My First Love

My First Love
Petasaan terlarang



Alana hanya diam, ia menundukkan kepalanya, menatap ke lantai.


"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Alana jutek.


"Mama kamu sangat terpukul saat kamu berbicara seperti itu dengannya. Papa mohon jangan sakiti hati mama kamu, dia sangat baik dengan kamu Alana. Dia bahkan tidak mau kamu kenapa-napa. Mama kamubmenganggap ka.u sebagai anak kandungnya sendiri.


"Alana Mau bertemu dengan mama kandung Alana. Dan Alana hanya ingin tinggal bersama dengan mereka. Alana gak mau ada di sini" ucap Alana meninggikan suaranya.


"Alana papa tahu!! Tapi papa ingin kamu mengerti juga perasaan mama kamu, yang selama ini tulus merawat kamu" ucap Alvin, memegang ke dua lengan Alana


"papa, minta maaf padamu, soal ibu kamu. Papa sudah menyembunyikan semuanya dari kamu" ucap Alvin. "Papa gak mau kamu sedih. Papa dan mama sangat syang padamu. Gak mau kamu pergi ninggalin kita. Apalagi mama kamu, dia juga sangat menyanyangi kamu, meski terkadang kamu juga cuek. Lihatlah Cia dan Joy, juga sampai rela bekorban demi kamu" lanjut Alvin, ia ingin Alana tetap bersamanya. Ia tidak mau kehilangan Alana. Dan ke dua anaknya lainnya. 


Alana hanya diam, ia menatap wajah papanya yang terlihat sangat sedih. Matanya berkaca-kaca menahan kesedihan yang menggumpal dalam hatinya. Kesedihan yang sudah ada sejak lama, ia tidak pernah tahu tentang hal itu. Alvin benar-benar menyembunyikan kesedihan di balik senyum palsu yang sering terpapang di wajahnya. 


"Papa cukup kehilangan anak, yang masih dalam kandungan mama kamu. Saat mendengar gosip tetang papa, dia benar-benar shok, hingga mencoba berlari kabur dari rumah. Daan saat itu ia tertabrak mobil membuat mama kamu kehilangan anak dalam kandungannya" Alvin merengkuh pundak Alana. 


"Terus Alana anak papa atau bukan?" tanya Alana.


"Kamu anak papa, dan papa adalah papa kandung kamu" ucap Alvin.


"Alana tersenyum, kenapa kamu melakukan ini pada mama dan ibu aku, kenapa kamu menyembunyiakn ragasia ini sekian lama" Alana semakin marah dengan Alvin.


"Aku harap kamu mau memaafkan kita. Dan papa juga sudah berjanji dengan ibu kandung kamu, jika kamu mau kuliah di London. Kamu akan bertemu dengannya. Kamu boleh tinggal dengannya. Tapi jangan pernah melupakan kita, kamu juga harus sering ke rumah jenguk keluarga kamu lainnya" ucap Albert, ia tak berhe ti menjelaskan pada Alana, yang dari tadi hanya diam. Tanpa menatap ke arahnya. Ia menunduk, dan. Tes.. 


Buliran air mata turun membasahi pipinya. "Apa yang ingin kamu katakan lagi." tanya Alana, mengusap air matanya. mendongakkan kepalanya menatap ke arah Alvin, papanya.


"Sekarang kamu pikirkan baik-baik. Mulai 2 bulan lagi keluarga kita akan pindah ke London." ucap Alvin. 


"Tapi aku ingin kuliah di Indonesia. Banyak yang ingin aku cari tahu tentang seseorang." ucap Alana, yang semula hanya diam, dan setia mendengarkan apa yang di katakan papanya. Ia kini mulai membuka mulutnya.


"Aku gak maksa kamu, aku yakin kamu mau kuliah di sini. Juga karena kamu suka dengan seseorang. Dan ingin selalu mengikutinya" ucap Alvin, menepuk bahu Alana. "Lebih baik, kamu pikirkan dulu. mau bertemu dengan ibu kamu. Atau dekat dengan orang yang kamu sayangi" lanjut Alvin, beranjak berdiri. Melangkahkan kakinya pergi.


Langkahnya terhenti, ia mulai membalikkan badanya, beberapa detik, Menatap ke arah Alana, yang hanya diam menundukkan kepalanya. 


----


Kenapa hidup aku seperti ini Aku bingung, apa yang harus aku lakukan sekarang. Gimana jika, ibu aku gak menermia aku nentinya. Dan gimana aku bisa tinggal di sana. pikirnya. 


Tokk... Tok... Tokk ..


Suara ketukan pintu membuat lamunan Alana terhenti, ia seggera mengusap air mata yang membasahi pipinya. 


"Siapa?" tanya Alana. 


"Aku Joy, apa kamu di dalam sekarang?" tanya Joy. 


"Kalau udah denger suara aku di dalam, jadi aku sudah jelas-jelasdi dalam. Kenapa masih tanya lagi" ucap Alana jutek. 


Joy membuka perlahan pintu kamar Alana, sebelum ia mengijinkan untuk masuk. 


