
Joy dan Cia tiba di rumahnya, bahkan ayah papa mereka sudah menyambutnya dengan sebuah senyuman dan tak lupa kejutan buwat mereka, sebenarnya mereka dulu tingga di London panggil Mama, papa waktu kecil, namun semenjak mereka tinggal di indonesia, semua berubah ia lebih suka memanggil ibu, biar sama seperti teman-temannya. Kalau papanya sih tetep sama kalau manggil soalnya dia juga jarang pulang, dan ngeluangin waktu bersama keluarga.
"Hai pa!" Sapa Cia berlari memeluk Alvin.
"Anak papa yang centil ini tambah cantik sekarang" Ucap Alvin mencubit pipi Cia.
"Papa, kebiasaan deh, sakit tahu" Cia cemberut seketika. Gimana tidak cemberut jika papanya selalu mencubit pipinya.
Joy melihat papanya hanya diam, ia segera duduk di meja makan. Karena banyak kegiatan tadi, ia harus pulang terlambat, jam 19.00 mereka baru sampai rumah.
"Joy kenapa kamu diam" Keyla mencoba mendekati anaknya yang paling ganteng itu.
"Apaan sih ma, ku lagi gak mood sekarang" Ucap Joy datar, ia menepis tangan Mamanya yang ingin nenyentuhnya.
"Tumben panggil ibu dengan sebutan mama lagi" Tanya keyla mencoba mengusap rambut anaknya itu lagi.
"Lagi mau panggil mama aja" Joy beranjak berdiri ia segera masuk ke dalam kamarnya.
" Joy, Alana mana?" Tanya keyla, ia tak melihat Alana bersama mereka.
"Gak tau tanya saja sama Cia" Joy terlihat sangat kesal.
"Sebenarnya anak kita yang satu itu kenapa, sekarang jadi sering kesal dia, bahkan pernah berdiam diri di kamar, tanpa makan minum sama sekali. Dia juga gak pernah bilang apa masalahnya" Ucap keyla, ia terlihat sangat khawatir dengan anaknya yang satu itu. Sifatnya tiba-tiba berubah membuat ia bingung.
"Halah.. itu mungkin hanya karena masalah dengan pacarnya. Gak usah terlalu di pikirin. Lagian dia juga sudah mulai remaja. Wajar saja jika dia lagi jatuh cinta" Jawab Alvin dengan santainya. Ia seakan tahu gimana masa remaja anaknya itu.
"Cia sini makan" Panggil keyla. Cia dari tadi juga diam, entah kanapa lagi anaknya ini. Kenapa mereka semua jadi pendiam.
"Eh. Iya bu" Ucap Cia, ia mencoba tersenyum mendekati ibunya. Tetapi Keyla tahu dengan hati anaknya yang satu ini lagi tidak baik. Karena dari sekian anaknya yang paling dekat dengannya hanya Cia.
Dia selalu cerita apapun masalah dia di sekolah, baik teman-tamannya maupun gurunya. Namun ia tidak cerita tentang orang yang ia sukai. Saat keyla tanya dengannya ia hanya bilang tak ada lelaki yang mampu memikat hatinya.
Tapi sekarang dari raut wajahnya sepertinya dia lagi patah hati, keyla berjalan mendekati Cia masih berdiri memegang meja makan.
"Cia apa yang kamu pikirkan nak?" Tanya keyla.
"Gak papa bu, aku hanya lagi kurang enak badan aja. Tapi aku akan makan kok, sama kalian" Ucap Cia, terpaksa mengeluarkan senyum manisnya di depan ibunya.
"Baiklah kamu mandi dulu saja, biar pikiran kamu lebih rileks, setelah itu kamu turun makan sama kita" Ucap keyla. Ia sangat paham dengan anaknya.
Cia beranjak pergi menuju kamarnya, tanpa seuntai katapun keluar dari mulutnya. Dia terus berjalan menunduk menaiki anak tangga.
Tak lama suara montor khas Miko berhenti tepat di depan rumah Alana. "Makasih" Ucap Alana singkat. Tanpa ekspresi di wajahnya.
" iya, bye.."miko melambaikan tangan ke arah Alana. Namun wajah Alana masih tetap datar. Ia hanya menatap Miko saja tanpa senyum terpaut dari wajahnya.
