
Alana yang baru saja mandi, ia segera bersiap untuk mengeluarkan kopernya. Sebelum banyak orang bangun nanti. Dan jika pembantunya tahu, pasti akan bilang pada mamanya.
"Masih setengah tiga, aku harus segera turun. " ucap Alana, meletakkan sebuah surat di atas meja. Yang ia tulis kusus untuk semua keluarganya nanti. Ia tidak mau jika mereka semua khawatir. Tapi dia juga tidak mau jika Papa dan mama-nya nanti tahu pasti tidak akan mengijinkannya juga. Ia lebih memilih untuk tetap diam. Dan menulis surat.
Semoga mereka membaca surat ini, tapi aku berharap jika mereka tidak mencari aku nanti. Aku ingin bisa bebas. Setelah sampai aku akan ganti nomor ponsel baru, biar tidak ada yang bisa menghubungiku lagi.
Merasa sudah beres semuanya. Alana menarik tas yang ada di meja belajarnya. Lalu mengambil kopernya bergegas keluar dari kamarnya. Ia merapikan tas kecil, membawa di tangannya.
"Untunglah, sepi. Gak ada yang tahu. Kalu aku pergi, itu levih baik." Alana berjalan mengendap-endap, dengan tangan mengangkat kopernya yang terasa sangat berat. David yang melihat Alana, ia segera membantunya, mengangkat koper Alana.
"Biar aku bantu, kamu ambil saja tas kamu yang masih di dalam." ucap David, segera membawa tas Alana keluar tepat di depan gerbang rumahnya. Lalu ia giliran mengambil kopernya yang masih berada di dalam kamarnya.
Alana yang sudah membawa tasnya berlari turun, dengan memelankan kakinya untuk keluar dari rumahnya.
"Di mana David?" tanya Alana pada dirinya, ia hanya melihat kopernya yang ada di depan rumahnya.
"Hah.. Mungkin dia lagi ambil kopernya. Awas saja kalau dia lama, aku tinggal dia. Lagian ku bisa cari ibu aku sendiri. Semoga Tuhan.. menolongku, dan mempertemukan aku dengan Ibu aku.
Jarum jam sudah menunjukan pukul 3 dan taksi baru saja datang. Ia yang mengira pesawat akan take off jam 3, ternyata ia salah setelah melihat lagi jam berapa take off pesawatnya.
"Alana!!" panggil David, yang langsung memasukan kopernya ke dalam bagasi yang sudah di buka oleh sopir taksi. Semua barang sudah si masukkan dan juga barang David yang sangat banyak membuatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Alana tak mau menunggu David, yang masih menatap ke rumahnya.
Pasti dia menatap kamar Cia. Udah tahu Cia tidak suka dengannya. Tapi kenapa dia masih saja mengharapkan Cia. Benar-benar cinta itu memang aneh, membuat orang yang merasakannya jadi gila.
Mau sampai kapan kamu di situ, terus. Keburu telat nanti. Kalau kita ketinggalan pesawat kita gak bisa berangkat lagi, kecuali nunggu dua hari lagi.
"Iya!!" David menghela napas panjangnya, dan beranjak masuk ke dalam taksi.
"Udah, pak cepat jalan. Ke bandara ya." ucap Alana pada sopir taksi.
"Iya, non." Sopir taksi itu melaju dengan kecepatan sedang, pergi mulai menjauh dari depan rumah Alana.
Alana mengambil ponselnya, di dalam tas kecil yang ia bawa. Ia segera mengirimkan pasan pada Miko. Ia tahu jika pesawat Miko akan take off jam setengah Lima pagi. Ia berharap bisa bertemu dengannya. meski hanya sebentar.
"Kamu nagapain?" tanya David, hanya melirik sekilas ke arah Alana, yang dari tadi terlihat sangat cemas, memegang ponselnya
"Gak usah Ingin tahu apa yang aku lakuin," ucap jutek Alana.
"Lagian ekspresi wajah kamu itu, membuat aku merasa kesal. kamu menganggu aku mau tidur sebentar."
"Lagian kenapa kamu tidur, kalau mau tidur nanti di pesawat. jangan di sini. Mau aku tinggal, jika kamu ketiduran di sini."
"Emm.. Iya, iya, bawel. Aku kira jika kamu itu orang pendiam. Tapi sekali kamu bicara, seperti kereta api yang gak ada hentinya" umpat kesal David, memalingkan wajahnya berlawanan arah dnegan Alana, ia tidak perduli lagi apa yang Alana lakukan. Namun matanya seakan penasaran, kenapa dia terlihat gusrah. Seakan mengharapkan sesuatu.
Apa dia menghubungi pacarnya, terus gak di angkat, tau pacarnya lagi sibuk, tau dia lagi selingkuh lagi.
