My First Love

My First Love
Terungkap



Hari ini mereka sudah kembali sekolah seperti biasa. Dan baru juga pagi tadi papa Alvin sampai di indonesia. Mereka tidak bisa menjemput papa mereka. Hanya Keyla saja yang harus menjemputnya. 


"Kemana anak-anak?" tanya Alvin, berjalan masuk ke rumahnya. 


"Mereka pergi ke sekolah sayang, oya aku mau bicara sama kamu sebentar. Tapi kamu makan dulu ya, aku sudah siapkan semuanya" ucap Keyla. 


"Baiklah, istriku tersayang." Alvin, mengusap lembut pipi Keyla. Berjalan menuju ruang makan. 


Keyla mulai ambilkan nasi dan beberapa lauk untuknya. raut wajahnya hanya diam, tanpa banyak ekspresi sama sekali saat ia menjemputnya di bandara sampai di rumah. 


"Tumben hari ini wajah kamu gak bahagia sama sekali aku datang" tanya Alvin. " Apa ada maslaah ya syang"


"Kamu pasti tau alasanya, dan itu masih sama." ucap Keyla datar. "Masalah dalam keluarga kita juga sama"


Alvin menatap Keyla, ia meletakkan sendok dan garbunya, ia bangkit dari duduknya. Dan kembali duduk di samping Keyla. "Aku tahu kamu masih marah denganku soal kejadian lalu. Dan udah lama kita bahagia lagi, melupakan hal itu. Tapi kenapa sekarang kamu mengingat hal itu lagi?" tanya Alvin, memegang ke dua tangan Keyla. 


Keyla tersenyum tipis.


"Aku hanya ingin kamu bilang sesuatu padaku, sebenarnya yang terjadi. Dan sekarang kamu makanlah dulu. Aku mau pergi" ucap Keyla, bangkit dari duduknya, melangkahkan kakinya pergi. 


Alvin memegang tangan Keyla. "Kamu mau kemana?" tanya Alvin.


"Duduklah, aku mau makan berdua denganmu. Di sini anak-anak gak ada. Dan kamu juga mau pergi. Apa kamu tega membiarkan suami kamu kesepian makan sendiri di meja makan sebesar ini" ucap Alvin menvoba bericara baik-baik dengannya. 


Keyla menarik napasnya, ia merasa sangat kesal harus berhubungan dengan masa lalu itu lagi. Tapi dirinya terus mencoba untuk membuang kenangan menyakitkan itu dengan kebahagiaan keluarganya. 


"Baiklah!! Aku temani kamu makan sekarang. Dan aku gak mau jika kamu gak makan, kalau sakit siapa juga yang repot" ucap keyla, kembali duduk di kursinya. 


Alvin tersenyum, melihat istrinya yang menggemaskan itu. Wajah yang terlihat awet muda, meski banyak masalah yang ia pikirkan. 


"Aku suapi kamu ya!!" ucap Alvin, mengambil makanan untuk Keyla. Ia melayangkan tangannya ke depan mulut Keyla. "Emm.. Aku gak mau. Aku bisa makan sendiri" ucap Keyla, menutup mulutnya rapat. 


"Aku suapin kamu satu kali saja" ucap Alvin, yang terus memaksa Keyla. 


"Aku gak mau, aku bisa makan sendiri syang!!" ucap Keyla, mengambil piring di tangan Alvin.


"Satu sendok saja!!" ucap Alvin yang tidak berhenti memaksa Keyla. 


"Baiklah, satu saja ya" Keyla, dengan terpaksa harua membuka mulutnya. Dan mengijinkan Alvin memasukan makanan ke dalam mulutnya. 


"Nah, gitu dong. Kalau kayak gini kan aku tambah cinta dneganmu" Goda Alvin, menatap wajah cantik Keyla. 


"Apa kamu selama ini gak cinta?" tanya Keyla. 


"Cinta, tapi aku hanya ingin bilang sesuatu padamu" ucap Alvin. 


"Apa?" 


"Makan dulu!!" jawab Alvin, yang mulai melanjutkan makannya lagi yang sempat tertunda. 


Keyla, juga mulai makan bersama dengan Alvin, mereka saling melirik satu sama lain. Seakan bernostalgia pada masa remaja yang membuatnya dulu merasa saling mencintai. Meski sudah tua, perasaan itu masih sama.


