My First Love

My First Love
Bakti sosial



Bel pulang sudah berbunyi Joy dan Cia sudah berdiri di deoan halaman sekolah enunggu Cia yang belum keluar dari tadi.


"Lama banget sih Cia" Gerutu Joy.


"Aku coba telfon dulu kak"jawab Alana.


"Baik cepat telfon, kalau mau pulang cepetan suruh pulang"gumam Joy kesal.


Alana segera menelfon Cia, ia meraih ponselnya di saku.


"Cia kamu di mana?" Tanya Alana.


"Na aku ada tugas mendadak dengan Miko, kamu pulang dulu sama Joy ya, aku harap kamu mengerti. Karena ini mendadak aku gak bisa menolaknya. Guru killer terus menghukumku gara-gara gak bisa kerjain tugas. Jadi aku minta bantuan Miko untuk mengerjakan tugas. tadi gara-gara Miko di hukum tugas ku jadi terbengkalai"ucap Cia di balik telefon.


"Baiklah, aku pulang duluan sama Joy"pungkas Alana segera menutup telefonnya.


"Gimana? Cia di mana sekarang?"tanya Joy yang sudah duduk di dalam mobil menunggu kabar dari Cia.


"Dia ada tugas sekarang sama Miko" gumam Alana.


Joy keluar dari dalam mobil, dan beranjak mendekati Alana. "Mumpung Alana lagi gak ada, aku mau ajak kamu pergi. Lagian kakak kamu ini gak pernah sama sekali ajak jalan adiknya kan"ucap Joy.


Alana bingung di lain sisi ia entar emang ada kegiatan bakti sosial, tapi ia harus pulang dulu ambil beberapa barang tapi di sisi lain kakanya ajak dia keluar. "Apa sekalian aku ajak kak Joy ke tempat bakti sosial ya. Tapi barang-barang ayang akan aku sumbangkan serta buku-buku ada di rumah."batin Alana.


"Kenapa kamu diam? Gak mau ya keluar sama kakak kamu ini. Lagian tenang saja aku gak ada maksud lain. Aku hanya ingin menghibur kamu saja" ucap Joy.


"Ya, aku tahu kak. Tapi aku ada acara entar kak, apa kamu mau ikut"tanya Alana ragu.


Temben banget nih adik aku ajak aku ikut ke acaranya. Biasanya dia selalu sendiri. Tapi kebetulan sih, aku juga mau tahu acara apa yang di lakukan Alana sampai-sampai dia pulang larut malam.


"Baiklah, aku ikut"kita langsung berangkat sekarang."tanya Joy.


"Apa kita gak pulang dulu kak, barang-barang aku di kamar aku"ucap Cia.


"Udah biar sopir yang ambilkan narang-barang kamu, kuta naik taxi saja, kesana duluan gimana?"


Alana terdiam sejenak, "Baiklah"gumam Alana.


Pak kamu pulang duluan ya, ambil barang-barang Alana di kamarnya. Dan nanti di antar kemana aku kirim pesan alamatnya" ucap Joy.


"Baik tuan"ucap sopir itu. Tanpa banyak basa-basi segera pergi meninggalakan Mereka berdua.


Sekilas Miko yang memang lagi beli sesuatu di luar sendiri. Ia berhneti di dean halamn sekolah dan masih di atas montornya, melihat Alana bersama dengan Joy jalan keluar dari halaman sekolah. "Mereka tidak naik mobil"gumam Miko menatap mereka dari jauh.


"Apa yang akan mereka lakukan?" Tanya Miko dalam hatinya.


"Sialan, aku ada tigas gak bisa nemenin Alana hari ini. Tapi setidaknya aku sekarang bisa melihat dia sejenak. Aku akan segera selesaikan tugas aku dan beranjak pergi menjemput Alana nanti"gumam Miko.


Joy dan Alana sudah naik dalam taxi yang baru saja Joy pesan. "Pak jalan saja, nanti ada kegiatan sosial tepat di perempatan jalan depan belok kiri." Ucap Alana.


Joy terdiam, "bakti sosial? Sejak kapan dia ikut acara begituan. Dan kenapa semua orang rumah gak ada yang tahu. Dan jadi selama ini dia dan Miko keluar itu hanya untuk ini"gumam Joy.