"Alana? Kenapa kamu melamun. Apa kamu ada masalah?" tanya Joy, duduk di samping Alana. 


"Gak ada masalah? Kak Joy kenapa ke sini?" tanya Alana, tanpa berani menatap Joy. Wajahnya yang menyedihkan, ia tidka mau jika Joy melihatnya dan terkalu khawatir dengan keadaannya.


"Kak Joy!!" ucap Alana lirih, dengan mata masih terus memandang mata Joy di depannya.


"Kalau kamu ada masalah cerita?" ucap Joy, mengusap air mata yang tiba-tiba menetes dari matanya. 


Menatap mata polos Alana, Wajah Joy seketika terdiam. Ia menatap mata indah di depannya. "Kak, kenapa kamu baik denganku?" tanya Alana. Menghenrikan pandangannya. 


"Karena kak Joy akan selalu berada di hati Alana. Aku akan selamu menjaga kamu. Itu janji aku." ucap Joy, membuat Alana tersenyum tipis.


"Alana, aku ingin nanti kamu satu kuliah dengan aku ya, di london. Aku janji akan selalu jaga kamu." ucap Joy, mengusap puncak kepala Alana. 


"Entahlah kak, tapi aku mau pikirkan dulu. Aku juga bingung, harus bicara apa lagi, jika tentang kuliah. Aku masih belum kepikiran" ucap Alana. 


"Baiklah, aku juga gak maksa. Oya, melarang aku kamu belajar bareng dengan kamu boleh" gumam Joy. "Kau juga ingin seperti kamu nantinya" lanjutnya. 


"Baiklah!!" Alana melepaskan tangan Joy di pundaknya. Ia memegang tangan Joy duduk di lantai, dan mengeluarkans emua buku yang ada, diam atas meja depan sofa. Alana sengaja duduk di bawah, bair lebih nyaman saat belajar.


Joy tersenyum, jemari tangan Alana berada di sela-sela jemarinya. Jantungnya semakin berdetak cepat. "Kak Joy mau belajar apa? Ipa? pelajaran kak Joy dan aku beda. Tapi aku bisa kok, tenang saja." ucap Alana, sengan senyum tipis teroaut di wajah manisnya.


"Siap Alana syang" gumam Joy, mencubit pipi menggemaskan Alana.


"Alana ambilkan minuman dulu di bawah. Kak Joy di sini saja" ucap Alana.


"Baik makasih ya. Buatkan kopi sekalian na, biar gak ngantuk." canda Joy.


"Iya kak"


Alana beranjak pergi meninggalkan Joy sendiri. menuju ke dapur untuk ambil beberapa makanan ringan dan minuman untuk menemaninya. Selesai mengambil semuanya Alana beranjak pergi kembali ke kamarnya.


"Kak joy!! Ini sudah aku ambilakan" Alana duduk di samping Joy, dan mulai pembelajaran pertamanya.


Alana sangat antusias belajar bersama dengan Joy, meraka saling bercanda dan tertawa bersama. "Alana!!" ucap Joy, memegang ke dua pipi Alana, ia menyilakan helaian rambut yang menutupi mata Alana di belakang telinganya.


"Kalau gini adik aku lebih cantik!!" ucap Joy menggoda.


"Kak lepaskan!!" ucap Alana, menepis tangan Joy.


"Kenapa?" tanya Joy bingung.


"Alana takut kakak akan berlebihan dengan Alana." gumam Alana, menundukkan kepalanya.


Joy memegang ke dua tangan Alana beberapa detik, dan tangan Kanannya memegang pipi Alana lembut. "Alana, Apa kamu gak bisa menatapku sedikitpun. Aku gak tahu perasaan apa yang mengganggu aku selama ini. Perhatian aku yang berlebihan, dan aku juga terlaku over padamu." ucap Joy lembut, tangan kiri memegang tangan Alana, meletakkan di dadanya.


"rasakan detak jantung ini Alana, aku gak tahu apa maksudnya. Apa ini namanya jatuh cinta. Padahal aku sudah menolaknya berkali-kali tapi perasaan ini masih sama" Lanjut Joy


Alana melepaskan tangan Joy, menepis tangannya di oipi lembutnya. "Kak kita suadara, gak akan bisa bersama. Kakak harus ingat itu" ucap Alana tegas.


"Aku tahu Alana, tapi perasaan saudara kamu dengan Cia berbeda. Aku dengan Cia memang saudara kandung. Tapi aku denganmu, ku gak tahu kenapa, aku merasa kamu beda dengan Cia. Perasaan itu yang membuat aku tidak bisa melupakkanmu" ucap Joy mejelaskan.


"Tapi Alana gak bisa kak, Alana gak tahu apa yang namanya Cinta. Cinta sebenarnya seperti apa. Dan aku yakin itu hanya perasaan kakak sementara. jika kakak suata hari nanti jauh dariku cinta itu juga pasti akan hilang" gumam Alana, tersenyum tipis memegang ke dua pipi Joy. Membuat Joy tersipu malu.