Miko tak perdulikan itu semua. Karena memang itu ciri khas dia. Tetapi setidaknya ia pernah melihat dia tersenyum lepas tadi. Itu adalah hal yang paling berharga baginya.
"Alana, tadi siapa yang mengantarmu"keyla berjalan menghampiri Alana, yang masih berdiri tepat di depan pintu masuk rumahnya.
"Teman bu"jawabnya singkat.
"Teman laki-laki" Tanya Keyla terlihat penasaran. Baru kali ini Alana di antar oleh lelaki. Sepertinya memang dua membuka hatinya untuk lelaki kali ini, gumamnya tersenyum, membelai lembut rambut anaknya yang sepunggung itu.
Alana hanya mengangguk, "Kenapa gak di ajak masuk" Ucap keyla, menuntun anaknya masuk ke dalam rumah.
"Gak, dia buru-buru"
"Ya sudah, sekarang kamu cepat mandi dan ganti baju, sekalian ajak kakakmu Joy untuk turun makan bersama"
Alana mengangguk, ia segera beranjak menuju kamarnya. Tiba-tiba ia teringat tentang Miko tadi. Saat ia bersama Miko, bercanda bersama dengan anak-anak jalanan. Dan bercengkrama bersama orang-orang di sana. Alana tersenyum tipis berjalan menuju kamar Mandi.
Hanya beberapa menit saja ia berendam dalam bathup kamar mandi. Ia sege ra mengenakan baju seadanya yang ia punya. Hanya kaos pendek dan hotpend, yang menutupi tubuhnya.
Ia beranjak menuju kamar Joy, yang memang bersebalahan dengan kamarnya.
Tok..tok..tok..
Alana mengetuk pintu bekali-kali sepertinya tak ada jawaban dari Joy. Ia mencoba membuka pintunya, tak terkunci. Ia bergegas masuk dengan langkah sangat hati-hati, memutar mata melirik ruangan yang nampak kosong.
Alana menatap bingung, ia tak melihat kakanya di kamar. Ia berjalan masuk mendapatkan Joy berdiri merenung di balkon kamarnya, dengan tangan bersandar di pinggiran pembatas balkon kamar.
"Kamu pasti di suruh ibu ya kemari"Ucap Joy tanpa memandang kearah Alana.
Langkah Alana terhenti, ia hanya diam berdiri tepat di belakang Joy. "Aku lagi gak mau makan, dan gak mau di ganggu" lanjut Joy. Ia menoleh ke arah Alana yang masih berdiri terdiam di belakangnya.
Alana tak menjawab, ia membalikkan badan dan pergi dari kamar Joy, tanpa setapah katapun keluar dari mulutnya.
"Dia benar-benar aneh, tak bisa apa menghibur kakaknya sebentar. Eh, Di bilang gitu aja udah pergi. Tanpa bicara apapun padaku" Gumam Joy menatap punggung Alana yang pergi menjauh darinya.
Ia terus bergumam kesal pada adiknya itu, yang tak bisa memahami keadaanya sekarang. Bahkan menghibur dirinya saja tak bisa. Senyum aja terasa susah baginya.
Entah kenapa adiknya beda dengan keluarganya, ia merasa adiknya itu berbeda. Dari pihak keluarga tak ada yang memiliki sifat cuek seperti adiknya itu. Dan itu pun cueknya dia kebangetan. Semakin bikin, geram, emosi dan kesal sendiri.
Ya, gimana gak kesal, di ajak bicara hanya diam, kalau gak ya hanya menganggukan kepalanya, seraya berat untuk berbicara.
Krukkk..krukkk..
Suara cacing di perut Joy merasa sudah kelaparan. Dan bernyanyi meminta makan.
Dengan terpaksa, Joy beranjak turun menuju ruang makan. Kalau gak kerasa lapar gak mungkin aku mau makan, Gumamnya.
Ia duduk tepat di samping Alana, ia hanya diam tak nenatapnya sama sekali. Bahkan ajak bicarapun juga tidak, dan Cia juga terlihat murung dari tadi. Sebenarnya keluarga ini kenapa, semuanya pada diam tanpa suara pun,