
Alana berjalan ringan memdekati Cia dan Miko di meja gak jauh daei temoat ia berdiri. Bahkan wajahnya masih kaku tak nampak senyum sama sekali dari wajah cantiknya.
" Hai sini adikku tersayang" Cia merengkuh pundak adiknya itu, untuk segera duduk di sampingnya. Dan Joy lebih memilih duduk di samping Alana dari pada harus duduk bersama dengan Miko. Sepertinya perseteruan mereka terbawa di kantin. Bahkan mereka saling menatap tajam. Entah siapa yang memulai duluan sebuah perseteruan itu.
Tatapan mereka saling terkunci seakan ada aliran listrik menjalar-jalar di mata mereka. Alana tahu kakaknya itu tidak terlalu suka dengan Miko, tetapi ia tak perduli dengan itu semua. Karena Alana paling tidak suka mencampuri urusan orang lain. Baginya mengurus diri sendiri saja masih sulit, jadi kenapa harus mengurus urusan orang lain. Itu masalah dia dan tak ada hubungannya denganya. Ia seolah sangat acuh pada masalah orang lain. Namun tidak dengan masalah orang yang di anggapnya sangat membutuhkan.
Braakkkkk...
Gebrakan meja oleh ke dua tangan Cia itu tepat di depan mereka. Cia tak suka ada aroma pertengkaran jika di sampingnya.
" Apa kalian masih mau terus saling memandang, lebih baik kamu adikku joy, pesan makanan untuk Alana serta minumannya juga" Ucap Cia dengan nada semakin meninggi.
Joy terdiam, ia menarik bibirnya sedikit bejalan pergi tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya, " Dan kamu Ko.. miko.. kenapa kamu selalu cari gara-gara. Sudah gerah telingaku mendengar pertengkaran kalian hanya gara-gara masalah cewek jalang itu" Ucap Cia dengan senyum sinisnya.
Miko terdiam, entah kenapa ia telinga tentang wanita itu lagi. Wajahnya langsung menunduk, seraya bayangan wanita itu selalu muncul mengganggu pikirannya. Meskipun hatinya kini sudah ia berikan pada Alana, si gadis cuek yang membuat ia semakin tergila-gila.
" Kenapa kamu dia, apa kamu gak suka aku mengatai dia jalang. Coba deh kamu pikir, kalau dia bukan wanita jalang tidak mungkin dia menyukai adikku Joy" Gumamnya.
Miko berpikir ada benarnya apa yang di kaatakn Cia, wanita jalang itu juga tak pantas di pikirkan. Sekarang ia semakin yakin untuk mendekati Alana.
Miko mendongakkan kepalanya menatap Alana yang sibuk dengan bukunya, bahkan ia sesekali tak memandangnya. Miko mengehala napasnya menahan rasa kesal yang mencambuk hatinya. " Butuh perjuangan keras untuk mendapatkan sebuah perhatian kecil dari Alana" Gumamnya sembari terus menatap wajah serius Alana, yang semakin cantik saat ia menunduk membaca buku, rambutnya menggelantung jatuh ke bawah menempel ke pinggir meja.
Cia tahu kemana arah pandangan Miko tertuju, ia terus menatap adiknya itu, yang sibuk sendiri dengan bukunya. Ia tak perdulikan suara riuh di sekitarnya. Bahkan omongan keras Cia di sampingnya saja ia tak perdulikan itu.
Miko beranjak berdiri, namun saat ia mau melangkahkan kakinya, ia menatap Joy sudah berjalan mendekati Alana dengan segelas minuman jus Strawbery kesukaannya. Dan makanan bali yang ia sukai.
" Ini cepat makan" Ucap Joy menyodorkan makanan ke arah Alana. Wanita itu hanya terdiam sibuk membaca bukunya.
Joy segera menarik buku Alana, dan duduk di sampingnya.
" Sudah bacanya, sekarang kamu makan" Ucap Joy. Ia menyendok makanan di piring milik Alana dan mencoba menyuapinya.
" Haaa.. " ucap Joy sembari mulutnya menganga mempraktekkan.
" Apaan sih kak" Ucap Alana menepis tangan Joy dari depannya.
