
Alvin yang mengetahui alasan dian berteriak hanya tersenyum angkuh sambil berjalan mendekati dian lalu bertanya "kamu kenapa teriak seperti orang kesurupan aja, baru lihat peria ganteng seperti ku saat keluar dari kamar mandi?",
"bisa tolong jaga jarak gak sih tuan?", kata dian sambil memalingkan wajah nya dan menutup mata nya. jantung dian memompa sangat kencang seakan sebentaragi keluar dari dalam dada nya.
"hahah jaga jarak? memang nya selama ini kamu menjaga jarak dengan kekasih mu itu?", alvin bertanya pada dian semakin mendekatkan tubuh nya dengan dian.
dian mengambil langkah mundur namun tetap saja alvin mengikuti dian yang masih menutup mata nya hingga tubuh dian terbentur di tembok kamar itu, sontak membuka matanya dan betapa kager nya ia saat melihat lelaki bertubuh kekar dan memiliki belahan kotak pada setiap otot perut lelaki yang berada di depan nya. "astaga", gumamdian lalu mendorong tubuh alvin dari nya namun nihil, alvin tak mudah di dorong dengan tenaga dian.
alvin tersenyum acuh tetap mendekatkan tubuh nya pada wanita yang tah sah menjadi istri nya itu.
"apa aku salah mendekati istri ku? bukan kah kamu senang seharus nya, ini bukanlah pernikahan kontrak sayang, kamu akan melayaniku layak nya pasangan suami dan istei yang lain nya", kata alvin sambil menampilkan senyuman devil nya hingga membuat dian ketakutan.
deg deg deg irama jantung alvin berpacu tak kalah gebat nya dari jantung dian hingga alvin menyadari kedekatan nya dengan dian yang tanpa ada jarak sedikitpun. alvin berlalu meninggalkan dian yang masih mematung di dinding kamar itu.
"ada apa sih dengan jantung ku?, kamu gak bileh menyukai nya. gak boleh.", alvin berbicara sendiri di depan cermin sambim memegangi dada nya.
sedangkan dian "ya tuhan... hampir aja..!", sambil meloroh kan tubuh nya ke lantai, lalu tak lama kemudian, dian berjalan mengambil langkah lebar menuju balkon kamar itu.
saat alvin keluar dari ruangan ganti, matanya menelusuri kamar nya mencari sosok sang istri namun tak ia temui. hingga membuka kamar mandi namun hasil nya juga tak ada. saat alvin ingin keluar dari kamar memegang handle pintu, terdengar suara dian dari balkon kamar nya. alvin mengikuti kemana arah suara yang ia dengar. dan ternya dian lagi menelfon seseorang yang juga ia kenali.
"lo ngapain? kangend gua sama lo", kata dian dibalik benda pipih persegi panjang yang ia genggam mendekatkan pada telinga nya.
alvin semakin murka saat ia mendengarkan apa yang istri nya bicarakan sambil mengepalkan kedua tangan nya.
"sekali nya perempuan p*****r, maka tetap seperti itu", gumam alvin
"hahaha yahhh lo kan tau aja, bisa kan lo temui gue nanti? gue kangen benaran nih, kebelet gue, pengen meluk lo, tidur bareng, jalan-jalan bareng gitu, apa lagi skrang laki gue gak ngijinin gue kerja, rasa nya kayak gimaaaa gitu, gak asik banget dia", dian bercerita pada seseorang yang menelfon nya tanpa alvin mengetahui siapa yang menelfon istri nya.
alvin pergi dari balkon kamar nya lalu berbaring di tempat tidur. "itu pasti kekasih nya selama ini", gumam alvin sambil memainkan bendah pipuh yang ada di tangan nya hingga ada seseorang yang menefon nya. ia melihat ada nomor yang sudah ia kenali tertera pada layar.
"ngapain dia nelgon gue lagi?", gumam alvin lalu mengangkat telephone nya. "hallo ada apa?", kata alvin.
