My First Love

My First Love
Episode 201



Ssstttt.. Alana, aku mau biacar sama kamu?" panggil


Joy, di balik balkon kamarnya.


Alana yang sibuk belajar, ia hanya diam. lagian ia tidak mau


lagi membuat Cia dan Jo bertengkar karena dirinya. Semua yang membuat masalah


adalah dirinya. Ia tidak mai semua terlibat.


"Alana!!" panggil Joy, membuat Alana merasa risih.


Ia menutup kelambu di pintu balkon kamarnya Agar tidak terlihat lagi wajah Joy.


"Alana.. Alanaa.. Bentar saja aku ingin bicara dengan


kamu. bukalah na.. Aku mohon aku ingin jelaskan padamu.


Alana. hanya diam, ia tidak perdulikan Joy sama sekali. yang


merasa terus mengganggunya.


Joy, melompat ke balkon kamar Alana. Ia menunggu Alana


membuka pintu balkon kamarnya. Ia terus mengetuk-ngetuk kaca balkon.


Alana, tidak perdulikan itu. Ia hanya diam beranjak


membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


"Alana... Aku akan tetap duduk di sini.. Sampai kamu


buka.." ucap Joy..


"Alana.. aku mohon jangan seperti ini alana. Aku gak


mau kamu jauh dariku alana. Bukalah pintunya. Jika kamu gak mai buka aku akan


tetap berdiri di sinu sampai kamu mau buka ointunya.


Alana tidak perdulikan itu. Ia hanya diam Dan membaringkan


tubuhnya, ambil posisi senyaman mungkin. lalu memejamkan matanya.


Alana.. aku mohon alana. aku akan berlutut di sini sampai


kamu mau buka dan bicara dengan aku.. Aku ingin bicara dengan kamu.


“Aku tahu aku salah.. tapi setidaknya beri aku kesempatan


untuk membalas semua yang sudah aku lakukan, pada mu Alana... Aku gak akan


pernah lari dari tanggung jawab...  aku


akan selalu ingat apa yang aku lakukan itu salah. Tapi aku mohon Alana.. Beri


aku kesempatan, aku gak mau larut dan sebuah penyesalah terus-terusan...” ucap


Joy, yang masih duduk berlutut di balkon kamarnya.


Alana hanya diam , ia duduk kembali di meja belajarnya,


tanpa perdulikan Joy yang tersus berdiri di balkon dan tak berhenti


memanggil-manggil namanya.


Alana.. seperti yang kamu inginkan jika dengan berlutut


seharian di sini bisa membuat aku bisa dapat kata maaf darimu, aku akan


melakukannya, apapun akan aku lakukan Alana, demi kamu meski kamu tidak pernah


menganggapkau lagi, aku tidak permasalahkan itu, setidaknya, maafkan aku.. dan


Lihatlah aku akan terus berlutut di sini seperti yang kamu inginkan..” lanjut


joy perlahan menurunkan badaya dan berlutut di lantai, menatp ke arah Alana.


Alana tidal perdulikan itu, ia acuh tak acuh pada Joy. Ia


bergegas berdiri, dan berjalan menuju ke rnajangnya. Menarik bantal yang ada di


atasnya, dan menutup telinganya rapat-rapat.. Ia tidak Mau mendengar apa yang


di katakan Joy lagi, ia tidak mau mendengar semuanya. Bagi dia itu hanyalah sebuah


sakit hati, yang akan semakin menjadi. Hati Alana yang sudah penuh dengan rasa


kecewa, marah dan kesal jadi sebuah gumpalan di hatinya. Mmebuat ia


membaringkan tubuhnya, tengkurap,menangis sejadi –jadinya di balik bantal


miliknya, ia benar-benar tidak bisa seperti ini terus.


Ibu tolonglah aku... aku ingin bersama ibu.. Alana ingin


bersama kalian.. Tolong bawa aku pergi bu dari sini. Alana gak mau berada di


sini terus-terusan ... Alana gak sanggub bu.. alana gak sanggup. Gumam Alna


dalam hatinya, ia bahkanntidak perdulikan Joy yang memang sudah hampir satu jam


berlutut di balkon kamar Alana..


“Alana, bukalah pintunya.. Aku mohon, jangan seperti ini..”


