My First Love

My First Love
Masa lalu



Keesokan harinya..


Keyla terdiam di sofa, menunggu kabar dari suaminya yang tak kunjung ia dapatkan dari kemarin. Sudah dua hari Alvin tidak pernah menghubunginya.


Cia yang menyadari mamanya berdiam diri di sofa, ia segera berjalan menghampirinya. Berhubung di rumah hanya ada dia dan mamanya, kakek dan neneknya juga sedang pergi ke Sydney. 


Cia menggelengkan kepalanya, berjalan ringan dengan hentakan kaki pelan agar tidak mengejutkan Keyla, mama Cia, yang terus melamun dari tadi.


Cia menepuk pundak Keyla, membuat mamanya terjingkat dari lamunanya, dan menoleh ke arah Cia.


"Ma!! Kenapa mama dari kemarin hanya diam" tanya Cia, dengan wajah agak menunduk, melihat ekspresi kesedihan di wajah Keyla. 


"Gak apa-apa Cia" Keyla mencoba tersenyum lebar di depan anaknya, dengan tangan mengusap lembut rambut Cia.


"Mama itu gak apa-apa syang, hanya saja mama merasa kesepian gak ada teman. Dan Cia tadi juga sibuk sendiri. Jadi mama juga gak mau ganggu Cia." Ucap Keyla beralasan. 


"Beneran? Mama gak bohong kan?" Tanya Cia, ia ragu jika mamanya itu berkata jujur.


"Kenapa juga mama bohong dengan Cia. Joy dan Alana juga pergi dengan teman-temannya. Di rumah hanya kita berdua, dan kamu juga sibuk dengan tugas kamu yang menumpuk." ucap Keyla, di balas dengan anggukan kecil dari Cia, seolah dia percaya saja dengan mamanya. Meski, sebanarnya ia tahu jika mamanya itu sedang berbohong padanya. Dari raut wajah keyla saja sudah terlihat jelas jika mamanya itu lagi memikirkan sesuatu. Tapi tentang apa Cia juga tidak tahu, tapi Cia yangbmerasa ingin tahu masalah mamanya, karena ia tidak mau mamanya memikirkan bebannya sendiri.


"Mama anggap Cia apa?" Pertanyaan Cia, membuat Keyla tersentak, melebarkan matanya, menatap bingung ke arah anaknya itu. 


"Maksud Cia?" 


"Mama kalau anggap aku anak, kenapa mama gak pernah cer. ita jika ada masalah? Kenapa mama menyimpan masalah mama sendiri? Jika Cia bisa bantu Cia pasti bantu Mama." Ucap Cia penuh dramatis, memegang bahu Keyla dengan mata mengobar kesal. 


Keyla hanya diam menunduk seperti patung di depan anaknya sendiri, ia ingin cerita pada anaknya tapi berat. Ia berpikir jika ini masalah keluarganya. Jadi ia tidak mau cerita dengan anak-anaknya. 


Cia menarik napasnya, melihat wajah mamanya yang hanya diam. Dengan raut wajah semakin menunjukan kesedihannya. Hati Cia mulai luluh, ia duduk di samping Keyla, memeluk mamanya erat. 


"Ma!! Jangan simpan masalah mama sendiri, berbagilah dengan Cia ma." Ucap Cia, menyandarkan kepalanya di pundak Keyla.


"Papa kamu!!" 


Cia melepaskan pelukannya, percikan api kekesalan mulai mengobar dalam matanya. Ia beranjak berdiri di depan Keyla.


"Kenapa dengan papa? Apa dia nyakitin mama? Atau papa punya wanita lain!! Kalau memang begitu, Cia gak akan tinggal diam!!" Ucap Cia penuh emosi, mengepalkan tangannya, dengan wajah mulai memerah seperti kepiting rebus. Ia tidak mau melihat mamanya sedih lagi seperti kejadian 15 tahun yang lalu terulang lagi. Saat dia masih kecil, saat di mana ayahnya pernah mencampakan mamanya beberapa minggu. Namun mamanya yang terlalu cinta dengan papanya ia memaafkan papanya begitu saja.


Keyla menggelangkan kepalanya. "Cia duduklah!!" Cia terdiam, menuruti kata Keyla duduk lagi di samping mamanya, dengan wajah masih menyembunyikan kekesalan yang masih menggumpal di hatinya.


"Cia!! Mama hanya khawatir dengan papa kamu, sudah dua hari papa kamu tidak memberi kabar pada mama. Sejak pulang kemarin, bahkan dia sampai atau belum mama juga tidak tahu." 


