
Burung-burung kini mulai berkicau ria, seakan mereka tahu. Perasaann hati sang pemilik rumah. Yang memang lagi fi landa asmara.
Matahari mula menembus balik kaca kamar Alana. Hari ini adalah ujian ke dua mereka. Kurang tiga hari lagi untuk menyelesaikan semua ujianya.
Jarum jam sudah menunjukan pukuk enam dua puluh menit.
Gadis cantik dengan rambut terurai sebahu kini ke dua tangannya sibuk mengucir rambutnya, di depan kaca. Ia menata rapi helaian poni yang menutupi dahinya.
Dan Joy, hari ini tidak mengganggunya lagi. Mungkin memang ini saatnya mereka memulai hidup baru. Sebagai kakak adik selayaknya. Bukan mengedepankan perasaan mereka. Dan Alana, ia untuk tetap bersama dengan Miko. Mencoba mencintai dia, ya. Meskipun sulit baginya. Tapi tidak ada salahnya jika dia terus nencoba. Ia tidak mau jika perasaannya dengan kakanya semakin mendalam.
Dan perjanjian kemarin sudah kelas, mulai sekarang Joy akan menjauhinya. Dan melupakan perasaannya dengan Alana.
"Non, sudah di tunggu teman, Non Alana, di depan." ucap bi Ijah.
"Iya, bi aku sudah selesai kok," Alana segera meraih tasnya. Menggendong tas ransel kecil di punggungnya. Ia merapatkan tasnya di pundaknya. Dan bergegas keluar dari kamarnya.
Dengan senyum ceria terpaut di wajah cantiknya. Yang kini penampilannya juga terlihat sangat berbeda dari biasanya. "Alana, kamu gak makan dulu?" tanya Sheila, yang kebetulan melintas di samoingnya.
"Gak tante, aku algi buru-buru" ucap Alana, yang langsung pergi begitu saja. Meninggalkan Joy dan yang lainya. Mereka masih makan di meja makan bersama.
Joy yang semula perhatian dengan Amera, berbicara dengannya di meja makan. Ke dua matanya tertuju pada Alana yang terlihat sangat berbeda. Aura wajahnya kini semakin memancarkan kecantikan luar biasa hang selama ini tersembunyi di wajah mungilnya.
Rambut kepang satu, dengan helaian poni di keningnya, menyilang di kanan dan kiri.
-----
"Kenapa Alana sekarang berubah?" tanya Keyla, pada ke dua anaknya.
"Entahlah," ucap Cia, dengan nada datarnya. Ia melirik tajam ke arah Joy. Cia mulai teringat kejadian tadi malam, yang membuatnya naik darah, jika terbayang hal itu.
"Kenapa kamu melirikku seperti itu," tanya Joy, yang masih melahap roti gandum di tangannya.
Cia hanya diam, ia melirik tajam ke arah Joy. Dan beranjak menarik tas rangsel yang tegeletak di atas kursi sampingnya. "Ma, Pa, Tante, Om. Dan kalian semua aku pergi dulu," ucap Cia, beranjak pergi dari meja makan.
"Iya, Cia." ucap Sheila.
Alvin dan Keyla saling menatap ke sekian detik dengan pandangan wajah bingung mereka. Mereka melirik ke arah Joy.
Alvin manerik alisnya ke atas, dengan anggukan kepala ke atas satu kali. Seoalah ia bertanya pada Joy yang duduk di depannya.
Jiy hanya memberikan isyarat dengan ke dua tangan di tekuk ke samping, dengan bibir mengerut ke bawah, menarik ke dua alinya ke atas.
"Entahlah," ucap Joy.
"Joy, kenapa Cia?" tanya Keyla, menatap ke arah Joy. Yang memang sepertinya menyembunyikan sesuatu darinya.
"Aku juga gak tahu, Ma" ucap Joy dengan santainya. ia semakin melahap habis roti gandum yang ada di depan piringnya.
"Ya, sudah kamu makan dylu. setelah itu cepat pergi. Apsti Cia sufah menunggu kamu di depan." ucap Keyla beranjak berdiri.
"Aku siapkan dulu bekal buat dia, dan sekalian berikan pada Alana ya," ucap Keyla. Yang mulai melangkahkan kakinya masuk ke dapur. Mengambik dua kotak makanan untuk bekala anaknya itu.
Tak butuh waktu lama Keyla keluar, ia melihat Joy. yang sudah muali bersiap. "Mana, Ma?" ucap Joy.
"Ini, jangan luoa kasih mereka."
