My First Love

My First Love
69. Senyuman sang istri



"clek", bunyi gagang pintu di buka oleh alvin..


dian mengarahkan pandangan menuju sumber suara pintu itu.


dilihat nya seseorang yang pernah ia temui saat hari pernikahan nya. jelas saja dian hanya menemui nya di hari pernikahan sebab di hari acara ulang tahun nya yang baru ia rayakan beberapa waktu lalu tidak ia temui lelaki bertubuh tinggi seperti sang suami.


"sopan, tampan, dan ramah", batin dian saat melihat lelaki yang berada di samping sang suami tercinta nya.


"selamat pagi.. bagaimana keadaan anda saat ini? apa sudah lebih baik?", dr riko bertanya layak nya seorang dokter dan pasien nya.


"emh i..ia.. dok, sudah mendingan", jawab dian tak kalah sopan nya sambil menebarkan senyum termanis nya pada sang dokter..


"ehemmm apa bisa gak usah pakai basabbasi segala? langusng kerjain tugas lo aja ki, gak usah godain istri gua", dengus alvin sambil melirik dr riki tak suka.


"ehh.. kerja gua emang gini, mendingan diam aja lo sana", jawab riki tak suka dengan apa yang barusan alvin bicarakan


"lah lo pake senyum segala sama bini gua, lo...", alvin tak melanjutkan kata-kata nya lagi saat melihat riki enggan untuk melakukan pekerjaan ny.


riki berdiri tegap sambil menyilangkan kedua tangan nya di dada mendengar kan omelan sang CEO muda itu.


"napa diem? gak mau lanjutin dulu pidato nya?", tantang riki tak mau berpindah posisi dan merubah sikap nya.


"gak.. lanjutin", jawab alvin ketus lalu membuang pandangan ke sisi lain di ruangan itu.


dian yang menyaksikan kedua nya berdebat hanya tersenyum simpul dalam diam sambil menundukan kepala nya.


"jadi gini vin, CEO pinter kata orang yang terhormat, berprofesi sebagai tenaga kesehatan ynang paling di utamakan adalah senyum, salam, sapa, sopan santun!! dengan lima S itu aja sudah menyembukan pasien, setidak nya pasien merasa nyaman dengan seorang dokter, bidan atau perawat yang akan melayani nya. jika ada tenaga kesehatan yang tidak menggunakan lima S itu, gimana pasien nya merasa nyaman.. ada nya pasien tambah sakit dan bisa aja pasien nya menolak untuk di rawat.. sampai disini lo paham?? paham gak? paham gak lo?????", riki menjelaskan dengan kata sederhana nya.. biar sahabat nya bisa mengerti, sebab riki paham betul gimana sahabat nya yang satu ini...


"ia ia ia gua paham lah.. masa gak.. guakan pinter..", jawab alvin tak mau kalah


"ngaku nya pinter, uhh dasar.. di jelasin panjang lebar juga gak bakal masuk otak lo", gumam riki yang hanya di dengar oleh dian. sebab alvin terlalu jauh dari tempat nya berdiri. jika saja alvin dengar, maka bogem mentah pun akan riki terima saat itu juga. bersyukur jarak antara ketiga nya lumayan jauh sih.. atau mungkin alvin mendengar nya hanya pura-pura tak menghiraukan omelan riki.


"apa kita akan melanjutkannnya nyonya?", riki kini kembali dengan tugas nya pada sang nyonya muda di depannnya itu.


"cantik, baik dan lembut" , batin riki saat menatap wajah nyonya muda di depan nya itu.


"ngonya, setelah ini tolong tetap jaga kesehatan anda dan jangan mudah lelah yah, dan minum beberapa multivitamin yang sudah saya resepkan ini", sambil memberikan secarik kertas pada dian namun dengan cepat alvin meraih secarik kertas putih yang juga ia tak mengerti tulisan itu.


"apan ini?", alvin bingung dengan tulisan tangan riki.