Cia terdiam, menatap mata mamanya yang mulai berkaca-kaca. "Mama!! papa pasti baik-baik saja" ucap Cia, memeluk Keyla lagi, pelukannya semakin erat. Dan kini ia mencoba menenangkan hati mamanya, ia tidak mau membuat mamanya semakin sedih lagi. 


 


Memang, papa dan mama Cia, Joy dan Alana itu, masih sangat Muda. Pantas saja Mamanya khawatir. Bahkan umur ayahnya masih tiga puluh delapan tahun, dan Keyla mamanya masih tiga puluh tujuh tahun. Perbedaan umur yang sedikit, hanya beberapa bulan dari bulan kelahiran mereka saja. 


Karena menikah muda, mamanya punya anak Cia dan joy di usia yang masih sangat muda. Mereka menyelesaikan kuliah lebih cepat, dan tepat lulus kuliah mereka punya anak kembar. 


Alvin juga masih terlihat sangat muda, seperti laki-laki di usia 28 tahunan. Dan mamanya juga seperti kakak bagi Cia jika jalan berdua di samping mamanya. Banyak orang tanya apa dia kakak aku, karena kecantikan mamanya masih saja sama seperti dulu. 


"Tapi setidaknya dia menghubungiku Cia!!" Keyla terus memeluk anaknya, meluapkan isi hatinya yang terpendam selama ini.


"Mama, sudah coba hubungi papa?" Tanya Cia, melepaskan pelukan mamanya. 


"Sudah tapi nomornya gak aktif syang" ucap Keyla. 


"Ya, udah nanti Cia coba hubungi papa ya ma!!" Ucap Cia, mengusap punggung Keyla. 



Falsh back Alvin 16 tahun lalu.



Satu hari sebelumnya setelah sampai di London.


Di sebuah kantor yang napak sangat megah. Di kota London, seorang laki\\-laki sedang duduk cemas, ponselnya terjatuh saat perjalanan dari bandara ke rumahnya. Ia mencoba menghubungi Keyla agar tidak khawatir, tapi banyak pekerjaan yang mengganggunya, hingga ia lupa dengan keluarganya. Alvin hanya bisa berharap jika istri dan anak\-anaknya mengerti. 



Tok.. Tokk. 



"Pak Alvin saya masuk sekarang?" Tanya seorang wanita yang kini menjabat sebagai sekertaris baru Alvin. Usianya masih sangat muda, ia berumur 20 tahun, tak hanya cantik dia juga sangat pintar, usianya yang snagat muda ia sudah lulus S1 dan sedang melanjutkan s2. Dan dia bekerja sudah hampir satu tahun dengannya. Alvin yang melihat lamaran pekerjaannya lansgung tertarik saat dia menjadi lulusan terbaik di kampusnya.



"Iya masuklah" Alvin beranjak dari duduknya, meraih jas hitam di kursi. 



"Kita mau pergi bertemu Client pak, di sebuah hotel. Mereka mengajak tuan untuk berbincang bersama" ucap Silvia, sekertaris Alvin menundukkan kepalanya.



"Baiklah, kamu ikut dengan aku. Dan siapkan semua berkasnya" Alvin menarik jasnya, merapikan kerahnya. 



Silvia segera mengikuti langkah kaki Alvin, dengan beberapa dokumen di dekapannya. Mereka dengan segera menuju sebuah hotel yang di maksud Client, di sana memang hotel baru yang membutuhkan seorang investor baru untuk memajukan hotel tersebut. Alvin yang sedang buru\\-buru dan segera menghubungi Keyla, ia segera pergi tanpa pikir panjang lagi.



Dua puluh menit kemudian Alvin sampai, dan di sambut antusias oleh Aldo si pemilik hotel rersebut.



"Mari kita ke ruangan saya tuan Alvin" ucap Aldo, berjalan menunjukan jalan ke ruangannya. Yang sudah tersiapkan beberapa makanan dan minuman Wine dan berbagai merk minuman lain. 



Alvin tersentak, dan mundur ke belakang.



"Maaf tuan, tapi Tuan Alvin tidak minum, mohon di mengerti" ucap Silivia menunduk. 



"Wah syang sekali!!" Pekik Aldo



"Silvia gak apa\-apa, hanya minum sedikit tidak masalah" saut Alvin, berjalan masuk dan duduk. Dan Silvia mengikuti Alvin dan duduk si sampingnya dengan wajah terus menunduk malu.



Aldo segera menuangkan minuman dan mengajak Alvin bersulang. Silvia yang tahu kondisi Alvin ia melihat Alvin minum membuatnya ingin sekali melempar jauh minuman itu. Tapi Alvin menyuruhnya untuk diam, membuatnya tak bisa berkutik apa\-apa. 



