
Sebeneranya apa perdebatan mereka. Kenapa mereka jadi saling bertengkar seperti itu. Apa masalah wanita?" tanya Alvin, yang sudah tidak tahu lagi kemana anak-anakanya mulai berubah.
"Entahlah,,, Aku juga bingung dengan mereka. Kadang mereka baik. Terkadang mereka saling bercanda dan akur. Tapi sekarang mereka bertengkar untuk yang pertama kalinya." ucap Keyla, menggelengkan kepalnya tak percaya. Ia duduk di ranjang samping alvin.
"Sekarang aku punya usul, jika kuliah nanti. Aku berniat untuk memisahkan mereka semua. Alana biar tinggal dengan ibu kandungnya. Di paris, ku sudah siapkan pekerjaan buat ibu kandungnya dan suami ibunya di sana. Aku gak mau kamu cemburu jika mereka kerja di London bersama aku." ucap Alvin memegang dagi Keyla, membalikkan wajahnya ke arahnya.
"makasih, kamu telah mengerti perasaanku. Tapi gimana dengan perasaanku saat Alana tidak ada dengan kita lagi." ucap Keyla, menyandarkan pipinya di pundak Alvin suaminya.
"Iya, syang sama-sama. Lagian aku juga sangat syang dengan kamu, aku gak akan meninggalkan mu syang. Aku juga gak mau kamu pergi meninggalkanku. Soal Alana, kita bisa hubungi dia Vidio call dengannya" Ucap Alvin, memegang pipi Keyla, mengusapnya lembut.
"Dan juga untuk masalah Cia. Aku mau perjodohan anak kita Dan David segera di laksanakan lulus sekolah. Agar mereka bisa tinggal di Amerika. Dan mulai hidup baru berdua. Aku yakin David dapat di percaya dan gak mungkin jika dia menyakiti Cia." ucap Alvin.
"Tapi, apa anak kita mau, perjodohan ini. Aku takutnya jika anak kita nanti marah. Dan menolak perjodohan ini" ucap Keyla, penuh ragu.
"Udah, percaya dengan aku. Mereka gak mungkin menerima perjodohan ini. Mereka itu saling mencintai, tapi mereka masih malu-malu. Dan lihatlah sifat manja Cia pada David. Mereka itu cocok, tapi hanya saja sifat Cia yang masih seperti anak kecil, membuat semuanya gengsi mengungkapkan" ucap Alvin mengusap lembut rambut istrinya itu. Ia tidak mau Keyla terlaku khawatir dengan anaknya. Karena memang semua anaknya memang selalu di manja. Membuat dia tidak bisa leoas sepenuhnya dengan anak-anaknya.
"Tapi aku masih ragu syang. Kalau mereka nanti saling bertengkar gimana. Eumah gangga itu tidak bisa di bayangkan sangat mudah. Mereka belum tahu gimana rasanya hidup dalam lingkungan seperti itu, apalagi mereka masih kecil. perbedaan umur mereka itu 3 tahun Jauh lebih tua Cia dari pada David. Yang aku takutin jika sifat keras kepala Cia itu membuat David yang pendiam jadi murka. Dan cia juga belum tau sifat David seperti gimana. David punya trauma , dan apa Cia mau menerimanya" ucap Keyla, ia sebagai ibu bagi anak-anaknya merasa sangat sakit jika melihat anaknya itu terluka. dan ia juga pasti mikir masa depan anaknya nanti gimana . Pasti mau yang terbaik untuk anak-anaknya.
Keyla, menyandarkan kepalanya di pundak Alvin, ia menatap wajah Alvin dengan wajah sedikit mendongak ke atas. Melihat wajah Alvin yang ada di depannya. "Apa kamu gak merasa takut jika Semua pergi dari kita. Aku merasa kita akan sendiri. Kita tidak akan pernah lagi melihat anak-anak, kita setiap harinya" ucap Keyla, dengan wjaah yang terlihat muram.
