
"Kak Joy?" gumam Alana.
"Ada apa? Kenapa kamu ada di sini?" tanya Joy jutek.
Alana menciba untuk berdiri, tetapi kakinya terasa berat untuk mrnumpu tubuhnya. "Aw---"
"Gak usah alasan, cepat pergi dari kamarku. Aku gak mau kamu ada di sini!!" Joy terlihat lebih sinis dari biasanya.
Alana menurkan ke dua alisnya, dengan mata mengernyit menatap aneh pada Joy.
"Kak Joy apa yang kamu jatakan, kenapa kamu jutek padaku. Apa aku punya salah, padamu?" fanya Alana.
"Kamu banyak sekali salah, lebiha baik kamu srkarang pergi!!" Joy memegang tangan Alana menariknya keluar, tanpa petdulikan kaki Alana yang tetasa sakut.
"Kak sakit!!" rintih Alana. Joy menulikan telinganya tanpa menghiraukan rintihan Alana.
"Aku gak perduli!!" jawab tegas Joy semakin tajam ucapannya.
"Joy melempar tubuhnya hingga tersungkur di ranjangnya.
"Cepat pergi dari sini!!" ucap tegas Joy, melangkahkan kakinya mendekati Alana. Ia menatap semakin dekat wajah Alana membuatnya bergidik takut, memiringkan tubuhnya ke kanan, dan tangan Joy tepat menyangga tubuhnya, menatap dekat wajah Alana, mengusapnya lembut.
"Aku gak akan pergi!!" ucap tegas Alana.
"Apa kamu mau menemaniku di sini. Sampai kamu gak mau pergi?" tanya Joy, jemari tangannya mengusap wajah hingga leher Alana, keringat dingin mulai bercucuran di wajah Alana, rasa takut terbesit dalam pikirannya.
"Apa yang kamu inginkan? Kenapa kamu mengikutiku?" tanya Joy menatap tajam ke arah Alana.
"Aku gak tahu apa yang terjadi padamu, kak. Tapi aku harap kamu mau memaafkanku. Dan ini kamar aku. Jadi kak Joy gak berhak menyuruh aku pergi. Aku di sini juga gara-gara David,"
Pandangan mata Joy semakin menajam saat mendengar nama David. Ia menyentuh dagu Alana, menariknya sedikit ke atas, membuat ke dua mata mereka saling tertuju. "Ada hubungan apa kamu dengan David!!"
Alana menepis tangan Joy, mendorong dadanya menjauh dari pandangannya. "Ada hubungan apa aku dengan dia itu bukan urusanmu."
"Itu tetap jadi urusan aku!!"
"Terserah, kalau kamu mau tidur di sini silahkan. aku akan pergi!!" ucap Alana.
Joy yang semakin kesal, ia menarik tangan Alana mendorongnya ke trmbok, dengan tangan mencengkeram erat dagu Alana. "Dasar wanita murahan!!" ucap Joy lirih. Lalu mengecup bibir Alana, penuh dengan amarah yang mengobar dalam dirinya.
"Emppp.." Alan mencoba meronta ronta, ia memukul dada Joy. Hingga ia mengeluarkan semua tenaganya mendorong tubuh Joy menjauh darinya, dan. Plakkkk...
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Joy. Lalu dia mengusap bibirnya bekas dari kecupan Joy.
"Jangan pikir kamu bisa mencium aku sesukamu. Aku bukan wanita murahan seperti yang kamu bilang," ucap Alana kesal.
"Dan satu lagi, aku juga gak mau kamu melihat kamu lagi. Aku benci dengan kamu!!" ucap Alana.
"Ada apa berisik sekali!!" potong David cepat.
"Kenapa kamu bisa di sini? Apa mama dan papa sudah pulang?" tanya David, terkejut melihat Joy ada di kamar Alana tanpa helaian kain yang menutup tubuhnya, hanya mengenakan handuk yang menutupi pinggang sampai lututnya.
"Sudah!! Dia mungkin istirahat. Dan bawa wanita kamu ini pergi dari sini Sekarang ini jadi kamar aku!!" ucap Joy tanpa menatap ke arah Alana.
Alana membalas menatap tajam ke arah Joy, ia semakin kesal melihat sifat Joy yang tiba-tiba berubah semakin marah dengannya. Apa salah aku terlalu jauh padanya, hingga dia sampai tidak perduli lagi dengan aku.
