
setelah melewati perdebatan panjang, dian dan winda sampai pada sebuah restoran seafood, dian dan winda sama-sama menyukai seafood. tadi nya winda ingin makan burger saja, tapi dian menolak karena sejak pagi mereka berdua belum mengisi perut dengan makanan selain roti tawar dan segelas susu. "lo seharus nya diet, lo kam bentar lagi married loh, awas badan lo melar, gaun lo juga gak muat di badan", dian dinceramah lagi oleh winda. "diet sih diet, kalau sahabat gue pingsan di mall kan gue yang repot", jawab dian sambil meyeruput jus advocado milik nya. "gak mungkin lah gue pingsan!", winda mengelak. tak butuh waktu lama, akhirnya makanan yang di pesan pun datang juga. "ayo makan dulu biar kamu kuat nak", dian bercanda pada winda, winda hanya pura-pura bersungut lalu tertawa bersama-sama sambil menikmati pesanan mereka.
setelah dua jam berada di restorant sea food, kedua nya lanjut ke tempat tempat wisata hanya sekedar menghabiskan waktu dan mengabadikan moment bersama hingga tak terasa waktu pukul 05:30 telag tiba, kedua nya memilih untuk menyudahi kegiatan bebas merdeka nya dan bergegas menuju kediaman almarhum pak herry dermawan, rumah yang sekarang dian tempati. jam menunjukan pukul 07 malam, sesampai nya di rumah, bi inah menuju kamar dian, tok tok tok pintu kamar di ketuk bi inah." silahkan masuk bi" winda mempersilahkan bi ina masuk ke kamar dian, "non ayo kita makan malam, ini udah jam 8 malam loh", kata bi ina pada kedua wanita muda di depan nya. "baik lah bi, ayo kita makan bersama", sambil merangkul bi ina dan winda menuruni tangga.
saat sudah berada di meja makan, bi ina ternyata memasak opor ayam dan ayam goreng yang sudah di balik dengan saos, sederhana sih namun itu adalah makanan kesukaan dian sejak kecil. "waooowwww makanan faforite gue", kata dian, lalu ke empat wanita tersebut makan tanpa ada nya suara yang keluar dari mulut seolah menikmati makanan buatan bi inah dan bi sum.
saat ini keempat wanita itu sedang bercengkeramah di ruangan tv. dian banyak tertawa dan sangat bahagia, seakan sempurnah hidup nya berada bersama bi ina, bi sum juga sahabat baik nya winda. "astaga nonnnn bibi lupa mau bilangin, tadi kurir ada bawaain makanan di kotak, lalu bibi simpan di meja belakang", sambil berlarian keciln menuju meja yang di maksud lalu kembali dengan membawakan kotak yang di maksud. ternyata pesanan go food yang tadi sempat diaan pesan menggunaka aplikasi. "astaga biii, kenapa gak di makan aja tadi bi", kata dian "ia bi, ini udah dingin kan", sambung winda. "biar simpen aja buat besok yah non", kata bi sum. "baik bi", jawab dian, kalaupun dian menyuruh nya untuk buang, pasti bi sum menangis karena menurut nya itu sama saja membuang keringat dan uang, asalkan tidak basi aja. winda yang telah mengetahui hal itu sebelum nya dri dian hanya bisa terdiam dan menuruti saja. toh inikan masih bisa di panasin. setidak nya .itulah yang dipikirkan bi sum.
waktupun bergulir dengan indah nya memamerkan bintang kecil di langit yang hitam, seolah ada kerajaan lain di atas sana. hingga alvin yang tak menyadari itu, "ternyata suda jam 3 pagi", gumam alvin melirik jam dinding di dalam kamar nya dan melangkah menuju balkon kamar lalu menatap langit di angkasa sambil tersenyum kecil. karena keasikan bekerja melalui laptop nya, alvin melupakan waktu istirahat pula. alvin segera bergegas ke kamar mandi sekedar menggosok gigi dan mencuci muka sebelum tidur. dian terbangun dari tidur nya melirik jam di ponsel nya yang berada di nakas, "ternyata masih jam 3 pagi" batin dian, dian bermimpi seakan bertemu dengan sosok yang selama ini ia rindukan, tak lain adalah lelaki dewasa yang kala itu membantu nya saat umur 15 tahun."sudah 10 tahun lama nya kejadian itu, kenapa selalu saja terbawa mimpi di akhir akir ini? apa dia berusaha mencari ku? atau bahkan dia melupakan ku?", batin dian sambil melangkah menuju sebuah meja rias nya dan mengeluarkan kotak persegi empat berwarna biru, lalu meletakan nya diatas meja rias, lalu dian berjalan menuju ruangan kerja ayah nya yang terletak dekat dengan kamar kedua orang tua nya di lantai 3 itu. perlahan dian membuka ruangan kerja milik ayah nya dan berjalan menuju meja kerja milik pak herry dermawan. lalu duduk dengan manis nya membuka kotak persegi tersebut, sebenar nya dian bisa saja membukakan benda persegi itz dikamar nya, namun takut terganggu dengan tidur sahabat nya, ia memilih ke ruangan kerja pak herry ayah nya, yang juga menjadi ruangan kerja dian setelah 2 tahun terakir ini.
"hiks hiks hisk, kamu dimana kak, tolong beri aku petunjuk agar bisa menemui mu", tangis dian dan membatin.
dian mengambil sebuah pena berwarna pink lalu mulai menuliskan sesuatu di sana
setelah menulis isi hati nya, dian merasa sedikit legah. entah waktu membawanya kemana setelah ini, hanya waktulah wang mengatur nya atas bimbingan tuhan. dian tersenyum pada sebuah bingkai besar yang berada di ruangan kerja nya. "paa, maa, dian akan menikah, dian tak lagin sendiri setelah ini, dia akan mempunyai keluarga baru, dian berharap papa dan mama ikut bahagia di surga juga ya", dian mengumam sambil menatao foto yang ada di ruangan itu lalu menghabiskan waktu disana karena sebentar lagi mata hari akan menmpan diri nya.
.
.
.
hay guys, jagan lupa dukung novel ku ini yah. terimakasih 🥰🙏