Aldo terlalu banyak memeberikan minuman pada Alvin, membuatnya mulai berkunang\\-kunang. Dengan tubuh yang sudah lemas.



"Pak Alvin gak apa\-apa" Silvia memegang tangan Alvin.



"Tuan Alvin, sekarang, tuan tanda tangan kerja sama kita" Aldo menyodorkan kertas kerja sama. 



Dengan sigap Alvin menepis tangan Silvia dan menandatangani surat itu. Tanpa ia baca lebih dulu apa isinya. "Terima kasih Alvin, saya akan tinggal dulu sebentar, dan kamu bisa bawa tuan kamu pulang kasihan dia" ucap Aldo.



Semua sudah selesai, Silvia membawa Alvin pulang ke rumahnya. Ia yang tidak tahu di mana Alamat Alvin, hanya bisa membawanya pulang ke rumah. Dan mencoba menghubungi manajer untuk menjemputnya nanti. 



"Pak Alvin sekarang tidur di sini saja dulu" ucap Silvia melepaskan jas milik Alvin, melonggarkan kerah kemejanya. Meski ia ragu, tapi melihar Alvin yang sudah semakin mabuk ia harus menghilangkan keraguannya. Lalu, Ia melepaskan ke dua sepatu hitam milik Alvin. Dan membenarkan tidurnya di ranjang miliknya 



"Keyla sini!!" Alvin memegang tanga Silvia, dan menariknya hingga jatuh tepat di dekapanya. 



"Keyla!!" Silvia terkejut, pak Alvin selalu menyebut nama istrinya, meski ia tidak tahu istrinya, tapi Alvin selalu memajang foto keluarganya di dalam kantornya. 



Alvin memeluknya sangat erat, membuat Silvia tak bisa bernapas. Bahkan, tubuhnya tidak bisa lepas dari pelukan Alvin. Tubuh kekarnya membuat tubuh mungil Silvia tidak berdaya. Ia mencoba nenghindar namun pelukan Alvin semakin erat, dengan jemari tangan bergerak liar di tubuhnya, Alvin mengunci rapat bibir Silvia dengan bibirnya. 



Benda kenyal tiba\-tiba mendarat di bibir Silvia, membungkamnya, membutanya tak bisa bersuara, Alvin semakin ganas dengannya. Hingga hal yang tidak di inginkan terjadi. Alvin memegang tangan Silvia dan terua bermain dengannya, tanpa sadar siapa yang bersamanya. Alvin mengira jika itu adalah Keyla. Mereka begulat hebat, di dalam selimut tebal yang menutupi sekujur tubuh mereka.



Hingga 15 menit berlalu, Alvin mengecup dada Silvia, hingga meninggalkan bekas, dan berbaring di sampingnya dengan balutan selimut tebal menutupi tubuhnya. "Makasih syang!! Hari ini kamu beda syang, lebih rapat" ucap Alvin, yang langsung tertidur dengan posisi tengkurap.



Silvia hanya bisa menangis, ia tidak bisa bayangkan, berhubungan dengan suami orang. Dirinya yang masih belum pernah sebelumnya di bobol begitu saja oleh Alvin, seorang yang sudah punya istri dan anak dua. 



Wanita itu hanya duduk, memeluk, dengan kaki di lipat, ia mencengkram erat selimut tebal miliknya. Menatap punggung Alvin membuatnya merasa ingin marah, kesal, dan kecewa. 



Aku harus pergi sekarang, aku gak mau dia melihat aku dengan keadaan seperti ini. Jika dia tahu telah menodaiku, pasti rumah tangga mereka akan hancur, ku gak mau merusak rumah tangga mereka. Aku gak mau merusak kebahagiaan mereka. 



Silvia menyeka air matanyaN dan bangkit dari ranjangnya, ia menatap ke lantai, dengan segera meriah bajunya yang berserakan di lantai. Menuju kemar mandi, untuk menghilangkan bekas Alvin di tubuhnya. Selesai mandi, ia segera berkemas, memasukan semua bajunya ke dalam koper miliknya. 



Silvia menatap ke arah Alvin, melihatnya yang masih berbaring di ranjangnya. 


"Maaf pak, ku harus pergi" 



~~


Keesokan harinya. 



Alvin yang sudah tersadar? Ia beranjak duduk memegang kepalabya yang masih terasa pusing. "Apa yang terjadi dengan aku." Ucap Alvin, ia terdiam menatap tubuhnya di balik selimut. 



"SHIITT!!" Umpat kesal Alvin. 



"Bodoh!! Apa yang kamu lakukan Alvin, dan ini di mana?" umpat Alvin, memegang kepalanya, mencoba mengingat apa yang terjadi dengannya semalam.