"eeh masa gitu sih sayang? akukan hanya menelfon pengend dengerin suara seksi mu yang, aku kangend loh, aku mau kita ketemuan gitu yang", kata misel pada alvin manja.
"sorry gua gak ada waktu buat wanita macam lo", timpal alvin lalu mematikan panggilan sepihak.
sepuluh menit telah berlalu, telephone alvin berbunyi lagi. "kenapa sih lo gak tau maulu banget, tolong jangan gangguin gue", jawab nya lagi. alvin lalu melempar handphone nya ke nakas dengan kesal.
"kenapasi hidup gue?", gumam nya lagi.
tak lama dian muncul sambil menundukan kepala nya saat melihat alvin menyandar di tempat tidur
"udah puas berbicara kangend-kangenan sama kekasih mu? bicara lah terus sampai kita menemukan kembali jalan untuk bercerai", alvin berbicara pada dian.
dian merasa alvin sedang berbicara dengan nya serentak mendongkakkan kepala nya mendengar kata perceraian.
"aa..a..apa maksud tuan? cerai? ada dapa? kita baru nikah sehari", jawab dian gelagapan.
"tapi maaf, aku tidak pernah memiliki kekasih atau apaoun yang seperti kamu tuduhkan pada ku, aku sedikitpun tak pernah disentuh oleh lelaki manapun dan tolong jangan pernah kamu bawa nama siapaun dalam pernikahan ini", dian berbicara penuh penekanan pada setiap kata nya.
alvin yang mendengar dian berbicara seperti itu lalu berdiri dan mengambil langkah seribu dan PLAKKKKK alvin melayangkan telapak tangan nya pada pipi dian hingga menimbulkan bekas tangan pada pipi kanan nya.
dian menangis terseduh-seduh lalu berdiiri ingin pergi meninggalkan kamar itu namun dengan cepat alvin menyeret nya menuju tempat tidur dan.
"diam kamu j****g l**r", hardik alvin sambil menunjukan jari telunjuk pada dahi dian.
tak ada satupun yang mendengar apapun yang terjadi dikamar itu karena kamar millik alvin memiliki kedap suara.
"jangan sekalipun kamu berani membantah pembicaraan ku, tetap diam disini dan jangan pernah kamu keluar dari kamar mu sebelum bekas tamparan mu memudar." alvin mengancam dian dan dian hanya mengangguk nya pelan tanpa mengeluarkan suara, hanya ada air mata yang mengalir dari pelupuk mata nya.
alvin lalu pergi meninggalkan kamar itu tanpa membawa handphone nya.
"kenapa dia begitu tegah menampari ku? aku sedikitpun tak punya salah pada nya, bahkan berselingkuhpun aku tak pernah", gumam dian disela tangisan nya sambil sesegukan.
dret dret dret handphone alvin kembali berbunyi, dian tak memperdulikan siapa yang menelfon suami nya hingga beberapa kali handpne nya masih saja terus berbunyi, namun pemilik handphone tidak kunjung kembali ke kamar itu. dian akhir nya memutuskan untuk mengangkat panggilan yang masih saja berbuyi berkali kali.
"hallo selamat siang?", sapa dian ramah.
"siapa kamu? kenapa kamu lancang mengangkat telephone milik alvin?", kata wanita itu disebrang.
"maaf bu, saya dian istri mas al", jawab dian masih ramah.
"hahahah mas al mas al.. jangan bermimpi kamu menjadi istri alvin. kamu akan di ceraikan setelah suami mu itu bertemu dengan ku", jawab misel dibalik telephone.
"mbak, siapa pun mbak bagi suami saya, tolong haragai hubungan kami dan jangan ganggu suami saya, saya mohon.", kata dian lembut.
"enak aja.", jawab misel lalu panggilan akhir nya terputus.
dian menyimpan kembali handphone milik suami nya keatas nakas dan kembali menangis sesegukan.
.
.
.
Hay guys, terimakasih sudah selalu setia membaca novel ku ini. jangan lupa klik lik dan vote sebanyak mungkin yah.
terimaaksiih
😇