
Ssstttt.. Alana, aku mau biacar sama kamu?" panggil
Joy, di balik balkon kamarnya.
Alana yang sibuk belajar, ia hanya diam. lagian ia tidak mau
lagi membuat Cia dan Jo bertengkar karena dirinya. Semua yang membuat masalah
adalah dirinya. Ia tidak mai semua terlibat.
"Alana!!" panggil Joy, membuat Alana merasa risih.
Ia menutup kelambu di pintu balkon kamarnya Agar tidak terlihat lagi wajah Joy.
"Alana.. Alanaa.. Bentar saja aku ingin bicara dengan
kamu. bukalah na.. Aku mohon aku ingin jelaskan padamu.
Alana. hanya diam, ia tidak perdulikan Joy sama sekali. yang
merasa terus mengganggunya.
Joy, melompat ke balkon kamar Alana. Ia menunggu Alana
membuka pintu balkon kamarnya. Ia terus mengetuk-ngetuk kaca balkon.
Alana, tidak perdulikan itu. Ia hanya diam beranjak
membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Alana... Aku akan tetap duduk di sini.. Sampai kamu
buka.." ucap Joy..
"Alana.. aku mohon jangan seperti ini alana. Aku gak
mau kamu jauh dariku alana. Bukalah pintunya. Jika kamu gak mai buka aku akan
tetap berdiri di sinu sampai kamu mau buka ointunya.
Alana tidak perdulikan itu. Ia hanya diam Dan membaringkan
tubuhnya, ambil posisi senyaman mungkin. lalu memejamkan matanya.
Alana.. aku mohon alana. aku akan berlutut di sini sampai
kamu mau buka dan bicara dengan aku.. Aku ingin bicara dengan kamu.
“Aku tahu aku salah.. tapi setidaknya beri aku kesempatan
untuk membalas semua yang sudah aku lakukan, pada mu Alana... Aku gak akan
pernah lari dari tanggung jawab... aku
akan selalu ingat apa yang aku lakukan itu salah. Tapi aku mohon Alana.. Beri
aku kesempatan, aku gak mau larut dan sebuah penyesalah terus-terusan...” ucap
Joy, yang masih duduk berlutut di balkon kamarnya.
Alana hanya diam , ia duduk kembali di meja belajarnya,
tanpa perdulikan Joy yang tersus berdiri di balkon dan tak berhenti
memanggil-manggil namanya.
Alana.. seperti yang kamu inginkan jika dengan berlutut
seharian di sini bisa membuat aku bisa dapat kata maaf darimu, aku akan
melakukannya, apapun akan aku lakukan Alana, demi kamu meski kamu tidak pernah
menganggapkau lagi, aku tidak permasalahkan itu, setidaknya, maafkan aku.. dan
Lihatlah aku akan terus berlutut di sini seperti yang kamu inginkan..” lanjut
joy perlahan menurunkan badaya dan berlutut di lantai, menatp ke arah Alana.
Alana tidal perdulikan itu, ia acuh tak acuh pada Joy. Ia
bergegas berdiri, dan berjalan menuju ke rnajangnya. Menarik bantal yang ada di
atasnya, dan menutup telinganya rapat-rapat.. Ia tidak Mau mendengar apa yang
di katakan Joy lagi, ia tidak mau mendengar semuanya. Bagi dia itu hanyalah sebuah
sakit hati, yang akan semakin menjadi. Hati Alana yang sudah penuh dengan rasa
kecewa, marah dan kesal jadi sebuah gumpalan di hatinya. Mmebuat ia
membaringkan tubuhnya, tengkurap,menangis sejadi –jadinya di balik bantal
miliknya, ia benar-benar tidak bisa seperti ini terus.
Ibu tolonglah aku... aku ingin bersama ibu.. Alana ingin
bersama kalian.. Tolong bawa aku pergi bu dari sini. Alana gak mau berada di
sini terus-terusan ... Alana gak sanggub bu.. alana gak sanggup. Gumam Alna
dalam hatinya, ia bahkanntidak perdulikan Joy yang memang sudah hampir satu jam
berlutut di balkon kamar Alana..
“Alana, bukalah pintunya.. Aku mohon, jangan seperti ini..”