"Kenapa kamu melirikku?" tanya Keyla. 


"Aku ingat masa pacarak kita" ucap Alvin. "Apa kamu gak ingag saat kita makan seperti ini denganku berdua" lanjutnya.


"Gak ingat!!" jawab Keyla. 


"Benar gak inget?" tanya Alvin memastikan. 


"Udah sekarang cepat makannya, setelah itu ke ruang keluarga. Aku mau bicara di sana." ucap Keyla. 


Selesai makan, keyla menuju ke ruang keluarga, yang biasa ada suara ramai Cia dan Joy yang berantem. Kini nampak sepi saat mereka semua pada sekolah. 


Keyla duduk di sofa, bersandar dengan santainya, tangan meraih remot tv di sampingnya. "Katanya mau bicara, kenapa kamu malah lihat tv?" tanya Alvin, duduk di samping Keyla. 


"Aku mau tanya soal Alana?" ucap Keyla penuh ragu, tanpa menatap ke arah Alvin. 


"Emangnya kenapa?" tanya Alvin. 


"Kemarin di rumah sakit dia marah dneganku. Gara-hara ia sudah tahu semuanya. Dan aku gak tahu kalau Alana diam-diam sudah mengetahui apa yang kita lakukan" ucap Keyla. 


Alvin memegang rahang Keyla, membalikkan ke arahnya. "Tatap aku!" ucap Alvin lembut. 


"Jelaskan!!" ucap Keyla yang semula membaik keadaannya, kini ia semakin kesal dengan suaminya. 


"Bukanya, aku sudha cerita padamu. Dan apa yang kamu dengar itu kenyataannya. Kamu mau aku beri tahu kamu apa lagi?" ucap Alvin, yang terlihat mulai muram.


"Alana tanya kenapa kamu merebut paksa dirinya, kenapa kamu mau merawatnya" ucap Keyla, semakin meninggikan suaranya. 


"Karena Alana anak aku, dan dia juga anak kandung aku." ucap Alvin sontak membuat Keyla terdiam, dadanya terasa di cabik-cabik hewan buas. Tubuhnya seketika lemas tak berdaya mendengar hal itu, terucap dalam mulutnya. 


"Jadi kamu punya anak darinya. Dan dia anak kamu? Dan kenapa kamu bilang padaku jika itu anak wanita yang bersama kamu. Dan kamu bilang jika dia sudah punya istri, tapi kenapa kamu gak bilang padaku, kenapa.."


Alvin memeluk istrinya erat, "Maafkan aku, ku gak tahu jika semua ini akan jadi hal besar bagi Alana. Dan maaf jika aku sudah bohong padamu. Aku syang dengan kamu Keyla, aku tidak mau kamu meninggalkanku. Aku gak mau kamu pergi dariku.." ucap Alvin, mengusap lembut punggung Keyla. 


"Taoi kamu terlalu jahat denganku, kamu menyembunyikan semuanya selama ini." ucap Keyla.


"Aku ingin bilang tapi aku gak bisa. Aku lebih menjaga perasaan kamu syang. Maafkan aku!! Dan aku sekarang juga tidak pernah menghubungi dia. Bahkan aku tidak pernah bertemu dengannya. Aku lebih memilih kamu, cinta aku, Dan kejadian itu juga kamu sendiri. itu gak sengaja, karena kebodohan aku. Aku juga sudah cerita semuanya pada kamu. Dan sekarang aku akan bilang semuanya pada kamu." ucap Alvin, melepaskan pelukannya.


"Iya, tapi aku mohon padamu. Jangan ceitakan ini pada anak-anak. Aku takut dia akan marah dengan kamu. Biarkan aku yang merasa kecewa. Jangan sampai mereka semua tahu" ucap Keyla.


Alvin mengecup lembut kening Keyla, lalu mengusap air matanya. "Aku akan bilang pada Alana nanti. semoga dia bisa terima semuanya." ucap Alvin.


"Iya, aku juga sudah anggap Alana sebagai anak aku sendiri. Aku juga gak mau kehilangan dia nantinya." ucap Keyla, mendongakkan kepalanya menatap Alvin di depannya.


