My First Love

My First Love
Melepaskan



Alana beranjak menuju ke ranjangnya. Seakan ia tidak perdulikan apa yang di katakan Miko. Ia mulai berbaring di ranjangnya, menarik selimut tebal miliknya, menutupi sekujur tubuhnya. Mematikan lampunya, dan perlahan mulai memejamkan matanya


------


Di sisi lain Keyla berbincang dengan Alvin berdua di kamarnya, ia membicarakan anaknya yang sekarang sudah mulai tumbuh dewasa.


"Syang!! Aku tadi melihat Cia bertengkar dengan Alana." ucap Keyla, menyandarkan kepalanya di bahu Alvin.


"Pasti masalah laki-laki. Tapi saat aku lihat Miko tadi, sepertinya memang dua yang terlalu berlebihan pada Cia, sehingga Cia jadi salah paham dan mengira jika Miko juga punya rasa yang sama dengannya."


"Iya, tadi bukanya selama ini dia dekat dengan David. bahkan sampai sekarang mereka juga dekat, tapi saat perjodohan David pergi."


"Mereka tidak benar-benar suka. Aku tahu Cia seperti apa, dari cara dia memandang Miko saja, aku paham kalau dia masih suka dengannya. Dengan David hanya ingin menghilangkan rasa sukanya dengan Miko," Alvin, menjatuhkan tubuh Keyla di ranjang, dengan tangan kiri di baut bantal oleh Keyla.


"Iya, percintaan mereka sangat rumit. Aku bingung apa yang sebenarnya terjadi. Banyak sekali perubahan di rumah kita. Joy juga serta Alana, juga banyak sekali perubahan." Keyla, kini mulai menyandarkan kepalanya di dada bidang Alvin, tanpantertutup helaian baju. Sembari jemari tangannya, mengusap lembut dadanya.


"Iya, aku lebih curiga pada Joy, jika dia suka dengan Alana?"


Mendengar ucapan Alvin, keyla mendongak, menatap terkejut. "Apa yang kamu katakan, itu tidak mungkin. Jangan sampai dia suka dengan adiknya sendiri."


"Aku juga berpikir seperti itu, tapi sepertinya perasaan mereka sangat dalam. Aku tak tahu sejauh mana hubungan mereka.Tapi kita bisa lihat dari cara padang Joy dan Alana." ucap Alvin, seakan lebih mengerti semua tentang Alana.


"Lebih baik kita harus pisahkan mereka. Aku gak mau perasaan mereka semakin dalam."


"Mereka akan berpisah juga apda kahirnya. Karena Joy akan kuliah di Amerika, dan mereka aosti akan berpisah."


"Kenapa dia kuliah di sana, apa dia gak mau pulang ke London."


"Dia dapat beasiswa. Mungkin Cia yang akan kuliah di London. bukanya Miko juga akan kuliah di sana. Kemarin Joy bilang padaku, jika mereka bertiga dengan Alana dapat beasiswa. Dan Alana akan kuliah di Inggris, di Universitas terbaik di dunia. Dia sangat pibtar, aku yakin dia akan menjadi orang sukses kelak nanti." jelas Alvin, sangat bangga dengan anaknya itu. Bisa masuk ke sana bukan hal yang mudah, tapi entah kenapa Joy dan Alana tidak mau ambil beasiswa yang sama. Dan memilih berpisah, itu yang membuat alvin masih bingung, sebenarnya sejauh apa hubungan mereka.


"Iya, gimana dengan ibu Alana, apa kamu jadi membawa dia kerja di tempat kamu. Alana akan pergi juga ke Inggris, lebih baik biarkan mereka bersama.


Alvin terdiam, mendekap tubuh istrinya itu. Sembari memikirkan. Apa yang akan dia lakukan nantinya.


-----


"Alana aku mohon temui aku skearang,"


"Temui aku sekarang!!"


Perkataan Miko seolah meracuni pikirannya. Ia tidak bisa memejamkan matanya, seketika ia bangkit dari tidurnya, dan duduk dengan perasaan was-was. Dan napas masih ngos-ngisan di buatnya. Sebuah mimpi yangvterlihat seperti sangat nyata.


Alana melirik jam dinding, yang sudha menunjukan pukul setengah sebelas malam.


Rasa gusrah dalam hatinya, membuat ia tidak bosa todir lagi. Entah kenapa ia memikirkan Miko.


"Apa Miko masih di luar? Apa dia benar menungguku?" pertanyaan itu muncul di hati Alana. Ia bergegas bangkit dari ranjangnya.


"Sepertinya aku harus keluar, untuk memastikan sendiri. Jika Miko gak ada di sana." gumam Alana, menyalakan lampunya, san beranjak mengambil jaket di lemari, lalu membenarkan rambutnya, membiarkan terurai panjang.


Alana mulai membuka pintu kamarnya, menatap ke kanan dan ke kiri, melihat suasana di luar, apa ada orang atau tidak. Merasa sudah aman, ia meneteng snadal milinya, dan berlari menuruni anak tangga, dengan kaki sedikit jinjit, agar langkah kakinya tak terdengar jelas.


"Sepertinya memang tidak ada orang sama sekali. Aku harus segera pergi sekarang," ucap Alana, membuka pintu rumahnya perlahan, lalu menutupnya kembali. Ia berlari menuju ke halaman belakang.