“Beri aku alasan Alana.. Atau hanya beberapa kata untuk aku bisa tersenyum
kembali, aku juga tidka mau melakukan itu.. Tapi.. Aku gak tahu Alana aku
terlalu bodoh..”
Joy terus mengutarakan isi hatinya, namun tidak di dengar
sama sekali oleh Alana, ia tidak menyerah dan masih tetap pada pendiriannya
untuk tetap berlutut, sampai Alana mau memaafkannya
Alana yang sudah mulai mengantuk, ia mulai memejamkan
matanya. Denga telinga tertutup bantal. Membuat ia tidak mendengar jelas apa
yang katakan Joy.
`````
KEESOKAN HARINYA..
Jarum jam sudah menunjukan pukul lima pagi, alana bergegas
bangun, dari ranjangnya, saat mengingat Joy. Ia ingin memastikan apa Joy tetap
berlutut di depan atau dia sudah pergi.. gadis itu bangkit dari ranjangnya,
berjalan ringan menuju ke balkon kamarnya, ia menyilakan sedikit selambu, dan
menatap Joy yang masih duduk belutut di balkon kamarnya.
“Percuma kamu berlutut aku tidak perduli itu...” ucap Alana
membuka pintu balkon kamarnya. Ia sontak terkejut saat melihat wajah Joy
terlihat sangat lemas, dengan tubuh yang sudah kungkai seakan tanpa tulang di
depannya. Ia tidak sanggup melihat Joy seperti ini, dan. Tes..
Tetesan air matanya tak bisa berhenti menetes. “Kenapa kamu
bodoh, Kak Joy. Kenapa kamu berlutut di sini, apa kamu gak tahu jawaban aku
jugha masih tetap sama. Jangan menyiksa diir kamu sendir. Aku mau memaafkanmu
asalakan kamu pergi jauh dariku, jangan laginpernah menemuiku, aku mau kamu
pergi.. Aku gak mau jika melihat kamu, aku merasa sakit dan kecewa dengan kakak
yang sudah aku anggap sebagai kakak kandung aku sendiri.” Ucap Alana lirih, ia
duduk jongkok, menahan tubuh Joy, yang sudha terlihat sangat lemas.
Joy, yang semula memejamkan matanya, ia membuka matanya
perlahan, melihat ke arah Slana di sampingnya, dengan mulut seakan susah sekali
terbuka untuk bicara. Joy menyentuh pipi Alana.
“Apa yang kamu katakan tadi? Kakak kandung?”
“Buka apa-apa jadi janga terlalu di pikirkan lagi soal itu,
aku gak mau kamu kepikiran lagi. Sekarang berdirilah” ucap Alana, mencoba
membantu Joy untuk berdiri, tubuh Joy terasa sangat berat, dengan kaki yang
terasa sangat sakit di bagian lututnya.
“Aku akan terus di sini, akunharap kamu perdulikan aku.”
Ucap Joy dengan nada lirih dan tersedak-sedak..”
Wajah Koy terlihat sangat pucat..lemas bahkan ia terus
menunduk ke bawah.
“Apa yang kamu lakukan,,, berdirilah... Gak ada gunanya di
sini” ucap Alana.
“Kak Joy..” ucap Alana memegang tubuh Joy yang terasa snagt
panas.
“Dia demam” gumam Alana, memegang pipi Joy, melihat bibir
Joy yang sangat pucat.. membuat hati Alana yang semula kaku dan tidak mau
memaafkan Joy, kini ia berusaha untuk membuang Egonya, ia membantu mengangkat tubuh
Joy yang terasa sangat berat itu..
Joy yang setengah sadar, ia melirik samar ke arah Alana yang
berada dekat di sampingnya. Alana kamu mau memaafkanku..” ucap Joy, tersenyum
tipis, memandang wajah alana di sampingnya.
“Aku masih sama,, aku gak mau memaafkanmu...” ucap Alana
memperjelas apa yang ia katakan semalam.
Namun Joy sudah tidak bisa berdiri tegap, Alana memopah tubuh
Joy beranjak pergi menuju kamarnya. Mata Joy sudah tidak bisa terbuka lagi, ia
sedkit pun Alana tidak melihatnya. Rasa kecewa dalam dirinya sudah tidak bisa untuk
memaafkan, ia benar-benar sangat marah.. Inagin sekali marah semarah, marahnya
bnamun apa yang bisa ia perbuat sat melihat Joy sudah tidak sadarkan diri.