 


 


“Beri aku alasan Alana.. Atau hanya beberapa kata untuk aku bisa tersenyum


kembali, aku juga tidka mau melakukan itu.. Tapi.. Aku gak tahu Alana aku


terlalu bodoh..”


Joy terus mengutarakan isi hatinya, namun tidak di dengar


sama sekali oleh Alana, ia tidak menyerah dan masih tetap pada pendiriannya


untuk tetap berlutut, sampai Alana mau memaafkannya


Alana yang sudah mulai mengantuk, ia mulai memejamkan


matanya. Denga telinga tertutup bantal. Membuat ia tidak mendengar jelas apa


yang katakan Joy.


`````


KEESOKAN HARINYA..


Jarum jam sudah menunjukan pukul lima pagi, alana bergegas


bangun, dari ranjangnya, saat mengingat Joy. Ia ingin memastikan apa Joy tetap


berlutut di depan atau dia sudah pergi.. gadis itu bangkit dari ranjangnya,


berjalan ringan menuju ke balkon kamarnya, ia menyilakan sedikit selambu, dan


menatap Joy yang masih duduk belutut di balkon kamarnya.


“Percuma kamu berlutut aku tidak perduli itu...” ucap Alana


membuka pintu balkon kamarnya. Ia sontak terkejut saat melihat wajah Joy


terlihat sangat lemas, dengan tubuh yang sudah kungkai seakan tanpa tulang di


depannya. Ia tidak sanggup melihat Joy seperti ini, dan. Tes..


Tetesan air matanya tak bisa berhenti menetes. “Kenapa kamu


bodoh, Kak Joy. Kenapa kamu berlutut di sini, apa kamu gak tahu jawaban aku


jugha masih tetap sama. Jangan menyiksa diir kamu sendir. Aku mau memaafkanmu


asalakan kamu pergi jauh dariku, jangan laginpernah menemuiku, aku mau kamu


pergi.. Aku gak mau jika melihat kamu, aku merasa sakit dan kecewa dengan kakak


yang sudah aku anggap sebagai kakak kandung aku sendiri.” Ucap Alana lirih, ia


duduk jongkok, menahan tubuh Joy, yang sudha terlihat sangat lemas.


Joy, yang semula memejamkan matanya, ia membuka matanya


perlahan, melihat ke arah Slana di sampingnya, dengan mulut seakan susah sekali


terbuka untuk bicara. Joy menyentuh pipi Alana.


“Apa yang kamu katakan tadi? Kakak kandung?”


“Buka apa-apa jadi janga terlalu di pikirkan lagi soal itu,


aku gak mau kamu kepikiran lagi. Sekarang berdirilah” ucap Alana, mencoba


membantu Joy untuk berdiri, tubuh Joy terasa sangat berat, dengan kaki yang


terasa sangat sakit di bagian lututnya.


“Aku akan terus di sini, akunharap kamu perdulikan aku.”


Ucap Joy dengan nada lirih dan tersedak-sedak..”


Wajah Koy terlihat sangat pucat..lemas bahkan ia terus


menunduk ke bawah.


“Apa yang kamu lakukan,,, berdirilah... Gak ada gunanya di


sini” ucap Alana.


“Kak Joy..” ucap Alana memegang tubuh Joy yang terasa snagt


panas.


“Dia demam” gumam Alana, memegang pipi Joy, melihat bibir


Joy yang sangat pucat.. membuat hati Alana yang semula kaku dan tidak mau


memaafkan Joy, kini ia berusaha untuk membuang Egonya, ia membantu mengangkat tubuh


Joy yang terasa sangat berat itu..


Joy yang setengah sadar, ia melirik samar ke arah Alana yang


berada dekat di sampingnya. Alana kamu mau memaafkanku..” ucap Joy, tersenyum


tipis, memandang wajah alana di sampingnya.


“Aku masih sama,, aku gak mau memaafkanmu...” ucap Alana


memperjelas apa yang ia katakan semalam.


Namun Joy sudah tidak bisa berdiri tegap, Alana memopah tubuh


Joy beranjak pergi menuju kamarnya. Mata Joy sudah tidak bisa terbuka lagi, ia


sedkit pun Alana tidak melihatnya. Rasa kecewa dalam dirinya sudah tidak bisa untuk


memaafkan, ia benar-benar sangat marah.. Inagin sekali marah semarah, marahnya


bnamun apa yang bisa ia perbuat sat melihat Joy sudah tidak sadarkan diri.


Alana, membaringkan tubuh Joy di ranjang kamar Joy. Dan


segera Alana mengambilkan satu gelas air untuk Joy, dan mengangkat kepalanya


membantu dia untuk minum. tubuhnya sangat lemas, seakan gemulai tanpa tulang,


dan bahkan, dari semalam ia tidak minum sama sekali.


“Alana..!!” oanggil Keyla berjalan masuk ke kamar Joy, ia melihat


kamar Joy yang suidah terbuka sejak tadi beranjak masuk untuk memastikan jiak


anaknya itu tidak apa-apa.


“Mama..”ucap Alana terkejut melihat mamanya tiba-tiba masuk


ke dalam kamar Joy.


“Kenapa Joy?” tanya Keyla melangkahkan kakinya mendekati


Alana, dan duduk di kasur Joy, yang memang lebih rendah tidak seperti ranjang


Alana yang memang seperti biasanya.


Apa yang harus aku katakan pada mama, apa yang harus aku


