
"Kak mik, udah ini saja. Gak usah beli banyak-banyak. nanti siapa juga yang makan kalau buat kue banyak-banyak." gumam Alana.
"Biar aku saja yang makan. Aku sanggup makan semua kue niatan tangan mungil mu ini," ucap Miko, memegang tangan kanan Alana.
"Lihatlah tangan kamu ini" ucap Miko.
"Kenapa?" Alana membuka telapak tangannya, melihat detail tangannya.
"Tangan kamu ini ada yang kurang. Sebelum kita pergi, harusnya tangan ini berada di sela-sela tangan kamu. menggenggam erat tangan mungil ini, menuju masa depan berdua" ucap Miko, membuat Alana hanya bisa diam. Tersenyum tipis.
"Udah sekarang kita bayar dulu ke kasir" ucap Alana.
"Baiklah, aku yang akan membayar semua tagihannya" ucap Miko, menggandeng tangan Alana berjalan menuju ke kasir.
Selesai membeli beberapa bahan kue dan sudah membayar bahan belanjaan nya. Alana pergi ke rumah Miko. Yang memang hari ini nampak sangat sepi. Tidak ada orang sama sekali di rumahnya. Hanya beberapa pembantunya.
"Orang tua kamu kemana?" tanya Alana, menatap sekelilingnya yang terlihat sangat sepi.
"Mereka kerja!!" ucap Miko datar. "Udah, ayo sekarang cepat bikin kue, kamu mau bertemu dengan teman kamu jam berapa?" tanya Miko.
Alana melihat jam diding yang terpasang di dapur, menunjukan pukul tujuh malam. "Tadi kita celat benget ya, beli bahan kue ini. Ya, udah sekarang kamu cepat bantu aku, siapkan semuanya" ucap Alana, yang muali mengeluarkan bahan belanjaannya.
"Siap"
Miko dengan cepat membantu Alana, membantu membuat kue step by step.
-----
di kamar luas, milik Alvin dan Keyla, dua pasang suami istri itu duduk berdua, membahas tentang anak-anaknya. Dengan sneyum manja, saling berbicara manis.
Mereka tidak pernah berhenti membahas masa depan untuk anak-anaknya.
Keyla, melirik ke arah Alvin.
"Syang, sebenarnya David itu anak siapa?" bukannya anak Ian dan sheila itu hanya Amera. Dan semenjak Amera lahir, ia tidak bisa punya anak lagi," tanya Keyla penuh keraguan dalam hatinya.
"Jadi kamu tahu tentang itu. Ya, semenjak Amera lahir. Memang dia sudah tidak bisa punya anak. Apalagi dia juga pernah keguguran dulu. David itu anak saudara ian. Apa kamu gak tahu kalau Rayan sudah meninggal karena kecelakaan hebat yang terjadi waktu lalu. Saat David masih kecil." ucap Alvin.
Mendengar hal itu, Keyla tercengang seketika. "Gimana bisa, kenapa mereka semua tidak memberi tahu aku. Dan kenapa mereka semua menyembunyikan dariku." ucap keyla, yang masih belum percaya dengan apa yang ia dengar. "dan kamu kenapa tidak memberi tahu aku juga, knapa. " ucap Keyla, mendorong-dorong tubuh Alvin. "Kenapa semuanya tega denganku. aku juga ingin melihatnya untuk yang terakhir, meski bukan saudara kandung. tapi dia sudah aku anggap saudara sendiri" ucap Keyla, yang tiba-tiba meneteskan air matanya.
Alvin memegang ke dua bahu keyla, mengusap lembut pipinya, menyeka air mata yang jatuh di matanya.
Keyla terdiam seketika, ia menunduk penuh kesedihan dalam dirinya. "Bulan depan jika kita jadi pindah, aku ingin kamu antar aku ke makanya. Aku belum sama sekali melihatnya saat-saat terakhir." ucap keyla. yang sudah mulai tenang, hatinya sudah mulai luluh oleh sentuhan lembut rambut Alvin.