Alana, membaringkan tubuh Joy di ranjang kamar Joy. Dan
segera Alana mengambilkan satu gelas air untuk Joy, dan mengangkat kepalanya
membantu dia untuk minum. tubuhnya sangat lemas, seakan gemulai tanpa tulang,
dan bahkan, dari semalam ia tidak minum sama sekali.
“Alana..!!” oanggil Keyla berjalan masuk ke kamar Joy, ia melihat
kamar Joy yang suidah terbuka sejak tadi beranjak masuk untuk memastikan jiak
anaknya itu tidak apa-apa.
“Mama..”ucap Alana terkejut melihat mamanya tiba-tiba masuk
ke dalam kamar Joy.
“Kenapa Joy?” tanya Keyla melangkahkan kakinya mendekati
Alana, dan duduk di kasur Joy, yang memang lebih rendah tidak seperti ranjang
Alana yang memang seperti biasanya.
Apa yang harus aku katakan pada mama, apa yang harus aku
katakan pada mama.. Jika dia tahu, dia juga pasti akan marah.. Tapi setidaknya
aku harus bisa memberikan alasan pada mama. Pikir Alana dalam hatinya.
“Emm.. gak tahu ma, bada Joy panas. Dan sepertinya dia
demam. Wajahbnya juga pucat. Tadi aku melihat kak Joy di kamarnya... waktu aku
mau pinjam sesuatu, tapi kak Joy gak jawab, jadi aku buka saja kamarnya.” Ucap Alana beralasan. Dengan pandangan
sedikit menunduk, menyembunyikan apa yang sebanrnya terjadi.
“Ya, sudah. biar aku bantu kamu memberi minum Joy, kamu
ambil kompres buat kakak kamu ya. Setelah itu kamu siap-siap pergi ke sekolah.
Dua minggu lagi kamu terakhir sekolah, jadi mama harap kamu yang rajin ya, kamu
sidah beberapa hari kemarin gak mausk. Sekarang biar kak Joy, mama yang, cerawatnya.
Nanti pulang sekolah kamu bisa merawatnya.. Sekarang lebih baik kanu sekolah..”
ucap Keyla.. Ia takut jika Alana sangat panik dengan keadaan Joy sama seperti
di rumah sakit yang rela tidak sekolah lagi hanya untuk menemani Joy yang asih
belum sadarkan diri di rumah sakit.
Tapi Keyla tidak mau anaknya yang paling pintar itu, meski
hanya anak angkat. Tapi ia sangat bangga, ia mau dia selalu dapat nilai baik,
dan membanggakan orang tuanya.
“Baik, ma. Aku akna pergi, aku ambilkan baskom sama air dan
handuk kecil dulu buat kompres Joy..” Ucap Alana datar.
“Iya, cepat” ucap Keyla dengan suara lembutnya.
Alana bergegas pergi, ia memang tidak bisa melihat Joy
sakit.. Tapi ia masih tetap sama gak akan pernah dekat lagi dengan kakanya itu.
Dan sudah memutuskan untuk segera pergi setelah lulu sekolah nanti. Dan mungkin
selam dua minggu ini adalah pertamuan terakhir aku dengannya. Meski tanpa sapa
sama sekali nantinya. Aku tidak mau kamu selalu menungganggu aku, aku ingin
kamu melupakkanku. Dan nanti pergi carilah wanita yang bisa membahagiakanmu..
Gumam Alnana, menatap sekoilas wajah Joy beberpa detik dari balik pintu dan
bergegas pergi.
Keyla mentap anaknya yang terbaring lemas, ia terus mengusap
lembut rambut anaknya itu, anak lak-laki satu-satunya, yang akan mejadi ahli
waris dari keluarganya.. Ia tidakmau jika Joy selalu menderita.
“Joy, kenapa kamu seperti ini, Nak. Apa kamu ada masalah,
kenapa tidak cerita ke mama?” ucap Keyla, mengusap lembut rambut Joy.
Keyla memberi minum Joy lagi ke dua kalinya..