katakan pada mama.. Jika dia tahu, dia juga pasti akan marah.. Tapi setidaknya


aku harus bisa memberikan alasan pada mama. Pikir Alana dalam hatinya.


“Emm.. gak tahu ma, bada Joy panas. Dan sepertinya dia


demam. Wajahbnya juga pucat. Tadi aku melihat kak Joy di kamarnya... waktu aku


mau pinjam sesuatu, tapi kak Joy gak  jawab, jadi aku buka saja kamarnya.” Ucap Alana beralasan. Dengan pandangan


sedikit menunduk, menyembunyikan apa yang sebanrnya terjadi.


“Ya, sudah. biar aku bantu kamu memberi minum Joy, kamu


ambil kompres buat kakak kamu ya. Setelah itu kamu siap-siap pergi ke sekolah.


Dua minggu lagi kamu terakhir sekolah, jadi mama harap kamu yang rajin ya, kamu


sidah beberapa hari kemarin gak mausk. Sekarang biar kak Joy, mama yang, cerawatnya.


Nanti pulang sekolah kamu bisa merawatnya.. Sekarang lebih baik kanu sekolah..”


ucap Keyla.. Ia takut jika Alana sangat panik dengan keadaan Joy sama seperti


di rumah sakit yang rela tidak sekolah lagi hanya untuk menemani Joy yang asih


belum sadarkan diri di rumah sakit.


Tapi Keyla tidak mau anaknya yang paling pintar itu, meski


hanya anak angkat. Tapi ia sangat bangga, ia mau dia selalu dapat nilai baik,


dan membanggakan orang tuanya.


“Baik, ma. Aku akna pergi, aku ambilkan baskom sama air dan


handuk kecil dulu buat kompres Joy..” Ucap Alana datar.


“Iya, cepat” ucap Keyla dengan suara lembutnya.


Alana bergegas pergi, ia memang tidak bisa melihat Joy


sakit.. Tapi ia masih tetap sama gak akan pernah dekat lagi dengan kakanya itu.


Dan sudah memutuskan untuk segera pergi setelah lulu sekolah nanti. Dan mungkin


selam dua minggu ini adalah pertamuan terakhir aku dengannya. Meski tanpa sapa


sama sekali nantinya. Aku tidak mau kamu selalu menungganggu aku, aku ingin


kamu melupakkanku. Dan nanti pergi carilah wanita yang bisa membahagiakanmu..


Gumam Alnana, menatap sekoilas wajah Joy beberpa detik dari balik pintu dan


bergegas pergi.


Keyla mentap anaknya yang terbaring lemas, ia terus mengusap


lembut rambut anaknya itu, anak lak-laki satu-satunya, yang akan mejadi ahli


waris dari keluarganya.. Ia tidakmau jika Joy selalu menderita.


“Joy, kenapa kamu seperti ini, Nak. Apa kamu ada masalah,


kenapa tidak cerita ke mama?” ucap Keyla, mengusap lembut rambut Joy.


Keyla memberi minum Joy lagi ke dua kalinya..


Alana.. Maafkan aku..


Rintih Joy, membuat Keyla terdiam seketika. Mendengar nama


yang ia sebut, menjadi sebuah bahaya yang harus ia pisahkan..


“Apa benar feling aku selama ini.. Jika Joy suka dengn


Alana.. Tapi tidak mungkin, kenapa dia suka dengan adiknya sendiri.. Apa dia


tidak bisa memisisahkan antara cinta dan perasaannya.” Gumam Ketyla dalam


hatinya.


Ia juga tidak mau jika anaknya suka dengan Alana, meski


bukan adik kandung. Tapi, mereka masih sedarah. Ia tidak bisa lagi mebiarkan


mereka bersama. Benar apa yang di katakan Alvin,mkeyla harus di pisahkan dari


Joy, dia harus pergi ke rumah ibunya.. Agar perasaan ini tidak semakin kuat,


yang akan membuat mereka saling terluka nantinya.


“Ma, ini buat kompres kak Joy, Alana pergi dulu ya?” ucap


Alana berjalan menghampiri mamanya.


Taruh saja di meja, Na!!” ucap Keyla, pada Alana.


“Kamu pergi, dan siap-siap sekolah” ucap Keyla.


“Iya, Ma.” Jawab Alana datar, ia langsung pergi begitu saja


tanpa bertanya keadan Joy sama sekali.


“Alan, tunggu.!!” Panggil Keyla


Salana menoleh.”Iya, ma”


“Nanti pulang sekolah, mama mau kamu temui mama di kamar


nanti. Papa dan mama mau bicara sama kamu, dan kamu dtaang sendiri. Jangan ada


Cia dan Joy nanti, meski dia sudah sadar.” Ucap Keyla.


Apa mama mau bilang akan membawa aku ke temoat ibi aku, aku


ingin sekarang mereka membawaku. Aku ingin segera pergi, aku gak mau harus


menunggu umur enam belas tahun lagi. Unatuk bertemu dengan ibu kandung aku. Aku


gak snaggup lagi terus-terusan bersama dengan Joy.. Kalau di bairkan


perasaanini akan smekain kuat apdanya. Pikir Alana dalam hatinya.


“Alana, kenapa kamu diam, apa kamu gak bisa? Atau kamu nanti


ada acra dengan teman kamu diluar?” tanya Keyla.


Alana mencoba tersenyum seramah mungkin di depan mamanya


itu. “Gak kok, Ma.. Aku gak ada acara. Nanti Alana akan dayang ke kamar mama.


Dan sekarang Alana mau pergi dulu.”