"Shitt.. Kenapa dia gak jawab telepon aku, sudah hampir sepuluh kali aku menghubungi dia. dan susah dua puluh kali aku kirim pesan. Gak ada jawaban darinya." decak kesal Alana, marah-marah dnegan ponselnya sendiri.
Alana yang sudah terlihat sangat kesal, ia mematikan ponselnya dan segera memasukan lagi ke dalam tasnya.
"Gimana? Bisa di hubungi dia?" tanya David, dengan senyum menggoda.
"Gak tahu!!" jawab jutek Alana, memalingkan pandangannya, ia melipat ke dua tanganya, di atas dadanya. Bibirnya mantun beberapa senti.
"Biar aku yang bawa, kamu pergi amsuk kw dalam pesawat saja dulu."
"Terus kamu?" tanya Alana bingung.
"Aku bisa menyusul, tenang saja. Aku pasti akan cepat menyusul. Hanya menaruh barang saja kan." ucap David.
"Baiklah," ucap Alana.
------
10 menit kemudian, Alana yang sudah menunggu David di dalam pesawat. Ia tak berhenti menatap ke luar, sebelum pesawat take off, kenapa dia tidak datang juga. lama sekali dia. Apa dia masih mencari Alana tadi.
Alana tidak berhenti memandan jam tangannya, kali ini ia memaki jam tangan pemberian dari Joy. Melihat jam tangan itu, seketika ia teringat dengan Joy. Ia sengaja tidak berpamitan dengan Joy kali ini. ia tidak mau membuat Joy khawatir nantinya. Lagian Joy pasti akan menghalanginya untuk pergi lebih dulu.
Brukkk...
David, duduk tepat di samping Alana. Dengan napas yang masih ngos-ngosan. Ia meletakan bukunya.
"David!! Kamu dari maan saja tadi?" tanya Alana kesal.
"Ini... Aku.. "ucap David terpatah-patah, seakan mulutnya tersendak, dengan napas yang sudah di ujung tanduk. Gara-gara buku, ia harus berlari maraton untuk masuk ke dalam pesawat itu.
"Lebih baik kamu tarik napas dulu dalam-dalam, lalu keluarkan perlahan." ucap Alana.
David mengatur napasnya, sesuai apa yang di katakan Alana. Perlahan napasnya mulai teratur, ia duduk menyandarkan punggungnya. "Haahh.. Aku kira tadi sudah telat, lagian mencari buku ini lama banget" ucap David, memegang sebuah buku novel yang ada di du dekapannya ini.
"Emangnya buku apa?" tanya Alana, mekirik ke arah tangan David.
"Hak usah lihat-lihat. Bukanya kamu lebih punya banyak buku?" ucap David.
"Semua buku aku sudah aku paketkan, ya. Mungkin sekitar atau mungkin bisa tiiga minggu lagi sampai di inggris"
"Gak tanya!!" ucap David, yang mulai membuka bukunya, dan melanjutkan bacaan-nya tadi yang hampir sampai halaman tangah.
Alana, menggertakkan giginya, menatap kesal, seakan ingin sekali memukul laki-laki nyebelin di sampingnya itu. "Ihh... Dasar nyebelin. Entah kenapa aku menuruti apa yang dia inginkan. Dan kenapa juga aku membelikan tiket pesawat untuknya. Benar-benar nyesel aku." gerutu Alana dalam hatinya.
Pesawat sudah mulai take off, Alana yang masih sangat ngantuk tidur tadi saja baru beberapa jam.
------
Keyla yang sudah terbangun, ia meraba sampingnya. Seketika ia membuka matanya lebar, melihat dia sudha berbaring di kamar bersama suaminya.
Bukanya kamarin aku ada di dalam bathup kamar mandi, tapi kenapa sekarang di aini. Apa dia yabg membawa aku ke kamar.
Keyla menatap tubuhnya di balik selinut, seketika ia terbayang lagi kelakuan bejat Ian padanya. Mengingat itu, ia hanya bisa meneteskan air matanya, memeluk suaminya itu. Seakan tidak ingin jauh darinya.
Keyla menatap Alvin yang masih tertidur, dengan jemari tangan mengusap.lembut wajahnya, lalu mengecup bibinya.
"Maaf!!" ucap Keyla dalam hatinya.
Alana mencoba beranjak dari ranjangnya. Dnegan langkah yang masih sangat berat. Sakit akibat ulah brutal Ian membuatnya sangat tersiksa. Jalan saja harus menyeret.
"Ian aku yang menganggap kamu sudah berubah. Ternyata anggapan aku salah. Kamu punya dendam yang sangat mendalam denganku. Kamu benar-benar tersakiti olehku." gerutu Keyla, sembari menarik kakinya menuju ke kamar mandi, yang dekat tapi terasa sangat jauh dari hadapannya.