"Baiklah!!" ucap David, meraih tangan Alana. "Alana kita pergi sekarang,"
"Tapi, ku tidur di mana?" tanya Alana.
"Memangnya kamu mau tidur di sini berdua drngannya?"
Alana terdiam, ia memutar matanya, menatap Joy lalu menatap David, kembali menatap Joy lagi, yang bahkan Joy tidak menatap ke arahnya sama sekali. "Enggak!!" ucap Alana, menggelengkan kepalanya, dengan kepala sedikit menunduk.
"Ya, sudah ayo ikut aku sekarang. Kamu bisa tidur di kamar aku!!" ucap David, membuat Joy dan Alana menatap David bersamaan, mengernyitkan keningnya.
"Kenapa aku khawatir, lebih baik biarkan dia tidur dengan dia. Lagian siapa dia. Hanya bekas ku, sama dengan ibunya yang suka merebut suami orang. Lebih baik biar dia rasakan sendiri. Gimana rasanya di sakiti." gumam Joy dalam hatinya.
"Gimana kamu mau gak?" tanya David, memegang ke dua bahu Alana. Gadis itu hanya menundukkan kepalanya, menatap ke lantai. "Di sini apa gak ada kamar lain?" tanya Alana.
"Kalau mau bicara di luar. jangan di sini. Aku mau istirahat. Jika kamu mau tidur dengannya. Cepat pergi dari sini. Jangan banyak bicara di sini. Aku gak mau melihat wajahmu lagi," ucap kesal Joy, sembari menatap tajam Alana.
"Oke!! Aku pergi dari sini. Dari pada aku tidur di sini. Lebih baik aku yang ngalah." ucap kesal Alana.
David menarik tangan Alana, keluar dari kamar Joy. "Sudah jangan terlalu lama di dalam."
David terus menarik tangan Alana menuju ke kamar satunya. Tepat di sampingnya berjarak 5 langkah dari kamarnya dulu.
Tok.. Tok.. Tok...
"Siapa?" teriak Cia di dalam kamarnya.
"David!!" jawab David, dan seketika Cia membuka pintunya.
"Kamu sudah pulang? Sama siapa? Kenapa kamu gak bilang sama aku? Bukanya aku teman kamu." tanya Cia, memegang ke dua bahu David tanpa sadar ada Alana di sampingnya.
"aku ke sini, hanya ingin bilang jika Alan tidur dengan kamu, malam ini!!" ucap David, membuat Cia melebarkan matanya, melirik tajam ke arah Alana yang memang dari tadi diam.
"Kenapa kamu bisa di sini? Belum puas kanu menghancurkan rumah tangga mama aki. Kamu dan ibu kamu sama saja, suka merebut laki-laki orang" bentak Cia, mendorong tubuh Alana menjauh darinya.
"Apa hang kak Cia maksud? Aku gak tahu maksud kak Cia dan Joy tadi apa?" tanya Alana, melangkah mendekati Cia.
"Gak udah berlagak gak tahu. Dan ingat aku gak mau kamu berada di sini. Kalau kamu mau tidur di luar saja sana. Kamu gak pantas tidur di sini. Dan ingat aku gak mau melihat kamu lagi." ucap Cia, dengan tangan menunjuk ke arah wajah Alana.
"Dan kamu David kenapa kamu bawa wanita ini. Dia wanita ****** sama seperti mamanya. Suka tidur dengan laki-laki!!"
"Tutup mulut kamu!!" jawab David kesal, memegang tangan Alana erat.
"Dia gak seperti yang kamu pikirkan." lanjutnya.
"Kenapa kamu bela dia, dia wanita murahan. Lebih baik biarkan dia sekarang pergi. Dan apa jangan-jangan kamu sudah tidur dengannya sama seperti kakak aku." ucap Cia sembari menarik bibirnya sinis.
"Apa yang kak Cia katakan salah. Aku tidak pernah sama sekali tidur dengannya. Sama sekali menyentuhnya saja tidak pernah. Dan aku bukan wanita murahan!!" Alan meneteskan air matanya, melepaskan tangan david dan berlari pergi keluar dari rumah besar milik keluarga David. Ia mencoba terus berlari meski kakinya terasa sangat sakit akibat tarikan Joy tadi, ia mencoba menahan rasa sakitnya. San terus berlari keluar menerjang gelapnya malam.