" Aku bukan anak bayi lagi, aku bisa makan sendiri" Ucapnya dengan wajah terlihat sangat datar. Bahkan kini ia terlihat sangat kesal dengan kakaknya
Cia tersenyum tipis melihat ekpresi kesal Miko di depannya. Mau mendekati tapi tak bisa terhalang Joy yang baru saja datang dan duduk di sampingnya.
Alana segera menikmati makanan di depannya. Selesai makan ia beranjak berdiri meraih buku di depan joy, lalu beranjak pergi tanpa seuntai kata keluar dari mulut Alana. Bahkan sebuah kata terima kasih saja tak terucap.dari mulutnya.
Miko beranjak berdiri, ini kesempatannya untuk mendekati Alana, sebelum jam pelajaran akan di mulai lagi.
" eh kamu mau kemana?" Tanya Joy pada Miko yang berlari mengejar Alana. Ia mencoba berdiri mengejar Miko, namun ia tak bisa melangkahkan kakinya pergi.
Joy berdengus kesal, kali ini ia benar-benar harus menurut dengan kakaknya Cia, melanjutkan makannya kembali dengan perasaan kesal yang masih menyelimuti hantinya.
Ponsel Cia berbunyi, ia segera meraih ponselnya di saku baju abu-abu putih miliknya. " ibu!!" Ucap Cia. Ia terkejut tiba-tiba ibunya telfon.
Joy yang duduk di samping Cia menurunkan sendoknya menatap terkejut ke arah Cia, " Kenapa Ibu tiba-tiba telpon" Gumam Cia.
Joy meraih ponsel Cia dari tangannya, dengan segera ia mengangkat panggilan dari ibunya. " Ada apa bu?" ucap Joy.
"Eh joy, mana Cia" tanya ibu mereka.
" nih ada di sampingku" Gumamnya.
" Ya sudah, nanti kalian kalau pulang cepat pulang jangan main kemana-mana dan termasuk cia. Dan kalian jangan lupa beri tau Alana ya, tadi ibu coba hubungi dia namun sepertinya ponselnya gak aktif"
" Baiklah "
Ibu mereka segera menutup telfonnya. Karena tak mau lama-lama menganggu kegiatan anaknya di sekolah.
***
Di sisi lain Miko terus mengejar Alana, namun sepertinya ia lebih memilih diam-diam mengikutinya. Karena tak mau di cuekin lagi dengannya.
Alana merasa ada yang mengikutinya di belelakang, ia pun menoleh, tidak ada siapun di sana. Alana menatap ke depan kembali. Dan beranjak pergi, dengan sigap Miko meraih tangan Alana mencegahnya masuk ke dalam kelas.
" Tunggu !!" Ucap Miko menatap mata indah yang belum pernah ia tatap secara langsung bahkan jaraknya hanya beberapa sentimeter darinya.
" Ada apa?" Alana terlihat sangat datar, seraya ia tak merasakan apapun saat dekat dengan Miko.
" hemm..emm..." Miko sangat gugup, ia menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal itu, menghilangi rasa gugup dan malunya.
Alana hanya diam, menatap aneh pada Miko.
" masih lama kah mikirnya" Ucap Alana, dengan nada cueknya. Ia mulai beranjak pergi, namun tangan Miko tak rela melepaskan dia pergi, sebelum dirinya berbicara.
" Ada apa lagi?" Ucap Alana, ia kini terlihat sangat kesal dengan Miko.
Miko menelan ludahnya, menghilangkan rasa gugup dan ragunya. Ia berlutut di depan Alana, dan memberanikan diri berkata jujur pada Alana.
" Nanti mau gak pulang sama aku, sekali aja, plisss" Miko menyentuh jemari tangan Alana, dengan terus memohon padanya.
" Apa yang kamu lakukan?. Cepat berdiri" Tanya Alana nampak bingung dengan tingkah Miko di depannya.
" Aku akan terus berlutut di depanmu sampai kamu mau jawab jika kamu menerima tawaranku atau tidak" Ucap Miko masih berlutut di depan Alana. Semua anak bahkan menatapnya, ia tak perduli dengan tatapan mereka. Karena memang dirinya sengaja ingin membuat Alana tersentuh hatinya. Agar mau melihatnya walau hanya sebentar.