"Baiklah, syang!! Sekarang kamu jangan sedih ya. Jangan bicara lagi soal orang tuanya saat David ada di sebelah kita. Aku takutnya dia akan mengalami kesedihan lagi yang mendalam. Karena semenjak kejadian itu, David benar-benar terluka. bahkan dia mengurung dirinya di kamar beberapa hari. Ia apalagi setelah kepergian papanya, ibunya yang kritis di rumah sakit juga tiba-tiba meninggal. kesedihannya juga semakin kenjadi, dan lihatlah sekarang David jarang sekali bicara. Ia lebih memilih diam, dan mendengarkan." ucap Alvin menjelaskan.
"Kasihan dia syang!! Di usianya yang masih sangat belia, bahkan masih kecil sudah harus kehilangan orang tuanya." ucap Keyla, menyadarkan kepalanya di bahu Alvin.
Alvin mengusap lembut pipi kiri Keyla lembut. "Syang, aku berpikir jika Cia itu cocok dengannya." ucap keyla, membuat Alvin, menatap ke arahnya.
"Maksud kamu gimana syang?" tanya Alvin. "Apa kamu mau menjodohkan mereka?" lanjutnya.
"Aku gak mau menjodohkan. Kesannya terlalu memaksa Cia nantinya Biarkan saja memilih, tapi jika mereka dekaf, jangan larang dia. Biar binih cinta itu tumbuh dalam hati mereka. Aku juga tidak mau memaksakan cinta naka-anak kita, mengikat dalam perjodohan, yang akan membuat mereka jadi marah dnegan aku. Jika mereka tidak setuju"
"Baiklah, terserah kamu saja. Sekarang. Aku mau sesuatu dari kamu" ucap Alvin, memegang dagu Keyla, sedikit menariknya ke atas.
"Emangnya kamu mau apa?" tanya Keyla, dengan senyum manis terpancar di wajah yang memang sudah perlahan sudah mulai menua.
Alvin, mengecup bibir Keyla lembut, tanpa penolakan dari Keyla. Yang sudah mahir dengan hubungan meraka. bahkan keyla saling membalas, dengan tangan merangkul leher Alvin, semakin mendekatkan dan memperdalam kecupannya.
Alvin, memegang pinggang Keyla, menariknya ke dalam dekapan hangatnya. Kemudian membaringkan tubuh Keyla, istri tercintanya itu. Ke atas ranjang, tanpa melepaskan kecupannya. Mereka saling berguling di atas ranjang nya. Saling membalas, merengkuh semakin erat. Alvin dengan lihainya. Membuang helaian kain, yang menghalanginya, ke lantai. Ia menutup sekujur tubuhnya dengan selimut tebal, dengan badan menyatu dalam dekapan hangat.Saling memuaskan hasrat biologis mereka dalam sebuah olah raga hentakan tubuh.
Meski tak sekuat dulu, Alvin tidak pernah lupa setiap pulang. selalu meminta jatah pada istrinya. Hingga berhari-hari, sampai dia balik lagi ke landon.
Alvin yang sudah mulai lelah, ia mengakhirinya. berbaring di samping Keyla. Mengecupnya tengkuk yang di penuhi helaian rambut tipis istrinya. "Terima kasih sayang" ucap Alvin. Memeluk erat tubuh Keyla dari belakang.
"Untuk apa" ucap Keyla, memegang tangan Alvin di tubuhnya.
"Hari ini kamu sudah memuaskan. Aku sangat berterima kasih telah di berikan istri yang selalu mengerti suaminya. Kamu itu terlalu sabar Key." ucap Alvin, yang tidak berhenti bermanja ria dengan istrinya.
-----
Dan sedangkan Alana sekarang sudah selesai membuat kue pertamanyanya. "Kamu coba syang, siapa tahu kamu suka juga" ucap Alana.
"Emangnya kalau aku suka, kamu mau beri salah satu kue nya padaku?" tanya Miko.
"Iya, Tapi besok-bersok ya, Sekarang aku kasih sisanya saja ya. " Goda Alana.
"Hemm.. Baiklah. sekarang kamu mulau langsung pulang tidak?" tanya Miko, melihat jam diding yang sudha menunjukan pukul sembilan malam. Dan sudah satu jam, mereka membuat kue sederhana untuk orang yang spesial Alana.