"gak usah lo tau tulisan nya, tinggal lo bawain ke apotek buat tebus obat itu", jawab riki sambil merapihkan kembali peralatan nya dan menyimpan botol bekas infusd dan lain nya dalam sebuah pelastik sampah yang memang sudah ia siapkan sebelum nya.


"lo tulisin yang benar dong biar gua bisa baca juga", perotes alvin namun tak di hiraukan sang dokter riki.


alvin sengaja ingin memancing kemarahan sang sahabat, namun riki mengerti maksud dan tujuan alvin, iatetap tidak menghiraukannnya.


dian yang menjadi saksi hidup perdebatan antara kedua nya hanya bisa menggelengkan kepala nya kali ini.


"dok riki, maaf mengganggu sebentar", dian memanggil sang dokter..


"ia nyonya ada apa yah?", jawabb riki cepat dan segera menghadap sang pasien.


"kenapa sayang? ada apa? dimana yang sakit? sini biar aku obatin", dengan cepat alvin menghalangi riki mendekati sang istri tercinta nya.


"nah tuh kan... cepet minggir sana, emang lo dokter", omel riki sambil menarik lengan alvin agar bergeser ke kiri dan tak menghalangi nya.


"emhh gini dok, apa boleh kita berteman?", kata dian sambil menatap dokter riki.


sontak saja pertanyaan sang istri membuat alvin terkejut..


"whatttttttt??????????", alvin berteriak.


"apan sih lo, jelas-jelas nyonya ingin berteman ama gue, napa lo yang heboh sih?", jawab riki sambil menatap nya jengah..


"yang apa kamu masih demam yang? kamu gak sakit kan?", alvin tak menghiraukan kata-kata riki barusan sambil mendekap kedua pipi gembul sang istri panik.


"ahh napa sih yang? kan cuman berteman, bukan ngajak married", jawab dian lemah


"kog bisa yang sama riki yang? astaga sayang", kata alvin sambil melirik sahabat nya.


"emang gak boleh? guakan manusia bukan robot", jawab riki tak kalah sinis


"lahh justru itu dia gua gak sudi bini gua berteman sama lo", jawab alvin sambil mengelus tangan snang istri.


"gila lo yah, cemburuan pake bangetan," jawab dr riki.


"yang...", alvin masih saja merengek namun tak di hiraukan sang istri.


"dr riki gimana? mau gak berteman sama aku, atau aku anggep dr riki saudara aku boleh gak?", dian membanjiri pertanyaan pada riki.


jelas saja riki mau jika menganggap dian sebagai adik nya.. sebab riki juga gak punya saudara perempuan. riki adalah anak bungsu dari dua bersaudara.


kakak nya yang sulung berdomisili di jerman karena harus mengurus perusahan dan beberapa anak cabang, di berbagai negara.


bahkan keluarga riki pun nya hotel di sebuah pulau di flores nusa tenggara timur, tepat nya di labuan bajo sih.


sedangkan riki punya rumah sakit di beberapa negara termasuk indonesia, namun banyak yang belum mengetahui siapa riki selain alvin dan ivan saja. riki bahkan bekerja di rumah sakit nya sendiri di indonesia, tempat yang sekarang ia kerja.


"baiklah aku setuju jika nyonya menjadi adik ku, maka dengan sennang hati", jawab riki sambil tersenyum


"jangan panggil aku nyonya kak, gak enak denger nya", jawab dian sambil tersenyum menunjukan deretan gigi rapih nya.


betapa patahati nya alvin yang kini menatap sentuman sang istri, senyuman yang sering ia rindukan beberapa waktu terakir, senyuman yang menghipnotis nya, senyuman yang ingin ia bawa setiap saat karena tak ingin jauh, sebab senyuman sang istri bagaikan obat penghilang lelah juga obat segala nya.


.


.


.


hay guys terimakasih masih menunggu dengan setiap setiap bab nya..


mohon dukungan dan berikan vote sebanyak mungkin yah...terimakasih


GOD BLESS 😇🥰