David yang mengetahui Alana keluar malam-malam, ia merasa sangat aneh.


"Kenapa dia keluar jam segini, apa dia mau pergi sekarang? Tapi kalau pergi sekarang, ksnapa dia tidak mengajakku? Hemm.. Atau dia sengaja memang mau meninggalkanku, awas saja. Aku tidak akan membantu kamu cari ibu kandung kamu." gerutu David kesal. Ia berniat untuk mengikuti Alana keluar, secara diam-diam.


------


"Miko!!" ucap Alana, melebarkan matanya seketika, saat ia melihat Miko masih duduk di kursi tanan belakangnya, ternyata benar, dia menunggu aku.


Miko yang mendengar suara Alana, ia menoleh ke belakang. Melihat wajah cantik Alana di belakangnya, seketika ia tersenyum lebar.


"Alana, akhirnya kamu datang juga, aku sudah lama menunggumu. tapi aku yakin jika kamu akan dayang, makanya aku tetap setia menunggu kamu." ucap Miko.


Alana berjalan dnegan langkah ringan, duduk di samping Miko. "Kenapa kamu menungguku, kalau aku tidak datang, apa kamu masih mau di sini sampai besok pagi?" decak kesal Alana, dengan wajah sangat khawatir. Sebenarnya ia juga khawatir dengan Miko. Dia orang yang selalu ada untuknya saat ini.


"Aku gak perduli Alana, asalkan aku bisa tetap bersama kamu, aku akan menunggu kamu sampai beaok pagi. Meski harua tidur di sini, aku juga tidak perduli." ucap tegas Miko, ia meraih tangan Alana, di dalam saku jaket miliknya. Dan mengenggamnya erat.


"Alana, aku benar-benar mencintaimu, u harap kamu mau menikah dnegan aku setelah lulus kuliah nanti. Tapi aku yakin dengan kepintaran kamu itu, kamu bisa lulus kuliah dengan cepat. Tak butuh waktu empat tahun bagimu, menyelesaikan pendidikan kamu." jelas Miko, dengan wajah penuh harapan dengan Alana.


"Aku gak bisa, Kak Cia sangat mencintai kamu. Bahkandia marah denganku hanya ingin membela kamu. Meski dekat dengan david, tapi aku tahu, di hati kecilnya paling dalam. Ia masih sangat mencintaimu, dia rela menyakiti dirinya sendiri, melihat kita bahagia." ucap Alana, melepaskan tangan Miko. Dan kembali memasukkan tanganya ke dalam saku jaket miliknya.


"Tapi, aku tidak mencintainya,"


"Kamu memang sekarang belum mencintainya. Tapi lama kelamaan kamu akan jatuh cinta padanya. Dari perlakuan kamu apdanya kemarin saja, kamu sudah mebunjukan jika kamu ada sedikit harapan denganjya." jelas Alana, melupakan isi hatinya selama ini.


Miko terdiam, ia bingung dengan hatinya, tapi di sisi lain. Ia sangat mencintai Alana, ia tidak mau kehilangan dia.


"Alana, ijinkan aku tetap mencintai kamu. Aku akan tunjukan padamu, jika aku bisa mencintai kamu tulus. Jika apa yang kamu bilang salah, aku tidak mencintai Cia. Maka kamu harus menikah denganku. Setelah kamu pergi nanti." jelas Miko.


"Aku mohon kamu mengerti, aku tidak ingin bertengkar dengan Cia. Maka jalan ini yang terbaik. Jadi jangan paksakan aku, Kita juga bisa berteman lagi seperti dulu. bisa dekat lagi" jelas Alana.


"Tapi kamu harus janji padaku, jika kamu akan menikah dengan aku. Jika aku tidak mencintai Cia."


Alana terdiam, ia mencoba untuk berpikir sejenak. "Baiklah!!" ucap Alana


"Sekrang gimana kalau kamu ikut denganku, aku ingin memberimu sesuatu. Tapi masih tertinggal di rumah."


"Tapi.."


"Jangan khawatir, ku tidak akan macam-macam. Aku hanya ingin memberi kejutan dengamu." ucap Miko. Menarik tangan Alana pergi.


David yang melihatnya, ia hanya tersenyum tipis mengetahui kenyataan jika Cia tidak benar-benar suka dengannya. Ini adalah kesempatan dia untuk benar-benar pergi meninggalkannya, dan benar-benar menolak apa perjodohan yang tidak ia inginkan itu.


David bergegas masuk ke dalam rumah kembali, ia terkejut saat melihat Cia berdiri di depan kamarnya. "Kamu dari mana?" tanya Cia.


"Keluar, hanya cari udara malam," ucap David datar.


"Aku boleh curhat gak?" tanya Cia.


"Silahkan saja, memangnya kamu mau cerita apa?"


"Aku gak mau bicara di sini, kita ke teras." ucap Cia. Berjalan menuju teras, di ikuti Dacid yang berjalan di belakangnya.


"Memangnya kamu mau bicara apa?" tanya David.


"Kita duduk dulu," ucap Cia, beranjak duduk.


"Apa menirut kamu cinta pertama sulit di lupakan?" tanya Cia


"Cinta pertama akan selalu ada di hati, meski kamu sudah menikah nanti. Aku yakin akan ada kenangan kecil di lubuk hatimu." ucap David, mencoba untuk menjelaskan.