Alana.. Maafkan aku..
Rintih Joy, membuat Keyla terdiam seketika. Mendengar nama
yang ia sebut, menjadi sebuah bahaya yang harus ia pisahkan..
“Apa benar feling aku selama ini.. Jika Joy suka dengn
Alana.. Tapi tidak mungkin, kenapa dia suka dengan adiknya sendiri.. Apa dia
tidak bisa memisisahkan antara cinta dan perasaannya.” Gumam Ketyla dalam
hatinya.
Ia juga tidak mau jika anaknya suka dengan Alana, meski
bukan adik kandung. Tapi, mereka masih sedarah. Ia tidak bisa lagi mebiarkan
mereka bersama. Benar apa yang di katakan Alvin,mkeyla harus di pisahkan dari
Joy, dia harus pergi ke rumah ibunya.. Agar perasaan ini tidak semakin kuat,
yang akan membuat mereka saling terluka nantinya.
“Ma, ini buat kompres kak Joy, Alana pergi dulu ya?” ucap
Alana berjalan menghampiri mamanya.
Taruh saja di meja, Na!!” ucap Keyla, pada Alana.
“Kamu pergi, dan siap-siap sekolah” ucap Keyla.
“Iya, Ma.” Jawab Alana datar, ia langsung pergi begitu saja
tanpa bertanya keadan Joy sama sekali.
“Alan, tunggu.!!” Panggil Keyla
Salana menoleh.”Iya, ma”
“Nanti pulang sekolah, mama mau kamu temui mama di kamar
nanti. Papa dan mama mau bicara sama kamu, dan kamu dtaang sendiri. Jangan ada
Cia dan Joy nanti, meski dia sudah sadar.” Ucap Keyla.
Apa mama mau bilang akan membawa aku ke temoat ibi aku, aku
ingin sekarang mereka membawaku. Aku ingin segera pergi, aku gak mau harus
menunggu umur enam belas tahun lagi. Unatuk bertemu dengan ibu kandung aku. Aku
gak snaggup lagi terus-terusan bersama dengan Joy.. Kalau di bairkan
perasaanini akan smekain kuat apdanya. Pikir Alana dalam hatinya.
“Alana, kenapa kamu diam, apa kamu gak bisa? Atau kamu nanti
ada acra dengan teman kamu diluar?” tanya Keyla.
Alana mencoba tersenyum seramah mungkin di depan mamanya
itu. “Gak kok, Ma.. Aku gak ada acara. Nanti Alana akan dayang ke kamar mama.
Dan sekarang Alana mau pergi dulu.”
````
“Alana, kamu dari mana?” tanyua Cia, yang kebetulan lewat
mau masuk ke dalam kamarnya.
Ia yang baru saja membangunkan David untuk memberinya
minuman hangat, karena cuaca hari ini sangat dingin.
“Kak, Cia. Aku baru saja ke kamar kak Joy, dia sekarang
sakit. Dan mama sudah merawatnya di dalam.” Ucap Alana, mencoba tersenyum tipis
depan kakaknya Cia.
“Kak, Cia dari mana?” tanya Alana, membuat Cia mengerutkan
ke dua alisnya.
Baru kali ini Alana ikut campur urusannya, dia yang selalu
acuh tak acuh dengan kegiatan di ruamh ini. Dan tiba-tiba berbicara dan
menanyakan dari mana dia.
“Dari bawah sebentar, kamu siap-siap sana sekolah, nanti
kalau Miko datang jemput kamu gimana,” ucap Cia.
“Iya, kak. Ini aku masu siap-siap”
Alana beranjak masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Cia
yang masih berdiri di depan kamaranya, menatap aneh pada alana.
“Alana kenapa ya, kenapa tidak seperti boiasanya.. Padahal
kalau lihat Joy saki dia sangat perduli. Dan kini ia terlihat acuh tak acuh
padanya, apa dia sudah tidak perdulikan Joy lagi. Arrggg...entahlah... mungkin
alana sekarang sudah sadar jika , ia harus meninggalkan Joy.. dan pergi
darinya.. Hmm itu lebih bagus” Gumam Cia, melangkahkan kakinya pergi menuju
kamarnya. Untuk bersiap berangkat sekolah.