"Kamu gak akan kehilangan dia, aku akan pastikan itu. Tapi aku ingin bilang satu hal dengan kamu"


"Apa?"


"Saat kuliah nanti, Alana akan tingga bersama kita di London. Dan aku sudah memutuskan untuk pertemukan Alana dengan ibunya saat dia berusia enam belas tahun dan sekarang saatnya"


"Apa kamu bilang, jika Alana gak mau tinggal lagi dengan kita gimana?" tanya Keyla, bangkit dari duduknya.


"Kamu duduklah dulu, aku akan pastikan dia akan selalu bersama kita" ucap Alvin, mencoba menenangkan hati keyla.


"Jika dia marah denganku dan pergi meninggalkan keluarga ini. Aku gak akan memaafkan kamu. Karena kamu yang memulai semuanya. Dan kamu harus tanggung jawab untuk semuanya" Keyla, beranjak berdiri. "Sekarang kamu istirahat saja, sambil nunggu anak-anak pulang" ucap Keyla datar.





Bel istirahat berbunyi, menggema ke seluruh penjuru ruangan. Semua anak keluar dari kelasnya berlari menuju ke kantin. Tapi berbeda dengan Alana yang hanya diam di depan kelasnya, sambil baca buku. Ia sudah banyak ketinggalan pelajaran. Ia tidak mau kalah dengan yang lainya. Meski sebenarnya ia mampu mengikuti pelaharan selanjutnya. Tapi sifatnya yang tidak mau di kalahkan membuat Alana tetus teobsesi terus belajar agar lebih baik, dan lebih baik lagi.



"Alana!!" panggil Miko, duduk di samping Alana.



"Ada apa kak?" tanya Alana, tanpa menatap ke arah Miko.



"Kamu gak mau ke kantin?" tanya Miko.



"Enggak, aku gak lapar!!"



"Ini aku bawakan sandwich buat kamu. Aku buat sendiri lo. Khusus untuk kamu" ucap Miko.



"Gak kak nanti saja, aku masih sibuk" ucap Alana yang tidak perduli ada makanan di sampingnya.



Kruukkkk..


Alana memegang perutnya, yang tiba\-tiba tidak bisa di ajak kompromi.



"Kamu lapar ya? Udah aku suapi ya" Miko, memberikan satu seuapan roti untuk Alana.



Alana terdiam, ia yang semula tidak perduli. Ia menermima begitu saja. Di balik itu, lorong terlihat Joy menata ke arah Miko dan Alana sedang asyik berbincang bedua samvil makana bersama.



"haii.. Kalian makan gak bagi\-bagi" ucap Jog, mengambil satu sabdwich di depan kotak makanan yang di bawakan Miko.



"Ehh.. Itu buat Alana, kenapa kamu langsung ambil gitu saja" ucap Miko



"Udah kak Miko, biarkan saja. Lagian sebanyak ini Alana juga gak habis" ucap Alana.



"Nah, Alana saja gak nolak. Kenapa kamu malah mau nolak" ucap Joy.



"Alana, boleh bicara berdua gak?" tanya Joy, memegang tangan Alana.



Plakkk..



"Eh.. Kamu jangan pegang tangan Alana." ucap Miko.



"Emangnya kenapa?" tanya Joy.



"Ada aku di sini, dan Alana sudah dari tadi dengan aku di sini" ucap Miko, mendorong tubuh Joy agar cepat pergi.



"Udah, Kak Miko dan Kak Joy. Aku amu bicara dnegan kak Joy dulu" ucap Alana, beranjak berdiri. Menarik tangan Joy pergi dari depan Miko, berjalan ke halaman.



"Mau bicara apa kak?" tanya Alana.



"Kamu kemarin bilang apa pada mama. Kenapa dari tadi ia hanya diam. dan seakan ada maslaah yang di pendam" gumam Joy.



"aku gak bialng apa\-apa kak, udah gak usah bahas itu. Aku syang dengan keluarga aku. Dan mungkin mama memang ada masalah yang di pemdam" ucap Alana.



"Baiklah, tapi beneran kan?" tanya Joy.



"Iya!!" jawab Alana tegas, "Kalau gak ada yang di bicarakan lagi. Aku pergi dulu. Mau baca buku" ucap Alana beranjak pergi.