Alvin mengusap lembut rambut belakang Keyla.
"Sudah kamu jangan khawatir lagi dengan anak kita Cia. Dia pasti bisa merawat dirinya sendiri. Dan aku yakin jika David akan menjaganya dengan baik. meski perbedaan umur mereka jauh, tapi David sudah terlihat dewasa. Bahkan sifatnya lebih dewasa dari Cia. Lihat saja saat Cia yang manja kemarin saja bisa di atasi dengan santainya. Tanpa rasa marah sama sekali terlihat di wajahnya. Jadi kalau soal Cia kamu jangan khawatirkan dia. Aku yakin dia baik-baik saja syang." ucap Alvin, mencoba menenangkan hati Keyla, agar ia bisa menerima perjodohan itu dengan ikhlas. Dan merelakan anaknya pergi nantinya.
"mereka sudah dewasa ada saatnya nanti mereka juga akan menikah dan pergi dari kita. Jadi kita hanya bisa nenghabiskan waktu kita hanya berdua. menikmati masa tua kita berdua. Dengan cucu-cucu kita nantinya. Dan kamu gak usah khawatir lagi. Aku akan bawa kamu ke London" ucap Alvin yang tidak berhenti membelai rambut istrinya itu.
"Apa kita akan benar-benar tinggal di sana?" tanya Keyla memastikan.
Keyla berjalan dibelakang alvin mengikuti langkahnya. "Syang, Biar Joy ikut dengan kita" ucap Alvin.
Keyla, bediri di sampingnya, dan langsung di sambut rengkuhan hangat tangan Alvin dari belakang. Alvin mencengkram erat bahu Keyla, mendekatkan ke dadanya. Dengan pandangan mata menatap ke depan.
"Aku gak maslah jika Joy, ikut dengan kita. Tapi Alana. Aku masih bingung memikirkannya" ucap keyla.
"Kenapa kamu bingung?" tanya Alvin.
"aku gak akan bisa bertemu dengannya lagi. bahkan entah bisa bertemu dengannya atau tidak. Aku yakin ibu kandungnya tidak akan mau menerima kita saat ingin bertemu dengan Alana." ucap Keyla, dengan pandangan mata sedikit mendongak ke atas, menatap wajah Alvin.
Alvin mengecup bibir kayla lembut.
"Kamu jangan khawatir. Kita bisa bertemu dengan mereka kapan saja. Dan aku akan suruh paparazi untuk mengikuti di mana mereka." ucap Alvin,
"Tapi kamu janji, jangan pisahkan aku dengan Alana. Aku gak bisa tenang jika tidak tahu kabar Alana nantinya."
"Sekarang yang paling penting adalah Joy. Aku akan membuat dia bisa tahu dunia bisnis yang kejam. Aku gak mau dia berubah jalur nantinya. Dan kamu juga jangan memanjakan dia. Aku ingin ajarkan dia dalam dunia bisnis. Aku ingin dia merasakan gimana rasanya di dunia perusahaan ini" ucap Alvin, kenyataan dan kepalanya di ujung kepala.
"Baiklah, aku menerima keseluruhan keputusan yang kamu bilang. Tapi kita harus bilang juga pada Cia dan Alana. kita juga minta persetujuan dari mereka." ucap Keyla.
"Soal Alana, aku sudah bilang dengannya. Tinggal kita bicara dengan Cia. Kita bicara baik-baik dengan mereka. tapi selesai ujian, aku gak mau perjodohan ini mempengaruhi nilai ujian mereka nantinya" gumam Alvin.
"Benar juga yang kamu katakan." ucap Keyla, menarik napasnya dalam mencoba menerima semua keputusan yang Alvin katakan. "Dan jangan lupa bilang pada Sheila, kapan kita akan melakukan pernikahan mereka."
"Itu bisa di atur semuanya " ucap Alvin.