"Iya,"
Joy beranjak pergi, ekilas ia melirik Amera, yabg dari tadi tidak berhenti menatapnya. Joy mengibasakn tangannya ke arah Amera. mmebuat wajah gadis itu merah muda seketika.
-----
"Sepertinya Joy suka denganmu," ucap Keyla, tersenyum melihat Amera yang masih tersipu malu di buatnya.
"Gak mungkin tante," jawab Amera malu-malu.
"Jika kalian pacaran, tante gak akan melarang kalian." ucap Keyla.
David hanya senyum tipis, ia tahu jika Amera pasti akan di buat mainan dengan Joy. Joy hanya menggoda kakaknya itu.
-----
Miko terdiam, menatap wajah cantik Alana
"Sama-sama, udah gak perlu ucap terima kasih. Aku harusnya antar jemput kamu. Karena sekarang aku udah jadi pacar kamu. Jadi tanggung jawab aku ke kamu. Aku harus selalu jaga kamu." ucap Miko, duduk di atas montornya. Mengusap lembut pipi Alana.
Alana terdiam seektika, ia teringat saat apa yang di ucapkan Joy. Jika sekarang dirinya sudha tidak suci lagi. Dan apakah dia mau acaran dengannya, apa dia masih mau menerimanya apa adanya. Hal itu terus menghantui Alana, saat ini. Apalagi saat melihat Miko sangat baik dengannya selama ini. Bahkan dia hampir saja mengetuk hatinya, namun Joy lebih dulu menerobos masuk dalam hatinya. Tak memberi celah orang lain untuk masuk.
"Kenapa kamu diam?" tanya Miko, memegang tangan Alana.
Alana tersadar dari lamunanya, tersenyum kembali menatap Miko. "Gak ada apa-apa kok kak." Alana mencoba mencari Alasan.
"Ya, udah ayo masuk" Miko, turun dari montornya. Ia memegang tangan Alana.
Gadis itu terdiam, menatap ke bawah beberapa detik, melihat tangan Miko yang begitu erat, menggenggamnya. Lalu menatap ke arah Miko.
"Ada apa, menatapku?" tanya Miko, mengusap lembut ujung kepala Alana.
Alana hanya tersenyum, dan melanjutkan langkahnya lagi.
Dia memang berbeda. Hari ini kamu terlihat sangat cantik, Alana. Pikir Miko, melangkahkan kakinya berjalan mengikuti langkah kaki Alana.
"Kak, Miko makasih. Udah di anterin. Nanti aku mau ajak kak Miko pergi ke cafe. Aku yang antar deh. Sebelum." ucap Alana malu-malu di buatnya.
Alana terdiam, ia menatap Alana. memegang keningnya. Seketika ia mengerutkan ke dua keningnya.
"Gak kenapa-napa" gumam Miko lirih.
"Emangnya aku kenapa?" tanya Alana.
"Gak apa-apa, kamu berubah. Jadi aku kaget saja. bukanya belajar tapi malah ajak aku ke cafe." ucap Miko.
"Hanya sebentar, satu jam saja kak. Pulang sekolah. Setalah itu nanti malam aku sibuk belajar
Jadi aku gak ada waktu lagi buat hubungi kak Miko." ucap Alana.
Miko hanya diam, menatap Alana bingung. Ia mau senang tapi seakan hatinya berkata lain. Ia melihat keanehan dalam diri Alana.
"Udah, aku masuk kelas dulu. Bye.." ucap Alana, melangkahkan kakinya masuk ke kelas. Dangan tangan melambai ke arah Miko.
Bruukkkk...
Miko yabg baru saja membalikkan badanya, ia menbrak seseorang di deoannya.
"Joy!!"
"Alana mana?" tabya Joy jutek.
"Di dalam, kenapa?" Miko membalas lebih jutek.
"Aku mau kasih bekalnya," ucap Joy, mencoba masuk. Namun dengan sigap, Miko menghalangi Joy untuk masuk ke kelas Alana.
"Minggir," bentak Joy, mendorong bahu Miko menjauh darinya.
Joy beranjak masuk ke dalam kelas Alana. Meletakkan bekal tepat di mejanya. "Ini," ucap Joy datar.
"Apa kak?" tanya Alana, terkejut melihat Joy tiba-tiba di depannya.
"Dari mama,"
"Oo.. makasih,"
"Ya, sudah. Jangan lupa di makan nanti. Aku pergi dulu." Joy beranjak pergi tanpa menunggu Alana menjawab ucapanya.
Kak Joy, benar ia perlahan sudah bisa cuek denganku. Sekarang dia pergi dariku. Tanpa senyum di wajahnya.