````


“Alana, kamu dari mana?” tanyua Cia, yang kebetulan lewat


mau masuk ke dalam kamarnya.


Ia yang baru saja membangunkan David untuk memberinya


minuman hangat, karena cuaca hari ini sangat dingin.


“Kak, Cia. Aku baru saja ke kamar kak Joy, dia sekarang


sakit. Dan mama sudah merawatnya di dalam.” Ucap Alana, mencoba tersenyum tipis


depan kakaknya Cia.


“Kak, Cia dari mana?” tanya Alana, membuat Cia mengerutkan


ke dua alisnya.


Baru kali ini Alana ikut campur urusannya, dia yang selalu


acuh tak acuh dengan kegiatan di ruamh ini. Dan tiba-tiba berbicara dan


menanyakan dari mana dia.


“Dari bawah sebentar, kamu siap-siap sana sekolah, nanti


kalau Miko datang jemput kamu gimana,” ucap Cia.


“Iya, kak. Ini aku masu siap-siap”


Alana beranjak masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Cia


yang masih berdiri di depan kamaranya, menatap aneh pada alana.


“Alana kenapa ya, kenapa tidak seperti boiasanya.. Padahal


kalau lihat Joy saki dia sangat perduli. Dan kini ia terlihat acuh tak acuh


padanya, apa dia sudah tidak perdulikan Joy lagi. Arrggg...entahlah... mungkin


alana sekarang sudah sadar jika , ia harus meninggalkan Joy.. dan pergi


darinya.. Hmm itu lebih bagus” Gumam Cia, melangkahkan kakinya pergi menuju


kamarnya. Untuk bersiap berangkat sekolah.