecupan bibir Alana, membuat rasa sakit hanya sebentar. Alana yang sudah lemas, ia hanya bisa menatap samar, menerima begitu saja kecupan dari bibir Joy.


Joy, segera mengangkat tubuh Alana, masuk ke dalam mobilnya. Alana sudah tidak sadarkan diri, tubuhnya semakin menjadi mengigil. "Apa yang harus aku lakukan?" ucap Joy, yang bingung apa yang harus ia lakukan dengan Alana.


"Apa aku harus melakukan itu. Taoi sekarsng itu satu-satunya. Aku yakut ke rumah sakit ia sudah tidak tertoling. Tubuhnya benar-benar dinin. Apalahi aku gak bawa baju ganti... hanya itunyang bisa aku lakukan sekarang.. Maafkan aku Alana.


Joy, meletakkan tubuh Alana ke dalam kursi belakag mobilnya. Melihatnya semakin kedinginan, ia tidak punya cara lain. Maaf Alana.. " Ucap Joy, menutup rapat ointu mobilnya. Ia melepas semua helaian kain basah yang menempel di tubuh Alana. Ia melakukan hal untuk untuk membuat Alana merasa hangat, setidaknya bertahan sampai ia bisa bawa ke rumah sakit.


Joy, mendekap tubuh polos Alana, Memeluknya erat. Membuat Joy laki-laki normal yang gak bisa menolak melihat apa yang ia lihat. Ia yang semula hanya ingin mendekap Alana, berubah haluan mencoba melakukan hal gila yang membuat Alana sempat kesakitan. Hingga Joy yang sudah mulai ngantuk ia tertidur di atas Alana.


Keesokan harinya, Joy yang bangun lebih dulu. Sebelum Alana tahu semuanya. Ia segera.memakaikan semua helaian kain milik Alana. Dan Joy juga segera memakin bajunya, dan bergegas pergi pulang ke rumahnya.


"Kak.. Joy.. " ucap Alana, yang barus saja terbangun, dengan tangan memegang kepalanya yang terasa sangat pusing. Ia merasak nyeri juga di bagian miliknya. "Aku kenapa kak, sakit!!" tanya Alana pada dirinya sendiri. Ia tidak sadar dengan apa yang di lakukan Joy padanya.


"Alana, kamu sudah bangun?" tanya Joy, tersenyum menatap ke belakang.


"Alana bentar!!" ucap joy, menghentikan mobilnya. Ia mengancingkan baju Alana yang masih terlihat.


"Jangan sentuh aku kak" ucap Alana menepis tangan Joy.


Aku membantu kamu saja sudah marah. gimana jadinya, jika kamu tahu. Aku telah menodaimu. Gimana jadinya jika, dia tahu. Pasti akan marah denganku Dan akan benci selamanya denganku. Aku takut semua marah denganku.


" Alana, kenapa kamu kemarin di sana?"


"Aku menunggu kak Joy, mau berikan roti. Tapi rotinya sudah hancur kena hujan" ucap Alana lirih dengan kepala sedikit menunduk


"Alana, sekarang telepon orang tua kita, kalau kamu sama aku baik-baik saja" ucap Joy.


"Aku gak bawa ponsel kak" ucap Alana polos.


"Ya, udah aku saja."


Joy segera mengubungi orang tuanya.


"Joy.. Joy kamu di mana sekarang.. dan Alana di mana. Apa kamu sudah menemukannya? Apa Alana baik-baik saja" Semua pada ribut manghkhawatirkan Alana.


"kalian bicara sendiri saja dengan Alana." Joy memberikan ponselnya pada Alana.


"Aku baik-baik saja Ma, kalian semua jangan khawatir. Aku sehat kok. Kak Joy yang menolongku. "


"Ya, sudah kalian cepat pulanglah. Di sini sudah pada khawatir dengan kalian" ucap orang tua Alana.


"Iya, ma. Ini aku juga mau pulang. Sama kak Joy." ucap Cia, memberikan ponselnya pada Joy.


Joy meraih ponsel di tangan Alana. "Ma, gak usah khawatir kita baik-baik saja." ucap Joy, mengakhiri panggilannya.


"Alana, kamu perlu ke rumah sakit gak?" tanya Joy.


"Gak Usah kak?" ucap Alana.


"Beneran gak usah?" tanya Joy.


"Aku gak mau ke rumah sakit." ucap Alana.


"Ya, udah kita langsung pulang" ucap Joy.