Ia terkejut mendengar apa yang di katakan Alana. Ia enggak pernah tahu sama sekali apa yang di lakukan adiknya beberapa tahun terakhir. Bahkan dia juga pendiam tak pernah banyak cerita pada keluarganya. Baru kali ini Joy melihat sisi lain dari Alana. Pantas saja Miko yang dulunya terkenal palyboy bisa bertekuk lutut dengan Alana. Aku tahu sekarang alasan di bisa suka dengan Alana.


Alana itu wanita idaman, dia benar-benar baik meskipun sifat cueknya itu jengkelin. Tapi setidaknya dia tidak pernah marah sama sekali bahkan membentak orang.


"Eh.. gak Na, aku hanya ingat sesuatu saja tadi"ucap Joy mencoba berbohong pada Alana.


"Kak Joy bohong, aku udah tahu dari raut wajah kakak, pasti kak joy kaget melihatku  melakukan kegiatan sosial"gumam Alan dalam hatinya.


Keahlian Alana dalam hal mengamati ekpresi wajah Orang. Bahkan dia bisa menebak apa yang orang itu pikirkan dari pandangan matanya dan raut wajahnya yang berubah-ubah


Tak lama perjalanan mereka sudah sampai, di sana tempat berkumpulnya semua anak-anak bakti sosial. Banyak banget anak-anak muda. Dan Joy merasa minder dari dulu dia kemana saja. Bahkan tak pernah melakukan hal seperti itu. Dan Alana diam-diam melakukan hal mulia membantu sesama. "Aku kagum padamu Alana, adik yang paling aku banggakan"ucap Joy dalam hati, ia mengusap lembut rambut adiknya. Membuat Alana terdiam seketika.


"Apa yang kak Joy lakukan"tanya Alana bingung.


"Gak apa-apa, ayo turun itu teman-teman kamu sudah menunggu semuanya."ucap Joy yang beranjak turun. "Berapa pak?" Tanya Joy


"50rb"ucap singkat sopir taxi itu.


"Ini pal uangnya"gumam Joy, mengulurkan secarik uang kertas berwarna biri pada Sopir itu.


"Makasih"sopir  itu beranjak pergi meninggalkan mereka.


"Hai..Alana sini?" Teriak seorang laki-laki yang tak Joy kenal.


Alana tersenyum, dia berjalan mendekati laki-laki itu. Joy merasa aneh lagi, ia bejar-enar bingung melihat Alana yang tak bisa di tebak. Bahkan kini ia melihat dia bisa senyum dengan laki-laki. Tapi bahkan pada keluarganya sendiri saja tidak.


"Ada apa?" Tanya Alana.


"Kamu, bantuin aku ya beresin ini semua. Oya besok hari minggu pas liburan. Aku mau ajak kamu dan teman-teman lainnya terjun langsung ke korban tanah longsor. Kita bantu-bantu di sana"ucap Lelaki itu.


"Baik ian" ucap Alana.


Adrian adalah teman dari Alana, dia seumuran dengan Joy dan Cia, adrian orangnya baik banget. Bahkan diam-diam Alana menyimpan hati padanya. Karena kebaikannya yang membuat hati Alana luluh.


"Kamu siapa?" Tanya Joy dengan tatapan gak suka pada lelaki itu.


"Kenalin aku Adrian, panggil saja aku ian"ucap Adrian, mengulurkan tangannya ke arah Joy.


"Oh.. aku Joy kakak Alana." Joy terlihat sangat angkuh tanpa menerima uluran tangan Adrian.


Adrian hanya senyum, ia tak menganggap serius masalah uluran tangan. Sifatnya sangat sabar tak pernah terbawa emosi oleh siapapun yang cari gara-gara dengannya.


"Kak Joy, dia sudah baik kenapa kamubseperti itu"ucap Alana lirih.


"Iya"jawab Joy singkat.


"Maaf Kak Ian kakak aku emang gitu"gumam Alana.


"Udah gak apa-apa Na, udah ayo kita bereskan dulu semua bantuan yang sudha terkumpul."ucap Adrian.


"Oya, Kak aku belum bawa barang-barang aku yang mau aku sumbangkan."kata Alana.


"Kamu mau sumbangkan buku kamu itu, anak-anak di sana mana ada yang bisa menjangkau buku-buju orang dewasa. Kamu berikan entar pada anak yabg memang berprestasi ya. Kasihan kalau yang lainnya pemikieannya gak menjangkau seperti cara pembelajaranmu"ucap Adrian menggoda.


"Siap kak"ucap Alana.


"Kenapa mereka akrab sekali, dan Alana tak ada rasa canggung untuk berbicara. Apa Alana kalau di luar memang seperti ini"bantin Joy dalam hatinya.