"Alana!!" teriak David, mencoba mengikuti Alana, namun tangan Cia memegang erat tangan David mencegahnya pergi.
"Kamu mau kemana? Biarkan saja dia, nanti kalau dia kedinginan pasti juga akan pulang sendiri. Dia hanya butuh ketenangan agar sadar apa yang sudah dia lakukan itu salah. Kau juga gak mau dia sama seperti ibu kandungnya yang suka merebut suami orang." ucap Cia.
"Maksud kamu apa?" tanya David menatap ke arah Cia tanpa perdulikan Alan lagi.
"Aku akan ceritakan semuanya. Kamu sekarang masuklah dulu. Bantu aku beres-beres," Cia menarik tangan David, namun pandangan David tertuju ke arah pintu rumahnya yang sudah menutup kembali.
"Udah sekarang lebih baik kamu bantu aku. Jangan pikirkan wanita ****** itu. Meski kamu tidak bersama dengan aku. Lebih baik kamu cari wanita yang benar-benar tulus."
"Shittt... Apa yang aku lakukan di sini. Lagian kenapa mereka ikut di sini juga. Gimana kalau Cia tahu kalau aku itu suka main wanita. Dan gimana kalau pacar aku tiba-tiba datang. Jika dengan Alana dia hanya diam tidak banyak bicara. Dan kalau Cia pasti dia cerita kr kakak aku dan orang tua angkat aku." ucap David dalam hatinya, ia duduk di ranjang dengan tangan memegang koper.
"David!! Kenapa kamu diam saja. Apa ada masalah? Kamu gak mikirin Alana, kan? Kamu gak suka dengan Alana, kan?" tanya Cia memegang tangan David.
"Enggak!! Aku hanya kasihan saja sama dia. Kenapa saudaranya malah musuhin dia. Jika memang dia salah kenapa kamu gak bilang langsung. Atau jika ibunya salah itu juga bukan urusan dia. Dia gak tahu apa-apa, tapi kamu dan Joy nyalahin dia dan mengusir dia dari rumah aku. Lagian yang berhak mengusir dia di sini adalah aku. Bukan kalian semuanya, lagian ini rumah aku pemilik asli rumah ini adalah aku!!" ucap David menggerutu, membuat Cia terdiam tak banyak bicara lagi.
"Iya terus saja belain dia. Lagian sejak kapan kamu dekat dengannya. Padahal dulu kamu tahu sendiri gimana kelakuan dia dengan Joy. " ucap Cia yang merasa dirinya selalu di salahin.
"Aku tahu, dan aku memahami tentang utu. Dan cinta itu hak bisa di pisahkan. Lagian mereka juga bukan saudara kandung. Jadi apa salahnya." gumam David.
Cia dan David terus berbincang saling membela, dan mengungkapkan pendapatnya masing-masing. Dan Cia juga tidak mau kalah, ia juga tidak.mau jika David bisa dekat dengannya.
Sedangkan Joy yang dari yadi melihat Alana di balik pintu, ia melihat dia kabur spontan hati Joy langsung mengejarnya pergi keluar dari rumah David.
"Alana!!" panggil Joy. Membuat langkah Alana berhenti, ia tahu siapa yang memanggilnya, dari suaranya Alan sadar jika itu adalah Joy.
"Ada apa kamu mengejarku. Bukanya kamu sendiri yang bilang jika aku itu wanita murahan. Aku gak berhak tinggal di sana. Jadi sekarang aku akan pergi dari rumah David." ucap Alana sembari mengusap air matanya dengan punggung tangannya.
"Memangnya kamu mau pergi kemana. Kamu mau tinggal di mana. Ini sudah malam." ucap Joy, ia merasa gengsi jika perduli dengan Alana. dalam hatinya ia tak bisa marah dengannya. Tapi di sisi lain hatinya ia sangat marah dengan apa yang sudah di lakukan ibu kandungnya bersama dengan ayahnya.
"Aku bisa pergi kemana saja, asal tidak melihat kamu dan kak Cia!!" jelas Alana tanpa menoleh sama sekali menatap ke arah Joy yang berdiri di belakangnya, berjarak dua langkah dari tempat ia berdiri.